
Aku makan dengan mengikuti cara nenek, yakni makan teratur dari sisi yang paling dekat denganku. Tidak mencampur aduk makanan. Makan dengan tenang hingga tak ada suara denting sendok dan garpu beradu dengan apapun. Tidak juga mengeluarkan suara kecapan yang membuat orang lain jijik.
Bray memperhatikan cara makanku. Beberapa kali kami beradu pandang dan saling melempar senyum. Aku tak peduli dianggap aneh kulanjutkan makanku dengan tenang dan kunikmati sedapnya nikmat Tuhan yang ada dalam piring di hadapanku.
"Kamu nyaman dengan cara makanmu?"
Aku mengangguk. Lalu melanjutkan makanku sampai isi piringku habis. Setelah itu kutangkupkan sendok dan garpu di atas piring.
"Mau dessert?"
"Tidak. Sudah kenyang." jawabku sambil mengelap bibir dengan tisue.
"Kamu belajar etika makan dari mana?"
"Etika makan? Aku tidak tahu etika makan. Mas Bray kan tahu sendiri aku gadis hutan yang jauh dari peradaban. Aku hanya tertarik mengikuti cara makan nenek. Kelihatan anggun dan berkelas. Apa itu yang namanya etika makan?"
Bray tersenyum puas, "Kukira selama di Makassar kamu sengaja ikut kelas khusus etika makan."
"Memang ada pendidikan seperti itu?"
"Ada."
"Harus bayar mahal?"
"Ya."
"Kok belajar begitu aja harus bayar, fungsinya buat apa?"
"Buat jerat lelaki kaya."
Aku melotot sambil angkat tangan, "Aku enggak kayak gitu lo. Sumpah! Aku cuma mengikuti kebiasaan nenek. Cuma mengikuti naluri seorang cucu yang ingin neneknya bahagia. Nenek terlihat senang kalau anak keturunannya patuh dan mengikuti kebiasaannya."
__ADS_1
Bray senyum senyum mendengar jawabanku yang sedikit nyolot. Sebal. Kata-katanya mengandung tuduhan seolah aku sengaja menjeratnya. Kenyataannya aku tidak tahu apa itu etika makan. Jujur dari lubuk hati yang paling dalam tidak ada niat dalam hati kecuali menyenangkan nenek dan diriku sendiri. Aku memang tertarik mengikuti kebiasaan nenek yang dianggap kolot. Mungkin karena pemikiranku yang cenderung konservatif.
"Kamu nggak update informasi ya. Di kota besar ada kelas kursus kepribadian yang mengajarkan etika makan, etika berbicara, etika berpakaian, etika berjalan, dan berbagai etika lainnya. Banyak orang masuk kelas itu agar bisa bergaul dengan orang kelas atas."
Ehm, apa iya? Mungkin orang Jakarta sudah kebanyakan uang hingga sudi membayar mahal untuk kursus-kursus macam itu. Tapi tidak dengan aku yang lahir dengan konsep pendidikan harusnya gratis agar bisa dijangkau semua kalangan. Kaya atau miskin berhak dapat ilmu dan pengetahuan. Belajar bisa pada siapapun dan tak harus berbayar.
"Itu sebabnya aku tidak suka tinggal di kota besar. Ribet. Aku juga nggak pernah kepikiran buat bergaul dengan orang kelas atas. Bagiku semua manusia sama saja."
Bray memamerkan senyumnya lagi dan lagi. Aku suka dengan tatapannya yang memuja meski wajahku tak sempurna.
Es cincau hijau sebagai hidangan penutup telah tersaji di meja. Ia menyeruputnya pelan-pelan dan dalam. Rasa segarnya ikut mengalir di tenggorokanku meski aku tak ikut mencicipi hidangan penutup tradisional itu.
"Kamu pernah minum cincau hijau?" tanyanya sebelum kembali menyeruput cincau dengan sedotan besar seukuran pipa 1/4 inchi.
"Pernah. Dulu kakak pengajar sekolah rimba pernah ada yang bawa tanaman cincau dan kami praktek membuat cincau sendiri. Dibejek sampai airnya berwarna hijau pekat lalu didiamkan semalaman agar mengental." Dengan bangga aku memceritakan praktek membuat cincau yang pernah diajarkan kakak pengajar sekolah rimba.
Bray kelihatan terpukau. Kurasa dia hanya bisa menikmati. Tak pernah tahu bagaimana cara membuatnya.
"Kakak pengajar sekolah rimba hebat ya."
"Iya. Mereka tau banyak hal yang langsung bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sayang mereka tak bisa tinggal terus bersama kami. Selama ada program sekolah rimba ganti-ganti terus kakak pengajarnya. Tak jarang ada periode kosong tanpa pengajar."
Itulah susahnya. Program bagus belajar langsung dari alam yang dibutuhkan anak pedalaman seperti kami tersendat karena kekurangan penyandang dana.
"Semenjak ada sekolah negeri, kakak-kakak sukarelawan pendidikan itu diperbantukan jadi guru tidak tetap di sekolah. Tak ada lagi aktivitas sekolah rimba di mushola kami." kataku dengan nada suara yang menurun. Rasa kecewa mulai kembali menyusupi hati.
"Jadi, sekolah rimba itu dilaksanakan di mushola yang di sebelah pohon kenari itu?"
Rupanya Bray ingat kejadian tewasnya burung nuriku. Mushola kecil itu memang dekat dengan pohon kenari yang menjadi saksi sengketa kami soal kematian nuri sahabatku.
"Iya. Dulu mushola itu pusat segalanya, mas Bray. Itu sebabnya aku tetap memeliharanya walau tinggal sendirian. Baba mengajarkan anak-anak mengaji, menulis, membaca dan berbagi tentang apa pun di mushola itu selama bertahun-tahun. Mushola itu sepi sejak baba meninggal dan orang-orang ke kampung berpencar pergi dari kampung kami. Tepatnya sejak PT XY mengakusisi tanah kami."
__ADS_1
Ingatanku tentang baba dan kemarahanku pada perusahaan tambang yang mengambil alih tanah kami kembali muncul. Pandanganku berubah seketika. Aku melihat Bray bukan sebagai seorang yang kupuja, tapi penjahat yang telah merusak kebahagiaan hidupku.
Bray hampir tersedak. Perubahan suasana hatiku mulai terbaca olehnya. Aku berhadap-hadapan seperti pasukan yang siap berperang. Ingatan itu membuka kembali luka lama yang merobek hatiku.
"Bukankah kami telah membangun masjid yang lebih besar di kampung baru? Seharusnya bisa difungsikan sebagai pengganti mushola itu."
Bray jelas ingin membela PT XY yang dipimpinnya dengan pernyataan itu. Dia ingin menunjukan diri sebagai pahlawan dengan mengatakan telah membangun masjid yang lebih besar. Dia selalu menggaungkan tak ada pelanggaran hak asasi dalam operasional perusahaannya. Katanya kehadiran perusahaan justru mendorong orang pedalaman untuk hidup lebih layak dengan membangun fasilitas jalan, rumah, menyediakan kebun pengganti dan berbagai fasilitas publik seperti sekolah, lapangan sepak bola dan rumah ibadah.
"Fungsi sebuah bangunan itu bukan dinilai dari besar, kecil atau megahnya. Tempat yang membuat nyaman orang-orang ketika berada di dalamnya bukan semata karena fisik. Namun karena pengaruh ruh dan spirit orang-orang yang memakmurkannya. Sebuah gerakan batin tak kasat oleh mata. Namun kita bisa melihat dampak yang ditimbulkannya. Mas Bray coba lihat sendiri. Masjid yang dibangun di kampung baru itu sepi. Tidak semarak seperti mushola kami."
Air wajah Bray berubah muram. Mau membantah tak punya bukti.
Kenyataannya memang masjid itu bukan tempat masyarakat bersosialisasi. Hanya murni tempat ibadah. Setelah aktivitas shalat berjamaah yang hanya dihadiri segelintir orang masjid kembali sepi. Anak-anak sekolah dalam gedung tersendiri. Orang sekarang juga mulai enggan berbagi cerita dengan sesama sebab setiap pertanyaan bisa ditanyakan lebih mudah dan cepat pada mbah Google.
Kurasa sudah saatnya Bray tahu siapa aku dan apa yang membuatku gundah.
"Orang-orang yang pindah ke kampung baru kebanyakan adalah golongan oportunis, bukan orang agamis atau orang yang naturalis. Apa mas Bray tahu ada sebagian warga kampung kami yang kembali masuk ke dalam hutan? Entah bagaimana nasibnya sekarang. Apakah mereka membuat perkampungan baru dalam hutan Lolobata atau bergabung kembali bersama suku Lili yang hidup berpindah-pindah di kawasan hutan."
Bray menggeleng. Ia memperhatikan tiap gerakan bibirku dengan seksama. Tidak berusaha untuk menghadang pendapatku dengan apa yang telah diperbuat perusahaan untuk masyarakat yang dianggapnya sebagai satu pencapaian.
"Aku tak tahu apakah mereka masih beragama atau tidak. Apakah anak-anak mereka dapat pendidikan atau dibiarkan hidup jauh dari sentuhan masyarakat sekitar."
"Jadi menurutmu, ini salahku?" Bray bertanya dengan wajah lesu.
Tampaknya Bray mulai merasa bersalah. Mungkin secara de yure ia tak melanggar hak asasi sebab dia memegang hak konsesi dan telah berupaya mengganti hak milik warga yang masuk dalam wilayah konsesinya dengan layak. Tapi faktanya ada sebagian orang yang kehidupannya terusik sejak perusahaan yang dipimpinnya membuka lahan tambang.
Senyum mengalir dari bibirku. Aku senang dialogku dianggap. Bray kelihatan berpikir keras dan merasa bersalah. Dia bukan pria yang keras hati seperti sangkaku. Dia hanya belum tahu apa yang kurasakan semenjak perusahaan datang membawa kehidupan baru bagi warga kampung kami
"Aku tak tahu salah siapa. Aku ingin bertemu mereka yang menyingkir oleh keadaan dan mengajak mereka beragama serta berpendidikan. Mungkin itu bisa jadi program CSR perusahaan berikutnya." Akhirnya kutemukan jawaban yang menentramkan buat kami berdua. Tidak menyudutkan Bray yang telah berupaya keras memajukan kampung dan keresahanku sudah terungkapkan.
Bray tersenyum lebar. "Aku selalu gemas sama kamu, Fifa. Calon istriku benar-benar perempuan yang cerdas dan berkarakter. Tentu aku setuju idemu."
__ADS_1
Apa yang membuat hidup kita sulit adalah prasangka. Dengan komunikasi yang lebih baik, kita bisa mencari solusi. Bukan dengan diam dan meratapi nasib.