LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
RINDU


__ADS_3

Otakku semakin mengecil gara-gara ingat Bray. Aku menghindari perdebatan berlanjut dengan membereskan kamera dan tripod lalu memasukannya ke dalam ransel. Betapa malunya aku kalau saja kedua lelaki itu tahu apa yang sebenarnya tengah mengambang dalam anganku. Mereka pasti menertawakanku. Bodoh sekali. Bagaimana bisa aku menganalogikan bidadari halmahera dan rusa timor jantan itu dengan seorang Bray dan terlibat emosional sedangkan dia bukan siapa siapa bagiku. Aku hanya pengagum. Cukup dilihat saja indah pesonanya dari kejauhan. Jangan sampai terperangkap lebih jauh dari itu.


Kenyataannya bos besar itu teramat jauh dari jangkauan. Ibarat bintang di langit, dia tak bisa dijangkau. Hanya bisa dipandang sinarnya dari kejauhan apabila langit tak tertutup awan. Saat ini langit sedang mendung. Bray tak kan tampak di mataku walaupun keinginanku untuk menatapnya begitu besar dan membuncah. Apa ini yang disebut 'rindu'?


"Saya sangat tertarik merawat rusa ini, Fifa. Saya akan ijin mas Firdaus untuk buat kandang di lahan sebelah sana." Dokter Hans menunjuk sebuah lokasi tak jauh dari aviary.


"Apa kita akan buat kebun binatang di sini, Dokter?" tanyaku asal tanggap.


Dokter Hans tertawa. "Tentu tidak. Rusa ini anugerah yang Tuhan kirim buat kita, Fifa. Dia hadir saat kita baru memulai upaya kita untuk konservasi hewan endemik di wilayah ini. Saya langsung jatuh cinta pada rusa ini. Saya ingin merawatnya dan anak-anaknya kelak. Apa boleh, kak Andi?"


"Nanti kita usahakan ijinnya, Dokter. Semoga saja diperbolehkan untuk tujuan rehabilitasi dan penangkaran."


Dokter Hans antusias sekali. Saking antusiasnya ia tak merasa perlu minta persetujuan istrinya untuk niat mengadopsi rusa malang itu. Malah Bray yang ada di otaknya.


"Saya akan segera kabari mas Firdaus." Dokter Hans langsung merogoh sakunya lalu mengeluarkan gawai dari dalam saku itu.


Tuut tuut tuut. Panggilan videonya langsung tersambung dengan mode suara keras yang bisa kami dengar bersama.


"Halo. Assalamu'alaikum, dokter Hans. Apa kabar? Kapan tiba di Lolobata?" Suara bariton khas Bray terdengar memberondong kalimat sapaan dengan gaya santai.


Aku tersenyum. Mendengar suaranya saja sudah membuatku antusias dan senyum senyum sendiri. Aku berharap setelah ini ia akan menanyakan kabarku pada dokter Hans seperti yang biasa ia lakukan tiap kali berkomunikasi dengan Jim di kantor. Aku ingin ia mengingatku. Seharian ini aku merindukan momen itu.


"Wa'alaikumsalam, mas Firdaus. Kami sekeluarga baik. Baru kemarin tiba dijemput supir PT XY di bandara Buli. Terima kasih banyak atas bantuannya."


Suara tawa Bray terdengar renyah, "Sama-sama. Semoga betah ya di sana, Dok. Insya Allah saya akan menyusul kalau urusan saya di sini sudah beres."


Semoga urusanmu cepat beres, kak Bray. Itu harapan spontan yang muncul di hatiku.


"Namanya abdi negara harus bisa menyesuaikan diri ditempatkan di mana saja, mas Firdaus. Alhamdulillah berkat mas Firdaus baru tiba di sini kami sudah dapat banyak kawan baru yang ikhlas membantu meski belum kenal. Suasana di sini juga menyenangkan, masih asri dan damai."


"Dokter Fahira bukan anak mall kan?"


"Oh, bukan. Dia itu orang rumahan dan terbiasa hidup di desa. Sesekali saja dia refreshing belanja ke mall. Belanja harian di pasar tradisional saja cukup. Berbeda sekali dengan mbak Maudy."


Ufh, rupanya dokter Hans juga kenal nama itu. Tampaknya hubungan mereka cukup dekat. Tapi kenapa tidak dokter Hans saja yang diminta jadi pengurus yayasan? Ilmu dan pengalamannya pasti lebih mumpuni. Aku jadi sangsi pada kemampuanku sendiri. Aku pasti hanya dijadikan boneka karena embel-embel putra daerah.


Aku menggigit bibirku sendiri. Emosiku agak terganggu tiap kali mendengar nama Maudy disebut. Padahal aku tidak punya masalah serius dengan noda muda nan cantik itu. Aku hanya nggak rela dia jadi tunangan Bray. Gara-gara dia Bray tersandera di Jakarta.

__ADS_1


"Sudah bertemu dengan Fifa dan Andi, Dok?"


"Sudah. Saya sedang bersama mereka sekarang."


"Mereka baik, kan?"


Entah kenapa aku kecewa mendengar Bray bertanya dengan kata mereka. Akh, aku lupa. Aku bukan siapa-siapa. Jangan harap diperlakukan istimewa. Memang sudah seharusnya bertanya dengan kata 'mereka' sebab di sini ada Andi juga. Posisiku sama sekali tidak lebih penting dari Andi.


Dokter Hans sengaja mengarahkan kamera ke wajahku. Hanya 2 detik. Kesempatanku melihat senyumnya yang mengandung magis itu tidak kusia-siakan. Nyes, seperti setetes air pelepas dahaga. Melihat senyumnya, luluh semua gundah hatiku. Ya Tuhan, kenapa harus dia yang Kau anugerahi senyum itu? Kenapa bukan yang lain saja?


Entahlah. Antara keinginan dan tindakan sering tidak sinkron. Walau ingin bertatap lebih lama, aku tak bisa menyapanya. Lidahku mendadak kelu. Aku memilih diam menahan malu. Selama ini aku tak pernah berani menelponnya langsung. Kalau ada keperluan terkait yayasan, aku lebih suka bicara dengan asistennya, Hisyam atau Jim. Rinduku masih tergulung dalam hati yang terkunci. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu perasaanku. Tidak juga dia. Sebab ini bukan rindu yang kuharapkan hadirnya. Rindu yang terlarang.


Dalam hitungan 2 detik, dokter Hans langsung mengalihkan kamera ke arah Andi. Pria itu tersenyum ke arah kamera sambil melambaikan tangan.


"Halo, mas Firdaus." sapa Andi dengan nada riang.


Aku iri pada Andi yang selalu dapat bersikap manis pada semua orang. Dia selalu terlihat riang dan menyenangkan walaupun sifat aslinya menyebalkan. Dia selalu dapat menyapa orang tanpa beban.


"Hai, Andi. Bagaimana proyek konservasi kita?"


"On the right track, Bos. Aviary sudah jadi. Kapan peresmiannya?"


"Ibu pengurusnya pelit dan hobi cemberut. Takut digigit saya kalau banyak tanya." komentar Andi sambil melirikku dengan disertai senyum tengil.


Aku membelalakan mata sambil cemberut. Ingin kujitak kepalanya. Enak saja bilang aku pelit. Aku tidak pelit, hanya disiplin pada anggaran. Tidak ada anggaran untuk pesta peresmian aviary seperti yang diinginkan Andi.


Dalam hati aku bergumam kesal. Jangankan buat pesta, dana untuk operasional 3 bulan mendatang aja belum tahu bagaimana nasibnya.


"Sore ini saya mengantar ayam hutan dan Kasuari, Bos. Besok koleksi paruh bengkok dokter Hans baru akan tiba. Aviary bakal makin ramai oleh nyanyian aneka jenis burung. Bos kapan kembali ke Lolobata? Tidak penasarankah lihat langsung progres proyek kita?"


Bray tak menjawab.


"Coba dengar! Sore ini aviary ramai oleh suara burung bernyanyi." Dokter Hans menaruh telunjuk di depan bibirnya. Kami semua diam sesuai isyarat yang diberikan dokter Hans. Kami memberi kesempatan agar Bray mendengar suara nyanyian burung-burung sore ini. Barangkali dengan menyaksikan dan mendengar sendiri lewat video langsung bagaimana kondisi Aviary, ia akan tertarik terbang ke sini. Kali ini aku sepakat dengan kedua pria itu. Aku pun berharap Bray segera datang ke Lolobata supaya bisa lebih banyak waktu menatap senyumnya.


Dokter Hans memperjelas tangkapan video dengan mengarahkan kameranya ke atas, tempat dimana terdapat burung-burung yang sedang terbang atau bertengger di atas pohon.


"Ish, keren." puji Bray.

__ADS_1


"Selain burung, Andi menitipkan seekor rusa timor betina yang baru ditemukan polisi hutan. Rusa itu sedang hamil dan terluka. Ditempatkan di sini agar dapat perawatan intensif dari dokter hewan." Dokter Hans kini mengarahkan kameranya ke rusa yang masih tidur-tiduran saja di atas rumput.


"Wah rusa. Bagus itu." Suara Bray terdengar lebih keras dan antusias.


Dokter Hans menggunakan satu tangannya untuk membelai punggung rusa itu sambil mengutarakan niatnya membuat kandang di sebidang tanah yang tak jauh dari aviary.


"Kami butuh sekitar 200 meter persegi aja, Mas. Kita hanya butuh pagar bambu keliling setinggi sekitar 120 cm untuk melokalisir rusa dari predator agar hidupnya lebih sehat, aman dan nyaman. Rusanya akan dilepas bebas di lokasi itu. Tapi kita tetap kasih pakan dan nutrisi tambahan buat menunjang kesehatan dan tumbuh kembang janinnya. Saya sendiri yang akan periksa rutin kesehatan rusa itu."


"Saya setuju. Saya setuju. Rencana dokter brilian. Jalankan apa saja demi kebaikan rusa itu. Soal biayanya minta dulu sama pengurus yayasan. Biarpun mukanya jutek, dia penyayang. Dia pasti setuju dengan rencana dokter kan?" ujarnya sok tahu.


Dokter Hans melirikku. Aku tak bisa tidak tersenyum dan menganggukan kepala. Padahal bayangan biaya operasional 3 bulan mendatang sudah membenani otakku. Apalagi ditambah biaya tak terduga untuk kandang dan perawatan rusa yang jumlahnya pasti cukup besar.


"Iya, Fifa sudah setuju." jawab dojter Hans yakin


Eits, padahal aku belum ngomong apapun. Dokter Hans rupanya setali tiga uang dengan Andi dan Bray. Apa setiap laki-laki begitu? Suka menyepelekan hal kecil yang mungkin bisa menimbulkan masalah. Aku hanya mengangguk saja sudah dianggap setuju.


"Kubilang juga apa, dia pasti setuju." Bray menabuh gong pembenaran sambil terkekeh pelan.


"Dia antusias sekali belajar bagaimana jadi ibu hamil dari rusa itu, Bos."


Wah, fitnah apa lagi ini? Aku tak pernah bilang begitu.


"Ohya?"


"Iya. Dia sudah siap dibuahi hahaha."


Kudengar tawa Bray ikut meledak bersama tawa Andi dan dokter Hans. Antara malu dan kesal menumpuk jadi satu. Tapi aku hanya bisa diam.


"Memangnya Fifa sudah mau menikah?"


"Sudah, Dokter." Kubiarkan Andi bicara seenaknya.


"Siapa calonnya?"


"Rahasia."


"Semoga sifat calon suaminya tidak seperti rusa timor jantan yang tega meninggalkan betinanya sendiri memperjuangkan kehidupan buah cinta mereka. Saya tak mau nasib kamu sama seperti rusa betina itu, Fifa," ucap dokter Hans seraya tesenyum bijak. Sepertinya dia serius menanggapi omongan Andi yang asal kecap.

__ADS_1


Lagi-lagi aku tak menjawab. Hanya mengaminkan ucapan dokter Hans dalam hati. Tak terdengar tawa atau komentar apa pun dari Bray. Entah apa yang dipikirkannya. Tak lama kemudian dokter Hans menutup teleponnya.


__ADS_2