
Entah kemana perginya rasa percaya diriku. Rasa canggung dan malu lebih mendominasi perasaanku hari ini. Aku merasa jadi pusat perhatian. Tatapan para pegawai PT XY yang kami jumpai di jalan seakan sedang menghujatku. Itu sebabnya aku berjalan sambil menunduk di samping Bray yang sedikit mengangkat wajahnya dan senantiasa menebar senyum penuh percaya diri. Bagai langit dan bumi, aku merasa tak pantas jalan berdampingan dengannya.
Aku merasa sedikit nyaman ketika Bray mengajakku mampir di masjid Al Akbar yang berada di sebelah gedung kantor untuk melaksanakan shalat dzuhur. Di masjid aku hanya bertemu sedikit orang di tempat wudhu dan ruang shalat perempuan. Mayoritas pekerja di perusahaan ini adalah laki-laki. Pegawai perempuan bisa dihitung dengan jari. Mungkin persentasenya kurang dari 10% dari ratusan pegawai yang bekerja di perusahaan tambang ini. Selain itu jarang sekali ada pegawai perempuan yang shalat di masjid. Mereka lebih memilih menggelar sajadah di ruang kerjanya sendiri.
Selesai shalat aku melihat Bray tengah berbincang dengan beberapa pegawainya di beranda masjid. Begitu melihat kemunculanku, ia langsung menyudahi obrolan dan menghampiriku.
"Yuk, berangkat! Mobil sudah siap di samping masjid." ajak Bray sambil tersenyum.
Hatiku meleleh. Lagi-lagi aku mengekor saja. Supir kantor membukakan pintu untuknya dan Bray justru menyuruhku masuk duluan. Aku makin canggung dan tak enak hati diperlakukan seistimewa itu. Apalagi puluhan pasang mata pegawai menatapku. Tidak. Aku belum siap jadi selebriti yang akan jadi pusat perhatian seluruh pegawai dan masyarakat Lolobata.
"Seharusnya tadi aku pulang sendiri saja."
"Kelamaan nunggu ya?"
"Enggak enak aja dilihat orang banyak."
"Nanti juga biasa." jawab Bray enteng tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.
"Kamu kenapa matiin hp tadi pagi?"
"Kan kata pramugari peraturannya harus begitu. Di pesawat hp harus dinon-aktifkan."
"Sampai bandara kenapa tidak langsung diaktifkan. Padahal kamu kan tahu waktu telepon kamu dini hari tadi aku sudah ada di bandara Soekarno Hatta. Sudah kujelaskan juga kalau menurut jadwal pesawatku akan sampai duluan. Aku merasa kamu sengaja menghindar."
Aku memilih diam. Tak mungkin aku jawab jujur menghindar karena takut jatuh cinta padanya. Aku tak ingin hidupku terbelenggu.
"Fifa ..."
Aku menoleh memandangnya yang memutus kalimatnya pada namaku. Bray membalas tatapanku dengan sinar matanya yang menghujam menembus jantung hingga organ itu menggelepar tak beraturan. Darah terpompa dengan cepat mengalir ke seluruh tubuh seperti lomba lari. Yang kutakutkan pun terjadi. Tubuhku membeku.
"Katakan bagaimana caranya agar kamu nyaman bersamaku." todongnya dengan suara pelan namun tatapan matanya sangat tajam.
Bagaimana ya? Aku tak bisa jawab pertanyaanmu, mas Bray. Aku sendiri tak bisa mendefinisikan bagaimana perasaanku. Aku terlampau mencemaskan perasaanku yang sudah terlanjur melambung tinggi. Takut jika akhirnya terjatuh akibat dikecewakan olehnya di kemudian hari. Aku tak cukup berani mengambil resiko buat kecewa.
"Apa aku harus melamar kamu untuk membuktikan keseriusanku?"
Hah? Melamar? Aku tidak yakin kamu serius, mas Bray. Kamu hanya mencoba menaklukan aku untuk ditinggalkan seperti kebiasaan Bidadari Halmahera jantan yang kehidupannya bagai casanova.
Tidak. Aku masih ingin hidup damai. Aku tak ingin menambah masalah baru dengan Maudy atau siapa pun. Masalahku sendiri saja sekarang sudah menggunung. Lelah. Aku masih harus mengurai masalahku satu persatu.
"Baiklah. Aku akan memintamu pada mama hari ini."
"Jangan!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku belum siap. Aku mau membuat keluargaku bahagia dulu."
"Apa dengan menikah keluargamu tidak bisa bahagia?"
"Nggak gitu juga." jawabku sambil merremas tanganku sendiri.
Emmm bagaimana ya? Hari ini hatiku diselimuti rasa gelisah yang tak berkesudahan. Entah apa sebabnya. Sejak pak Rodi membangunkan tidur sebelum subuh tadi perasaanku sudah tak enak. Kupikir tadinya karena kurang tidur. Namun tertidur pulas dalam perjalanan tak jua memperbaiki suasana hatiku. Sampai saat ini perasaanku masih kacau balau.
"Lalu bagaimana?"
Aku ingin lari dari kondisi ini. Aku ingin sendiri saja. Aku bingung.
"Aku mau mampir ke makam baba." Tiba-tiba keinginan itu singgah begitu mobil telah melintasi pertigaan jalan.
"Katakan ke mana arahnya pada pak Adnan."
"Putar balik belok ke kanan, pak." jawabku pasti.
Pak Adnan mengikuti arahanku. Mobil berbalik arah menuju makam yang terletak di pinggir kampung berbatasan dengan hutan dan ladang penduduk.
"Kenapa tiba-tiba ingin ke makam?"
"Mau memberi tahu baba kalau aku sudah pulang dari Makassar. Sebelum berangkat aku juga pamit kok. Mas Bray harus kenalan dulu dengan baba." Kata itu terucap begitu saja. Tanpa pikir panjang. Tanpa ada alasan tertentu yang mendasarinya. Semua serba spontan seperti ada hal gaib yang membisikannya ke dalam hatiku.
Setibanya di kampung aku ingin kembali memasuki area makam yang sebelum keberangkatanku ke Makassar juga kukunjungi secara tiba-tiba. Aku melompat turun saat mobil baru saja berhenti. Bray mengikuti langkahku.
Tiba-tiba saja tanpa sengaja aku melihat anak panah melesat cepat. Aku menarik tubuh Bray agar menghindar. Tapi gerakan anak panah itu lebih cepat dari kemampuanku menarik tubuh Bray yang tinggi besar.
Bluss. Anak panah itu melukai lengan kirinya.
"Hai, jangan lari kamu!" Bray menoleh dan berteriak sambil mengangkat tangan kanannya ke arah sepeda motor yang melesat cepat di jalanan berbatu.
Anak panah itu tertancap di lengan kirinya. Bray dengan cepat mencabut sendiri anak panah itu dengan tangan kanannya. Darah segar menyembur bersamaan dengan tercabutnya anak panah. Sungguh mengerikan. Seperti melihat adegan film action yang membangkitkan kengerian yang mendalam.
Bukannya menolong, melihat darah yang muncrat justru membuatku spontan melangkah mundur ketakutan dan menutup wajahku.
Tuhan, ada apa lagi ini? Kenapa anak panah itu kini melukai Bray?
Tak lama kemudian pak Adnan berlari menghampiri kami dengan menenteng kotak P3K yang tersedia di dalam mobil. Supir itu menaruh kotak P3K di tanah dan langsung sigap menggantikan tangan kanan Bray yang sebelumnya menekan permukaan luka tusukan selama beberapa saat. Kulihat Bray meringis menahan sakit. Hatiku juga teriris. Tubuhku gemetar.
Setelah menarik nafas dan memastikan situasi aman, aku mendekat dengan langkah pelan. Kulawan rasa takut dengan mengambil kotak P3K yang tergeletak di tanah. Kubuka kotak putih itu lalu mengambil botol alkohol untuk dituangkan ke atas permukaan kapas.
__ADS_1
Kusodorkan kapas itu pada supir untuk membasuh luka. Tak tega melihat Bray terus meringis menahan sakit. Aku takut anak panah itu mengandung racun yang sama dengan anak panah yang mengambil nyawa baba dan burung nuri kesayanganku. Meski panah tak mengenai organ vital, tapi racunnya mungkin bisa menyebar melalui aliran darah dan mengancam nyawanya.
Ya Tuhan, selamatkanlah lelaki baik ini. Maafkan aku membawanya dalam masalah seperti ini.
Kukumpulkan gumpalan-gumpalan kapas yang basah oleh alkohol dan darah. Perlahan perdarahan mulai berkurang, aku membantu pak Adnan membalutkan perban pada lengan Bray yang terluka.
"Tolong segera kabari Hisyam." ucap Bray saat perban selesai dirapikan.
Pak Adnan mengambil gawai di kantongnya lalu segera menghubungi Hisyam.
Aku diam mematung di hadapan Bray. Siap menanggung marah andai Bray menyalahkan aku. Tak tahu kutukan apa yang kuterima hingga tiap orang yang kucintai harus celaka dan menderita. Aku memang pembawa sial. Harusnya aku tidak membawa Bray ke makam yang sepi ini. Harusnya tadi aku nekat pulang sendiri saja. Harusnya .... Harusnya .... Sejuta penyesalan memenuhi kepala dan hatiku. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur dan Bray kini telah jadi korban pemanah misterius itu.
"Terima kasih telah sigap melindungiku." Bray tersenyum manis padaku.
Terima kasih? Aku tak pantas mendapatkan kata itu. Kamu terluka Bray. Aku yang pembawa sial. Harusnya kamu tak memaksa mengantarku pulang. Jangan berurusan langsung denganku kalau tidak mau celaka. Kamu akan aman dalam kawasan perusahaan.
Bray masih tersenyum. Tubuhku semakin kaku dan gemetar. Segala macam ketakutan dan bayangan buruk bercokol di kepalaku.
"Jangan takut. Aku baik-baik saja." Bray membuka tangannya menunjukan tak ada luka yang mematikan pada organ tubuhnya.
Aku menggeleng. Aku tak tahu apakah harus melanjutkan niat ziarah ke makam baba, lari pulang sendiri, atau menunggu keputusan kak Hisyam yang sedang ditelepon pak Adnan.
"Pak Hisyam meminta kita kembali ke kantor, Pak. Beliau sudah menghubungi dokter kantor agar segera menyiapkan peralatan medis dan obatnya di klinik perusahaan."
Bray mengangguk.
"Di mana makam ayahmu?"
"Mas Bray kembali saja ke kantor. Biar aku di sini sendiri."
Lelaki itu menggeleng. Ia berbisik dekat telinga. "Aku harus memastikan kamu selamat. Bisa jadi pemanah misterius itu kembali lagi ke sini untuk membunuhmu."
"Tapi racun itu ..."
"Kami sudah membawa anak panah yang membunuh burung nuri itu ke laboratorium. Racunnya sejenis arsenik yang biasa digunakan orang jawa kuno untuk melapisi keris. Tim kami sudah punya penawarnya."
Aku menggeleng tak percaya. Bray hanya ingin menghiburku saja. Aku takut racun itu membunuhnya. Aku sangat takut.
"Pak Adnan, antar pak Firdaus ke klinik kantor secepatnya. Jangan sampai ada apa-apa dengan beliau."
"Kalau begitu, kau harus ikut."
Ya. Sebagai pembawa sial aku harus ikut bertanggung jawab atas peristiwa percobaan pembunuhan ini. Terpaksa aku ikut kembali ke kantor untuk memastikan keadaan Bray.
__ADS_1
"Pak Hisyam juga sudah melapor polisi, Pak."
Waduh. Apakah nantinya aku akan diperiksa polisi? Aku sebenarnya enggan berurusan dengan polisi. Tapi pemanah misterius itu memang harus ditangkap dan mempertanggung jawabkan perbuatannya di mata hukum. Aku harus hadapi. Pemanah misterius itu harus ditangkap secepatnya.