LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
BUKAN SALAHKU


__ADS_3

Sungguh aku merasa bersalah atas perceraian ini. Mungkin benar nasibku sebagai pembawa sial. Rumah tangga mama yang semula tampak adem, berubah panas semenjak kehadiranku. Akulah yang menjadi sebab pertengkaran itu. Tak menunggu waktu lama berita perceraian mama tersebar ke seluruh penduduk kampung sebab kami tinggal bersebelahan dengan wartawan gosip senior di kampung kami yang pasti mendengar pertengkaran malam itu. Mama Wen, istri pertama bapak kepala kampung sampai menyempatkan diri datang menanyakan kebenaran berita itu langsung saat matahari masih belum naik sampai sepenggalahan.


"Ngana dicerai bapak? Ada masalah apa?" tanya wanita paruh baya yang selama ini lebih suka bersekutu dengan mama dibandingkan dengan istri bapak kepala kampung yang lain. Dia tampak sangat kecewa dengan keputusan itu.


"Maaf, Kak Wen. Bapak terlalu terpengaruh omongan orang soal Fifa dan memaksa saya beri ijin menikahkan Fifa dengan anak kepala kampung sebelah. Saya tidak setuju dan akhirnya kami bertengkar hebat lalu terjadilah apa yang kak Wen dengar dari omongan orang kampung."


"Kenapa tara turut saja apa kata bapak? Bukankah selama ini kau istri yang patuh? Fifa kan sudah cukup umur. Anak kepala kampung sebelah keturunan orang baik. Tuan tanah pula. Su punya banyak uang hasil kopra."


"Fifa tidak akan menikah kecuali dengan orang yang tak dicintainya," tegas mama.


Mama Wen mendengus hingga suara nafasnya terdengar jelas di telingaku yang sedang menganyam tikar di lantai beranda rumah. Matanya langsung menatapku tajam seolah hendak menguliti tubuhku.


"Ngana mau menikah dengan siapa, Fifa? Arfa ditolak. Anak kepala kampung pun ngana tak mau," gerutunya geram.


Aku tak menjawab. Bagiku itu bukan pertanyaan, hanya retorika orang yang kecewa saja. Tanganku terus menganyam pandan kering dengan terampil. Aku mulai terbiasa mendengar pandangan buruk orang lain. Telingaku sudah cukup kebal. Asalkan bukan mama yang dihina, lebih baik aku tak ikut campur mengenai masalah perceraian itu.


"Sudahlah, kak Wen. Saya rasa takdir pernikahan saya dengan bapak memang sudah selesai sampai di sini. Ini sama sekali bukan salah Fifa."


"Ngana pasti akan menyesal diceraikan bapak gara-gara anak gadis ngana yang liar, sombong dan keras kepala ini." Mama Wen menudingkan tangan ke bawah tepat di atas kepalaku.


Aku tetap diam.


"Sampai kapan pun seorang ibu pasti lebih memilih kebahagiaan anaknya, kak Wen. Lagipula bukankah kak Wen sendiri yang bilang bakal ada istri yang dicerai sebab bapak sudah berniat mengawini janda muda dari kampung sebelah. Masalah Fifa mungkin hanyalah alasan buat menyingkirkan saya."


"Benar bapak sedang tergila-gila pada janda gatal itu, tapi saya harap bukan ngana yang dicerai. Yusia atau Lila saja. Dorang serakah, mulut besar, dan banyak tingkah."

__ADS_1


"Mereka masih muda dan cantik, kak Wen. Saya sudah duga, kalau ada yang akan dicerai pasti saya pilihannya."


Mama Wen diam. Ia sedih dan lantaran tak ada lagi istri bapak kepala kampung yang mau bersekutu dengannya. Kedua istri yang lain masih muda, bergaya hidup tinggi, dan tak mau diatur-atur oleh mama Wen sebagai istri pertama. Menurut cerita mama Wen kedua istri bapak yang lain selalu meminta jatah uang belanja lebih dengan berbagai alasan dan bapak selalu mengabulkannya. Hanya mama istri yang penyabar, menghormati istri pertama, dan tak banyak menuntut.


Kupikir ketidaksukaan mama Wen dipicu oleh masalah ekonomi dan gaya hidup kedua istri bapak yang lain. Itu berimbas pada perekonomian keluarganya. Aku pernah melihat beberapa kali mama memberi mama Wen uang karena istri pertama kepala kampung itu terlampau sering mengeluh masalah ekonomi.


"Kita akan tetap bersaudara, kak Wen. Janganlah risaukan status saya. Kita masih bisa saling bantu." Mama memeluk mama Wen sampai hatinya cukup lega.


Mama Wen akhirnya pulang, meski dengan wajah kecewa. Entah apa yang akan dilakukannya. Namun ibu 4 orang anak itu masih menitikan air mata ketika melepaskan pelukan mama dan menyatakan pamit. Hatiku trenyuh. Apakah aku penyebab dari semua ini? Rasa bersalahku makin menjadi.


Haruskah aku menerima saja perjodohan dengan anak kepala kampung sebelah demi kedua perempuan itu?


Aku sendiri tak tahu bagaimana kisah rumah tanggaku nanti. Hidupku sekarang ini saja masih penuh kegamangan. Tak tahu tujuan hidup. Semua mengalir begitu saja mengikuti arus.


Kadang aku berpikir, mungkin aku sudah kena penyakit gila. Kala sendirian pun bayangannya sering datang sekelabat mata menunjukan senyumnya yang menawan. Aku bisa tersenyum atau marah oleh sebab kehadiran bayangan itu. Tak tahu harus kemana aku mengobati penyakit gilaku itu. Aku terlalu malu buat menceritakan bagaimana kondisi hatiku yang sebenarnya.


Tentu saja apa yang ada dalam pikiranku tak pernah kusampaikan pada siapapun. Termasuk mama. Biar rasa ini hanya aku yang tahu dan merasakan.


"Ma, bagaimana kalau aku terima saja perjodohan itu demi mama dan mama Wen?" Daripada dihantui rasa bersalah, akhirnya aku memberanikan diri mengemukakan pendapatku pada mama.


Tentu saja reaksi mama terkejut mendengarnya. Mungkin beliau tak menyangka aku yang keras kepala bisa trenyuh melihat tangisan mama Wen.


"Tidak, Fifa. Kau tak perlu berkorban. Pastikan kebahagiaanmu sendiri. Masa depanmu masih panjang. Jangan kau sia-siakan. Mama tak suka dengan anak kepala kampung desa sebelah itu. Kata orang agamanya kurang dan sering kedapatan mabuk di pesta-pesta atau di kedai tuak pinggir desa."


Aku menciut ngeri mendengar orang yang akan dijodohkan ternyata seorang pemabuk. Bayangan tentang kehidupan rumah tangga yang penuh nestapa segera menyelimuti pikiranku. Mengerikan. Orang kalau sudah mabuk bisa melakukan apapun di luar nalar sebab otaknya tak bisa berpikir normal. Berbagai kejahatan bisa muncul saat orang sedang mabuk. Dulu aku sering melihat mama Tio meminta perlindungan pada baba dan mama dengan tubuh penuh luka dan lebam akibat dipukuli suaminya yang pulang dalam keadaan mabuk dan kalah judi. Padahal mereka saling mencintai. Setelah sadar papa Tio biasanya minta maaf dan mereka berbaikan kembali. Tapi karena lelaki itu selalu datang ke kedai tuak, tindakan kasar tetap saja kerap terjadi pada istri dan anak-anaknya. Tentu saja aku tak ingin bernasib sama dengan mama Tio dan anak-anaknya.

__ADS_1


Aku ingin berjodoh dengan lelaki seperti Baba yang taat agama dan cinta keluarga. Mama benar. Aku tak bisa mengorbankan diri menikah dengan pemabuk.


"Arfa jauh lebih baik daripada anak kepala kampung sebelah. Percayalah! Hidupmu tak akan bahagia jika menikah dengan seorang pemabuk."


Ucapan mama tak dapat disangkal kebenarannya. Tapi ...? Mengapa mama masih mengaitkan nama Arfa? Apa mama berharap aku memperjuangkan Arfa?


"Kita sedang diuji kesabaran, Fifa. Kita sama-sama harus kuat mental. Keputusan mama sudah bulat. Kamu tak perlu merasa bersalah atas perceraian mama. Semua bukan salahmu. Mama percaya ini adalah jawaban atas doa-doa yang selalu mama panjatkan pada akhir shalat malam."


"Bagaimana dengan Fifi? Sekolahnya?"


"Insya Allah semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Rejeki itu datangnya dari Allah. Mama masih sanggup mengelola kebun yang kita punya dan itu cukup buat hidup kita bertiga. Lagipula kamu mandiri dan pekerja keras. Mama bisa bergantung padamu juga." jawab mama diiringi senyum penuh percaya diri.


"Di rumah kita tak ada laki-laki. Apakah kita akan aman?"


"Kita sudah terbiasa mandiri. Selama empat tahun di kampung baru ini mama pun sebenarnya selalu melakukan semuanya sendiri. Di sini pekerjaan kita lebih ringan karena ada listrik dan sepeda motor. Dulu mama menikah hanya karena ketakutan tak ada pelindung keluarga. Padahal Allah adalah sebaik-baiknya tempat berlindung."


Keyakinan mama menguatkan hatiku lagi. Asam garam kehidupan lebih banyak dimakannya. Aku menurut saja. Aku tahu keputusan mama pasti atas dasar pertimbangan yang panjang dan dukungan doa yang sepanjang malam beliau panjatkan selama ini.


"Ingat, Fifa! Ini semua bukan salah kamu. Camkan itu."


Aku mengangguk pasti.


"Kita berjuang berbuat baik agar kelak bertemu baba di surga. Kita semua sayang baba. Mama tetap ingin jadi istri baba di surga."


Akh, mama ... Aku terharu. Cintamu tak terbatas oleh sempitnya dunia. Semoga aku dipertemukan dengan lelaki sebaik baba yang kelak mempersunting aku dunia akhirat bersama. Amin.

__ADS_1


__ADS_2