LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KERABAT


__ADS_3

Aku meminta Andi untuk tinggal beberapa lama menunggu Bray yang mungkin bersama rombongan asisten dan pengawalnya akan datang ke rumah kami. Tak perlu membujuk sebab dia mengaku senang mendapat kesempatan kenal lebih dekat dengan bos perusahaan itu. Tawaran makan malam bersama keluarga yang hanya bermenu nasi, tempe, lalapan dan sambal ikan asap sudah cukup membuatnya senang bukan kepalang.


"Sa sudah kabari sa punya mama piara akan pulang lambat dan tara perlu menyiapkan makan malam. Si mama senang sekali." ujar Andi mulai mempraktekkan gaya bicara ala kampung kami sambil tersenyum tengil di depan mama dan Fifi. Ia menyendok nasi sepiring penuh dan mengambil sambal cukup banyak. Porsi makannya aduhai banyaknya.


"Kak Andi tidak dapat rumah dinas kah?"


"Mana lah dapat rumah dinas staf rendahan. Yang dapat fasilitas rumah dinas itu hanya kepala-kepala saja. Saya hanya ekor, Mama." jawabnya merendah sambil tetap tersenyum.


Mama membalas dengan tersipu. Bukan karena apa apa, tapi teringat akan baba. "Ngana mirip baba Fifa waktu masih muda." komentar mama.


"Masak sih?"


"Kak Andi ini juga orang Bugis, Ma." jelasku.


"Ohya?"


Mama tertegun seperti menemukan harta karun yang amat berharga begitu aku mengatakan Andi keturunan suku Bugis.


"Babanya Fifa juga keturunan Bugis."


"Fifa sudah cerita soal itu. Sayang dia tidak tahu silsilah keluarga dari pihak ayah. Kalau tahu, mungkin bisa ditelusuri. Siapa tahu kita bertalian darah."


"Nama kakeknya Fifa Andi Baharuddin Syam. Neneknya Andi Arifah Bintun. Mama pernah bertemu sekali sekitar tiga puluh tahun yang lalu waktu kami baru saja menikah. Sejak saat itu kami memang belum berkesempatan bertemu atau sekedar berkabar. Maklumlah tempat tinggal kami hanya kampung terpencil yang jauh dari fasilitas komunikasi dan kami tak cukup punya uang buat ongkos berkunjung ke Makassar."


Andi sempat tertegun. Ia menelan nasi yang ada di mulutnya kemudian minum air bening agar tidak tersedak.


"Ternyata kita betul bertalian darah. Nenek Arifah Bintun adalah adik dari kakekku, Andi Yusuf Bintun. Beliau sekarang tinggal di Makassar bersama seorang anaknya yang bernama Andi Hasanuddin Syam. Kalau kakek Baharuddin sudah lama meninggal dunia." Andi menerangkan dengan lancar tanpa keraguan sedikit pun.


Mama tersenyum lebar. Kami sama-sama tak menyangka bisa bertemu salah satu kerabat ayah kami. "Ya Allah, alhamdulillah bisa dipertemukan dengan kerabat baba. Mama ingat, Hasanuddin Syam adalah nama salah satu adik baba yang dulu waktu kami bertemu masih kuliah di jurusan pendidikan agama islam."


"Paman Hasan sekarang sudah jadi kepala sekolah di sebuah sekolah dasar islam terkenal di Makassar." terang Andi.

__ADS_1


Aku dan mama saling berpandangan, sama-sama takjub dengan pertemuan kerabat yang sama sekali tak terduga. Jangankan berpikir buat mencari kerabat baba di Makassar, alamatnya saja mama tak tahu. Kami pikir hubungan silaturahmi dengan keluarga baba bakal terputus selamanya. Ternyata hari ini takdir berkata lain.


"Bulan depan aku akan cuti seminggu. Pulang ke Makassar untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Kalau berkenan Fifa boleh kuajak serta. Nanti kuantar mengunjungi nenek Arifa dan kerabat kalian yang ada di Makassar."


Aku tersenyum riang. Berjumpa dengan keluarga besar ayah tak pernah terpikir sebelumnya. Ini seperti anugerah yang seolah tiba-tiba jatuh dari langit. Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Mama merangkul Andi sambil tersenyum. "Tentu saja boleh. Kami perlu menyambung silaturahmi dengan keluarga besar almarhum babanya Fifa. Apalagi Fifa butuh wali saat menikah nanti. Sebelumnya kami tak tahu bagaimana cara menyambung silaturahmi mengingat sudah terlalu lama kami putus komunikasi dengan keluarga almarhum baba Syarif. Alhamdulillah Allah mengirim kamu buat jalan kami, kak Andi. Kami akan mulai menabung khusus buat siapkan ongkos ke Makassar. Bukan begitu, Fifa?"


Aku mengangguk. Terlalu bahagia membuatku tak bisa berkata-kata. Hatiku hanya dapat mengulang-ulang kata alhamdulillah tanpa suara.


"Nanti sa tanya nomor telepon paman Hasan pada ayah. Kebetulan sa tara simpan nomor paman Hasan."


"Assalamu'alaikum." Terdengar orang mengucap salam memutus pembicaraan kami.


Tak lama kemudian terdengar suara Aga yang mengulang kata salam berkali-kali. Burung itu memang selalu bertingkah demikian kalau melihat ada tamu masuk di halaman rumah. Dia tak akan berhenti mengoceh sebelum kami menjawab salam dan menemui tamu yang datang. Dia hewan penjaga yang cukup handal.


Aku segera beranjak ke beranda, sementara mama dan Fifi bergegas membereskan bekas makan kami yang masih berantakan di atas tikar ruang tengah.


"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk kak Hisyam dan kak Bray!" Aku menyambut mereka dengan senyum diikuti Andi di samping kanan.


"Itu burung yang kulepaskan kemarin kenapa ada lagi di aviary Fifa." protes Bray setelah menyorot dengan senter gawainya ke arah Aga. Ia menatapku penuh curiga dan wajahnya penuh dengan gurat kecewa.


"Burung itu kembali ke sini kemarin sore. Sepertinya sudah terlanjur jatuh cinta pada keepernya." Andi menjawab sambil tergelak.


Sontak Bray langsung beralih memandangnya. Pria itu beralih menyorotkan pandangan curiganya pada Andi dengan sorot yang jauh lebih tajam. Aku memilih menunduk, namun tetap melirik dengan ekor mataku.


"Fifa sudah lapor. Kami sedang dalam proses mengurus ijinnya kembali. Tampaknya karena Aga merupakan hasil biakan penangkaran, burung itu sudah terlanjur jinak. Tidak mudah bagi burung hasil biakan penangkaran menyesuaikan diri dengan kondisi hutan. Butuh lebih banyak waktu agar terbiasa dengan ekosistem hutan. Seperti manusia yang tadinya tinggal dengan segala kemewahan fasilitas di kota, pasti sulit menyesuaikan diri jika tiba-tiba dipaksa survive tinggal di hutan." jelas Andi kemudian.


Aku mengelus dada. Untunglah ada Andi yang bisa jadi juru bicara yang melindungiku dari tatapan curiga itu. Dia benar-benar berperan sebagai saudara tua yang baik buatku.


"Ehm, kamu siapa? Ngapain ada di sini?" Bray menatap Andi dengan wajah dinginnya. Entah merasa tersindir atau ada hal lain yang tidak disukainya.

__ADS_1


"Saya staf BKSDA. Sore tadi saya mengantar wake wake sebagai penghuni baru aviary itu." Andi menunjuk ke arah kandang wake wake atau bidadari halmahera yang terletak di bagian bawah aviary.


"Kenapa tidak langsung pulang?"


Ups. Orang ini terlalu kepo. Memangnya dia siapa. Satpam rumahku? Tak pantas dia bertanya begitu. Bukan dia tuan rumah di sini. Jelas sekali ia ingin menunjukan sikap arogan dan sok kuasa di tempat yang sebenarnya bukan wilayah kekuasaannya.


"Fifa menawarkan makan malam bersama keluarga. Ini suatu kehormatan buat saya. Kenalkan, nama saya Andi Ahmad Syarifuddin. Selain ada urusan konservasi wake wake, saya juga masih kerabat dekat ayahnya Fifa."


Bray mengatupkan bibirnya. Wajahnya terlihat lebih cerah namun belum sepenuhnya normal. Ia menyalami Andi dengan ramah.


"Firdaus Sanjaya." Ia memperkenalkan diri dengan tegas dan sangat percaya diri. Genggaman tangannya terlihat sangat kokoh.


"Senang bisa berkenalan dan berjabat tangan dengan anda, pak Firdaus. Selama ini saya hanya bisa melihat anda dari kejauhan." Andi dengan cepat menyambut uluran tangan dengan wajah semringah.


"Jangan panggil saya bapak, saya belum punya anak."


"Hahaha, lalu saya boleh panggil apa? Kakak, abang atau malah adik?" Andi menanggapi canda kaku Bray dengan gaya cerianya.


Bray tak menjawab. Mungkin dia canggung. Dipanggil bapak kok kedengarannya kayak tua tapi ia tahu sebenarnya panggilan itu ditujukan Andi sebagai bentuk penghormatan.


Rupanya Bray masih sedikit meragukan keterangan Andi. "Benar kamu kerabat Fifa?" tanyanya lagi dengan nada tegas.


"Iya. Saya juga baru tahu setelah ngobrol dengan mama Fifa. Nenek Fifa ternyata adik dari kakek saya. Kami sama-sama keturunan suku Bugis, penjelajah ulung nusantara." Andi masih saja menanggapi dengan gaya cerianya. Kalimat terakhirnya agak hiperbolik, tapi pilihan kata itu cocok dengan sikap cerianya mampu mencairkan suasana kaku diantara kami.


Bray mengembangkan senyum. Tatapan curiganya sudah mulai memudar.


"Bangga sekali kalian dengan nenek moyang."


"Tentu. Suku kami terkenal sebagai pelaut ulung dan penjelajah yang pemberani. Kalian tahu perdana menteri Malaysia Najib Razzaq? Beliau termasuk salah seorang anak suku Bugis yang sukses di perantauan."


Omongan Andi mengandung primodialisme yang sangat kuat. Aku sebenarnya kurang suka sifat kesukuan macam itu. Namun karena omongannya dibawakan dengan gaya yang ceria, suasana justru bisa mencair dan lawan bicara menganggap itu bukan hal yang serius. Setidaknya suasana telah kondusif sebelum mama muncul mempersilakan kembali para tamunya agar duduk di beranda. Raut wajah Bray sudah tampak lebih cerah.

__ADS_1


"Mari duduk kakak-kakak semua. Tak enak ngobrol sambil berdiri." sapa mama sebelum menyalami para tamu.


Aku melihat Bray mengamati mama dengan sangat seksama. Mungkin karena mama terlihat memiliki paras yang tak biasa.


__ADS_2