LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PERDEBATAN


__ADS_3

Heran, untuk apa Arfa menyampaikan berita bahwa racun yang terdapat pada anak panah yang mematikan nuri sama dengan racun pada anak panah yang membunuh baba. Harusnya dia paham logikaku. Mata kepalaku sendiri yang menyaksikan tak ada orang lain yang pegang busur selain pria kejam itu. Jelas dia pembunuhnya. Lalu kenapa Arfa justru membela pembunuh itu? Apa karena dia anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja?


Kalau sudah tahu aku pasti akan marah dan ujung-ujungnya akan terjadi perdebatan panjang, seharusnya dia simpan saja informasi itu. Toh aku sudah berusaha melupakan kejadian kemarin dengan hanya fokus pada kebahagiaan mama saja.


Terus terang aku tak sempat berpikir anak panah itu beracun atau tidak. Kenyataan yang kuterima adalah nuriku telah mati. Jungkir balik pun tak akan bisa membuatnya hidup kembali.


"Ngana bela dia karena dia anak pemilik perusahaan tempat ngana cari uang kan?"


"Bukan, Fifa. Sa yakin dia tidak sekejam itu. Dia pengusaha baik, peduli lingkungan."


"Kalau dia peduli lingkungan, tidak akan hutan dibabat habis untuk cari untung dari biji besi dan nikel."


"Kondisi lingkungan dan hutan akan perbaiki lagi setelah kegiatan penambangan selesai. Buktinya wilayah bagian barat sudah mulai direklamasi dan reboisasi dengan penanaman tanaman keras. Dia orang yang murah hati dan taat hukum. Berbeda dari pengusaha tambang lainnya."


"Otak ngana sudah dicuci dengan uangnya. Sa tak percaya. Di mana-mana pengusaha sama serakahnya. Tahunya cuma uang, uang dan UANG."


Mama mengelus punggungku. "Sabar, Fifa. Tak boleh menuduh orang sembarangan."


"Benar. Tak boleh menuduh orang sembarangan. Ngana belum kenal betul siapa dia."


"Sembarangan gimana? Aku lihat dengan mata kepalaku cuma dia yang pegang busur di sekitar situ, Ma."


"Tapi ngana tara lihat saat anak panahnya melesat. Kak Hisyam bilang anak panahnya melesat ke buah kenari, bukan ke burung nuri. Ada anak panah lain yang melesat hampir bersamaan."

__ADS_1


"Kalau begitu siapa yang memanah burung nuri? Ngana mau bilang hantu atau makhluk halus yang memanah nuri dan baba dengan panah baracun, hah?" tantangku berhadapan muka dengan Arfa dengan emosi yang meledak-ledak.


Saking emosinya aku tak melihat ada tamu lain yang datang dan sialnya itu adalah orang tua Arfa.


"Pulang, Arfa! Kenapa ngana temui gadis pembawa sial ini lagi? Tiap hari ngana cuma diperalat, direndahkan dan dimaki begini. Sadarlah! Tak ada untungnya ngana berteman dengan gadis liar, sombong dan keras kepala seperti dia." Papa Arfa menarik lengan anaknya menjauh dariku.


Baguslah. Silakan saja bawa Arfa pulang. Malam ini aku sedang tak ingin berdebat panjang.


Mama meraih bahuku, merangkul, dan mengelus-elus pundakku agar lebih tenang. Beliau lakukan itu pasti karena refleks seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.


"Kau orang suku Lingon, didik anak gadismu sopan santun." Mama Arfa menudingkan jari telunjuk ke arah mama.


"Duduklah dulu, Kaka! Kita bisa bicara baik-baik sambil minum teh. Ini hanya masalah perdebatan biasa sesama teman baik." Mama membalas dengan kalimat lembut dan senyum manis. Tangannya dengan santun mempersilakan mama Arfa untuk duduk di kursi bambu beranda rumah kami.


Entah terbuat dari apa hati mama hingga masih mampu berkata lembut pada orang yang telah menudingkan jari padanya. Padahal kalau tak tertahan cengkraman tangan mama di bahu, aku ingin merobek mulut perempuan itu atau menepis jarinya sampai patah. Justru dia yang tidak tahu sopan santun. Berkunjung tak pernah ucapkan salam.


Aku dan mama saling berpandangan. Sebelah mata mama mengerdip sebagai isyarat agar aku tak perlu menanggapi ucapan mama Arfa. Aku pun paham. Tak perlu diperpanjang lagi masalah ini. Cukup sampai di sini saja.


Mereka menyeret Arfa pulang sambil mengucapkan kalimat caci maki buat kami. Mama Hika dan beberapa tetangga lain terlihat menonton kami. Bagi mereka mungkin ini pertunjukan drama gratisan yang menghibur layaknya sinetron televisi.


"Sabar, Sayang. Kendalikan emosimu!" Mama berbisik lirih berulang kali mengingatkanku buat sabar. Tangannya mengelus-elus pundakku.


Sepeninggal keluarga Arfa, aku dan mama langsung membereskan teko, cangkir dan toples yang berada di atas nampan perak di meja beranda rumah. Para tetangga masih terlihat belum beranjak dari halaman rumah mama Hika. Sebagian terlihat mengajak bicara orang tua Arfa. Aku sudah menduga, isi pembicaraan mereka pasti hal buruk tentang aku. Besok akan beredar luas kisah fiktif yang temanya tentang azab bagi gadis liar, sombong dan keras kepala yang menantang lelaki baik.

__ADS_1


Ah, persetan dengan gunjingan tetangga. Mereka tak pernah jadi aku dan tak mengerti bagaimana aku. Bagiku yang terpenting mama menerima dan menyayangiku apa adanya.


"Kau kenal dengan anak pemilik perusahaan tambang itu, Fifa?" tanya mama ketika kami telah berada di dalam rumah dan situasi menjadi lebih nyaman.


"Tidak. Hanya pernah bertemu sekali di hutan. Fifa benci dia, Ma. Dia yang memanah nuri dengan panah beracun yang jenis racunnya sama dengan panah yang menewaskan baba."


Tentu saja aku menyembunyikan fakta bahwa dia adalah salah satu malaikat penolongku. Jika tidak bertemu mereka di hutan, entah apa jadinya aku. Mungkin aku sudah dimakan binatang buas atau mati kelaparan. Kemarin aku sempat berterima kasih dan merasa beruntung diselamatkan oleh mereka. Tapi sejak kematian nuriku, aku berubah pikiran. Mungkin lebih baik kalau aku mati saja di hutan.


"Kamu benar-benar lihat sendiri dia yang memanah burung nuri itu?" tanya mama penasaran.


"Ya, mama."


"Yakin?"


"Yakin. Tidak ada orang di sekitar rumah selain dia dan asisten pribadinya."


Mama mengangguk paham. "Ya sudah. Simpan saja apa yang kamu tahu dalam hatimu. Belajar ikhlas menerima takdir. Segala sesuatu pasti akan ada balasannya. Siapa yang menanam, pasti akan menuai hasilnya. Tak perlu kita yang membalas karena kita tak punya kuasa dan tak pernah tahu kebenaran yang hakiki. Biar tangan Allah yang mengatur seperti apa bentuk balasannya. Kamu hanya perlu berdoa dan yakin pengadilan Allah pasti bekerja dengan baik."


Aku mengangguk. Aku sudah berjanji akan menuruti apa kata mama. Aku pasti akan pegang janjiku. Aku akan belajar ikhlas seperti pintanya. Caraku membalas hanya dengan doa, bukan dengan balas dendam. Dipandang dari sudut mana pun aku lemah. Aku hanya perempuan, miskin dan tak punya kuasa. Mana mungkin bisa melawan lelaki kaya yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar. Biarlah kekuatan yang lebih besar yang akan memutuskan keadilan buat kami yang lemah ini.


Esok aku hanya akan beraktivitas di dalam rumah atau bagian belakang rumah saja. Aku berusaha untuk tidak berinteraksi selain dengan keluargaku.


Saat bapak tiriku datang berkunjung, aku pun memilih menghindar. Kami jarang berkomunikasi. Bapak kepala kampung hanya datang empat hari sekali karena ia harus menggilir keempat istrinya tiap malam. Beliau datang malam hari lalu pergi setelah sarapan pagi. Bapak tiriku biasanya meninggalkan sedikit uang untuk mama setiap kali berkunjung. Miris. Aku merasa hubungan pernikahan kedua mama agak aneh. Dalam pengelihatanku, mama hanya diperlakukan selayaknya kupu-kupu malam yang dibayar tiap kali selesai menghibur tamunya.

__ADS_1


Pernikahan kedua mama tidak terlihat seindah pernikahannya dengan baba yang dipenuhi cinta. Pernikahan itu hanya sebatas formalitas yang melegalkan hubungan imbal balik antar lelaki dan perempuan yang saling menguntungkan. Mama butuh perlindungan. Statusnya sebagai istri kepala kampung lebih disegani orang daripada menyandang status janda. Sedangkan bapak kepala kampung dapat melampiaskan hasratnya secara halal dalam ikatan pernikahan.


Begitulah kiranya gambaran sebuah pernikahan tanpa cinta yang tulus dari hati. Rasanya hambar. Aku tak berani menanyakan apakah mama bahagia dengan pernikahan keduanya. Aku hanya meyakini dalam hati bahwa pengelihatanku tak salah. Mama masih mencintai baba dengan segenap hatinya. Tak sedikitpun ada hati buat suami barunya. Mama hanya pandai menyembunyikan emosinya demi terlihat baik-baik saja.


__ADS_2