LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
NENEKKU (2)


__ADS_3

Rumah ini terlalu besar dan mewah buatku. Kamar tidur tamu yang kutempati luasnya hampir setengah luas rumah kami. Suasananya nyaman. Jendela kamar menghadap taman tropis yang tertata sangat rapi. Saat pertama kubuka jendela pagi tadi ada 2 ekor burung gereja yang hinggap di pohon palem menyuguhkanku lagu pagi. Suasana itu mengingatkanku pada Aga dan 2 ekor burung murai yang masih ada dalam aviary di halaman rumahku. Aku merindukan sapaan mereka. Mudah-mudahan mama dan Fifi merawatnya dengan baik selama kutinggal pergi.


Kamar ini memiliki penyejuk ruangan yang wanginya segar seperti wangi jeruk limau. Kasurnya luas dan sangat empuk. Saking empuknya aku jadi susah tidur. Maklum. Sejak lahir aku tidur di dipan kayu yang hanya beralaskan tikar pandan. Daripada tak bisa tidur, semalam aku menghabiskan waktu untuk membaca, menulis artikel dan menyortir foto dan video mana yang kira-kira menarik untuk diunggah sampai mataku benar-benar mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.


Bangun pagi bisa langsung mandi dengan air hangat dan sabun yang super wangi. Sarapanpun telah tersedia di meja sejak jam 6 pagi. Aku benar-benar jadi anak manja di sini.


Setelah sarapan nenek menyuruh bi Siti membongkar barang-barang pribadiku yang masih tersimpan di dalam tas ransel dan memindahkannya ke dalam lemari. Begitu dominannya nenekku sampai barang pribadiku pun harus diatur sedemikian rupa.


Masabodolah. Mungkin nenek ingin setiap sudut rumahnya rapi. Aku harus memaklumi nenek dan mengikuti seluruh peraturannya selama berada di sini. Aku tahu nenek baik dan sayang padaku. Semua yang dilakukannya pasti yang terbaik untukku.


Menjelang siang nenek kembali masuk ke kamarku untuk mengecek apakah semuanya sudah rapi. Matanya dengan awas melihat detail setiap sudut ruangan. Tidak hanya itu, kali ini nenek mengambil hatiku dengan mengucapkan terima kasih atas oleh-oleh tas pandan buatan tanganku.


"Terima kasih ya. Tas pandan buatanmu bagus, Fifa. Lusa nenek akan dipakai untuk ke pesta pernikahannya Diany."


Alhamdulillah, pengorbananku tidak sia-sia. Nenek suka tas pandan buatanku dan akan dipakai ke pesta. Duh bahagia sekali mendengarnya.


"Besok kamu mau ke mana, Sayang?"


"Kak Syarif ngajak keliling Makasar."


"Nenek ikut ya."


Aku menjawabnya dengan senyum.


"Keberatan kalau nenek ikut?"


Aku buru-buru memeluknya takut nenek salah paham. Kata orang, hati nenek-nenek itu sangat sensitif. Harus dijaga sekali perasaannya. "Tentu tidak, Nek. Fifa justru lebih senang kalau ada nenek. Kita bisa family time." ucapku dengan nada manja.


Nenek kembali menciumi pipiku. "Nenek bahagia sekali punya cucu perempuan. Apalagi secantik kamu."


Aduh, pujian nenek membuatku melayang. Tersanjung banget dibilang cantik oleh nenek sendiri yang bekas-bekas kecantikannya belum luntur sampai usianya hampir 80 tahun.

__ADS_1


"Keluarga ini didominasi laki-laki. Nenek punya 3 anak. Semuanya laki-laki. Anak pertama Badarudin Syam meninggal waktu remaja karena kecelakaan motor. Anak kedua ayahmu Ahmad Syarif yang setelah lulus IAIN malah ikut pergi dakwah ke pedalaman dan kecantol mamamu lalu memutuskan tinggal di hutan. Sementara anak bungsu pamanku Hasanudin Syam hanya punya anak laki-laki. Nenek belum pernah tahu kalau Syarif ternyata punya anak perempuan. Kabar terakhir Syarif punya 3 anak laki-laki, namanya Sofwan, Salman dan Affan. Setelah perselisihannya dengan kakek dan pamanmu, ayahmu sama sekali tak pernah berkabar lagi pada kami. Bertahun-tahun nenek merindukannya. Ternyata dia sudah pergi mendahului ibunya."


Jadi, ayahku berselisih dengan kakek dan paman Hasan. Masalah apa? Aku ingin tahu tapi tak ingin terlihat terlalu kepo. Sabar saja. Suatu saat pasti nenek akan cerita. Toh aku masih ada waktu seminggu di sini. Lebih baik aku ceritakan saja bagaimana riwayat kakak-kakakku yang sempat dikenal namanya oleh nenek.


"Kakak Sofwan meninggal waktu kecil. Kata orang dimakan buaya sungai. Fifa sendiri tak pernah tahu bagaimana rupa kakak sulung Fifa itu sebab kejadian itu terjadi sebelum Fifa lahir. Kak Affan meninggal karena sakit panas. Sedangkan kak Salman pergi ikut program belajarnya salah seorang pegiat sekolah rimba di Jawa dan sampai saat ini belum pulang serta tak pernah berkabar lagi. Tanpa baba sekarang kami hanya tinggal bertiga di rumah. Semuanya perempuan."


"Itulah sebab kenapa kalian perlu pindah ke sini, Fifa. Biar kita bisa saling dekat dan menguatkan." Nenek kembali melancarkan misinya membujuk agar kami mau pindah ke Makasar.


"Kami sudah terbiasa mandiri kok, Nek."


Nenek tersenyum hambar.


"Mama pernah menikah lagi setelah meninggalnya baba. Tapi hidupnya bukannya makin baik, malah makin susah. Mungkin karena baba tidak ikhlas." kataku sambil nyengir menumpahkan unek-unek yang menghuni kepalaku sejak dulu.


Dahi nenek yang keriput tambah berkerut. Kelihatan kecewa mendengar ceritaku seperti aku yang kecewa dengan keputusan mama itu.


"Sekarang mama sudah kapok tak mau menikah lagi. Supaya di surga mama tetap jadi istri baba. Tidak ada yang bisa menggantikan cinta baba di dunia ini." tambahku lagi dengan nada meyakinkan.


Obrolan kami terpaksa berhenti. Bi Ika masuk ke kamar mengingatkan nenek waktu minum obat dan istirahat siang. Nenek pun pamit kembali ke kamarnya dengan didorong bi Ika.


Aku kembali berkutat dengan laptopku. Iseng saja. Bukan untuk kerja. Hanya nonton video vlog dan memantau perkembangan viewer dan subscriber vlog yang kubuat. Lumayan bagus sih. Kayaknya target bulan depan harus sudah bisa monetisasi dan dapat silver button.


Ya Allah, terimakasih beberapa hari ini keberuntungan dan kebaikan selalu hadir untukku.


Tok tok tok. Pintu diketuk dari luar.


"Maaf, Non Fifa. Boleh saya masuk?"


"Silakan."


Bi Siti membuka pintu lalu masuk dengan membawa beberapa kantung kertas yang berdesain mewah. Aku tak tertarik tahu apa isinya dan untuk apa dibawa ke sini.

__ADS_1


"Saya diminta ibu buat membereskan baju buat non Fifa."


"Lo, kan tadi sudah beres." protesku.


Bi Siti menunjukan kantung yang dibawanya. "Barusan ada kurir datang. Ibu pesan baju baru di butik langganannya buat non Fifa. Katanya disuruh disteam dan digantung di lemari."


Aku bengong. Ini surprise atau apa? Dibelikan baju baru dari butik? Kenapa tadi nenek tidak bilang ya?


Kubiarkan saja bi Siti menggantung baju-baju itu lalu disemprotkan dengan pewangi dan diusap setrika uap sebelum dimasukan ke dalam lemari. Baju-baju yang lain pun diperlakukan sama. Padahal di rumah aku jarang setrika baju. Aku sengaja memilih baju-baju yang bahannya tidak gampang kusut. Hidupku sederhana. Anti ribet. Pakaian tidak harus licin seperti pakaian Jim.


"Semua anggota keluarga ini harus berbusana rapi dan wangi, Non." Begitu jawaban bi Siti kenapa semua bajuku harus diberi pewangi dan setrika.


Baiklah. Ini pasti kemauan nenek. Aku ikut saja. Toh aku tinggal terima beres. Tak perlu dikerjakan sendiri. Semua sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Buat apa protes. Ini rumahnya. Aku hanya tamu di sini. Tamu itu harus ikut aturan empunya rumah. Lagipula apa yang dilakukan nenek juga demi kebaikan bersama. Mungkin nenek malu kalau ada anggota keluarganya yang berpenampilan di luar standar yang ditetapkannya. Fifi benar, nenek bukan orang kampung seperti kami. Standar hidupnya berbeda dan aku harus bisa menyesuaikan diri dengan statusku sebagai cucunya. Jangan sampai aku membuat malu nenek.


Aku sama sekali tak menyangka keluarga babaku ternyata bukan orang sembarangan. Dilihat dari rumah dan banyaknya pegawai yang bekerja mengurus rumah ini, kekayaan keluarga ini pasti sangat banyak. Kira-kira apa alasan dan motivasi baba meninggalkan semua kemewahan ini dan memilih tinggal dalam kesederhaan di hutan yang jauh dari peradaban modern. Hanya karena cinta pada mama? Alasan itu tak cukup kuat. Seorang istri apalagi tipe perempuan penurut seperti mama tentu akan ikut dimana pun suaminya tinggal. Kalau baba memutuskan tinggal di Makasar, mama pasti akan ikut.


Perselisihan apa yang sebenarnya terjadi antara kakek, baba dan paman Hasan? Begitu banyak tanya dalam benakku tentang masa lalu baba yang tak pernah diceritakannya.


Menjelang sore, rumah ramai oleh kedatangan 2 sepupuku yang tinggal di Jakarta. Tante Marina sibuk membuat hidangan untuk penyambutan 2 anaknya yang konon jarang pulang. Kata nenek, Gufron bekerja mengurus perusahaan warisan kakek di Jakarta. Sudah menikah dan punya seorang anak. Sedangkan Imron masih kuliah di salah satu universitas swasta paling bergengsi.


Mereka datang dijemput supir keluarga di bandara. Ketika bertemu tadi hanya bersalaman dan sedikit basa basi. Kedua sepupuku itu tak cukup ramah. Tahu sendiri kalau aku orang yang tertutup dan susah basa basi. Kalau orang tidak menyambutku ramah ya aku akan melakukan hal yang sama. Lebih baik tutup mulut dan lupakan saja.


"Anak daeng Syarif ada perempuan rupanya." komentar Gufron agak terdengar sinis.


"Ya. Dua anak terakhirnya perempuan, aku dan si bungsu Fifi."


"Ooh."


Jelas terlihat mereka tak terlalu suka saudara perempuan. Berbeda dengan nenek yang senang sekali punya cucu perempuan.


Mereka langsung masuk ke kamarnya di lantai atas. Makan malam pun tak terlihat. Aku tak terlalu banyak komunikasi dengan orang-orang di rumah ini kecuali nenek. Memang tujuanku menjenguk nenek. Perduli amat dengan mereka. Seharusnya secara agama paman dan kedua sepupuku terhitung wali yang mestinya melindungi dan bertanggung jawab atas hidupku sepeninggal baba.

__ADS_1


__ADS_2