LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
DINI HARI


__ADS_3

Kuputuskan untuk menyelesaikan pekerjaan membaca dan menganalisa dokumen sampai selesai larut malam. Fifi telah mengabarkan bertemu dengan Andi dan langsung diajak keliling kota Makassar menikmati keindahan lampu-lampu dan gedung-gedung tinggi yang tak pernah kami jumpai di Lolobata. Dia begitu gembira dan antusias dengan perjalanan impiannya. Ketika sampai di kamar aku mendapatinya telah tertidur lelap dengan piyama tidurku. Dasar Fifi. Dia pasti telah melongok lemari pakaianku dan mengambil piyama sutera warna biru langit yang dibelikan nenek. Saat bangun besok anak itu pasti heboh dan iri melihat semua barang-barang itu.


Selesai membersihkan diri aku menjatuhkan diri berbaring di samping Fifi yang tengah meringkuk dengan damai. Raut wajahnya begitu cerah. Saking bahagianya Fifi mungkin tak berpikir bagaimana mama yang ditinggal sendirian di rumah.


Dentang jam tua berbunyi satu kali tanda jam telah menunjukan pukul satu dini hari. Mataku masih belum mau terpejam. Aku mengambil gawai dari atas nakas dan membaca beberapa pesan yang masuk di grup pencinta burung. Canda dan video kiriman anggota grup membuatku tersenyum. Ada yang pamer keahlian burungnya, ada yang buat video editan lucu, informasi lomba, dan ada pula yang iklan jual pakan serta perlengkapan burung. Selalu ramai walau aku jarang sekali berkomentar di grup itu.


Tut tuuuut tuut. Panggilan telepon masuk dari Bray. Aku jadi berpikir, apa yang salah dengan hari ini. Ooh jelas banyak. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan perkebunan itu hingga lalai pada tugasku mengurus yayasan.


Sudahlah. Pasrah saja. Dengarkan saja omelannya. Terima marahnya dengan lapang hati. Mau bagaimana lagi? Aku tak bisa mengkloning diri untuk bisa menyelesaikan seluruh tanggung jawab yang kuemban saat ini dalam satu waktu.


"Hai, Fifa. Belum tidur?" Itu kalimat pertama yang kudengar dari sambungan telepon pagi dini hari ini. Tak ada nada tinggi atau aroma kemarahan.


Suara seraknya mengalun lembut di telinga seperti cicit bidadari Halmahera yang sedang mencari perhatian. Gelombang suara yang manis merambatkan hasrat untuk membalas dengan penghambaan diri. Bulu halus di sekujur tubuhku meremang seketika.


"Belum." jawabku sambil menelan ludah.


"Sibuk?"


Aku beranjak duduk bersandar pada dipan. Tak enak menerima telepon sambil tiduran.


"Iya, baru pulang dari kantor. Mas Bray kan tahu aku terpaksa harus kelola perkebunan yang tadinya mau dijual Gufron itu. Hari ini aku menghadiri rapat manajemen, berkunjung ke kebun dan pabrik, serta membaca dan menganalisa banyak dokumen. Maaf ya! Konten yang kemarin belum sempat diupload. Tapi kondisi aviary terpantau aman kok."


Kukira ia akan marah. Ternyata yang kudengar hanya suara desah lembut dan komentar santai, "Lemes banget suaranya. Capek banget ya?"


"Heem." Kujawab dengan pendek sambil tersenyum-senyum. Perhatian kecil itu membuat hatiku mengembang. Bebanku sedikit berkurang karena merasa ada teman berbagi.


"Belum ngantuk?"


"Belum. Ada apa telpon dini hari begini?"


"Aku juga baru pulang dari kantor. Nggak bisa tidur. Keingetan kamu. Eh lihat status hp kamu lagi online. Pas banget jadi langsung call aja." Bray tertawa kecil.


Aku sendiri geli campur malu. Efek suaranya pada dini hari membuatku berfantasi membayangkan sosoknya ada di dekatku. Ingin kupeluk buat mengusir resah hati dan dinginnya malam. Padahal aslinya yang kupeluk adalah bantal bulu angsa yang empuk, lembut dan wangi.


"Jadi nggak ada yang penting buat dibicarakan?"


"Ada dong. Jangan ditutup dulu!" cegahnya sedikit panik.


Padahal aku cuma pura-pura jutek. Nggak bilang mau tutup telepon juga kok. Eh dia ketakutan sendiri. Hihihi. Dengan gemas aku *******-***** permukaan bantalku sebagai pelampiasan.


"Tadi aku ketemu Gufron. Dia banyak tanya tentang kamu dan hubungan kita. Maaf ya! Aku cerita banyak tentang awal mula kerja sama kita di program konservasi burung itu."

__ADS_1


Eh kok acara telepon-teleponan dini hari isinya saling maaf-maafan. Kayak lebaran aja. Bibirku kembali mengembangkan senyum.


"Nggak ada masalah. Aku malah belum pernah ngobrol dengan Gufron sama sekali."


"Masak? Kalian kan terhitung masih kerabat dekat."


"Mungkin masih canggung. Kami kan baru sekali bertemu. Sebelumnya kami tidak saling kenal. Tapi kupikir dia ingin tetap begitu selamanya. Aku merasa kehadiranku sama sekali tak diharapkan kecuali oleh nenekku. Selama di sini Gufron terlampau sibuk dengan urusan bisnis. Buat sarapan pagi bersama dengan keluarga saja tak sempat." keluhku. Entah kenapa aku tiba-tiba saja begitu terbuka melampiaskan unek-unek yang ada di kepala walau setelahnya ada sedikit penyesalan. Kenapa aku harus seterbuka itu pada Bray.


Semua masih sumir bagiku. Aku tak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Gufron. Kalau mau tahu tentang aku mestinya ia bertanya sendiri pada orangnya langsung. Jadi tambah jengkel dengan kelakuan anehnya. Di depan sok cuek nggak mau kenal tapi menyelidik di belakang. Entah kenapa buat ngobrol dengan orang lain dia punya waktu, sementara dengan kakak sepupunya sendiri basa basi pun tidak. Heran. Jangan-jangan tujuan Gufron cuma mau ikut campur dalam hubunganku dengan Bray yang dipikirnya lebih dari hubungan pertemanan.


"Dia ngajak kerjasama bisnis setengah ilegal menurutmu ...."


"Aku nggak tahu menahu bisnis Gufron." potongku cepat.


Moodku tiba-tiba memburuk begitu mendengar ide bisnis yang kupikir pasti ilegal. Tidak ada istilah setengah. Legal atau ilegal itu jelas. Teringat lagi apa yang dikatakan pak Taqi tadi sore. Aku semakin yakin harus lebih waspada terhadap kerabatku sendiri.


"Aku langsung nolak tawarannya. Dia orang yang gigih. Lebih tepatnya sih tebal muka. Sudah tahu aku masih kesal karena merasa dibohongi soal penjualan kebun lada yang ternyata bukan miliknya itu. Eh dia masih berani datang ke kantor menawarkan rencana kerjasama bisnis yang jelas jelas nggak mungkin kuterima."


Cukup tahu saja cara kerja Gufron. Aku enggan membahasnya lebih lanjut. Bikin pusing dan lelah hati oleh prasangka.


"Maaf! Aku ngantuk."


"Eee jangan ditutup dulu! Kok tiba-tiba jadi ngantuk sih." protesnya. Suara seraknya bernada manja layaknya anak kecil yang sedang merajuk.


"Ya sudah deh. Selamat tidur. Mimpiin aku ya. Muach."


Jlep. Telepon langsung ditutup tanpa menunggu jawabanku. Mungkin dia malu kehilangan wibawa karena tingkahnya yang kekanakan. Aku jadi senyum-senyum sendiri. Kecap bibirnya masih terbayang di dalam memoriku. Bray itu unik. Dia selalu melakukan hal yang tak terduga oleh pikiranku. Perlakuannya manis-manis kecut.


Tentu saja aku tak langsung bisa tidur setelah telepon ditutup. Ucapan pak Taqi dan Bray menguatkan prasangka burukku pada Gufron. Tak ada yang bisa kulakukan selain waspada dan berdoa.


Pukul enam pagi aku dibangunkan Fifi yang telah bersih dan rapi mengenakan kaos dan celana pantalon warna khaki.


"Bangun, Kak. Sudah siang. Pulang jam berapa sih semalam? Dari mana aja?"


Baru bangun tidur. Nyawa belum penuh sudah diberondong pertanyaan anak kecil yang seenaknya mengenakan baju baru pemberian nenek yang belum pernah kupakai.


"Alhamdulillahi ladzi ahyana bakda ma amatana wa illaihin nusyur" ucapku lirih.


Alih-alih kesal lebih baik ngulet, merenggangkan tubuh sebentar agar lebih rileks. Tanpa menghiraukan pertanyaan dan kehebohan ocehan Fifi aku segera pergi wudhu lalu menjalankan shalat subuh yang sudah kesiangan.


Gadis itu menungguku selesai shalat sebelum kembali memberondongku dengan ocehan dan pertanyaan beruntun.

__ADS_1


"Tadi mama video call. Aku tunjukin aja kalau kak Fifa masih tidur." lapor Fifi dengan mulut mengerucut.


"Aku bilang kak Fifa larut malam belum pulang dari kantor. Bilang juga kalau yang menjemputku di bandara kak Syarif dan ngajak jalan-jalan keliling kota Makassar yang dipenuhi lampu aneka rupa. Bagus banget pemandangan kota waktu malam. Nggak kayak di kampung, gelap dan sepi. Kami sempat mampir di tempat nongkrongnya anak-anak muda. Keren."


Aku cuma tersenyum tipis. Kulipat mukena dan sajadah lalu memasukannya ke dalam laci nakas.


"Hari ini kakak ke kantor lagi?"


Aku mengangguk.


"Aku mau ngajak jalan-jalan kak Syarif tapi hari ini dia sibuk jadi panitia acara pernikahan kerabat dari ibunya."


"Kakak dan nenek juga akan datang ke acara itu sore nanti setelah pulang dari kantor. Sebentar aja. Kamu mau ikut?"


"Aku pakai baju apa?"


"Pilih aja yang ada di lemari itu."


Fifi kembali mengerucutkan mulutnya.


"Baju yang kamu pakai sekarang itu masih baru lo. Belum pernah kakak pakai. Ada beberapa yang belum pernah kakak pakai juga. Ambil aja buat kamu."


"Ini semua pemberian nenek? Banyak banget dan bagus-bagus. Aku nggak boleh minta sebanyak yang kakak punya?"


Aku menggeleng. "Kita tak boleh meminta-minta, Fifi. Ingat pesan mama dan baba."


Fifi menghempaskan bokongnya ke atas matras tempat tidur. "Masak kakak punya baju bagus satu lemari, aku nggak punya satu pun."


"Kakak kan sudah bilang, ambil saja yang mana kamu suka. Semuanya juga nggak papa."


Fifi tetap cemberut. "Tetap nggak adil." gerutunya.


"Nggak adilnya di mana? Semua baju itu bukan kakak yang beli dan kakak nggak pernah minta. Kalau mau diambil semua juga silakan."


"Aku mau baju baru sesuai seleraku."


"Ya sudah. Nanti kakak kasih uang. Kamu bisa minta antar pak Rodi ke Mall setelah mengantar kakak ke kantor." Akhirnya aku mengalah. Fifi agak sulit diberi pengertian kalau sudah soal selera fashion. Dia tidak sesederhana aku yang percaya diri menggunakan busana apa pun sepanjang sopan dan bersih.


"Aku juga ikut ke kantor?"


"Ya."

__ADS_1


Mata gadis itu langsung berbinar cantik. Ia berdiri memeluk dan mencium pipiku berkali-kali. "Terimakasih, Kakak. Fifi sayang kakak." ucapnya. Modus!


__ADS_2