LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KEMBALI


__ADS_3

Bray akan berkantor di sini. Entah itu berita bagus atau berita buruk untukku. Apakah penyakit gilaku bakal sering kambuh jika makin sering bertemu pemilik senyum magis itu. Aku sama sekali tak tahu berita apapun tentang dia karena memang tak pernah bersinggungan langsung dengan dia atau perusahaan itu. Terakhir status yang kudengar dari Arfa, Firdaus Sanjaya aka Bray adalah anak pemilik saham terbesar di perusahaan itu yang belum lama lulus kuliah dari luar negeri. Jabatannya adalah assistant marketing director di kantor pusat. Apakah Bray melakukan suksesi secepat itu menggantikan ayahnya menjadi CEO perusahaan?


Belum habis tanya di otakku, kak Hisyam datang terburu-buru dengan mengendarai motor trail ke tepi sungai tempat kami duduk berbincang.


"Maaf, mas Bray. Anda diminta segera kembali ke kantor. Ada tamu yang telah menunggu."


Ternyata dugaanku benar, keberadaan CEO tidak pernah benar-benar sendirian. Tetap ada pengawalan tersembunyi dari jarak tertentu. Buktinya sang asisten langsung tahu dimana posisi kami. Padahal dari tadi aku tak melihat pria itu memegang alat komunikasi sama sekali.


Tak lama setelah kedatangan Hisyam, muncul 2 orang berbadan tegap dengan pakaian safari hitam berjalan di belakangnya. Kemungkinan dua orang itu yang sejak tadi sembunyi-sembunyi mengawal Bray dari jarak tertentu. Keduanya membuntuti Bray tanpa menggunakan kendaraan dan berhenti pada jarak tertentu sambil mengawasi majikannya. Jelas kulihat di sakunya ada gawai, sementara tangannya menggenggam handy talky sebagai alat komunikasi. Pasti mereka yang memberitahukan keberadaan Bray pada Hisyam.


Aku jadi teringat lagi peristiwa kematian burung nuri kesayanganku. Apa mungkin saat itu ada pengawal-pengawal Bray yang membawa busur dan anak panah beracun? Mereka pengawal terlatih dan bisa beroperasi dalam senyap. Apa panah mereka yang membunuh nuriku?


Darahku mulai terasa naik ke kepala dengan tekanan yang cukup tinggi. Kepalaku sakit. Pikiran itu seperti ingin meledakkan kepala.


Huffh .... kubuang nafas panjang pelan-pelan sambil mengucap istigfar dan mengelus dada. Aku berusaha mengenyahkan pikiran itu agar tak membajak kerja otak dan jantungku. Cepat-cepat ingat lagi pesan mama bahwa aku harus mengikhlaskan takdir tanpa dendam.


"Saya tak ada janji pada siapapun. Hari ini tanggal merah, libur hari kemerdekaan. Semua kantor wajib tutup. Saya juga mau merdeka. Tak ada urusan bisnis. Suruh saja tamunya pulang. Bilang saya sedang istirahat." Bray mengibaskan tangan mengusir Hisyam dan kedua pengawalnya. Agaknya ia sedikit marah karena merasa privasinya terusik oleh ulah anak buahnya.


"Ini bukan tamu bisnis biasa, mas Bray." Hisyam menjawab dengan senyum dan kerdipan mata.


Bray mengernyitkan kening. Mungkin berusaha keras mengingat-ingat apakah ada janji yang terlewatkan.


"Saya sudah sampaikan bahwa hari ini mas Bray ada kegiatan memperingati hari kemerdekaan dengan upacara dan pelepasan burung. Selesai upacara mas Bray pergi berlibur ke hutan. Tapi dia terlanjur kecewa karna surprisenya gagal. Dia tak mau tahu dan tak bersedia menunggu lama. Harus bertemu sekarang. Makanya saya dipaksa buat jemput mas Bray secepatnya."


"Kalau kalian tidak bisa mengatasi, telepon polisi saja. Saya masih mau ngobrol dengan Afifa soal rencana buat yayasan konservasi." ujarnya dengan gaya angkuh dan seenaknya. Kedua tangannya dilipat di dada.


"Pembicaraan kita sudah selesai, kak Bray." tuturku jujur.


Bray menoleh ke arahku dengan mata melotot, "BELUM. Kamu belum jawab mau atau tidak," bantahnya sengit.


Kenapa jawabannya sengit begitu? Padahal aku bicara jujur apa adanya. Tidak ada hal penting lagi yang harus dibicarakan. Orang ini memang benar-benar memiliki 2 wajah yang bertolak belakang. Aku harus berhati-hati. Boleh kagum, tapi jangan sampai terjebak dalam permainan emosinya. Kemampuan komunikasi dan aktingnya jauh di atasku.


"Kan tadi kak Bray bilang kalau aku boleh jawab nanti saja." Aku mengingatkan kembali perkataannya dengan merendahkan nada suara dan senyum apa adanya.


Menurut mama, menghadapi orang berkuasa itu tidak harus dengan melawan. Jangan sampai ada satu kata yang membuatnya tersinggung atau merasa direndahkan walaupun kita sedang mengemukakan kebenaran. Itu bisa berakibat fatal. Karena itu aku berusaha mengingatkan Bray dengan nada lembut dan ekspresi mengiba. Sengaja aku menundukan kepala agar terlihat lemah tak berdaya. Tapi ekor mataku masih selalu tertuju padanya, penasaran menanti reaksinya atas trik baru yang kupelajari dari mama.


Raut kecewa langsung terukir di wajah oval dengan garis rahang yang kuat. Itu membuatku tersenyum lebar. Ekspresi wajah Bray tampak lucu seperti anak kecil yang merajuk karena diganggu waktu bermainnya.


Hisyam menarik tangan bosnya lalu membisikan sesuatu ke telinga yang kemudian membuatnya terlihat sedikit tersentak. Sedetik setelah itu mata dan wajahnya merah padam. Aku kembali melangkah mundur, takut jadi sasaran kemarahannya.

__ADS_1


"Bagaimana perempuan itu bisa nekat menyusul saya sampai ke tengah hutan seperti ini?" ujarnya geram.


Ooh, sepertinya bukan aku perempuan yang membuatnya geram. Mungkin tamunya yang dianggap mengganggu itu seorang perempuan.


"Saya tak tahu, mas Bray. Tiba-tiba ada helikopter mendarat di depan kantor lalu dia muncul sambil teriak-teriak memanggil nama mas Bray. Maksudnya mau surprise, tapi dia kecewa dan uring-uringan karena mas Bray tidak ada di tempat. Sebaiknya mas Bray temui saja dulu. Cuma mas Bray yang bisa mengendalikan kelakuannya. Bagaimanapun juga keluarganya punya 20% saham di perusahaan ini. Kami bisa saja dipecat tanpa alasan kalau dianggap membangkang owner."


Bray mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. "Punya 20% aja cari perkara melulu." gerutunya pelan.


Hmm, aku tak mengerti siapa tamunya. Pasti tamu perempuan itu adalah orang penting perusahaan hingga semua orang tunduk pada perintahnya, tak terkecuali CEO muda itu.


"Oke." Bray terlihat pasrah menyetujui perkataan asistennya buat segera menemui tamunya di kantor.


"Besok datang ke kantor ya. Kita bahas legalitas dan rencana kerja yayasan." katanya dengan nada agak mengancam. Ia menuding jari telunjuk tepat di depan wajahku.


Aku melangkah mundur. Tak menjawab meski dengan satu isyarat. Tidak mengiyakan. Tidak pula bilang tidak. Hanya diam bagai patung.


Bray melompat cepat naik ke atas motor trail, duduk di belakang Hisyam yang langsung pergi menggeber motor yang menggunakan ban pacul tangguh. Rodanya yang kokoh paling pas buat digunakan di medan jalan tanah yang tak rata seperti jalan yang harus dilaluinya. Derunya kencang meninggalkan kepulan asap bercampur debu. Dua pengawal berseragam safari hitam itu tersenyum tipis ke arahku lalu dengan sigap membalikan tubuh dan berlari menyusul majikannya.


Akh, matahari sudah tinggi. Aku harus pulang untuk melihat kakatua dan murai batu di aviary. Kuharap ketiganya baik-baik saja. Aku juga harus menyelesaikan anyaman tas jinjing desain ekslusif pesanan pelanggan yang kemarin memaksa membayar dp agar besok sudah tas pesanannya harus sudah siap diambil sebab ia akan menggunakannya di acara pesta pernikahan kerabatnya di kota.


Aku bergegas meninggalkan tepi sungai. Kuambil tas plastik tempat sampah kami yang tadi ditinggalkan Bray karena terlihat panik dan terburu-buru. Aku harus membuangnya ke tempat sampah atau mengolahnya agar tidak mengotori lingkungan.


"Kak Fifa, naik." Fifi menghentikan sepeda motornya yang kebetulan lewat di persimpangan jalan tak jauh dari rumah kami. Dia masih berseragam putih-putih.


"Kok baru pulang?"


"Nonton pentas seni dan aneka lomba khas hari kemerdekaan dulu."


"Kamu ikut lomba apa?"


"Joget balon."


"Pasangan sama siapa?"


"Gerald."


"Menang?"


"Juara harapan."

__ADS_1


Aku tertawa, "Juara harapan atau cuma harapan buat jadi juara?"


"Beneran. Dapat hadiah lunch box." terangnya sambil memarkir sepeda motornya di samping beranda.


Tak sampai 2 menit kami sudah tiba di rumah. Fifi yang kelaparan buru-buru berganti pakaian lalu mengambil menu makan siang yang telah disiapkan mama di dapur. Sedangkan aku pergi wudhu lanjut shalat dzuhur. Selesai shalat aku mengambil sisa anyaman tas daun pandan pesanan tante Moli yang belum selesai. Aku melanjutkan pekerjaanku sambil melongok aviary di beranda rumah.


"Assalamu'alaikum, Cantik. Apa kabar?"


Aku terperangah kaget. Kulihat Aga tengah bertengger di dahan pohon pala samping rumah.


"Wa'alaikumsalam. Aga ... Kamu ...?"


"Cantik. Cantik. Apa kabar?"


"Aku baik, alhamdulillah. Kau sudah makan, Aga?"


Aga hinggap di lenganku. Tak kusangka, ia sejinak ini. Burung cerdas itu tahu jalan menuju ke sini. Kenapa dia kembali secepat ini? Apakah dia tak ingin dibebaskan?


"Kamu tak bersama Ima?" Mataku berputar ke sana ke mari namun tak kulihat Ima di sudut mana pun.


"Kreaakk."


"Apa Ima baik-baik saja?"


Burung itu terantuk-antuk. Aku tak paham pasti apa maksudnya tapi aku menebak mereka mungkin berpisah jalan karena tak saling cinta. Semoga saja Ima baik-baik saja dan berbahagia hidup di alam bebas.


"Kabar. Kabar."


"Kabar apa? Tentang Ima?"


"Kreak. Kreak."


Aku bingung mengartikan apa maksud Aga. Yang bisa kulakukan hanya mengelus-elus bulu kepala Aga yang berwarna merah terang. Aga tak bersuara. Ia terlihat menikmati belaian tanganku. Aku senang Aga kembali dan berharap Ima bahagia bebas di hutan. Suatu saat mereka akan menemukan pasangan masing-masing.


"Kamu ingin kembali tinggal di aviary?"


Kepala Aga terantuk-antuk. Aku mengartikan burung itu memang enggan hidup di alam.


Begitulah kisah Aga di hari kemerdekaannya. Aga memilih untuk kembali karena takut atau enggan hidup di alam bebas. Mungkin karena ia terlahir di penangkaran dan memiliki karakter jinak sehingga lebih suka hidup manja bersama manusia dibandingkan hidup bebas di alam liar. Atau ini hanya soal waktu adaptasi yang kurang seperti sangkaanku. Apa pun masalahnya, untuk sementara ini aku memasukan kembali Aga dalam aviary bersama sepasang murai batu dan seekor kakatua putih di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2