
Tidak semua kejutan membuat kita bahagia. Aku salah satu diantara sedikit orang yang tak terlalu suka dengan hal-hal yang direncanakan tanpa sepengetahuanku. Memang aku sudah bersedia menikahi Bray tapi tidak secepat ini dan dengan cara begini. Aku kembali meragu dengan rencana pernikahan ini. Apakah ini akan membuatku bahagia? Aku tak suka cara Bray memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kekuasaan dan kekayaannya.
Mama meminta bi Ika membawa nenek istirahat di kamar Fifi yang falisitas tempat tidurnya lebih layak. Aku dan Fifi membantu membawakan barang-barang yang dibawanya. Sebagian dimasukan ke dapur. Sementara satu kontainer plastik ditaruh di kamarku.
"Kenapa kontainer ditaruh di sini?"
"Itu isinya baju pengantin Bugis. Punya nenek. Masih bagus dan harus dijaga baik-baik. Semua perhiasan dan aksesoris pakaian dari emas asli." jawab mama sambil tersenyum bijak.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka benar-benar sudah menyiapkan semua tanpa sepengetahuanku.
Setelah menaruh kontainer plastik itu mama mengajak Santi pergi ke dapur untuk mempersiapkan makanan. Beliau melarang aku ikut membantunya. Beliau menyuruh aku berdiam diri di kamar ditemani Fifi.
"Fifi, kamu temani kakak di sini ya. Perias pengantin mungkin akan datang sebentar lagi."
"Siap, Ma."
Aku tak betah berdiam diri sementara semua orang tampak sibuk mempersiapkan ini dan itu. Bingung harus bagaimana. Kesal tapi tak kuasa membantah. Aku tak suka suasana begini.
"Kata nenek, nanti semua barang ini akan kupakai juga waktu menikah. Hari ini kakak hanya dipinjamkan. Semua perhiasan dan baju itu akan jadi milikku. Aku akan menikah kalau sudah lulus perguruan tinggi agar uang panaiku lebih besar daripada kakak." Fifi tersenyum dengan gaya tengil.
Selain status dan keturunan bangsawan, menurut kebiasaan gadis yang berpendidikan lebih tinggi memang boleh meminta uang panai yang tinggi pula. Aku tahu kebiasaan itu tapi tak peduli. Besar kecilnya uang panai tak berpengaruh. Buatku tujuan menikah bukan hanya soal uang panai.
Senyumku kecut. "Ambillah apa yang kamu mau."
"Kalau aku mau ambil mas Bray gimana?"
"Terserah."
Raut muka Fifi berubah serius melihat reaksi dinginku. Aku tahu ia bercanda dan berharap aku marah mempertahankan orang yang kucinta. Kenyataannya malah sebaliknya. Aku tak peduli. Gadis itu bolak balik melihat wajahku dari sisi kanan, depan dan kiri dengan tatapan bingung.
"Kakak sebenarnya suka nggak sih sama mas Bray?"
"Nggak tahu."
"Apa mau aku yang gantiin posisi kakak hari ini?"
Aku langsung mengangguk. Kuperhatikan wajah adikku dengan seksama. Boleh juga idenya. Prank menukar pengantin seperti cerita-cerita novel itu sepertinya akan jadi kejutan menarik buat Bray.
__ADS_1
"Kita lihat bajunya ya. Kemarin nenek sudah menerangkan panjang lebar soal sejarah dan falsafah baju adat pengantin Bugis. Menarik juga."
Fifi membuka kontainer plastik itu dan mengambil benda yang ada di dalamnya lalu diperlihatkan padaku.
Yang pertama diambilnya adalah sebuah baju dari kain katun warna hijau dengan hiasan emas pada bagian depan pada tiap pinggiran kain.
"Ini kata nenek namanya baju bodo. Aku sudah coba kemarin. Masih bagus banget dan wangi." katanya sambil mengendus-endus baju yang dijembreng di depan tubuhnya.
"Bedanya dengan baju bodo biasa, baju pengantin lebih tampak mewah dengan hiasan ini. Namanya Rante Patibang dan Tabora." ujar Fifi sambil memperlihatkan lempengan perhiasan berwarna emas yang terdapat di bagian pinggir dari atas sampai bawah busana.
"Ini emas asli lo, bukan kaleng-kaleng. Makanya nenek sangat hati-hati menyimpannya."
"Kalau kita nggak punya uang, dijual lumayan tuh. Hehehe." tanggapku.
Fifi terkekeh keras, "Betul. Beruntung banget ya kita jadi cucu perempuan bangsawan Bugis. Kayak kejatuhan emas dari langit."
Berhenti tertawa, Fifi menaruh baju bodo di meja lalu mengambil aksesoris lain dari dalam kontainer.
"Ini ada 3 jenis kalung yang kata nenek terbuat dari campuran emas 70%. Yang ini namanya geno ma’bule." kata Fifi sambil menunjukkan padaku kalung berantai.
"Cantik bingit ya. Ini semua akan jadi milik aku." Fifi mendekapnya sambil senyum-senyum.
Aku ikut tersenyum.
Tidak hanya kalung, di dalam kontainer itu juga ada banyak perhiasan lain. Orang Bugis itu terkenal suka memakai perhiasan. Tak heran ada beraneka gelang yang biasa dipakai pengantin. Ada bossa atau gelang keroncong bersusun, lola atau gelang yang dikenakan pada lengan atas, paturu atau gelang lebar nan mewah yang biasa dipakai di lengan bawah, dan sima-sima atau perhiasan lengan baju.
Fifi tak henti-hentinya berdecak mengagumi perhiasan warisan nenek. Entah berapa gram berat emasnya. Motifnya luar biasa cantik. Aku belum pernah melihat perhiasan yang besar dan ragamnya sebanyak itu. Sebuah warisan budaya yang luar biasa. Pantas kalau selama ini nenek mengidam-idamkan cucu perempuan. Ternyata perhiasan yang ingin diwariskan luar biasa.
Tak lama kemudian seorang ibu muda dan asistennya datang membawa peralatan make up.
Hatiku makin resah. Terpikir untuk melarikan diri saja dan menjadikan Fifi sebagai pengganti. Hatiku kesal pada Bray. Tapi tak cukup tega mengecewakan mama dan nenek yang telah bersusah payah ikut mengupayakan kejutan hari ini. Mereka terlihat bersemangat dan bahagia sekali menyambut hari pernikahanku.
Perasaanku hari ini bagai rujak buah aneka rasa. Berbagai macam buah dengan rasa manis, asam, sepet dan hambar semua dicampur jadi satu dengan bumbu sambal rujak yang pedas manis asam. Begitu gambaran rasa yang ada dalam hatiku saat ini. Ada marah, takut, bahagia, dan kecewa yang bercampur aduk. Sulit menggambarkannya dalam bentuk kata.
Yang bisa kulakukan hanya menghembuskan nafas panjang dan istigfar. Larut dalam logika dan perasaan sendiri ternyata menyakitkan. Pasrah saja pada ketentuan Tuhan dan berharap padaNya. Bukankah hanya Dia yang tahu masa depan kita?
"Tuhan, andai dia baik untukku lancarkanlah urusan ini. Bila dia tak baik buat dunia dan akhiratku, kumohon batalkanlah acara ini dengan apapun cara yang Kau inginkan." Kuucap lirih doa itu dan pasrah. Biar tangan Tuhan yang menggerakan segalanya.
__ADS_1
Suasana di luar terdengar riuh ramai sekali. Ada suara mama Hiya, mama Wen dan mama-mama lain yang tampaknya sudah datang membantu mama di dapur. Banyak juga suara bapak-bapak yang entah sedang melakukan kegiatan apa. Aku tak bisa keluar dari kamar. Prosesi merias pengantin menggungkungku lama sekali di dalam kamar. Banyak sekali make up yang diaplikasikan pada tiap bagian wajahku. Perias pengantin melakukannya dengan hati-hati sekali seolah tak satu pun lubang pori-pori dibiarkan alami tanpa sentuhan make up. Aku pasrah. Fifi yang cerewet mengatur ini dan itu. Dia baru diam ketika seorang perias datang dan mendandaninya.
Selain merias wajah, ibu Yulia juga menggambar dahiku dengan paes dadas yang berbentuk runcing tepat di bagian tengah dahi. Paes tersebut membentuk siluet bunga teratai dan titik tengah bunga tepat berada di tengah dahi.
"Kenapa harus digambar bunga teratai, bu Yulia? Bukan gambar bintang, bulan atau polkadot?" tanyaku iseng ketika bu Yulia menggambar paes di dahiku.
"Bunga teratai itu lambang dari kedamaian, harmoni dan cinta kasih. Harapannya kehidupan pengantin akan demikian sampai maut memisahkan." jawab bu Yulia sambil tersenyum lembut.
Hmm, ternyata ada filosofinya juga. Aku berharap apa yang dikatakan bu Yulia nyata dalam kehidupanku nanti. Jujur, aku belum siap jadi istri yang seluruh kehidupannya nanti mungkin akan diatur suami. Apalagi Bray suka mengatur semaunya sendiri. Aku belum siap dengan banyak kejutan dalam hidupku mengingat kami lahir di lingkungan yang sama sekali berbeda.
Setelah selesai merias wajah dan menata hijabku, bu Yulia mengambil sarung berbahan sutera yang katanya biasa disebut dengan lipa sabbe. Lipa sabbe bermotif kotak-kotak berwarna merah dengan garis-garis emas yang ditenun dengan menggunakan benang emas asli.
"Tidak semua orang Bugis punya Lipa Sabbe begini, Non Fifa. Milik nenek Arifah semuanya kualitas terbaik." puji bu Yulia sambil menata sarung yang dililitkan pada tubuhku.
Aku mengangguk setuju.
Satu per satu dengan telaten bu Yulia membantuku mengenakan baju bodo dan aneka perhiasan yang luar biasa banyaknya. Dia juga menata hiasan kepala di atas hijabku berupa bando dengan aksen mutiara berjumlah 17 buah serta mahkota bermotif pinang goyang. Terakhir ia mengambil selendang emas lalu diselempangkan di sebelah bahu kanan.
"Ingat ya! Selendang ini akan dipindah di bagian bahu kiri setelah akad nikah." pesan bu Yulia sebelum mengantarku dan Fifi untuk bergabung menuju keramaian di beranda dan halaman depan rumahku.
"Ish, kakak keren dan cantik banget." puji Fifi.
"Tapi kayaknya aku tetap lebih cantik." ralatnya kemudian.
Fifi mengenakan baju bodo warna hijau pupus dengan perhiasan yang banyaknya hampir sama dengan perhiasan pengantin yang kukenakan. Dia juga menggunakan bando cantik berbentuk seperti daun dengan aksen swaroski di sekelilingnya.
"Lanjut aja rencana pengantin yang ditukar." bisikku padanya.
Fifi tersenyum dan mengacungkan jempol. "Sip."
"Kamu keluar duluan."
"Iya. Aku sudah siapkan ini." Fifi mengeluarkan dua helai kerudung sutera warna hitam.
Aku langsung tersenyum menyambutnya. Kupakai kerudung sutera hitam itu untuk menutupi seluruh kepalaku, termasuk wajahku. Fifi juga melakukan hal yang sama. Aku menyukai permainan ini. Pengantin yang ditukar. Hahaha
Kuikuti langkah Fifi sambil tersenyum membayangkan lelucon menarik hari ini.
__ADS_1