LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
SEKILAS INFO


__ADS_3

Lelah dan berpeluh membuatku malas beranjak dari kasur. Diam saja meringkuk di balik selimut. Sementara Bray tertidur pulas di sisiku. Dia tampak begitu tenang dan damai dalam tidurnya. Senyum tipis masih melekat pada bibirnya. Hidungnya tak terlalu mancung tapi bentuknya indah dam sangat presisi dengan bentuk wajahnya yang oval. Dilihat dari depan dan samping Bray tetap menarik. Dari sudut manapun suamiku sama menariknya seperti pesona Bidadari Halmahera. Semua yang ada pada dirinya bagus dan menarik. Tanpa cela.


Suasana rumah kami begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara AC dan hembusan nafas kami sendiri. Menit demi menit berlalu. Lama-lama bosan meringkuk tanpa melakukan kegiatan selain mengagumi suamiku. Bray masih tertidur pulas sekali.


Aku beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi wajib aku mencoba-coba mengoperasikan mesin cuci. Pakaian yang sudah dimasukan Bray ke dalam laundry bag kubongkar kembali untuk dimasukan ke dalam mesin cuci. Kunyalakan tombol power dan mengatur proses mencuci dengan memencet tombol-tombol berisi instruksi jumlah air dan proses cuci yang dikehendaki. Selesai menuangkan detergen cair. Kutinggal mengerjakan sedikit editan tulisan di laptop sambil menunggu bunyi 'ting' tanda proses pencucian selesai seperti tutorial mencuci yang baru saja kulihat dari web video.


Menjelang azan dzuhur, seseorang mengetuk pintu. Ternyata petugas catering perusahaan datang mengantar 2 porsi makan siang lengkap dengan buah potong dan puding.


"Terima kasih, Mama."


"Sama-sama. Selamat atas pernikahannya dengan pak Firdaus ya, Nona. Semoga selalu bahagia."


Aku tersenyum mengamininya dan kembali mengucapkan terima kasih.


"Nanti kalau sudah selesai nampannya ditaruh di meja depan itu saja ya, Nona. Staf catering akan mengambilnya kembali nanti sore. Apakah ada request makanan khusus makan malam buat Nona atau mungkin pak Firdaus?"


"Sepertinya sore kami akan pulang ke rumah mama saya. Request buah dan egg roll saja dimasukan dalam wadah tertutup buat persediaan makanan kalau malam-malam masih kelaparan."


"Baiklah."


Aku pikir staf catering itu akan berlalu. Ternyata matanya masih ke sana ke mari mencari sesuatu.


"Ada apa lagi, Mama?"


"Oh, tidak."


"Pak Firdaus masih tidur. Kalau ada sesuatu bisa disampaikan lewat saya.


Mungkin karena hari libur beliau ambil kesempatan buat merapel kurang tidur saat hari kerja."


Petugas catering itu mengangguk-angguk kemudian berlalu untuk kembali ke kantin melayani para pegawai yang pada jam istirahat makan siang di sana.


Mungkin tidak biasanya mas Bray tidur menjelang dzuhur. Atau petugas catering itu berharap sesuatu dengan kehadiran Bray. Entahlah. Aku masih awam. Tak tahu kebiasaan sehari-hari di sini.


Kubawa masuk makan siang kami. Kulihat Bray sudah keluar kamar dengan rambut dan kulit yang basah dan segar.


"Sudah datang makan siang kita."


"Iya. Tadi mama yang antar makanan melongok cari-cari mas Bray. Apa biasanya mas Bray suka ngasih tips atau yang lain? Kayaknya dia berharap sesuatu."


"Kadang-kadang. Aku suka menyuruh dia ke laundry. Tapi kulihat laundry bag tiba-tiba kosong." katanya sambil cengar cengir.


"Pakaian kotor sudah kucuci."


"Hehehe, rajin istriku." katanya sambil merangkulku lalu mencium kening.


"Aku bosan. Setelah dzuhur aku boleh pulang ya. Mau ketemu mama dan saudaraku."


Wajahnya merengut manja, "Sebelum ke rumah mama mau lagi boleh?"


Aku menggeleng. "Capek."

__ADS_1


Bray pun terkekeh.


"Kita makan sekarang. Sebentar lagi azan dzuhur. Aku mau ikut jamaah shalat dzuhur di madjid setelah perut kenyang."


Aku menata nampan catering di meja makan. Sementara Bray mengambil seteko air bening dan gelas. Terlihat sekali Bray lihai menyiapkan makan dan minum. Tidak seperti sangkaku. Sebagai anak tunggal dari keluarga yang berada, Bray tergolong pribadi yang mandiri.


Menu makan siang kami ayam rica, sayur bening bayam, tahu goreng dan sambal matah. Sebuah menu sederhana. Sama seperti menu yang disajikan untuk karyawan di kantin perusahaan.


"Kamu nggak mau menjenguk Arfa?"


"Memangnya boleh?"


"Boleh. Polisi menemukan fakta lain berkaitan dengan meninggalnya baba. Informasi itu kamu perlu tahu."


"Apa?"


"Kita sepakat untuk tidak intervensi soal Arfa. Lebih baik kalau kamu dapat informasi dari orang lain yang kamu anggap independen. Kalau aku yang menyampaikan takutnya kamu nggak percaya dan merusak suasana hati kita."


Aku menghembuskan nafas kasar.


"Kamu bisa ke kantor polisi dengan mama atau kak Salman. Kumohon, jangan nekat pergi sendirian ya! Jangan rusak kepercayaanku!"


"Mas Bray kenapa nggak mau nemenin?"


"Aku ada janji meeting daring dengan kolega di KL. Nanti kamu ke rumah mama ditemani pak Wahyu dan Santi ya."


Aku mengangguk.


"Kamu nggak keberatan kan?"


"Iya."


"Nanti malam mau lagi boleh?" tanya Bray sembari mengerdipkan sebelah matanya dan menarik garis senyum pada lengkung bibirnya yang basah dan berwarna kemerahan.


Aku tak menjawab. Azan Dzuhur di masjid menyelamatkanku dari keharusan menjawab ya atau tidak untuk sebuah pertanyaan yang terdengar memalukan itu. Bray bergegas ke masjid setelah mencium ubun-ubunku.


Salman yang mengantarku ke kantor polisi menjenguk Arfa. Darinya aku malah tahu apa fakta baru yang ditemukan hasil dari introgasi Arfa dan temannya sejak tertangkap kemarin.


"Tadi pagi aku dan mama diminta ke kantor polisi."


"Kenapa tidak bilang aku?"


"Nggak etis ganggu urusan pengantin baru." jawab Salman sambil tersipu.


"Kak Salman nggak bilang aku, tapi lapor ke mas Firdaus. Apa orang yang sudah menikah itu harus begitu?" cetusku kesal.


"Eit, jangan salah. Yang update informasi ke masmu itu pasti pak Kapolsek. Bukan aku. Kamu tahu Kapolsek, Danramil, Camat, dan Bupati itu sudah pasti punya hubungan dekat dengan suamimu."


Iya juga sih. PT XY perusahaan paling besar di wilayah ini. Sudah pasti demi langgeng dan lancarnya urusan bisnis pimpinan perusahaan kenal dekat dengan penguasa wilayah.


"Teman Arfa itu ternyata orang suruhannya tante Marlina dan pak Hendrawan. Sengaja diperintahkan membunuh baba supaya harta warisan dari kakek bisa dikuasai penuh keluarga paman Hasan sekaligus melancarkan urusan operasional di konsesi tambang PT XY."

__ADS_1


Deg. Jantungku langsung berdebar kencang. Aku tahu alasan Bray tak mau memberitahukan berita ini langsung padaku karena kasus ini ada kaitannya dengan PT XY.


"Tunggu!"


Pak Wahyu mengerem mobil tiba-tiba mendengar aku berteriak.


"Ada apa, Non?"


Aku terpaku. Ada apa ya? Tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Salman meminta pak Wahyu melanjutkan perjalanan pelan-pelan.


"Siapa itu Hendrawan?"


"Salah satu pendiri PT XY."


"Jadi, Arfa selama ini tahu siapa pembunuh baba?"


"Ya. Kurang ajar dia. Menyembunyikan fakta ini selama bertahun-tahun dari kamu, sahabat dekatnya."


Tanganku mengepal. Kutinju jok mobil dengan geram.


"Alasan utama Arfa tutup mulut pasti karena Hendrawan menjanjikan pekerjaan untuknya di PT XY. Alasan lain karena dia cinta dan ingin menikahimu. Dia pikir dengan menjauhkan kamu dari keluarga baba kamu tetap akan miskin dan setara dengannya. Tak disangka dalam perjalanannya kemudian Firdaus justru jatuh hati padamu lalu takdir mempertemukan kamu dengan Andi Syarif, sepupu dari pihak nenek Arifah yang berhasil membawamu bertemu nenek di Makassar. Buyar sudah rencana jahat mereka."


Masuk akal. Jalan berliku yang belakangan ini kulalui adalah cara Tuhan membuka pintu keadilan buat keluarga kami yang terdzolimi. Semua terbuka perlahan karena kuasa Tuhan. Aku tak menyangka Arfa tega berbuat itu padaku. Selama bertahun-tahun berteman tapi dia tak jujur padaku. Tega sekali Menyembunyi fakta tentang orang yang sudah memisahkan aku dari lelaki yang sangat kucintai untuk selamanya. Aku benci Arfa. Sangat benci padanya. Aku tak mau bertemu dia lagi.


"Aku nggak jadi menjenguk Arfa. Kita kembali ke rumah mama, pak Wahyu."


"Jangan kembali, pak Wahyu. Tetap terus!" cegah Salman.


"Balik. Aku tak mau bertemu Arfa." teriakku.


"Tetap jalan, pak Wahyu!"


"Balik."


"Jalan."


Pak Wahyu menghentikan mobilnya lagi. Bingung.


"Yang benar yang mana ini? Balik atau jalan?" tanya pria setengah baya itu sambil memandangku yang duduk di bangku belakang lalu beralih memandang Salman yang duduk di sampingnya.


Aku dan Salman bersamaan menyahut "jalan" dan "balik". Dua kata yang berlawanan artinya membuat pak Wahyu makin bingung dan garuk-garuk kepala.


Aku dan Salman saling berpandangan. "Masalah itu harus dihadapi, Fifa. Ini baru informasi awal. Polisi masih akan mendalaminya. Aku mau dengar pengakuan dari mulut tersangka sendiri bagaimana fakta yang sebenarnya. Tadi pagi dia tak mau menemuiku. Dia hanya mau menemui kamu." ujar Salman dengan wajah geram.


Aku menghempaskan tubuhku di jok.


"Kita harus ke kantor polisi sekarang. Besok aku sudah harus kembali ke Jailolo."


Terpaksa aku yang harus mengalahkan ego. "Ya sudah. Jalan ke kantor polisi, Pak!"


Pak Wahyu kembali mengendarai mobil SUV milik perusahaan dengan kecepatan sedang menuju kantor polisi di kota kecamatan.

__ADS_1


__ADS_2