
Sepuluh menit berlalu. Aku menoleh melihat Fifi telah meringkuk lelap di tempat tidur. Cepat sekali dia tertidur. Padahal baru sepuluh menit yang lalu ia mengakhiri obrolan dengan kesimpulan cerdas. Fifi benar. Keluarga ini jarang sekali meluangkan waktu buat ngobrol hangat dari hati ke hati. Mayoritas tindakan dilakukan atas dasar praduga pikirannya masing-masing. Tak bisa dipungkiri. Aku pun demikian. Banyak praduga memenuhi kepalaku, terutama tentang Gufron. Padahal kami tak pernah duduk bersama ngobrol membahas permasalahan kami.
Tut tuutt tuut. Gawaiku berbunyi. Aku mengambilnya dari atas nakas.
Panggilan video dari Bray. Kututup saja sebab aku sudah mengenakan piyama dan bersiap tidur. Tak pantas menerima panggilan video. Walau hati ingin menatap wajahnya, namun aku tetap berpikiran waras.
Sepertinya akan jadi kebiasaan buat Bray menelponku tengah malam. Aku jadi merasa sejenis kuntilanak yang hidup di tengah malam.
Sedetik berselang gawaiku bunyi lagi. Kali ini panggilan suara dari orang yang sama.
"Assalamualaikum, Fifa. Sudah siap-siap tidur ya?" Suara serak mirip Bidadari Halmahera itu terdengar lagi. Ramah. Sama sekali tak marah walau aku menolak panggilan videonya barusan. Tampaknya dia sudah bisa memaklumi.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa mas Bray?" Entah sudah berapa kali aku menerima telepon darinya tapi rasa canggungku tak jua mereda. Aku selalu deg degan tiap kali harus menghadapinya.
"Masih sibuk banget?"
"Enggak. Sudah mau mapan tidur."
"Ngantuk berat?"
"Sedikit."
"Kalau begitu ngobrolnya bisa lebih santai kan? Suara kamu terdengar berat dan kaku. Padahal aku nggak pernah ada maksud mengintimidasi."
Entahlah. Aku nggak bisa santai menghadapi lelaki yang satu ini. Selalu grogi dan salah tingkah. Entah karena dia bos besar atau karena aku terlalu mengaguminya. Makin hari kekaguman itu bukannya berubah jadi biasa tapi makin menjadi. Terutama karena sikapnya yang lebih ramah dan perhatian.
"Aku baru selesai meeting penting dan hasilnya menggembirakan."
Berita itu sama sekali tak ada kaitannya dengan diriku. Masabodo.
"Selasa besok aku akan mengantar tim penilai ISO internasional ke lokasi tambang."
Aku mulai pasang telinga. Barang kali ada kaitannya dengan yayasan.
"Kamu sudah kembali ke Lolobata kah?"
"Insya Allah sudah. Saya akan kembali hari senin pagi dari Makassar."
Dia tak bicara. Hanya terdengar hembusan nafas lega dan bayangan senyumnya melintas di kepalaku.
"Apa ada hubungannya kedatangan tim penilai dengan yayasan?"
__ADS_1
Bray tertawa kecil, "Untuk kali ini nggak ada. Kangen aja sudah lama nggak ketemu kamu. Aku juga belum sempat meninjau aviary kita."
Kangen aku? Aviary kita? Memangnya ada nostalgia apa dengan aviary itu hingga ia mengklaim dengan kata kita. Ada ada saja. Kalimat sederhana itu membuatku memeluk bantalku dengan lebih erat. Tak bisa kupungkiri, saat ini aku juga ingin bertemu langsung dan memeluk tubuhnya seperti aku memeluk bantal ini.
"Barusan aku buka video yang kamu kirim. Boleh aku minta beberapa video asli mengenai Bidadari Halmahera yang belum diedit? Tiba-tiba saja aku dapat ide buat video dokumenter khusus Bidadari Halmahera. Bagus juga kalau video-video itu dikirim ke video maker profesional agar kualitas editingnya lebih bagus dan ditambahkan narasi berbahasa Inggris. Bisa buat bahan kampanye green company."
Apa sebenarnya dia mau bilang kualitas hasil editanku yang tadi aku kirim itu jelek ya? Atau video itu memang menginspirasi untuk membuat video kampanye yang lebih menarik? Entahlah. Akhir-akhir ini Bray kerap membuatku tersanjung. Sama sekali tak pernah komplain. Memaklumi kalau ada sedikit keterlambatan progres kerjaku. Meski minim pengalaman aku berusaha keras mengerjakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Tak peduli menghabiskan banyak waktuku.
"Cuma video tentang Bidadari Halmahera aja yang akan direpro, mas Bray?"
"Iya. Menurutku Bidadari Halmahera itu burung endemik di kawasan hutan Lolobata yang khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Karakternya unik. Meski masih keluarga burung cendrawasih yang sudah lama dikenal publik, tapi menurutku penampilan Bidadari Halmahera ini unik dan lebih menarik daripada Cendrawasih. Sayang kalau tidak banyak orang tahu. Apalagi sekarang statusnya sudah langka. Kita perlu kampanye supaya dunia kenal dan peduli kelestariannya."
Sepakat. Belum banyak memang orang yang mengenal jenis burung unik yang satu itu. Dia hanya bisa dijumpai di pulau Halmahera saja. Sangat pantas kalau dibuatkan video dokumenter tersendiri. Syukur syukur bisa populer dan menarik hati banyak orang berpartisipasi dalam konservasi dan pelestarian burung itu dari ancaman kepunahan.
Yang jelas menurutku Bidadari Halmahera itu mirip dirimu, mas Bray. Penampilannya menarik dan pandai memikat hati orang lain. Suaranya serak tapi empuk didengar telinga. Aku tersenyum sendiri. Di kepalaku Bidadari Halmahera adalah Bray.
"Kalau sewa jasa video maker profesional jangan setengah-setengah, mas Bray. Minta langsung videografernya datang ke aviary aja dan ambil gambar sendiri biar lebih banyak pilihan gambar yang cocok dengan konsep dan imajimasi kreatif mereka. Selain itu kualitas gambar video mereka pasti lebih baik daripada tangkapan gambar yang dihasilkan orang awam seperti aku. Nanti aku bantu buatkan draf narasinya."
"Great. Begitu lebih bagus." Bray langsung menjawab tegas dan antusias.
Ehm, baru pertama kali ini ideku dipuji Bray. Senang sekali. Aku mengambil bantal bulu angsa yang lebut dan meletakkannya di pangkuan. Satu tanganku memegang gawai. Tangan lainnya memeluk bantal nan empuk itu.
Sejenak kami saling diam. Rasanya topik pembicaraan kami telah habis. Tapi belum rela meletakkan kembali gawai di atas nakas. Mau ngomong apa lagi ya?
"Aku tunggu kiriman filenya ya. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa dan mimpi indah."
Ah kenapa harus berakhir sih? Bodoh. Aku tak pernah punya banyak kata menarik untuk memancing orang berlama-lama ngobrol. Aku memang gadis yang membosankan.
Kutaruh gawaiku di atas nakas lalu kumatikan lampu agar tak ada cahaya yang mengganggu mata. Bayangan Bray masih melintas di dalam kepalaku. Suara seraknya dan kata-katanya yang makin hari makin terdengar manis di telinga. Bolehkah aku berharap memilikinya?
Dia adalah milik Maudy, gadis cantik yang memiliki segalanya. Aku bukan saingannya sekalipun sekarang aku bukan gadis pedalaman yang miskin lagi. Maudy tetap tak setara denganku. Ia memiliki kuasa untuk mengikat Bray hanya untuknya. Buktinya sampai saat ini Bray tetap belum bisa melepaskan ikatan pertunangan dengannya.
Entah mau dibawa kemana rasaku ini. Semakin hari aku semakin sulit melupakan dia. Aku mulai sadar bahwa hatiku terbawa arus perjalanan hidup yang tanpa arah, hanya mengalir seperti air.
Kepindahan nenek ke rumah sewa di dekat kedai tak merepotkan sebagaimana layaknya orang pindah rumah. Kami semua meninggalkan rumah dengan hati riang dan penuh harapan. Sama rasanya seperti ketika akan pergi menginap di vila untuk waktu yang lama. Tak ada beban. Koper-koper pakaian dan barang ala kadarnya kami tata bersama dengan cepat dalam sebuah mobil sewaan. Sementara kami mengikuti mobil itu dengan SUV hitam yang dikendarai pak Rodi. Sama sekali tak ada kehebohan yang merepotkan.
Suasana rumah baru pun terasa lebih hangat. Dengan ruangan yang lebih kecil kami jadi lebih sering bertemu satu sama lain dan saling menyapa meski kadang hanya dengan seulas senyum. Aku tetap tidur bersama Fifi di kamar yang memiliki balkon menghadap pantai di lantai dua. Nenek tidur ditemani bi Ika di kamar tidur utama dekat ruang tamu. Sementara suami istri pak Rodi dan bi Siti tidur di kamar belakang. Rumah itu masih menyisakan satu kamar tidur tamu tepat di sebelah kamar kami di lantai 2. Tak perlu khawatir apabila ada kerabat atau sejawat yang berkunjung dan menginap di tempat kami.
"Mami yakin akan betah tinggal di rumah ini?" Paman yang menyempatkan diri mengantar kami kelihatan ragu. Ia memandang tiap sudut ruangan dengan tatapan remeh. Padahal seluruh ruangan bersih.
"Yakin."
__ADS_1
"Kenapa tidak tinggal di rumah pesisir saja?"
"Terlalu besar. Biaya operasionalnya tinggi. Aku hanya butuh tempat tinggal yang nyaman ditinggali, bukan untuk gagah-gagahan. Masa kontrak penyewa rumah pesisir masih beberapa bulan lagi dan mereka sudah bilang bersedia memperpanjang masa kontrak."
Paman menunduk. "Maafkan Hasan ya, Mam! Hasan nggak bisa ngasih yang terbaik di masa tua Mami."
"Urus saja istri dan anakmu. Aku akan baik-baik saja bersama cucu dan asisten rumah. Jangan malu sesekali menjengukku di sini. Ingat! Kau punya ibu dan keponakan perempuan yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu."
Paman mengangguk. Ia melirikku tajam dan mengisyaratkan dengan kedipan mata agar aku keluar ruangan untuk bicara empat mata.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kehidupan nenek. Kamu dengar sendiri beliau sudah tak punya apa-apa kecuali tabungan pensiun."
"Siap, Paman. Selama beliau hidup, hak dan kebutuhannya akan saya dahulukan daripada hak saya." jawabku tegas. Aku memang telah siap dengan tanggung jawab ini. Aku ingin baba bangga karena aku sangat menyayangi perempuan yang melahirkannya ke dunia ini.
"Jangan buat beliau kekurangan apalagi menderita. Pastikan semua kebutuhan pangan, sandang dan perawatan kesehatannya tetap kualitas premium. Ingat! Kualitas premium. Bukan standar orang SUKU PEDALAMAN."
Oh ternyata serendah itu penilaian paman tentang kami sampai harus menegaskan kata suku pedalaman. Mamaku memang keturunan suku Lingon. Tapi ayahku saudara kandungnya, seorang bangsawan Bugis yang mengenyam bangku pendidikan tinggi. Tak sadarkah ia kalau aku anak kakak kandungnya?
Aku menelan ludah dan menghembuskan nafas perlahan agar dapat berbicara dengan tenang. "Meskipun tak selamanya di rumah bersama nenek, tapi saya janji akan memantau keadaan nenek tiap hari. Fifi akan pindah sekolah untuk menemani nenek di sini."
Aku membalas tatapan remeh paman dengan tegas agar tak lagi diintimidasi.
"Adikmu itu jangan boleh keluar malam. Anak gadis itu harus bisa jaga martabat keluarga. Kalian harus sadar nenek kalian bukan orang sembarangan."
Aku mengangguk.
"Paman hanya akan di sini sampai semester depan. Tahun ajaran baru nanti akan mundur dari kepala sekolah. Keluarga kami akan tinggal di Jakarta."
Aku sudah tahu kabar ìtu dari nenek. Sepertinya keluarga paman memang akan menyerahkan tanggung jawab menjaga nenek pada kami. Aku menerima tanggung jawab itu sepenuh hati.
"Kau harus perhatikan perkebunan yang diwariskan untuk kalian. Kalau tak bisa kelola lebih baik jual saja."
"Ada pak Taqi yang kelola."
"Jangan percaya mentah-mentah sama orang bayaran macam si Taqi. Ditipu kamu nanti. Sejak kakekmu meninggal perkebunan tidak pernah menghasilkan untung. Makanya kemarin mau dijual sama Gufron."
Aku tersenyum sinis. Sayangnya aku lebih dulu tahu kalau sebenarnya usaha perkebunan untung tapi uangnya disalahgunakan Gufron untuk bisnis yang lain. Buktinya sudah kuperiksa valid. Tapi aku tak mau membahasnya sekarang. Bisa panjang urusannya sementara besok pagi aku sudah harus kembali ke Lolobata.
"Sekarang perkebunan adalah tanggung jawab saya, Paman. Terima kasih atas nasehatnya. Saya akan pertimbangkan." jawabku sok bijak.
Kutelan saja kalimat paman tanpa mendebat. Akan kubuktikan nanti bahwa aku mampu bertanggung jawab terhadap keluarga ini dengan suatu hal nyata, bukan retorika atau omong kosong.
__ADS_1