LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
MAU MAU


__ADS_3

Kutepuk dahiku sambil meringis. Gara-gara keceplosan mengungkapkan kelicikan Gufron, Salman jadi gusar dan berniat membawa kasus sepupu kami itu ke jalur hukun. Seharusnya kusimpan saja rahasia itu. Aku tak mau saudaraku bersengketa dengan sepupu sendiri. Kasihan nenek. Beliau pasti sedih kalau cucunya bersengketa.


Nasi telah menjadi bubur. Yang sudah terucap tak mungkin dapat ditarik kembali. Kuterima saja resikonya. Keluar dari polsek, Salman memerintahkan pak Wahyu kembali ke rumah dinas kami di kawasan tambang.


Salman tampak kecewa begitu sampai di rumah, Bray masih berdiskusi daring dengan rekannya di Malaysia. Kami harus menunggu diskusinya selesai. Salman terlihat gelisah menahan marahnya. Aku mempersilakan Salman duduk menunggu di sofa. Sementara aku ke dapur menyiapkan minuman dan camilan yang bisa disajikan. Sebagai penghuni baru, dapur mungil ini belum menjadi wilayah kekuasaanku. Aku mesti celingukan mencari barang ini dan itu. Tak berani bertanya pada empunya rumah yang masih kelihatan sibuk diskusi. Takut mengganggu.


"Ada apa kak Salman? Kelihatannya gelisah." sapa Bray sambil membuka headset dan menutup laptopnya. Ia memutuskan mengakhiri diskusi lebih cepat dari peserta lain.


"Aku mau ijin mengajak istrimu ke Makassar."


"Kapan?"


"Lebih cepat lebih baik. Kalau bisa berangkat sekarang."


"Ada apa sih Kak? Kenapa harus sekarang? Tega banget bajak pengantin baru. Kami baru menikah kemarin lo."


Bray menanggapinya dengan senyum santai. Salman yang masih diliputi marah yang menggebu agak sungkan dibuatnya.


"Minum dulu, Kak!" Aku menaruh 3 gelas air bening dingin yang kuambil dari kulkas dan setoples biskuit kelapa di atas meja.


Salman meneguk air yang kusediakan. Tiga kali teguk satu gelas penuh habis. Sesaat kemudian Salman melanjutkan pembicaraan yang terjeda.


"Aku harus ambil dokumen penting di safe box milik Fifa. Safe boxnya ada di salah satu bank swasta di Makassar."


Bray sempat berpikir sejenak.


"Hari rabu aku ada pertemuan asosiasi pengusaha tambang nikel di Makassar. Rencananya memang mau ngajak Fifa biar bisa bertemu keluarganya lagi. Bagaimana kalau ambil dokumennya hari Rabu saja? Kamis sore insya Allah kami sudah kembali ke sini dan staf kepercayaan kami akan mengantarkannya ke Jailolo."


Bray menawarkan solusi jitu. Langsung kusambar dengan dukungan.


"Iya. Begitu lebih baik. jangan bertindak impulsif. Sekarang kakak kan sedang marah dan lelah. Kata baba, jangan pernah ambil keputusan saat sedang marah. Selama beberapa hari ini kakak bisa berpikir lebih jernih. Perlu ditambah dukungan doa juga. Barangkali ada jalan yang lebih baik."


Bray merangkulku dan tersenyum memberikan dukungan padaku. Aku membalas dengan senyum terima kasih. Aku sangat suka dengan bahasa baru kami yang tak butuh penguasaan banyak kosa kata yaitu, berbalas senyum. Bukan berbalas pantun.


"Besok kan kakak harus masuk kerja. Masalah ini nggak harus diselesaikan buru-buru kok."


"Aku mau mengajukan surat pengunduran diri secepatnya. Aku mau 100% mengurus perkebunan keluarga dan menjaga keluargaku dari orang-orang yang berniat jahat di sekitarnya."


Aku dan Bray saling berpandangan. Heran. Salman mengubah keputusan hidupnya seketika setelah tahu bagaimana kelakuan Gufron dan ibunya selama ini. Padahal sebelum ini dia kukuh ingin tetap mengabdi pada masyarakat petani. Meski gaji kecil dan statusnya hanya pegawai kontrak tidak tetap, tapi Salman berkomitmen mengabdi untuk kemajuan pertanian yang digaungkan almamaternya.


"Apapun keputusan kakak, Fifa dukung. Nenek, mama dan Fifi butuh pelindung. Para pekerja perkebunan yang sudah loyal bertahun-tahun mengabdi pun butuh sosok pemimpin yang tidak hanya memperkaya diri tapi juga mengupayakan kesejahteraan pekerja."

__ADS_1


Salman memelukku. Mungkin kalimat-kalimatku terdengar terlalu sok bijak. Begitulah yang terpikir dalam kepalaku.


"Setelah kamu menikah, aku baru sadar betapa kuatnya adik perempuanku selama ini menjaga keluarga. Seharusnya itu tugasku sebagai satu-satunya lelaki yang tersisa di keluarga kita."


Ehm, kayaknya nggak begitu juga. Bertahun-tahun aku menyendiri menjaga makam baba dan Affan. Aku tidak menjaga mama selama beliau menikah dengan bapak kepala kampung.


"Aku tunggu dokumen itu."


"Saya akan antar Fifa mengambil dokumen itu." Bray bicara santai tapi menjamin kepastian.


"Sebaiknya kakak hubungi dulu si Gufron. Barangkali kebun sawit yang rencana dibelinya dari uang perkebunan itu benar-benar ada dan Gufron mau mengembalikannya pada perusahaan sesuai kesepakatan dalam risalah rapat."


Salman tampak mencerna apa yang kukatakan. Dia sudah lebih tenang. Aku menuang lagi air mineral dingin pada gelasnya yang kosong. Barangkali dinginnya air bisa mendinginkan hati dan kepala juga.


"Besok sebelum berangkat ke Jailolo aku akan ziarah lagi ke makam baba."


"Sampai Jailolo nggak bisa ikut upacara dong." protesku.


"Nggak apa. Kan sudah mau mengajukan surat resign." jawabnya yakin.


Terserah. Aku tahu Salman pasti bisa memilah keputusan yang terbaik.


Salman sepakat dengan saran Bray. Masalah Gufron harus diselesaikan dengan banyak pertimbangan dan siasat matang. Tidak terburu-buru. Salman kembali pulang ke rumah dalam keadaan yang lebih tenang.


Aku beranjak hendak berdiri dan Bray menarik tubuhku sampai jatuh di pangkuannya.


"Mau ke mana lagi, Sayang?"


"Mau ke ujung sofa sebelah kanan." jawabku dengan suara manja.


"Di sini aja. Nggak usah kemana-mana."


Aku meronta manja. Pura-pura berusaha melepaskan diri dari kungkungannya.


"Kenapa sih nggak mau dipangku suami sendiri."


Aku tersenyum malu-malu, "Takut diminta mau mau lagi."


"Pasti mau lagi dong. Mau lagi. Mau lagi. Mau terus pokoknya." serunya sambil menyubit hidung kecilku dengan gemas.


Ah, alamat remuk badanku nanti. Energiku bakal habis. Aku pasang muka merengut. Padahal hati kecilku berharap.

__ADS_1


"Tapi nggak sekarang, Sayang. Sebentar lagi azan maghrib. Aku mau ke masjid sampai selesai shalat isya berjamaah sebab petang ini ada pengajian mingguan. Mau maunya habis isya aja ya. Kamu harus sabar menunggu, Sayang."


Aku menggeleng. Nyebelin banget sih. Kok kesannya jadi aku yang berharap mau mau lagi.


"Malam ini kamu mau berapa ronde?" Bray bertanya seperti sedang bicara dengan anak TK.


Aku tak menjawab. Hanya tersipu.


"Lima ronde?"


Aku menggeleng sambil menahan senyum.


"Tujuh ronde?"


Aku tetap menggeleng. Senyumku hampir meledak.


"Sembilan ronde?"


Lagi-lagi aku menggeleng sambil tertawa. Kukalungkan tanganku pada lehernya dan bergelayut dengan manja. Bray mengeluarkan senyum magisnya buat membalas senyum manja yang sengaja kubuat-buat untuk menggodanya.


"Aku maunya wedang ronde." kataku cepat sebelum tersenyum dan mencuri kecupan singkat pada bibirnya yang menggemaskan.


Bray menarik tubuhku dalam pelukan eratnya. Dengan gerakan cepat ia menghirup bibirku masuk kedalam mulutnya dalam sekali seruput. Lidahnya menari meliuk-liuk seperti gerakan bidadari halmahera ketika terbang sambil menari dan menukik dengan indah. Aku ikut menggerakan lidah dan berusaha balas menghisap bibirnya dengan rakus. Bray tak mau kalah membalasku dengan garang hingga aku nyaris kehabisan nafas.


Azan maghrib menghentikan aktivitas kami. Kami sama-sama tersenyum dan angkat bahu.


"Nanggung. Udah basah nih." Bray merajuk manja. Matanya melirik benda yang mengeras di balik celananya.


Aku mendorong tubuhnya menjauh.


"Sana shalat jamaah ke masjid!"


"Jadi makmum masbuk aja deh. Semenit aja lanjut celup celup ya. Nanggung banget nih. Terlanjur basah. Masak harus mandi besar nggak pake mau mau." keluhnya dengan wajah sedikit gusar.


Aku berlari meninggalkannya masuk ke dalam kamar dan siap-siap menguncinya.


"Salah sendiri. Makanya kalau udah deket waktunya dipanggil Allah, jangan nurutin nafsu. Wek." ucapku sambil menjulurkan lidah dan tertawa kecil.


Aku langsung mengunci kamar. Bray tidak memburuku. Kali ini aku menang. Berhasil menggodanya. Nggak tahu bagaimana rasanya sedang on fire harus berhenti karena panggilan azan. Entah nanti shalatnya khusyu atau tidak.


Aku mengintip dari lubang kunci pintu kamar yang telah terkunci. Bray pergi ke kamar mandi samping dengan langkah gontai. Sebentar kemudian keluar dengan wajah segar dan rambut basah. Dia berangkat ke masjid yang hanya beberapa langkah dari rumah.

__ADS_1


Hihihi. Aku tertawa kecil sambil menutup mulut. Ternyata menikah itu tak seseram dugaanku. Setidaknya hari ini aku bahagia. Entah apa yang terjadi esok atau lusa. Nikmati saja kebersamaan ini dengan melantunkan lagu cinta yang indah-indah. Aku harus berterima kasih pada Tuhan yang telah mengirimkan seseorang yang bisa membuatku lebih sering tersenyum dan merasa hidupku lebih berarti.


__ADS_2