LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
NENEKKU


__ADS_3

Kapal bersandar di dermaga. Rasa mual dan pening sudah mereda namun tubuhku masih merasa lemas. Setelah melepas pelampung, aku meraih tangan Andi yang telah lebih dulu melompat ke dermaga dan mengulurkan tangannya padaku. Ia menata kembali dus-dus oleh-oleh yang telah dikemas mama agar bisa ditentengnya sekaligus untuk mengurangi bebanku.


"Ngana bawa ransel saja. Biar semua sa bawa."


"Bisa?"


"Bisa. Makanya ditata dulu."


Tak lama ia menata barang bawaan kami. Aku berjalan lambat keluar dari pelabuhan.


"Mau shalat dan makan di bandara atau di sini?"


Aku menggeleng. Bukan tidak mau. Aku tak tahu pilihan mana yang lebih baik.


"Kita panggil taksi saja ya. Sepertinya istirahat di bandara lebih nyaman. Musholanya juga lebih baik. Tidak jauh kok. Paling cuma 10 menit."


Aku menurut saja. Kota Ternate terlihat jauh lebih ramai dan padat penduduk daripada Sofifi. Kota lama yang berada di sebuah pulau kecil di kaki gunung Gamalama ini telah berusia ratusan tahun. Setidaknya dalam buku sejarah tercatat kota ini adalah pusat pemerintahan kesultanan Ternate yang didirikan pada awal abad 13 masehi. Namun kehidupan kota ini tetap bersahaja tak seperti kota besar modern yang ada di tayangan televisi. Tak ada gedung-gedung menjulang pencakar langit yang menjadi simbol kota. Rumah-rumah warga pun terlihat sederhana.


"Itu istana kesultanan Ternate." Andi menunjuk ke arah bangunan besar bercat kekuningan yang berdiri megah dengan latar keangkuhan gunung Gamalama.


Istana tua itu adalah salah satu bukti sejarah kejayaan tanah Maluku yang sejak dulu terkenal sebagai pemasok rempah-rempah dunia. Konon kapal-kapal pedagang Timur tengah, China, India dan Eropa pernah singgah di kota kecil ini.


Tak sampai 15 menit kami telah tiba di bandara Sultan Baabullah. Kami segera ke mushola, makan lalu istirahat di dalam ruang tunggu bandara yang cukup nyaman sebelum diperbolehkan masuk ke dalam pesawat. Banyak orang yang telah menunggu dalam ruangan itu. Andi sempat membuka laptopnya menyelesaikan satu pekerjaan yang katanya tertunda. Sementara aku memilih diam memperhatikan detail bangunan, landasan, pesawat dan orang-orang yang berada di sekitarku. Begitulah aku ketika menyaksikan sesuatu yang baru, memperhatikan detail dan menyimpan kenangannya dalam memori otakku. Maklum. Baru kali ini aku melihat yang namanya bandar udara.


Perjalanan dari Ternate ke Makasar hanya ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Aku menikmati perjalanan di atas ketinggian. Tidak mabuk seperti ketika di tengah laut sebab tidak ada hentakan dan goncangan yang kurasakan. Hanya telinga sedikit penging ketika pesawat tinggal landas. Kembali normal ketika pesawat sudah stabil berlari di atas awan. Aku hanya merasakan satu hentakan hebat ketika pesawat turun ke landasan. Selain itu nyaman.


Makasar seperti kota modern yang kulihat di televisi. Bandaranya jauh lebih besar dari bandara di Ternate. Arsitekturnya pun terlihat jauh lebih modern. Banyak toko-toko yang menyajikan barang-barang yang terlihat ekslusif. Juga resto dengan brand internasional.


Sekitar 20 menit naik taksi dari bandara aku tiba di sebuah rumah tembok 2 lantai yang besar dan megah. Di situlah konon nenekku tinggal.


Sungguh, aku sedikit syok ketika mobil berhenti di depan rumah itu dan Andi turun untuk berbicara dengan seorang satpam yang akhirnya membukakan pintu gerbang rumah itu untuk kami.


Benarkah ini rumah keluarga baba? Besar sekali. Tak ada rumah sebesar dan sebagus ini di kampung tempat aku dilahirkan.


Satpam membantu menurunkan barang dan membawakannya. Ia mengantar kami menuju ruang tamu. Aku melangkah dengan ragu. Rasa asing menjalar di tubuhku. Untung ada Andi yang membuatku sedikit percaya diri. Kalau sendirian, mungkin aku akan mengurungkan niat masuk ke dalam rumah megah itu.


"Silahkan masuk, kak Afifa! Ibu sudah menunggu di dalam." Satpam membukakan pintu dengan sopan.


Di ruangan itu aku melihat seorang perempuan tua yang tengah duduk di atas kursi roda. Rambutnya putih. Garis wajahnya yang tegas sekilas mirip denganku. Beliau tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya menyambutku.

__ADS_1


"Selamat datang Afifa Syarif." ucapnya ketika aku memeluknya. Ia menepuk-nepuk pundakku dan menciumiku berkali-kali.


"Kau mirip ayahmu." Nenek melepaskan pelukannya. Kulihat ia meneteskan air mata saat memandangku dengan tatapan yang tak dapat diungkapkan dalam kata. Kukira itu ungkapan rasa sedih dan haru yang bertumbuk jadi satu.


"Kaukah cucu daeng Yusuf?


"Benar, Nenek." Andi yang sejak tadi diam menyaksikan adegan mengharukan antara nenek dan cucu langsung menyalami nenek dan mencium tangan serta kedua belah pipinya.


"Jadi pendakwah juga kah kau di hutan sana?"


"Saya PNS dinas lingkungan hidup, Nenek."


Nenek tertawa memperlihatkan giginya palsunya yang terbuat dari logam kekuningan, "Janganlah kau macam ayah si Fifa. Merantau tak ingat pulang bahkan sampai jadi mayat pun kami tak tahu."


Andi hanya senyum senyum mendengar keluhan tegas nenek. "Sekarang jaman sudah modern, Nek. Ada alat komunikasi."


"Manalah ada sinyal di dalam hutan."


"Sekarang sinyal sudah menjangkau seluruh pelosok, Nek. Buktinya nenek bisa telepon mereka dab sekarang bisa bertemu cucu nenek yang tak dikenal." Andi menanggapinya dengan senyum.


Nenek ikut tersenyum dan berterima kasih sekali atas jasa cucu keponakan yang mempertemukannya dengan cucu kandungnya.


"Terima kasih banyak ya, Kak."


"Kita tak usah pakai ngana lagi di sini. Bahasa Indonesia saja kan?"


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Besok mau kujemput jalan-jalan keliling Makasar?"


"Lusa saja."


Sebagaimana nenek pada umumnya, nenekku termasuk orang yang cerewet dan banyak maunya. Beliau punya 2 orang perawat khusus yang sabar melayaninya secara bergantian. Namanya bibi Ika dan bibi Sari. Usia mereka sudah setengah baya dan katanya dari gadis kedua asisten rumah tangga itu telah setia bekerja pada nenek hingga diangkat menjadi perawat khusus yang membantu nenek mengatasi keterbatasannya.


"Beginilah nenek. Sudah tak bisa kemana-mana sendirian lagi. Kau tinggal saja menemani nenek di sini. Kuliah di sini dan teruskan usaha almarhum kakekmu. Pamanmu tak sanggup urus semua karena masih harus mengelola sekolah."


"Dimana anak-anak paman?"


"Anak pamanmu 2 orang. Lelaki semua. Sekarang mereka tinggal dan sekolah di Jawa."

__ADS_1


Kasihan. Sepertinya nenek kesepian.


"Mereka akan pulang besok." tambah nenek.


Syukurlah. Setidaknya sepupuku juga turut menghargai kedatanganku. Nenek memanggil satu asisten rumah tangga bernama bi Siti yang kemudian mengantarku ke kamar tamu yang terletak di lantai bawah, persis di sebelah kamar nenek.


Setelah selesai membersihkan diri dan istirahat sebentar di kamar tamu yang telah disediakan, nenek memintaku makan malam bersama. Sudah ada paman Hasan dan istrinya l di sana. Aku terlebih dulu mengucapkan salam dan menyalami mereka sebelum duduk.


Aku duduk di salah satu kursi makan kayu jati yang kokoh. Di depanku sudah terhidang nasi, sop konro, perkedel kentang, kerupuk udang, salad dan aneka buah-buahan. Seorang asisten rumah tangga membantu nenek menyendokkan nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya. Setelah selesai ikuti paman Hasan dan tante Marina mengisi piringnya. Sementara aku yang paling muda mengambil makananku paling belakangan.


Nenek yang memimpin doa dan acara makan malam pertamaku itu di rumah itu. Aku tak tahu apakah itu merupakan kebiasaan keluarga mendiang ayahku ataukah cuma kali ini saja. Aku tak berani banyak bertanya. Cenderung menunggu instruksi baru melakukan sesuatu. Tak berani mengambil inisiatif sebab takut salah.


"Bawalah mama dan adikmu ke mari, Fifa. Rumah warisan kakekmu yang di pesisir masih ada. Tinggallah di sana. Itu memang sudah hak mendiang ayahmu." kata nenek sambil menyendok nasi dari piringnya dengan gerakan anggun.


"Kami sudah terbiasa hidup di Lolobata, Nek. Ada rumah dan kebun di sana." Aku berusaha menolak dengan halus permintaan nenek yang aku yakin tidak akan disetujui mama.


"Lihatlah dulu rumahnya. Nanti pak Ridi dan Syarif cucu daeng Yusuf itu bisa mengantar kita ke sana kalau kamu mau lihat. Sekarang masih dikontrakkan. Tapi kita bisa lihat dan bilang pada yang sewa kalau kontrak sewanya tidak akan diperpanjang."


"Tidak usah sekarang, Nek. Fifa perlu bicara sama mama dan Fifi dulu. Kalau Fifa pribadi agak berat meninggalkan Lolobata sebab ada makam baba yang harus kami jaga di sana. Fifa sudah bekerja di yayasan yang bergerak di bidang konservasi burung. Hidup kami tidak kekurangan. Nenek tidak usah khawatir. Sekarang fasilitas komunikasi sudah baik jadi kita bisa telponan kalau kangen. Kami juga akan usahakan sering datang menjenguk nenek."


"Kenapa sekarang mama dan adikmu tak sekalian ikut ke sini?"


"Fifi sedang ujian, Nek. Nanti kita video call mereka setelah makan ya."


Nenek tersenyum gembira. Paman Hasan lebih banyak diam menikmati makan malamnya. Begitupun dengan istrinya yang sama sekali tidak menunjukan keramahan atau antusiasme bertemu dengan keponakannya. Aku tak tahu kenapa. Mungkin ia sedang tak enak badan atau mungkin juga tante Marina memang tak mengharapkan kedatanganku. Senyumnya terlihat dipaksakan.


Baru saja tiba tante Marina sudah tanya kapan aku pulang. Sikapku jadi makin canggung.


"Saya akan pulang bareng kak Syarif lagi. Insya Allah hari minggu depan. Kami rencananya akan menghadiri upacara adat pernikahan sepupunya dulu."


"Kau ada hubungan khusus dengan cucu daeng Yusuf itu?"


Aku menggeleng. Menurutku ini pertanyaan aneh. Sudah jelas hubungan kekerabatan kami, kenapa harus ditanya ada hubungan khusus segala.


"Kau tak diundang di acara itu kan?"


"Diam. Tak perlu tanyakan undangan, Marina. Dia bisa datang ke pesta itu karena dia cucu kandungku. Almarhum daeng Yusuf kakak kandungku. Apa yang salah? Dia juga masih terhitung kerabat pemangku hajat." bela nenek membungkam mulut bibi Marina.


Aku belum mengerti ada masalah apa dalam keluarga ini. Aku juga tak mengerti aturan adat yang berlaku di keluarga ini. Yang kutahu dari kesan pertamaku nenek cukup tegas dan dominan dalam keluarga ini. Aku suka gayanya yang tegas namun anggun dalam bersikap.

__ADS_1


__ADS_2