LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
COKELAT


__ADS_3

Hari menjelang petang. Sinar matahari masuk dari jendela ruangan. Tumpukan dokumen telah selesai kuperiksa dan kutandatangani. Aku menatap hamparan pohon kakao dari balik jendela. Tanaman kakao yang terletak dekat kantor hanya sekitar 3 hektar saja. Sisanya tersebar di beberapa wilayah Sulawesi. Namun semua hasil panen diangkut dan diolah di gudang sebelah kantor ini. Kata pak Taqi budidaya kakao butuh perhatian ekstra sebab tanaman ini mudah terserang virus yang akibatnya dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen.


Tanaman kakao bukanlah flora endemik Indonesia, tetapi berasal dari kawasan Amerika Selatan. Menurut sejarah yang pernah kubaca kakao pertama kali dikonsumsi suku Maya di Meksiko dan bisa sampai ke Indonesia setelah diangkut bangsa Portugis. Buah-buah kakao di kebun kami tampak menarik dipandang mata. Letaknya menggantung pada dahan-dahan pohon. Bentuknya lonjong dengan panjang sekitar 20 centimeter dan punya ruas-ruas vertikal di kulitnya. Sebagian masih berwarna hijau. Sebagian lain telah berwarna kuning kemerahan tanda siap dipanen.


Sore itu masih terlihat 2 orang buruh memetik kakao yang telah matang dengan gunting khusus. Mereka masih berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin buah kakao matang dalam karung. Nantinya buah itu akan ditimbang oleh orang bagian gudang dan mereka akan dibayar kontan berdasarkan hasil yang didapatnya hari itu.


Tempo hari aku sempat meninjau gudang kakao. Saat buah ini dibelah, terlihat biji-biji kakao yang diselimuti lapisan putih yang disebut pulp. Kata pak Taqi, rasanya merupakan percampuran antara manis dan asam, mirip buah manggis. Biji kakao yang sudah dilepaskan pulpnya itulah yang nanti akan dijemur, dipanggang dan diproses sedemikian rupa menjadi cokelat yang siap kita dijual dan gunakan untuk konsumsi sehari-hari. Setelah observasi aku baru dapat pengetahuan baru bahwa usaha perkebunan tidak hanya mengurusi memuliakan tanaman, tapi mengolah produk pasca panen agar mendapat nilai tambah produk.


Aku kembali melirik gawaiku. Kulihat kini pesanku sudah centang dua biru tapi Bray belum menghubungiku. Mungkin pikirannya sedang kacau. Dengan diawali basmallah aku memutuskan menghubunginya lebih dulu.


"Assalamu'alaikum." Suara Bray terdengar lebih serak dari biasanya. Parau sekali. Terdengar lesu. Semangat yang biasanya tampak selalu menyelimuti hidupnya yang penuh optimisme kini hilang.


"Wa'alaikumsalam. Apa kabar mas Bray?"


"Baik."


"Maaf soal semalam."


"Nggak masalah."


Raut wajah Bray sedang sangat kacau. Berantakan. Tak terlihat sinar kehidupan yang biasanya terpancar lewat senyumnya yang mengandung magis. Dia tak tahu bagiku kejadian semalam itu masalah pelik. Aku resah menunggu-nunggu teleponnya selama berjam-jam.


"Bagaimana keadaan pak Budhi? Sudah ada perkembangan?"


"Doakan saja! Papaku masih di ruang operasi."


"Semoga operasinya sukses dan lekas pulih."


"Amin."


"Mas Bray sudah makan?"


"Belum."


"Pantesan suaranya kedengeran lemes banget. Mas Bray makan dong. Jangan telat makan. Nanti sakit."


"Nggak nafsu makan."

__ADS_1


"Harus dipaksakan makan. Coba cari kafe dan pesan coklat hangat dulu biar mood mas Bray membaik. Nggak perlu makan nasi, yang penting perut ada isinya. Biasanya di sekitar rumah sakit ada kafe-kafe yang jual aneka minuman dan macam-macam roti."


Aku mulai mengeluarkan jurus sok tahu. Padahal aku belum pernah ke Singapura. Cuma menduga-duga kalau di kota besar pasti tak sulit mencari kafe.


"Iya. Nanti aku turun ke bawah. Rumah sakit di sini besar dan mewah. Di bagian bawah ada plaza yang disewakan buat pedagang barang kebutuhan pokok, apotik, optik dan kafe-kafe."


"Jangan nanti, mas Bray! Sekarang. Mumpung pak Budhi masih di ruang operasi, mas Bray harus isi perut. Mungkin setelah mas Bray selesai makan, operasinya selesai. Insya Allah kalau perut sudah terisi pikiran juga lebih tenang. Semangat positif mas Bray pasti akan dirasakan juga oleh pak Budhi. Mas Bray harus kuat supaya beliau kuat menjalani operasi."


Aku mendengar hembusan nafas panjang. Bray terlihat menerima telepon sambil berjalan. Terlihat dari pergerakan area yang menjadi latar gambar videonya. Semoga ia berjalan menuju tempat yang ia sebut plaza di bagian bawah rumah sakit mewah itu.


"Semalam itu benar kakak kandungmu kan?"


Ah, aku melihat setitik cemburu di matanya. Entah kenapa aku merasa tersanjung dicemburui begitu.


"Iya. Dia yang pernah kuceritakan hilang kini telah kembali."


"Alhamdulillah..."


Bray kini sudah berada di dalam lift. Sinyal telepon mulai naik turun. Tak terdengar jelas apa yang dibicarakan tapi aku tetap mendampingi dari jauh untuk memastikan ia benar-benar pergi mencari makan. Sampai tiba-tiba telepon terhenti. Tak terasa aku kehabisan pulsa.


Untungnya Bray tanggap, ia segera menghubungiku kembali saat aku sedang berusaha mengisi kembali pulsaku.


Bray ikut tersenyum lebar. Ia sudah berada di sebuah kedai kopi internasional dan memesan makanan dan minuman sesuai saranku. Bray menunjukan struk pemesanan yang di dalamnya tertulis hot chocolate, mineral water and banana croisant.


"Nih, sesuai saran kamu."


Bahagia banget rasanya saranku benar-benar dipenuhi. Dalam hati aku bersyukur, makin banyak orang konsumsi cokelat pemasaran produk perkebunan kakao kami makin moncer. Setidaknya itulah pemikiranku yang bodoh-bodohan. Konsumsi cokelat di Indonesia masih relatif rendah. Padahal cokelat sudah lama dikenal dapat meningkatkan mood. Konsumsi cokelat diyakini dapat menurunkan hormon kortisol yang dihasilkan tubuh saat stres dan  merangsang otak untuk melepaskan lebih banyak hormon endorfin dan serotonin yang dapat membuat kita merasa bahagia. Dalam takaran yang tepat cokelat juga dapat mengendalikan nafsu makan, menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, mengontrol kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol, memelihara fungsi dan kesehatan otak serta menghambat pertumbuhan sel kanker. Pokoknya sebagai penghasil cokelat aku perlu lebih banyak kampanye konsumsi cokelat dan berbangga pada salah satu produk andalan perkebunan kami. Hehehe.


"Suasananya kelihatan enak. Jadi pingin terbang ke sana." Tak sengaja suara manja yang biasanya kubenci keluar seperti perayu.


"Terbang dong ke sini. Temani aku! Aku sendirian nih. Sedih." Bray menanggapi dengan keluhan tapi diiringi senyum.


"Mau terbang tapi nggak punya sayap. Mau pinjam sayapnya Aga eh kekecilan."


"Pinjam sayap elang raksasa dong." Bray membalas candaku sembari tersenyum lebar.


"Elangnya sedang bertransformasi di gunung karang karena bulunya sudah terlalu panjang dan paruhnya sudah bengkok. Sebenarnya aky ditawari naik garuda. Sayangnya kalau naik garuda wajib punya paspor. Hihihi."

__ADS_1


"Bikin paspor dong."


"Nanti kalau mukanya sudah pulih, biar foto paspornya cantik."


Bray tertawa. Aku tak tahu kenapa aku bisa bercanda selepas itu. Mungkin karena naluri ingin menghibur. Aku tahu Bray anak tunggal. Tak punya saudara yang bisa diajak berbagi saat sedang dalam suka maupun duka.


"Serius. Kamu bikin paspor dong. Please, temani aku! Aku takut ada apa-apa pada papaku." rengeknya.


"Ditemani dari jauh aja ya. Aku selalu berdoa buat kebaikan mas Bray dan keluarga."


Seorang pelayan menyerahkan segelas coklat hangat dan banana croisant pesanan Bray.


"Sudah ya. Silakan mas Bray menikmati makan minum dengan nyaman. Semoga makanan dan minumannya menyehatkan."


Aku menutup telepon agar Bray dapat makan dan minum dengan lebih nyaman. Senang melihat keadaannya tak seburuk sangkaanku. Ada sedikit sesal tak bisa menemaninya saat sedang kesusahan. Yah. Keadaanku saja begini. Lukaku belum kering.


"Kayaknya ada hati yang lagi berbunga." Salman berkomentar sambil senyum-senyum tengil.


Salman telah duduk manis di sofa kulit berwarna coklat muda dalam ruangan direksi yang tadinya hanya ada aku. Entah kapan ia masuk ke ruangan ini. Aku sama sekali tak melihatnya. Tidak pula ada suara salam atau pintu yang dibuka. Bagai hantu, tahu-tahu sudah duduk santai di sofa dengan tangan terlipat di dada. Mungkin dia di Jawa ia belajar ilmu kanuragan yang bisa membuat orang dapat bertransportasi dengan cara menghilang.


Aku tak bisa menyembunyikan perasaan malu. Tertangkap basah mengucapkan kalimat manis untuk lelaki di seberang sana. Kutaruh gawai ke dalam tas selempangku sambil menunduk. Omongan Salman kuanggap angin lalu. Kupingku harus dipertebal.


"Kita pulang sekarang?" tanyaku sambil beranjak dari kursi.


"Kayaknya kita memang perlu bikin paspor, Fifa."


"Buat apa?"


"Buat menjumpai orang yang sudah bikin mata adik kakak tampak seperti ada lampu-lampunya."


Ups. Tidak Fifi. Tidak Salman. Punya saudara semua suka menguping dan meledek. Aku merengut kesal.


"Mas Bray ada di mana?" tanya Salman. Ia tak jua beranjak. Masih santai duduk di sofa. Tangannya malah menepuk-nepuk sofa di sampingnya sebagai isyarat agar aku duduk tepat di sampingnya.


"Di Singapura. Ayahnya kena serangan jantung dan sekarang masih di meja operasi. Padahal katanya beberapa bulan lalu juga masuk rumah sakit karena stroke. Kasihan mas Bray. Sendirian mengurus ayahnya."


"Turut prihatin."

__ADS_1


Sebenarnya aku sadar kalau kata-kataku berlebihan. Bray tidak pernah benar-benar sendiri. Ada asisten dan pengawal yang menemaninya kemana pun. Meski hakekatnya asisten tidak sama dengan keluarga, kadang ada di antara mereka yang lebih loyal dan sayang daripada saudara sendiri.


__ADS_2