
Menunggu itu terasa lama dan melelahkan. Apalagi aku tak bisa bekerja untuk mengisi waktu. Detik demi detik berjalan lambat. Mati gaya. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Ngobrol pun masih canggung. Aku tak punya banyak bahan obrolan sebab sejak dulu lebih suka mendengar daripada mendominasi pembicaraan. Sementara Siska sengaja membuat batasan karena statusku sebagai istri seorang petinggi di tempatnya bekerja. Namun melalui Siska, aku meminta tim IT kantor ini agar menyelamatkan dataku sekaligus mencarikan Laptop atau notebook pengganti apabila notebookku benar-benar tak dapat diperbaiki lagi.
Sungguh tak enak hati. Pada kedatanganku ke kantor ini sudah merepotkan banyak staf. Semua gara-gara nenek sihir aneh itu. Pantaslah pak Budhi menceraikannya, perilakunya sama sekali tak beretika.
Aku tertidur setelah kenyang menyantap buah-buahan dan cheese cake yang disuguhkan Siska. Tubuhku terasa penat. Terpaaan angin dari pendingin udara semilir mengelus tubuhku agar terlelap. Saat tersadar dari tidur, yang kulakukan pertama kali adalah mengucek-ucek mata dan meregangkan tubuh.
Kulihat jam di gawaiku telah menunjuk pukul satu siang lebih lima belas menit. Cacing dalam perutku sudah bernyanyi lagu melankolis yang mendayu-dayu. Tendangan halus bayiku menari dalam irama yang lambat. Kuputar pandanganku ke sekeliling ruangan. Hanya ada Siska dan seorang gadis muda berpakaian satpam yang sedang berbincang dengan suara lirih. Keduanya langsung menghentikan pembicaraan dan tersenyum begitu melihatku terbangun.
"Rapatnya belum selesai ya, mbak Siska?"
"Belum, Non."
"Tadi jam 12 break ishoma. Pak Firdaus sempat makan siang di ruangan ini tapi tak tega membangunkan non Fifa yang kelihatannya tidur lelap sekali."
Benarkah? Harusnya dibangunkan saja. Aku bosan terkurung di ruangan ini. Aku ingin pulang.
"Sekarang pak Firdaus sudah kembali ke ruang rapat, Non. Katanya rapatnya alot. Mungkin selesainya bisa sampai sore atau malam. Sebaiknya non Fifa makan siang dulu."
Siska menyodorkan sekotak makanan dengan dus yang cantik. Aku enggan menyentuhnya. Biar saja cacing di perutku mengamuk menyanyikan lagu metal. Nafsu makanku hilang mendengar harus menunggu lagi tanpa tahu harus berbuat apa di dalam ruangan ini. Janji makan siang bersama merayakan kebahagiaan kami di restoran spesial terlewatkan demi rapat mendadak yang merampas waktu kebersamaan kami. Niat liburan, kenyataannya tetap harus kerja. Mungkin lebih baik jika aku kemarin memilih opsi ke Canada saja. Di sana kami bisa berdua kemana-mana, nyaris seperti situasi sehari-hari kami di pinggir hutan Lolobata.
"Shalat di mana ya?" Aku ingat belum shalat dzuhur. Kupikir lebih baik menenangkan diri dulu dari rasa kecewaku.
"Ada mushola di lantai dasar. Tapi sebaiknya non Fifa shalat di sini saja. Kami akan sediakan mukena. Kalau sajadah ada di laci meja pak Firdaus. Mau pakai punya beliau saja atau dicarikan yang baru?"
"Pakai punya beliau saja."
Ehm, apa sebaiknya aku minta antar pulang saja ya? Bosan menunggu tanpa melakukan apapun di tempat yang masih asing. Waktu terasa berjalan sangat lamban dan aku merasa orang-orang di kantor ini bersikap kaku. Entah karena sungkan pada istri salah seorang pemilik saham terbesar di sini atau ada alasan lain. Hatiku merasa tak nyaman. Kejadian di ruang rapat tadi masih terbayang di dalam ingatanku. Menambah resah dan kecewa yang membekukan hati.
Belum sempat aku mengungkapkan keinginanku, Siska memberikan sebuah harapan baru yang menghangatkan hati, "Laptop baru non Fifa sudah datang. Sedang diinstall. Katanya sih setengah jam lagi selesai."
Mataku langsung berbinar. Ada semangat baru mendengar laptop pengganti sudah tersedia. Mudah dan cepat sekali mendapatkan perlengkapan elektronik di kota besar ini. Tinggal tentukan spesifikasi teknis dalam hitungan menit barang sudah sampai dibawa kurir. Syaratnya hanya satu yaitu ada sarana komunikasi dan uang. Semua urusan selesai dengan cepat. Dengan adanya laptop, aku bisa mengusir waktu menunggu dengan menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Ohya? Terima kasih."
"Pak Firdaus bilang, kalau Nona bangun diminta untuk makan siang dulu."
"Kalian sudah makan?"
__ADS_1
"Sudah, Non."
"Masak saya makan sendirian. Makan bareng yuk!"
Kedua gadis itu saling berpandangan.
"Takut gendut ya?" tanyaku.
"Enggak, Non. Maaf, tadi kami sudah makan duluan. Sudah kenyang."
Hmm. Baiklah. Untuk mempersingkat waktu aku harus cepat makan lalu sholat. Setelah itu laptop pasti sudah siap pakai dan aku bisa melanjutkan pekerjaanku yang tertunda akibat kedatangan nenek sihir pembuat onar. Harusnya aku minta uang ganti rugi padanya sebagai pengganti notebook kesayanganku yang dirusak. Tapi hari ini aku sedang tidak ingin bersengketa. Aku masih ingin berbahagia dengan bayiku yang mulai terasa keberadaannya. Tak mau peduli pada yang lain.
"Non Fifa saudara sepupunya pak Gufron ya?"
Aku menjawab dengan senyum dan anggukan kepala.
"Punya saham di Syam Corporation dong. Pantes kita mau ada kerjasama khusus dengan perusahaan itu."
"Enggak. Syam Corporation milik keluarga Gufron. Keluarga saya hanya mengelola warisan berupa perkebunan dan resto di Makassar."
"Beruntung banget ya jadi non Fifa. Sudah kaya dari lahir eh dapat jodoh anak tunggal pengusaha kaya."
Tapi baguslah. Mereka tak tahu detail riwayat hidupku. Mereka hanya tahu aku cucu dari daeng Burhanudin Syam, bangsawan sekaligus pengusaha nasional yang dikenal seantero negeri. Setidaknya dengan pengetahuan itu mereka menilaiku pantas bersanding dengan Bray. Kupikir pendapatnya bisa mewakili sebagian besar karyawan di sini. Citraku masih dipandang baik.
Tak kusangka aku mendapatkan laptop baru yang spesifikasinya jauh lebih bagus dari notebook lamaku. Staf IT telah menunggu saat aku baru saja selesai shalat dzuhur. Ada surat tanda serah terima barang yang harus kutandatangani. Selain menyerahkan laptop, staf IT bernama Ifan memindahkan data yang berhasil diselamatkan dalam media harddisk internal maupun eksternal. Dengan sabar ia mengajarkan aku beberapa aplikasi dan fitur yang kurang kukuasai.
"Berapa harganya, Pak."
"Sudah dibayar kantor, Bu."
"Mana bisa begitu. Kan tadi saya order atas nama pribadi."
"Ini fasilitas kantor buat pak Firdaus, Non."
"Saya kan bukan pak Firdaus." elakku sambil tersipu. Benar-benar tak enak hati memanfaatkan fasilitas perusahaan tanpa berkontribusi apa-apa terhadap operasional perusahaan. Seperti parasit saja.
"Nona istri pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Lagipula notebook Nona rusak karena perbuatan bu Fara dan kejadiannya berada di kantor. Sudah sepatutnya perusahaan mengganti kerugian Nona."
__ADS_1
"Tapi spek laptop ini jauh lebih baik daripada notebook saya."
"Anggap saja bonus, Non. Atau mungkin anggap sebagai hadiah pernikahan dari perusahaan."
"Terima kasih, Pak." Aku tersenyum sambil mendekap laptop baruku. Senang sekali dapat alat kerja yang canggih dan dapat memproses data dengan lebih cepat dan akurat.
Ifan berpapasan dengan Bray saat hendak keluar dari ruangan. Keduanya sempat bertukar sapa. Tak lama. Ifan memberikan laporan singkat lalu pamit kembali ke ruang bagian IT. Sementara Bray menghampiriku yang masih terpukau dengan laptop baruku yang canggih.
"Bagaimana laptop barunya, Sayang?"
"Bagus, Mas."
"Suka?"
"Sangat suka. Kerjanya jadi cepet banget. Tadi diajarin aplikasi baru juga sama pak Ifan."
"Kamu nggak apa-apa kan?"
"Apa yang nggak apa-apa?"
"Betah di sini."
"Siapa sih yang betah disambut dengan ucapan nyinyir, Mas."
"Jangan dengar! Dia itu dendam sama kamu gara-gara kasus Maudy."
"Urusan Mas masih lama? Aku nggak betah di Jakarta. Lebih baik aku ke Makassar duluan aja ya. Kangen nenek, mama dan Fifi." pintaku dengan suara manja.
Bray tak langsung mengiyakan. Seperti ada beban berat yang menimpa kepalanya. "Urusan di sini kacau, Sayang." ungkapnya dengan nada yang sangat berat.
"Sepertinya aku harus stay agak lama di Jakarta."
Aku menghela nafas tanpa bicara. Bray pasti bisa menangkap ekspresi kecewaku.
"Aku butuh teman yang mendampingiku menghadapi semua ini, Sayang. Bisakah kamu tetap bersamaku?"
"Berapa lama?"
__ADS_1
"Sampai masalah selesai dan perusahaan berjalan normal lagi."