LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
AWAL PERJALANAN


__ADS_3

Setengah jam setelah azan subuh, Andi Syarif beserta supir mobil sewaannya telah tiba di halaman rumah. Mama langsung bergegas menyambutnya sambil membawa satu dus oleh-oleh berupa makanan seperti kue bagea, halea kenari, manisan buah pala dan kue tumbu yang dibelinya kemarin dari pasar.


"Titip Fifa ya, kak Syarif. Sampaikan salam pada nenek dan paman Hasan. Jangan lupa telepon ke nomor Fifi begitu sudah sampai di Sofifi, Ternate dan Makasar. Kami tak mau kehilangan berita sedikit pun tentang Fifa."


"Siap, Mama."


"Jaga Fifa baik-baik. Dia belum pernah pergi ke mana pun. Mama sudah bawakan obat anti mabuk dan minyak angin. Tolong dia kalau ada apa-apa di jalan."


Andi tersenyum melihat kehebohan sekaligus kecemasan mama melepasku buat melakukan perjalan jauh untuk pertama kalinya. Sederet perintah dan nasehat panjang meluncur dari bibirnya. Mama terus mewanti-wanti agar Andi tak meninggalkanku sekejap pun. Harus dijaga. Bahkan kalau misalnya punya borgol, mungkin mama akan memborgol tanganku dengan tangan sepupu jauhku itu agar tak terpisahkan. Alasan khawatir mabuk, hilang dan tersesat bertubi-tubi dilontarkan. Mama juga mengingatkan Andi soal watakku yang keras kepala dan katanya sulit ditebak apa maunya.


"Jangan sampai dia hilang dari pandangan. Jangan pula buat dia marah karena biasanya kalau marah dia akan melakukan perbuatan yang tak terduga untuk menghindari kita. Bisa melarikan diri, sembunyi atau apapun dia bisa lakukan. Pokoknya kamu harus hati-hati sekali jaga anak mama."


Pagi ini mama jauh lebih cerewet daripada burung nuri. Ini tak seperti biasanya. Sebab mama orang paling sabar yang pernah kukenal. Tak pernah melawan kalau dimaki orang dan tak banyak bicara jika tidak dibutuhkan. Sebegitu pentingkah aku hingga mama sampai sekhawatir itu? Padahal aku pergi bersama orang yang sudah sangat dipercaya mama. Apalagi Andi Syarif nyata nyata berperan besar dalam menautkan kembali silaturahmi dengan keluarga baba. Tidakkah itu cukup buat meyakinkan hatinya bahwa anak gadisnya pasti akan baik-baik saja?


"Mama tenang! Fifa akan baik-baik saja selama perjalanan." cetusku sambil tersenyum mengecup pipi kanan dan kirinya.


"Dulu kamu pernah hilang waktu diajak baba ke pasar."


Aku tertawa, "Dulu itu Fifa masih kecil sekali, Ma. Sekarang Fifa sudah besar. Kalau tidak tahu jalan pulang, tinggal pergi ke kantor polisi atau koramil minta bantuan bapak-bapak aparat negara agar diantar sampai kampung ini."


"Pokoknya kamu harus selalu ikut kakakmu. Jangan keras kepala. Makasar itu jauh sekali. Kamu harus melintasi ratusan bahkan ribuan perkebunan, kampung, hutan, dan lautan."


"Baik, Ma." Lebih baik aku iyakan saja agar masalah tidak jadi lebih panjang.


Mama kembali mendekati Andi dan kembali mewanti-wanti, "Ingat ya, kak Syarif. Kamu harus bertanggung jawab membawa kembali Fifa pulang tanpa kurang suatu apapun."


Andi mengangguk. Agak ketakutan melihat ekspresi mama yang mengancam dengan serius.


Setelah pamit, mencium tangan dan memeluk mama dan Fifi, kami naik ke mobil sewaan sambil tertawa mengingat tingkah absurd mama.


"Mama ngana so sayang sekali pe ngana, Fifa. Khawatir berlebihan sampai berubah jadi cerewet bukan kepalang."


"Sa pun tara sangka begitu." Aku masih terkekeh mengingat kelakuan mama yang tak biasa.


"Sa rasa diberi beban berat sangat jaga de punya anak gadis. Kalau sampai ada apa-apa pe ngana, mama pasti bunuh saya. Hiy, ngeri."


Aku angkat bahu sambil tertawa kecil. Merasa berharga karena mama mengkhawatirkan aku sebegitu rupa.


Tiba-tiba aku teringat baba. Kesibukanku membuatku lupa sudah lama tak mengunjungi makamnya. Aku harus pamit juga pada baba.


"Kak, boleh mampir sebentar di TPU kampung baru?"

__ADS_1


Andi melongok jam tangannya lalu menatapku hendak mengatakan tidak.


"Waktu kita terbatas, Fifa."


"Tolong lah! 5 menit saja. Sa belum pamit sa punya baba." Aku memohon dengan wajah memelas dan menangkupkan kedua tanganku.


Andi menatap wajahku yang penuh harap. Akhirnya menyerah, "Hm, baiklah. Jangan lebih dari 5 menit ya."


Aku menyanggupi dengan anggukan kepala.


Hari belum terang. Matahari masih belum muncul di batas cakrawala. Hanya sinar jingganya yang tampak menghias langit yang cerah pagi itu. Aku berjalan terburu-buru menghampiri sebuah makam dengan nisan batu bertuliskan nama babaku, Ahmad Syarif. Sementara Andi mengawal di belakangku.


"Assalamualaikum, Baba. Fifa datang untuk pamit pergi ke Makasar bertemu nenek dan paman Hasan." kataku sambil jongkok di sisi makamnya.


Sudah banyak rumput yang tumbuh di atas makamnya. Tanganku otomatis mencabuti rumput-rumput itu sambil melantunkan doa dengan suara lirih. Andi pun ikut membantu membantu mencabut rumput-rumput dan mengaminkan doaku.


Angin dingin meniup dahan-dahan pohon kelapa dan pala yang berada di sekitar area makam. Tanpa bunga. Tanpa air mawar. Aku tak memiliki persiapan sama sekali untuk mengunjungi makam baba. Ini sebuah spontanitas. Sebenarnya aku malu pamit tanpa kesan menghormati baba. Aku merasa bersalah karena kesibukanku membuatku lupa mengunjungi makam baba sampai ditumbuhi banyak rumput begini. Sudah lebih dari 2 bulan aku larut dalam pekerjaanku tanpa menyempatkan waktu sama sekali buat mengunjunginya. Parahnya lagi aku mulai bersekutu dan memuja orang yang kuduga telah membunuh baba dengan panah beracunnya. Sungguh aku tak mengerti bagaimana sebenarnya hatiku berpihak. Plin plan. Kadang aku merasa tak mengenal diriku sendiri.


"Baba, maafkan Fifa!" pintaku sambil menangkupkan tangan. Aku merasa telah berubah jadi anak yang durhaka. Lupa pada kebaikan dan kasih sayang baba.


Tepukan tangan di punggungku segera membuatku tersadar bahwa janjiku tak lebih dari 5 menit. Kami tak bisa lama-lama ziarah di makam baba.


Aku berdiri. Rumput di atas makam belum selesai kubersihkan semua. Terlalu terburu-buru. Sungguh, ini adalah kelalaian terbesar dalam sejarah hidupku.


"Fifa pergi dulu, Ba." Hanya itu yang dapat kuucapkan dengan air mata sudah terlanjur jatuh.


Andi merangkul bahuku dan membersamai langkahku ke luar area pemakaman. Ia juga yang membukakan aku pintu dan menutupnya kembali ketika aku telah duduk dengan sempurna. Sementara dia masuk lewat pintu mobil yang lain.


"Ngana jangan menghukum diri sendiri, Fifa! Baba pasti senang dan merestui perjalananmu bertemu nenek dan paman yang belum pernah sempat diperkenalkannya."


"Saya lupa. Sudah lama tak datang dan rawat makamnya dengan baik." Aku malah menjawabnya dengan pikiranku sendiri.


"Baba pasti paham kesibukan ngana. Lagipula makam hanya simbol yang terlihat di bumi. Baba sebenarnya sudah pindah ke surga dan surga itu tak terletak di dalam tanah."


Aku mengernyitkan dahi. Makam hanya simbol yang terlihat di bumi. Benar juga sih. Jasad yang tertanam di bumi tidak ikut pergi ke alam yang lain. Waktu akan membuat jasad itu menyatu dengan tanah kembali sebagaimana awal penciptaan manusia. Dari tanah dan akan kembali menyatu dengan tanah.


Mobil kembali melaju melintasi jalan berbatu sampai bertemu jalan aspal yang merupakan satu-satunya jalan kabupaten menuju ibu kota provinsi yang jauhnya sekitar 4 - 5 jam perjalanan dengan kecepatan normal.


Benar kata mama, perjalanan ke Sofifi itu jauh harus melintasi kebun, bukit, tepi pantai dan kampung-kampung.


"Kenapa kita tidak naik pesawat dari bandara Buli aja, Kak? Tempo hari dokter Hans datang dari bandara Buli."

__ADS_1


"Biar kita bisa menikmati perjalanan lengkap: darat, laut dan udara." jawab Andi sambil senyum senyum.


"Pesawat dari Buli lebih mahal ya?"


Andi malah cengengesan. Tandanya benar dugaanku. Perjalanan dari kampung kami ke luar area tergolong mahal karena tidak ada trayek angkutan umum yang jadwalnya pasti. Mobil plat hitam yang biasa mengantar penumpang sampai kota provinsi belum mau jalan sebelum penuh hingga tak bisa diandalkan dari sisi waktu. Itu sebabnya kami harus sewa kendaraan.


Supir mengantar kami langsung ke dermaga kapal cepat menuju kota Ternate. Suasananya ramai. Matahari sudah tinggi hingga panas terasa menyengat kulit.


"Ngana mau makan siang dulu, Fifa?"


"Tara."


Andi membeli 2 botol minuman dingin dan 2 roti bungkus isi coklat.


"Sebaiknya isi perut dulu. Ngana belum terbiasa naik kapal cepat kan?"


Aku tak menjawab. Kusambar roti yang disodorkan Andi lalu makan sambil duduk mengayun-ayunkan kaki di kursi tunggu.


"Ngana sudah minum obat anti mabuk?" tanyanya dengan wajah meledek.


"Tara." jawabku dengan tangan menepis.


"Tak apa. Siapkan saja alternatif kedua yang disiapkan mama, minyak angin." Senyumnya lebih tengil lagi.


Aku mencebik.


"Banyak orang tak mabuk darat, tapi mabuk laut atau udara."


"Semoga tidak." jawabku santai.


"Ngana tak takut ketinggian?"


"Manalah takut. Dari kecil sa diajarkan baba naik pohon tinggi di hutan buat lihat burung atau petik buah-buahan." jawabku sedikit nyolot. Kesal jadi bahan ledekan.


"Oh iya, sa lupa kalau ngana anak Tarzan." Andi makin terkekeh.


Enak saja babaku dibilang Tarzan. Spontan aku memukul lengannya dengan kencang. Sayangnya Andi sudah hapal kebiasaanku. Bukannya menghindar ia malah siap menahan otot bisepnya dengan kuat hingga tulang-tulangku terasa mau rontok seperti habis memukul batu.


Dia tertawa sementara aku sibuk mengibas-ngibaskan tanganku yang sakit.


"Makanya jangan memukul saudara tua. Kata orang jawa, kuwalat kamu." Andi terkekeh melihatku kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2