LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PRIVILAGE


__ADS_3

Hari selanjutnya aku tidak pernah melihat Bray lagi di kantor. Jim bilang ia pulang ke Jakarta untuk bertemu kolega bisnis dan menyelesaikan masalah bisnis sekaligus masalah pribadi dengan tunangannya yang mirip nenek sihir itu. Aku tetap bersemangat belajar banyak hal baru dari Jim. Sesekali aku dengar Bray menanyakan perkembangan belajarku lewat sambungan telepon dan Jim selalu memberi penilaian baik.


Seminggu berlalu dan aku sudah dapatkan laptop inventaris yayasan. Seharusnya aku sudah bisa belajar otodidak di rumah tapi aku masih diminta Jim datang ke kantor. Sejak Bray pergi Jim memintaku membantu pekerjaannya memeriksa laporan keuangan harian dan membuat risalah rapat ketika dia harus memimpin rapat atau melakukan pertemuan dengan mitra bisnis menggantikan Bray. Aku melakukannya dengan senang hati sebab dengan begitu aku bisa tahu banyak tentang administrasi dan manajemen perusahaan.


"Maaf ya, Fifa. Jadi merepotkan."


"Nggak masalah, Kak Jim. Dengan begini kan aku bisa belajar lebih banyak. Aku malah berterima kasih sekali kak Jim mau percayakan tugas ini sama aku. Padahal kak Jim punya staf yang mungkin lebih kompeten dari seorang Fifa."


"Aku minta bantuanmu karena kamu cerdas, bisa dipercaya, dan terbukti bisa belajar cepat. Si Siska dan Bia lemot banget kerjanya. Terlalu banyak bergosip dan hasil kerjanya banyak salah kalau tidak diarahkan step by step seperti bayi yang baru belajar berjalan. Capek. Bisa pecah kepalaku kalau harus terus mengikuti pola kerja mereka yang seperti itu."


Keluhan Jim itu membuatku tak enak hati. Senang kinerjaku dipuji baik, tapi sebal karena dua sekretaris junior yang bermuka manis itu sering lewat di depan mejaku sambil melontarkan kata bernada sinis. Bia dan Siska merasa aku mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Padahal jujur aku hanya membantu Jim sebagai imbal balik dari rasa terima kasih. Jim telah membimbingku mengenalkan banyak pengetahuan baru yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan olehku. Tidak ada imbalan uang atau apapun. Kami sama-sama ikhlas saling bantu.


Untuk menghindari konflik, kedua sekretaris junior itu sudah kuajak bicara. Kuberitahu bahwa aku bukan pesaing mereka dan keberadaanku di sini hanya sementara.


"Lulusan mana sih kamu? Orang baru kok sudah dapat kepercayaan jadi asisten sekretaris direktur." komentar Bia dengan diiringi garis wajah yang terkesan meremehkan.


Aku memilih tak menjawab, sebab mereka pasti akan lebih meremehkanku kalau tahu aku hanya lulusan ujian persamaan kejar paket C. Sementara aku tahu keduanya lulusan akademi sekretaris.


"Kamu itu masih kerabatnya pak Jim ya? Atau malah kerabatnya pak Firdaus?" tanya Siska yang sejak awal kedatanganku selalu penasaran dengan statusku di kantor ini.


"Bukan. Bukan. Aku bukan kerabat keduanya. Silakan cek di bagian personalia, statusku bukan magang atau staf kontrak perusahaan. Aku di sini hanya sementara. Tujuanku hanya mau belajar praktek dasar administrasi dan pengelolaan organisasi. Aku diminta membantu kak Jim juga dalam rangka belajar kok." jelasku jujur apa adanya.


Kalau kusampaikan apa yang dikatakan Jim tentang kinerja mereka, sudah pasti mereka marah dan tersinggung. Makanya meski jujur, aku memilih kalimat yang lebih netral sebab niatku bukan untuk mencari musuh.


Keduanya saling beradu pandang, tersenyum sinis sambil berseru, "Belajar?"

__ADS_1


Mereka tetap tak percaya pada pengakuan jujurku. Bagiku semua yang kukerjakan adalah dalam rangka belajar.


"Apa yang kamu katakan justru semakin tidak masuk akal, Fifa. Mana mungkin orang luar yang tak punya hubungan apa apa diberi pelatihan dan dipercaya membantu urusan strategis seorang sekretaris direksi. Perusahaan pasti nggak mau kecolongan."


"Ya. Orang luar berpeluang lebih besar membocorkan rahasia perusahaan." Siska menambahkan seraya mempertajam senyum sinisnya.


Aku garuk-garuk kepala. Tak ada kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan mengapa aku dipercaya dan diberi kesempatan lebih dari mereka yang berstatus sebagai staf perusahaan. Aku orang baru yang tak memiliki status tapi memiliki privilage yang lebih besar. Ini memang terlihat aneh. Sudah pasti aku berada di posisi ini karena peran Bray yang notabene pimpinan tertinggi di kantor ini. Tapi aku bukan siapa-siapa buat Bray. Begitupun sebaliknya. Itulah hal yang sulit kujelaskan.


Pilihan Bray menyeretku dalam kerja sama membentuk yayasan konservasi burung ini agak sulit dinalar mengingat aku anak kampung yang tak memiliki keahlian yang mumpuni. Itu sebabnya aku perlu dibantu dan diberi kesempatan belajar di sini dalam pengawasannya. Namun aku tak harus menceritakan alasan itu pada Bia maupun Siska. Masalah akan jadi tertambah panjang dan mungkin bisa melebar ke mana-mana sebab ternyata tidak seluruh komponen perusahaan setuju dengan terobosan program CSR yang dilakukan Bray.


Dalam hatiku sendiri masih ada curiga. Jangan jangan Bray sengaja memilih aku yang awam untuk dijadikan pion yang akan dikorbankan dalam sengketa internal para pemilik saham perusahaan.


Masabodolah. Pusing aku kalau memikirkan dugaan-dugaan yang belum tentu terjadi. Aku enggan mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Tak ada yang perlu kutakuti selama aku berbuat benar dengan tujuan baik. Jalani saja. Saat ini aku nikmati saja privilageku bisa belajar sekaligus membantu Jim yang telah mengajarkan aku keahlian dan pengetahuan baru. Terserah orang lain mau iri atau meragukan niat baikku. Jalan terus saja.


Di sisi lain Jim sudah terlanjur nyaman bekerja denganku yang tak suka banyak bicara. Wajahnya murung waktu aku pamit tidak bisa lagi membantunya di kantor.


Jim tak bicara.


"Saya akan mulai berkantor di sana untuk memudahkan koordinasi dan menentukan rencana kerja jangka pendek. Terima kasih banyak telah bantu Fifa selama ini. Sewaktu-waktu Fifa masih boleh tanya-tanya dan konsultasi dengan kak Jim, kan."


Jim meraih bahuku dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Pria ini begitu sentimentil. Padahal kan kami masih bisa saling bertemu di luar kantor, tapi dia memperlakukan aku seperti seorang kakak yang akan ditinggal pergi jauh oleh adiknya.


"Aku juga berterima kasih kamu telah banyak bantu pekerjaanku. Tapi tak bisakah kamu bantu aku lebih lama lagi? Mas Bray belum ada kabar." keluhnya dengan suara parau. Mata Jim terlihat sayu dan lelah karena kurang tidur.


Sebenarnya aku kasihan melihat Jim kerja keras siang malam akhir-akhir ini. Banyak sekali masalah perusahaan yang harus ditanganinya. Pekerjaan dan tanggung jawab Jim bertambah saat Bray sebagai pimpinan tertinggi perusahaan tidak ada di tempat. Sebagai orang kepercayaan Bray, Jim tak cukup berani mengambil keputusan. Dia hanya memposisikan diri sebagai mediator dan konsultan terhadap kasus-kasus yang tengah terjadi di lingkungan perusahaan. Padahal antara direktur operasional dengan Bray sebagai direktur utama perusahaan sering tidak sinkron dan berbeda pendapat. Jim sangat kesulitan menjembataninya mengingat direktur operasional adalah tangan kanan keluarga Maudy yang juga punya saham di perusahaan ini. Tidak jarang Jim harus pontang panting mengumpulkan bukti serta informasi tambahan yang cukup banyak dan memastikan akurasinya untuk diserahkan pada Bray sebagai dasar membuat keputusan. Ia benar-benar harus jadi mata dan telinga Bray selama sang direktur tidak ada di sini.

__ADS_1


"Aku nggak punya teman cerita yang bisa dipercaya, Fifa. Khawatirku mas Bray tersandera tidak bisa stay di sini lagi. Padahal perannya di sini penting banget."


"Tersandera?" Kata ini masih agak asing di telingaku. Memangnya ada perang sampai harus ada yang jadi sandera.


Jim mengangguk.


"Kalau mas Bray tidak bisa stay di sini, mungkin lebih baik aku cari pekerjaan di tempat lain. Aku tidak kuat dengan tekanan dari direktur operasional yang sok kuasa itu. Aku bukan orang yang berani mengambil keputusan yang mengandung banyak resiko." Jim selalu menyesali kekurangannya itu.


"Maaf ya, Fif. Kelanjutan pencairan dana CSR tahap 2 juga belum tahu bagaimana nasibnya. Mas Bray belum dapat titik terang bagaimana menyelesaikan konflik dengan tunangannya sendiri." Jim terlihat lelah dan tak bersemangat. Berkali-kali ia menunduk sambil menyangga kepalanya dengan lengan.


Aku Sedikit shock mendengar kabar ini sebab dana hibah yang sudah turun dari perusahaan hanya cukup untuk membiayai operasional selama 3 bulan. Bagaimana dengan biaya operasional selanjutnya ya?


Menyesal? Ah, jangan. Legalitas sudah beres. Aviary dan kantor sederhana sudah terbangun. Staf operasional yayasan juga sudah direkrut dan hari ini sedang dalam perjalanan darat menuju ke lokasi kantor yang baru saja dibangun. Bray sudah menghabiskan ratusan juta untuk mendanai yayasan. Sayang jika harus diberhentikan di awal perjalanan begini. Aku harus komitmen pada perjanjian kerja sama yang telah kami tanda tangani. Apapun yang akan terjadi terserah nanti, sekarang jalani saja dulu semampunya.


"Saranku kamu mulai coba buat proposal yang berisi program kerja dan kegiatan. Nanti aku bantu edit dan menyebarkan proposal ke perusahaan kolega. Aku tetap jaga amanah mas Bray untuk bantu kamu. Andai aku sudah tidak di sini, jangan sungkan tetap hubungi aku. Kami punya banyak list mitra bisnis. Mana tahu ada salah satu yang tertarik dengan proposal program konservasi burung endemik hutan Halmahera ini."


Tanpa kuminta Jim menawarkan solusi buat kepentingan yayasan.


Aku langsung tersenyum. Dalam hati aku menyemangati diri sendiri. Pantang mundur, Fifa. Berjuanglah!


"Iya. Besok aku mulai coba buat proposal dan profil yayasan. Aku perlu diskusi dulu dengan dokter Hans dan dokter Feriska yang lebih ahli apa saja yang dibutuhkan untuk program konservasi sekaligus penangkaran burung. Aku juga harus konsultasi dengan kak Andi supaya programnya lebih selaras dengan program dinas lingkungan hidup."


Jim tersenyum. Meski wajah murungnya belum luntur. Gurat wajahnya melukiskan banyak beban yang harus dipikulnya sendirian. Aku baru paham, ternyata di tempat mana pun selalu ada konflik dan relasi yang tak simetris.


Senyum dan semangatku cukup membuat Jim kembali berwajah cerah. "Aku pasti akan selalu temani dan bantu kak Jim. Semangat dong, Kak. Kita akan terus berusaha dan berdoa sama-sama."

__ADS_1


Jim mengangguk.


__ADS_2