
Lelah rasanya mendengarkan isi rapat yang penuh perdebatan. Telinga dan hatiku menghitam jadi arang. Baru kurasakan mendengar keluh kesah berselip gosip dan canda tawa mama-mama rempong di kampung lebih mengasyikan daripada mendengar perdebatan dalam rapat yang isinya tak kupahami dengan baik. Terlalu serius. Bikin kepala pusing. Mereka saling menyudutkan seperti petarung yang sedang berlaga di atas ring.
"Mas, aku capek." keluhku setelah satu jam lebih bertahan di tengah perdebatan yang tak ada relevansinya dengan hidupku.
Bray memandang wajahku sebentar sebelum memutuskan ijin kepada forum untuk keluar ruangan rapat sebentar. Ia menuntunku keluar dan memberi perintah pada salah satu sekretaris untuk menyertai kami. Bray membawaku masuk ke sebuah ruangan rapat kecil yang elegan yang terletak di sebelah ruang rapat besar tadi.
"Siska, tolong nanti antar dan temani istri saya istirahat di ruangan saya ya. Panggil dulu satpam perempuan untuk menemani kalian. Ingat! Jaga istri saya baik-baik! Istri saya sedang hamil. Kalau ada apa-apa sama dia, tamat karir kamu."
"Baik, pak Firdaus."
Gadis muda nan cantik itu memintaku istirahat sejenak di ruang pertemuan kecil itu. Sementara dia memanggil satpam dengan telepon genggamnya.
"Maaf, Non! Tunggu di sini dulu ya! Saya panggilkan satpam dulu sebelum kita pindah ke ruangan pak Firdaus."
Aku mengangguk. Ikut saja protokoler ribet yang berlaku di kantor ini. Tempat ini masih asing bagiku. Harus nurut pada orang yang telah dipercaya suami untuk menjagaku.
"Nona mau pesan apa? Biar sekalian dibawakan satpam."
"Saya mau buah. Apel dan anggur."
"Baik. Saya pesankan sekalian."
"Terimakasih."
Gadis itu tersenyum. Ia menuntaskan pembicaraan dengan satpam yang dipanggilnya.
Sambil menunggu kedatangan satpam yang akan mengawal, aku membuka notebook. Lumayan. Sedikit waktu tunggu dapat dimanfaatkan untuk membaca email dan ringkasan laporan keuangan harian yang dikirim staf perkebunan. Ruang rapat kecil ini cukup nyaman buat bekerja. ACnya sejuk dan kursinya empuk. Rasa-rasanya tak perlu pindah. Di sini juga cukup nyaman buat istirahat.
Saat menunggu notebookku loading, tiba-tiba saja pintu terbuka tanpa ketukan atau salam sebelumnya. Aku tersentak kaget.
Perempuan yang menuduhku siluman monyet itu masuk begitu saja ke ruang rapat kecil tempatku beristirahat.
Tanpa basa basi ia bicara padaku, "Aku mau ngomong sama kamu."
"Ada apa? Kayaknya saya tidak punya urusan dengan anda."
Siska terlihat bingung dengan masuknya perempuan itu. Sekretaris itu terlihat agak takut. Mungkin perempuan itu punya power di perusahaan ini hingga membuat sekretaris ketakutan dan bingung.
Perempuan itu kembali tersenyum sinis dan mengangkat alis yang digambar mirip bulan sabit warna coklat tua. "Saya mamanya Firdaus. Kamu nggak kenal saya, hah?"
"Mantan istri pak Budhi?" ralatku dengan nada tanya yang tak kalah sinis.
__ADS_1
Perempuan itu mencibir, melipat tangan, dan menyorotkan sinar laser dari matanya.
"Ternyata punya nyali juga kamu ya."
Entah apa maksud perempuan gila itu. Aku tak peduli. Kembali fokus menatap layar notebook yang sudah mulai menunjukan aplikasi Windows siap menjalankan fungsinya sebagai sistem operasi. Banyak pekerjaan yang bisa kulakukan sambil menunggu suamiku selesai rapat. Kubiarkan saja perempuan itu ngomong semaunya. Aku merasa tak punya hubungan dan masalah apa pun dengan perempuan itu. Statusnya cuma mantan istri ayah mertuaku. Sama sekali tidak penting.
"Eh, Siluman monyet. Kalau diajak ngomong, diperhatikan dong." bentaknya keras.
Siska kaget. Aku tetap fokus pada layar notebookku. Aku menyesal ke luar ruangan rapat. Maksud hati menghindar dan melepas lelah dengar perdebatan, malah dijejali serapah yang membuat telingaku makin terbakar. Kesal sekali dengan mulutnya yang busuk, tapi aku tak berniat melayaninya. Aku tak ingin bertengkar di kantor besar ini demi wibawa suamiku. Bersabar saja. Perempuan receh macam dia bukan tandinganku. Aku tak mau menjatuhkan harga diriku melayani perempuan yang menurutku otaknya rusak.
BRAK. Merasa tidak diperdulikan, perempuan itu mengambil notebookku lalu membantingnya sampai pecah.
Aku melotot dengan hati panas. Dadaku bergemuruh. Mulut ingin berteriak dan mengamuk. Namun yang kulakukan adalah menghela nafas panjang dan memegang perutku yang berdenyut cukup kencang seirama dengan laju detak jantungku yang bergerak sangat cepat. Aku segera sadar harus lebih bersabar demi keselamatan bayiku. Notebook rusak masih bisa diperbaiki atau beli lagi yang baru. Tapi bayiku harus tetap nyaman fisik dan mentalnya. Tidak boleh terganggu oleh nenek sihir cantik itu.
Melihat itu Siska langsung mengambil telepon genggamnya. Namun sebelum menelpon seseorang, perempuan kalap itu merampas benda pipih itu dan membantingnya di sofa.
"Mau telepon siapa kamu? Jangan ikut campur masalah kami."
Siska menunduk lalu memandangku dengan wajah penuh tanda tanya. Aku tak tahu harus merespon bagaimana.
"Kamu jangan senang dulu ya bisa merebut Firdaus dari Maudy dan menikah diam-diam. Kamu belum menang. Ngapain sekarang kamu keluar dari persembunyianmu di hutan? Takut kalau sebentar lagi Firdaus bakal jadi miskin?"
Perempuan itu berjalan angkuh dengan sepatu yang tingginya belasan senti meter. Berusaha mendekatiku tapi Siska menghalau dengan tangannya.
"Jangan ganggu istri pak Firdaus, Nyonya! Saya bisa dipecat kalau ada apa-apa dengan nona muda."
"Nggak usah kamu panggil dia nona muda. Dia itu bukan manusia, tapi siluman monyet yang ditemukan Firdaus di hutan. Dia sangat jahat. Kamu belum tahu ya kalau Maudy diperas milyaran sama dia. Firdaus direbut dan diperdaya sampai diam-diam mau menikahi siluman ini." Perempuan itu menudingku dengan telunjuknya yang lentik.
Siska tampak bingung. Memandangku dan perempuan itu bergantian. Aku sendiri bingung kenapa perempuan yang tidak kukenal menuduhku sedemikian rupa kejinya. Memang dia cantik. Tapi tak berhak mengataiku siluman monyet. Perilakunya tak secantik parasnya. Tidak sopan, arogan dan kata-katanya sangat keji.
Andai aku tak memikirkan bayiku, mungkin aku akan nekat merobek mulutnya dengan tanganku. Kini aku hanya bisa menarik nafas untuk menetralisir emosiku dan tetap duduk di sofa sambil berdoa mohon pertolongan Yang Maha Kuasa. Bingung harus bagaimana.
"Perusahaan sekarang sekarat. Firdaus tidak mau mengurus perusahaan, malah memilih tinggal di hutan demi siluman monyet ini."
"Nyonya besar, rasanya anda butuh kaca untuk melihat kalau sebenarnya yang siluman monyet itu anda. Saya baru tahu dongeng putri cantik yang berubah jadi monyet saat marah itu ternyata nyata." balasku sambil tersenyum sinis dan berdiri menantangnya.
Untunglah satpam segera datang dan mengamankan perempuan gila yang marah dengan balasan tudinganku. Hampir saja dia menyerangku. Siska merangkul dan membawaku buru-buru pergi ke ruang kerja Bray di lantai yang berbeda. Begitu sampai gadis itu menutup dan mengunci pintunya.
Siska mendudukan aku di sofa besar berlapis kulit warna abu-abu kehitaman. Ia
memberikan aku sebotol air mineral.
__ADS_1
"Minum dulu, nona muda!"
Aku meneguknya. Dinginnya air cukup mendinginkan api yang bergejolak di dadaku.
"Jangan panggil nona muda! Panggil saja saya Fifa. Nama saya Afifa Syarif." kataku dengan diiringi senyum ketika Siska juga telah meneguk air mineral dari botol yang berbeda.
Siska tersenyum dan menganggukan kepala.
"HP kamu rusak?"
Siska mengangguk sambil menunduk malu.
"Saya akan ganti. Sebut saja harganya berapa dan nomor rekening kamu. Terima kasih telah menyelamatkan saya."
"Saya nggak enak hati. Kenapa nona Fifa mau ganti? Kan yang ngerusakin bu Fara."
"Nggak apa-apa. Tolong hubungi satpam supaya segera mengamankan notebook saya. Sekalian minta bantuan staf IT kalau-kalau masih bisa menyelamatkan data penting di dalamnya."
"Baik, Non."
Siska sigap menghubungi satpam dan staf IT dengan saluran telepon kantor. Sementara aku berbaring di sofa panjang melepas lelahku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini kupikir tak ada masalah serius dalam hidup kami selain masalah pribadiku sendiri.
"Bu Fara punya posisi apa di sini, Sis?" tanyaku ketika Siska telah selesai melaksanakan tugasnya dan duduk di sofa tunggal di sebelahku.
"Direktur umum."
"Kerjanya bagus?"
"Nggak tahu, Bu. Beliau jarang masuk kantor. Semua urusan internal biasaya ditangani bapak wakil direktur, pak Samuel."
Oh, rupanya cuma parasit di perusahaan ini. Tak berkontribusi tapi dibayar bahkan mungkin menguras uang perusahaan.
"Kamu tahu nggak alasan dia ngotot mau kerja sama dengan perusahaannya Andi Gufron?"
"Dengar-dengar bu Fara teman dekatnya ibu Marlina, ibunya pak Gufron. Kalau saya lihat di media sosialnya sih mereka sering posting foto bareng geng arisan gula yang terkenal hedon."
Aku mengangguk-angguk. Aku baru mengerti mengapa mantan istri ayah mertuaku menyerangku secara membabi buta. Ini pasti ada hubungannya dengan tante Marlina.
Hufh, kubuang nafasku dengan panjang. Kupikir manuver tante Marlina sudah berhenti mengganggu keluarga kami. Ternyata tidak. Heran. Manusia serakah tidak ada puasnya merusak kenyamanan hidup orang lain. Dengkinya sudah tingkat dewa. Padahal hartanya banyak dan kami tak pernah mengganggu hidupnya.
Aku mengerti pilihan hidup baba menghindar dari keluarga. Bukan karena tak sayang. Namun memilih hidup nyaman dan damai. Selama ini aku melihat banyak orang yang hidup di kampung pedalaman bahagia dan merasa cukup walaupun kemampuan ekonominya yang hanya sebatas memenuhi kebutuhan makan agar bertahan hidup. Kadang mereka mengeluh kesulitan hidup, namun itu tak mengurangi kebahagiaan sebab keluhannya tak disertai dengan kemarahan, melainkan canda tawa.
__ADS_1