LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PLONG


__ADS_3

Aku tak sempat berpikir apapun tentang esok. Apa yang harus kukerjakan hari ini, dijalani saja semampuku. Peralihan dari satu aktivitas ke aktivitas lain nyaris tanpa jeda dan waktu berjalan begitu cepatnya. Selain kegiatan harian di rumah dan mengurus banyak hal tentang yayasan, aku harus tetap menyempatkan waktu menganyam sambil memikirkan desain dan motif tas anyaman pandan yang cocok untuk oleh-oleh nenek. Lelah sudah pasti. Dua malam belakangan saat menjelang subuh mama selalu membangunkan aku yang tertidur di ruang depan karena kantuk yang luar biasa.


Untungnya urusan aviary besar dan rusa itu sudah dapat ditangani dengan baik oleh pak Koli. Aku hanya mengawasi saja tiap pagi atau sore sambil mendengar kicau burung bernyanyi, mengambil gambar, dan mengamati perkembangan seluruh penghuni aviary dengan bantuan teropong kecil.


"Hasil ternak ulat dan jangkriknya berlebih, kak Fifa. Ada orang yang minat beli. Boleh sa jual kah?" tanya pak Koli seraya memperlihatkan beberapa bak kayu tempat binatang menjijikan itu dikembangbiakkan.


Wuih, banyak sekali. Kukira wajar kalau sebagian dijual buat pendapatan tambahan pak Koli. Toh binatang itu akan terus berkembang biak. Terlalu banyak juga mubazir.


"Boleh saja. Asal pastikan jangan sampai ada burung kita yang kelaparan."


"Pasti, kak Fifa. Sa suka kerja urus burung dan rusa seperti ini. Kak Fifa tak perlu risau selama pergi ke Makasar. Sa janji urus mereka seperti urus anak sendiri."


"Terima kasih, pak Koli. Kalau ada sesuatu jangan sungkan diskusi dengan dokter Fahira. Tiap hari lapor ya."


"Pasti."


Kerja maratonku membuat profil yayasan dan proposal pun sudah rampung tepat waktu. Kemarin sudah mendapat revisi dari Andi, Jim, dokter Hans dan Bray. Hari jum'at sore ini hatiku plong. Insya Allah besok subuh siap berangkat ke Makasar tanpa meninggalkan beban pekerjaan.


Harapanku terbuka. Jim sudah bantu mengirimkan proposal dan profil itu ke beberapa mitra bisnis perusahaan. Semoga saja ada diantara mereka yang tergugah buat mendanai kegiatan konservasi burung langka ini. Pengembangan website resmi yayasan oleh konsultan IT juga sudah rampung. Kemarin aku sudah dilatih mengelola control panel dan back-stage website pada saat serah terima pekerjaan website dari tim dari konsultan IT. Mereka pun masih memberikan jaminan pemeliharaan dan bersedia membantu jika aku menghadapi kendala dalam operasional. Website itu akan jadi tempat kami berbagi aktivitas melalui tulisan, foto dan video tentang aktivitas kami. Semua dokumentasi sejak pembuatan aviary, pembangunan kantor, aktivitas ternak ulat dan jangkrik sebagai pakan burung, serta liputan khusus tentang berbagai kegiatan kami akan tersimpan di sana. Karena tak ada staf lain, kegiatan mengisi konten website juga menjadi tugasku dengan dibantu dokter Fahira. Tak apa. Aku selalu senang dapat pengetahuan baru.

__ADS_1


Jum'at petang Bray mengusulkan meeting online untuk membahas progres kegiatan yayasan dan rencana kerja berikutnya. Aku yang sudah merasa plong merasa senang diberi kesempatan melihat 'yang indah' walau hanya dari tayangan video conference. Dalam tayangan video yang tertangkap di layar laptop, pria itu tampak lebih pucat dan sedikit lebih kurus dari biasanya. Apakah dia sakit? Aku tak berani menanyakannya.


"Maaf, saya belum bisa kembali ke Lolobata. Masih ada urusan yang harus diselesaikan di sini. Tapi saya selalu pantau perkembangan kegiatan konservasi burung ini melalui video-video dan laporan yang kalian kirimkan. Terima kasih buat kerja keras tim yayasan bidadari halmahera." ucapnya dengan tegas.


Suaranya terdengar sedikit serak. Entah karena ia sedang sakit tenggorokan atau sinyal internetku yang kurang baik.


Aku suka melihat kulit wajahnya yang putih sehalus kulit bayi yang tanpa cela. Tak ada jerawat, komedo atau noda lain yang berani hinggap di wajahnya. Tak banyak pria yang memiliki kulit sebagus itu. Rambutnya lurus ditata dengan model belah tengah atau curtain haircut dimana bagian atas dibiarkan panjang dan tebal sementara pada kepala bagian bawahnya dicukur pendek. Kata Fifi, sekilas gaya rambutnya mirip aktor Korea favoritnya, yaitu Park Bo Gum. Aku sendiri tak tahu bagaimana rupa Park Bo Gum sebab tak pernah nonton drama Korea, tapi aku suka model rambut yang memberikan kesan manis dan maskulin.


Dengan rapat daring aku bisa leluasa menatap dan memperhatikan tiap detail paras rupawannya tanpa merasa malu. Toh mereka yang berada dalam rapat itu semuanya sama-sama menatap lurus ke depan layar. Tak ada yang akan menduga macam-macam kalau kita menatap lebih detail wajah seseorang, apalagi dia adalah orang yang paling dominan dalam bicara. Layar besar terus memampang wajahnya.


Benar kata Fifi, punya bos ganteng itu bisa jadi hiburan pelepas penat. Tingkahku sore itu sama saja seperti fans drama korea yang betah berlama-lama menatap bintang pujaannya. Bedanya aku tak dapat melampiaskan perasaan dengan bebas. Sepanjang rapat aku menahan senyum dalam hati sampai membludak tumbah. Akibatnya saat rapat selesai aku tak bisa berhenti tersenyum macam orang gila.


"Saya telah mengirim revisi sedikit soal konten rusa timor. Setelah ini sudah bisa diupload ke website."


"Baik."


"Baik."


Aku tersenyum sendiri. Lama-lama aku ketularan Aga yang baru bisa mengucap kata baik. Apapun pertanyaan dan pernyataannya kujawab saja dengan kata 'baik' tanpa canggung. Hihihi. Jiwa konyolku tiba-tiba keluar tanpa kendali.

__ADS_1


"Selama ini kerja Fifa sudah melampaui schedule rencana kegiatan kok, mas Bray." bela Jim yang sepertinya keberatan kalau hari cutiku masih dibebani tanggung jawab pula. Jim paling tahu selama sebulan ini aku berusaha keras siang malam mengerjakan tugasku, belajar, sekaligus membantu kerja Jim. Mungkin sudah waktunya beristirahat sejenak mencari inspirasi baru.


"Ya. Tapi tetap saja dia harus tanggung jawab untuk rencana kegiatan bulan berikutnya. Cuti ini diberikan dengan alasan kemanusiaan karena Fifa sama sekali belum pernah bertemu keluarga ayahnya. Kalau pegawai perusahaan, aturannya kan belum bisa cuti liburan kalau belum genap setahun bekerja." jawabnya dengan nada tinggi. Seperti ada emosi kemarahan yang ditahan.


"Baik. Saya pasti tetap melaksanakan tugas selama perjalanan. Hanya mungkin tidak bisa intensif."


Bray tersenyum penuh kemenangan. Agaknya pria itu lebih bahagia kalau melihat aku patuh dan sedikit tersiksa dengan pekerjaan yang bertubi-tubi dibebankan padaku. Biarlah. Bayarannya cukup sepadan. Aku senang kerja kerasku diapresiasi dengan senyum. Tak bisa dipungkiri senyum itulah yang selalu kunantikan. Senyum yang mengandung kafein pemicu semangat dan jantung berdebar.


"Payment ke-2 akan saya transfer bulan depan. Pastikan semua pekerjaan selesai sesuai rencana. Mohon doanya juga supaya proses assesment berjalan lancar dan sukses."


"Baik. Terima kasih, mas Bray."


Aku benar-benar senang, lega, dan tambah bersemangat mendengar kabar pencairan pembayaran tahap 2. Sikap positif Aga menularkan suatu keberuntungan. Dengan mengulang kata 'baik' berkali-kali, kebaikan itu lahir dengan sendirinya bagaikan sebuah mantra sihir.


Kemarin Jim telah mengabarkan sekilas tentang perkembangan sengketa internal soal program CSR perusahaan. kabar buruknya, pemegang saham tak setuju mengeluarkan dana CSR untuk yayasan. Namun kabar baiknya Bray tetap kukuh dengan komitmennya hingga ia mengganti seluruh dana perusahaan yang telah digunakan untuk pembangunan sarana, pra sarana dan biaya operasional kegiatan kami dengan dana pribadi.


"Intinya, yayasan tak berafiliasi lagi dengan perusahaan. Kontrak kerja sama yang awal dibatalkan ya, Fif. Aku ganti kontrak kerjasama yayasan dengan mas Bray secara personal."


Aku tak tahu harus tersenyum atau tidak ketika mendengar perkembangan baru yang disampaikan Jim. Seharusnya kegundahanku sedikit terpecahkan karena berdasarkan kontrak baru Bray masih berkomitmen terhadap pendanaan yayasan selama paling tidak setahun walau harus dibayar dengan dana pribadinya. Tapi apakah komitmennya dapat dipercaya? Otakku sulit membayangkan berasal dari mana dana pengganti yang jumlahnya setara dengan harga ratusan ekor sapi itu. Sekaya apa pria itu? Di kampungku tak ada orang yang punya uang sebanyak itu.

__ADS_1


"Mas Bray merelakan salah satu mobil mewahnya dijual untuk memenuhi komitmen ini. Makanya kita harus berusaha keras menyelesaikan rencana kita sebelum calon investor itu datang untuk assesment kerja sama. Mendirikan pabrik baterai mobil listrik adalah impian mas Bray. Mudah-mudahan saja usaha kita tidak sia sia."


Aku tak bisa berkata-kata kecuali mengaminkan. Persetan dengan tujuan dan impian kami yang berbeda. Semua bebanku hari ini plong. Target kerja tercapai dan sumber dana pun bukan masalah lagi. Dari kejadian ini aku mengambil satu kesimpulan penting bahwa kita tak perlu mencemaskan masa depan. Cukup kerja saja sebaik mungkin dan serahkan hasilnya pada ketentuan Tuhan. Kadang apa yang kita pikirkan dan membuat resah pikiran belum tentu terjadi. Begitupun sebaliknya. Apa yang kita kira adalah harapan indah setelah mendekat ternyata hanya fatamorgana.


__ADS_2