LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
AVIARY KAMI


__ADS_3

Santi menemaniku pergi ke yayasan dengan sepeda motor milik Fifi. Meskipun aku tak takut mati namun aku sangat waspada terhadap apapun yang terjadi. Demi menekan rasa takut yang kerap hadir aku tak peduli apa kata orang. Selain berdoa sepanjang perjalanan, aku membawa tutup panci yang akan kugunakan sebagai tameng. Sementara bagian belakang tubuhku aman sebab di punggungku ada ransel yang di dalamnya terdapat laptop. Aku harus memastikan tubuhku terlindung apabila pemanah misterius itu membidikku.


Ketakutan itu tak bisa kukendalikan. Datang begitu saja dan menghantuiku. Ada saja kejadian di luar kendali yang memaksaku untuk selalu waspada. Selain lebih peka terhadap suara, aku juga pernah melihat bayangan orang berkelebat tapi orang sekitarku sama sekali tak menyadarinya. Mereka menyangka aku mengalami halusinasi tapi aku yakin melihatnya. Kutunggu beberapa saat ternyata tak ada apa-apa.


"Sepertinya kak Fifa masih trauma, sebaiknya istirahat di rumah saja." saran Santi setelah melihat kondisiku yang sering tiba-tiba kaget dan celingukan hanya karena bunyi yang kuanggap mencurigakan.


"Saya harus koordinasi dengan dokter Farhana dan menjenguk aviary yang sudah lama saya tinggalkan. Bismillah. Jalan saja kak Santi!"


Satpam perempuan itu mengikuti perintah tanpa bicara lagi. Sepanjang jalan yang hanya sekitar 3 kilo meter dari rumah aku berdoa dan bersyukur kami sampai dengan selamat. Tak kulihat ada yang membuntuti atau mengintai kami.


Sampai di kantor dokter Farhana menyambutku dengan senyum. Beliau telah bekerja efektif sambil diselingi mengasuh anaknya yang masih kecil. Lebih tepatnya dokter Farhana melibatkan anak dalam bekerja untuk menumbuhkan rasa cinta pada hewan dan lingkungan hidup sejak dini.


"Aku dengar kamu dapat musibah, Fif."


"Bukan aku, tapi mas Firdaus."


"Sama saja. Kamu sedang bersamanya kan?"


"Dokter dapat kabar darimana?"


"Dokter Hans. Beliau telepon semalam menanyakan kabar mas Firdaus."


Aku menganggguk saja. Dokter Farhana hanya mengkonfirmasi, bukan bertanya. Lebih baik aku tak bercerita apa apa tentang peristiwa kemarin.


"Bagaimana kabar burung-burung dan rusa timor, dokter?"


"Semua sehat. Kecuali ada seekor nuri kepala hitam yang kena gangguan jamur. Burung itu masih di karantina. Baru kemarin siang kita dapat amanah nuri kepala hitam itu dari warga yang katanya merasa dibohongi penjual burung liar. Burung nuri yang katanya dibeli mahal tak bisa bicara setelah sekian lama dilatih. Daripada selalu kesal dan menyesal tiap kali lihat burung itu makanya dia membawanya ke sini." Dokter Farhana tersenyum remeh.


Ada ada saja niat orang untuk memelihara burung. Meski nuri kepala hitam memiliki bulu cantik nan eksotis dan suara kicau yang merdu namun orang masih menuntutnya pandai bicara demi gengsi dan kebanggaan. Burung asal Papua ini sudah tergolong langka. Harus ada ijin untuk dapat memelihara burung jenis ini. Jika tidak, polisi bisa menyita karena dianggap mengambil dari alam liar. Kelangkaan itulah yang menyebabkan harganya mahal ditambah spekulasi penjual bahwa burung jenis ini pasti bisa bicara.


"Sudah ada surat serah terimanya kan, Dok?"


"Sudah. Orang BKSDA juga menyaksikan serah terimanya kok. Kondisi burungnya tak terawat."


"Ohya, Dok. Saya mau kembali ke Makassar hari jum'at. Mau titip Aga bisa?"

__ADS_1


"Aga?"


"Ya. Nuri kepala merah jantan yang dulu dibeli mas Firdaus dari dokter Hans buat pilot project program konservasi kami. Aga sudah dilepasbebaskan pada hari kemerdekaan tapi kembali lagi ke aviary saya." ungkapku dengan sedikit malu.


"Oh boleh. Dengan senang hati. Nuri jantan itu memang jinak. Maklum dia hasil penangkaran. Agak susah memang kalau dikembalikan ke alam."


"Aga sudah pandai bicara."


"Ohya?"


"Baru 5-6 kata tapi bisa bikin semangat hidup. Besok saya minta tolong pak Koli ambil ke rumah."


Dokter Farhana mengangguk sambil tersenyum.


"Kemarin ada videografer yang datang ke aviary ya, Dok?"


"Sudah 3 hari yang lalu datangnya. Sejak kemarin mas videografernya ikut patroli polisi hutan mencari Bidadari Halmahera di habitat aslinya."


Bersyukur semua berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan. Aku lega. Setelah obrolan pembuka itu aku bersama dokter Farhana memutuskan bekerja di dalam aviary ditemani burung-burung yang berkicau. Dokter Farhana memamerkan rumah pohon baru yang dibuat eksotis tanpa dinding. Dia mengklaim itu sebagai tempat bekerja sekaligus tempat pengamatan burung yang paling nyaman.


Aku mencoba teropong milik dokter Hans dengan dipandu oleh dokter Farhana. Rupanya menarik melihat burung-burung lewat benda ini. Kita bisa melihat lebih detil gerakan burung-burung. Kepakan sayap burung dapat teridentifikasi dengan jelas. Pipit kecil yang bersembunyi di semak-semak pun dapat diintip gerak gerik lucunya.


Tak puas mengintip, aku berinisiatif mendokumentasikan tingkah laku mereka dengan kamera powershoot. Kegiatan baru pengamatan hewan ini menyenangkan bagiku. Apalagi dokter Farhana menyediakan buku ensikopedia burung yang tebal sebagai panduan identifikasi dan perilaku burung.


"Kami sudah mulai melakukan pengamatan untuk bahan menulis buku tentang burung-burung endemik Indonesia timur. Dimulai dari jenis paruh bengkok." ungkap dokter Farhana tentang ambisi selanjutnya. Dia tampak sangat antusias.


"Saya boleh bantu? Bagaimana caranya?" tanyaku polos.


Sebagai anak pedalaman yang belum mengenyam pendidikan tinggi dan tak punya pengalaman tentang dunia luar, aku sadar harus lebih aktif bertanya. Bertanya tak akan membuat kita tampak bodoh, kecuali kita menanyakan hal yang sama berkali-kali.


"Amati saja seekor burung dengan segala tingkah lakunya lalu catat. Bagaimana cara dia makan, bersosialisasi, cara terbang, cara memikat lawan jenis, dan segala hal tentang hidup burung itu dicatat saja. Setelah catatannya cukup lengkap baru disusun menjadi sebuah buku. Pengamatan ini butuh waktu lama. Tapi kalau untuk beberapa jenis burung kakatua dan Nuri kami sudah melakukan pengamatan cukup lama sehingga catatan pengamatan dan referensi sudah cukup banyak. Siap launching dalam beberapa bulan ini." Dokter Farhana tersenyum bangga dengan pencapaiannya bersama suami.


Sepasang suami istri ini memang benar-benar pencinta burung sejati. Mereka sudah punya rencana besar mengenai konservasi dan penangkaran burung.


Tak terasa hari sudah mulai beranjak siang. Asisten rumah dokter Farhana mengantarkan kami makan siang sambil mengambil anak balita dokter Farhana agar tidur siang di dalam rumah. Suasana dalam aviary masih terasa teduh sebab banyak pohon-pohon tinggi dengan jarak yang cukup rapat. Semilir angin yang berhembus turut membuat nyaman kami dalam bekerja. Selama di dalam aviary aku sama sekali tak mendengar suara mencurigakan yang membuatku kaget dan celingukan. Di sini benar-benar damai. Rasanya ingin tidur dan beraktivitas sehari-hari di sini saja.

__ADS_1


Tiba-tiba saja datang sekelompok orang menyerobot masuk ke dalam aviary. Pak Koli dan Santi yang berada di bawah kelihatan kesulitan menghalau mereka. Aku dan dokter Farhana bergegas turun meninggalkan peralatan dan catatan pengamatan kami di atas rumah pohon.


"Mana perempuan tidak tahu diri yang sudah mencelakakan Firdaus?" tanya Maudy kasar. Rupanya ia dan rombongannya datang menggeruduk aviary karena menyangka aku telah mencelakakan Bray. Fitnah apa lagi ini.


"Ada masalah apa? Yuk, kita bicara di kantor saja dan selesaikan masalah dengan baik-baik." Dokter Farhana menanggapi dengan ramah. Ia sempat melirikku. Kubalas dengan mengangkat bahu karena memang tak tahu apa maksud Maudy menudingku.


"Kamu siapa?" Maudy mengangkat wajahnya dengan angkuh.


Dokter Farhana mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi Maudy malah melipat tangan di dada.


"Saya dokter Farhana, pengurus aviary ini." jawab dokter Farhana tegas.


Dokter hewan itu ikut terpancing membalas Maudy dengan turut mengangkat kepala. Tersinggung uluran tangannya ditolak.


"Saya tidak ada urusan dengan kamu."


"Minggir! Saya cuma punya urusan dengan dia. Tak peduli kamu siapa. Jangan ikut campur!"


Aku maju. Dengan isyarat mata kuminta dokter Farhana menyingkir. Aku sebenarnya enggan meladeni nenek sihir itu lantaran merasa tak punya salah padanya. Tapi jarinya jelas menunjukku, aku harus beli dengan berani.


"Jadi kamu pemagang bodoh yang mempengaruhi Firdaus supaya membatalkan pertunangan kami."


"Kalau memang pertunangan kalian batal tak ada kaitannya dengan saya, mbak Maudy. Tapi karena sikap mbak Maudy yang terlalu posesif dan menguasai."


"Eh, pinter ngomong ya rupanya."


"Kami hanya punya hubungan kerja dengan mas Firdaus." dokter Farhana mencoba membelaku.


"Hubungan kerja apa? Buat apa bikin kandang burung besar seperti ini. Kalian yang pengaruhi Firdaus untuk buang uang buat hal tak berguna macam ini."


Bruk. Maudy menendang kotak kayu besar yang ada di dekatnya.


Kotak itu terguling dan tutupnya terlepas. Maudy meringis. Isi kotak yang berupa larva yang biasa jadi makanan burung menjalar kemana-mana hingga membuat pak Koli kerepotan menyatukannya kembali.


Maudy menatap larva-larva yang bergelimpangan dan berjalan kesana kemari dengan perutnya yang beruas-ruas itu. Ekspresi wajahnya memperlihatkan gabungan antara jijik, takut, sekaligus marah. Dia berjingkat-jingkat menghindari serbuan larva yang mengerubuti kakinya yang mulus. Beberapa temannya menariknya agar keluar aviary. Aku tersenyum melihatnya. Kapok. Salah sendiri seenaknya menendang barang milik orang lain. Makan itu larva. Hahahaha.

__ADS_1


__ADS_2