
Kuikuti saja langkah Andi yang bergembira dengan tawaran Bray mempercepat perjalanan dengan menumpang helikopter sewaannya. Kami berjalan ke area khusus pesawat privat di bandara. Aku tak terlalu antusias dengan tawaran itu sebab takut jadi beban buat perusahaan. Aku masih ingat Jim pernah membahas nominal sewanya yang sangat mahal. Kalau Maudy saja dianggap tidak berhak memboroskan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, apalagi aku yang sama sekali tak memiliki saham di perusahaan itu.
Aku kangen Bray tapi enggan bertemu langsung dengannya sebab biar bagaimanapun aku harus tetap berhati-hati agar tak terjerat dalam perangkapnya. Semalam aku sudah menolak tawarannya untuk menumpang benda berbaling-baling besar itu. Aku tak terlalu terburu-buru sampai di Lolobata. Gawai pun sengaja tak kuaktifkan sejak pagi guna menghindari komunikasi dengannya. Rupanya Bray tak kehilangan akal memaksaku atas hal yang sama sekali tak kuharapkan. Tak bisa menghubungiku dia menghubungi Andi yang sangat berkepentingan segera sampai agar dapat mencatatkan kehadiran tepat waktu di kantornya.
"Ayo, Fifa! Jalan lebih cepat. Beruntung banget kita hari ini. Aku tak perlu mengisi surat ijin datang terlambat karena bisa absen kantor tepat waktu."
Andi merasa sangat beruntung dapat tawaran itu hingga tak ingat lagi janjiku untuk menceritakan pertanyaannya tentang penyebab nenek mendadak harus pindah dari rumahnya setelah kami sampai di Ternate. Lelaki itu gampang lupa. Apalagi setelah mendapat tawaran yang menggiurkan.
Siapa sih yang tak tergiur oleh tawaran Bray. Dengan menumpang helikopter kami bisa menghemat waktu berjam-jam di jalan. Perjalanan dari Ternate ke kampung kami tidak mudah. Harus naik taksi menuju dermaga, menyeberang lautan dengan kapal cepat atau feri sampai di kota Sofifi, lalu lanjut perjalanan darat sekitar 5 atau 6 jam lagi melintasi jalan yang tidak datar seperti jalan tol. Kalau mau lewat jalur udara pun harus menunggu jadwal penerbangan pesawat kecil ke bandara Buli sekitar 2 atau 3 jam lagi.
Andi berjalan santai dengan langkahnya yang panjang - panjang sambil bersiul. Berkali-kali ia menyuruhku jalan lebih cepat dan menyemangatiku.
"Kapan lagi kita naik helikopter gratis kalau nggak kebetulan bareng mas Firdaus. Ayo jalan lebih cepat, Fifa!"
Aku tetap tak mempercepat langkahku. Mencoba mencari-cari apakah ada alasan tepat untuk menghindar tanpa terlihat tak sopan dan kekanak-kanakan.
"Kamu masih ngantuk?"
"Enggak."
"Tumben lambat banget jalannya. Lapar?"
"Enggak."
"Sakit?"
"Enggak."
"Kok lesu?"
"Capek."
"Mungkin karena belum sarapan. Kamu terus jalan saja ke arah sana. Biar aku cari makanan dan susu kotak dulu buat sarapan."
Tanpa menunggu jawabanku Andi berjalan cepat ke toko serba ada yang berada di dalam bandara. Sementara aku tetap melangkah ragu. Otakku sudah berputar-putar namun tak jua menemukan alasan yang tepat untuk menolak ajakan Bray.
__ADS_1
"Hai." Bray melambaikan tangan di pintu masuk ruang tunggu penerbangan khusus.
Otomatis aku melengkungkan bibir membalas senyumnya yang menawan itu dengan seulas senyum tipis. Serr. Rasanya darahku mengalir lebih cepat. Kibasan rasa malu menuntunku untuk menoleh melihat Andi yang telah berjalan cepat menghampiriku. Ia menyerahkan kantung plastik bening berisi roti, coklat dan susu kemasan padaku.
"Sarapan dulu biar semangat." pesannya sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Setelah menyerahkan kantung plastik, Andi bergegas mendekat ke pintu ruang tunggu penerbangan khusus menghampiri Bray yang telah berdiri menunggu di sana. Aku membuntuti di belakangnya.
"Hai, Bro." Andi mengangkat tangan kanan menyapa Bray dengan ramah.
Dijabatnya tangan Bray dengan gaya the shug, yakni tangan kanan berjabat tangan sementara tangan kiri setengah merangkul hangat pundak. Keduanya tampak saling bertukar senyum hangat dan bersahabat.
"Kita langsung berangkat?"
"Sarapan dulu sebentar ya, Bro. Fifa kelaparan. Payah nanti kalau singa lapar dibiarkan. Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan wajah beringas dan senyum masam." Andi mulai bicara seenaknya untuk mencairkan suasana.
Bray tersenyum dan melirik ke arahku. Sedangkan aku memilih menunduk menghindari tatapannya. Aku jadi patung bisu saat berhadapan langsung dengan Bray. Kosa kata yang ada dalam memoriku berhamburan pergi sementara amigdala sibuk menata perasaan yang tiba -tiba berubah tak karuan. Aku mencari kursi agar dapat makan makanan yang diberikan Andi meski sebenarnya perutku tidak lapar.
"Kamu yang terlampau sibuk sampai nggak punya waktu ketemu di Makassar."
Andi tertawa, "Maaf. Waktu itu aku dibajak teman-teman alumni SMU."
"Langsung mulai dinas lagi hari ini?"
"Iya. Terima kasih ya atas tawarannya nyoba naik helikopter. Sepertinya aku nggak jadi bikin surat ijin datang terlambat hari ini."
Bray tersenyum tipis dan melirik ke arahku yang duduk menunduk menikmati roti pisang coklat dan sekotak susu kemasan. Pandangan matanya menghujam tajam. Aku tak berdaya. Tak sanggup membalas tatapannya itu.
Tak sampai 5 menit makananku telah habis. Kami mengikuti arahan petugas bandara yang telah menunggu. Aku sedikit tak enak hati membiarkan petugas itu menunggu terlalu lama. Kami segera berjalan ke landasan dimana helikopter Bell 505 Jet Ranger X berwarna kombinasi silver dan hitam itu telah siap membawa kami terbang. Dua orang kru pesawat telah bersiap duduk di bagian depan helikopter dengan seragam putih lengkap dengan segala atribut khas pilot pesawat komersial. Dengan ramah seorang kru darat mempersilakan dan membantu kami untuk naik ke dalam badan helikopter. Aku duduk di kursi penumpang bagian tengah di dalam badan pesawat yang hanya berkapasitas 5 orang itu. Dua orang kru berada di bagian depan mengendalikan aneka tombol kemudi. Sementara 3 penumpang duduk di bagian belakang.
Bray membantuku memasang headset dan memeriksa sabuk pengamanku tanpa banyak bicara. Tapi dia menatapku dari jarak yang sangat dekat dan tersenyum penuh kemenangan. Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Mendapat perhatian kecil dan duduk bersebelahan dengannya adalah suatu anugerah. Dag dig dug jantungku berdetak tak karuan. Melihat senyum dan mendengar suaranya saja rasanya duniaku bergemuruh. Apalagi mencium wangi tubuhnya yang membangkitkan hasrat menyatukan diri. Kepalaku kram. Tubuhku membeku.
Kami sama-sama saling diam. Andi dan Bray terlihat menikmati pemandangan dari sisi jendela samping pesawat yang berseberangan. Sementara aku yang duduk di tengah melihat lurus ke depan. Helikopter segera terbang di udara melintasi laut dan pulau-pulau cantik yang terlihat bertebaran di sana sini.
__ADS_1
Usai melintasi laut, helikopter terbang sedikit lebih tinggi menembus gumpalan awan. Perjalanan tak makan waktu lama. Empat puluh menit kemudian kendaraan berbaling-baling besar itu telah mendarat dengan sempurna di helipad milik PT XY yang berada tak jauh dari gedung kantor.
Kak Hisyam, Jim dan beberapa staf perusahaan telah berada di sana menyambut Bray dengan penuh hormat.
Setelah menyalami manajemen perusahaan yang menyambut kami, Andi langsung melambaikan tangan ke arah seseorang berpakaian dinas pegawai negeri yang telah menjemputnya.
"Terima kasih, mas Firdaus. Saya langsung pamit ke kantor ya. Sudah dijemput teman."
"Hati-hati di jalan, Bro."
Melihat punggung Andi yang menjauh membuatku sedikit bingung dan canggung. Sebal. Dia tak selalu ada saat aku membutuhkannya, tapi marah kalau aku terlalu dekat dengan Bray. Kali ini Andi meninggalkanku sendirian. Dia dijemput dengan sepeda motor oleh teman sejawatnya.
Aku merasa tak pantas tetap berada di kawasan perusahaan ini. Bukan karyawan dan tak punya kepentingan apa-apa di area perusahaan ini. "Aku juga langsung pamit pulang ya."
"Janganlah langsung pulang! Ngana singgah dulu di kantor. Su lama kita tak jumpa toh." Untung sapaan Jim menyelamatkan kecanggunganku.
"Ayo masuk! Sa mau kasih tunjuk kita punya sistem keuangan. Ngana bilang mau belajar bagaimana mengendalikan perusahaan dari jarak jauh toh."
Oh iya, aku lupa pertanyaanku sendiri pada Jim beberapa hari lalu. Aku ingin cari tahu bagaimana cara mengendalikan perusahaan dari jauh. Kata Jim trik utamanya adalah dengan membuat sistem keuangan terintegrasi yang bisa dikendalikan secara daring dan memiliki standar pengamanan yang ketat.
Bray sempat memamerkan senyum sebelum pamit berkoordinasi dengan beberapa komponen manajemen yang berkaitan dengan dokumen standar dan segala persiapan yang dibutuhkan untuk dasar penilaian tim penilai standar ISO. Sementara Jim menyeretku ke ruangannya.
"Duduklah, Fifa! Sekarang sa perlu panggil ngana dengan sebutan nona kah."
"Tara. Apa lah kak Jim ini."
"Dari awal sa su tau ada aura emas dalam diri ngana. Sa su kira ngana pasti bukan keturunan orang sembarangan."
"Kak Jim ..."
"Maaf! Sa tara maksud apa-apa. Sa masih terkejut tiba-tiba dapat kabar ngana dapat warisan perusahaan. Tapi sa senang." Kak Jim tersenyum sambil membuka kedua tangannya di samping telinga.
"Hanya perkebunan, kak Jim. Bukan perusahaan besar macam XY. Kita langsung belajar praktek manajemen keuangan saja. Kalau sa perlu bayar tarif konsultan kirim saja invoicenya."
Jim tertawa. "Bukan itu sa maksud. Kita berkawan. Suatu saat sa pasti akan butuh bantuan ngana dan ngana harus bantu." katanya setengah mengancam.
__ADS_1