
Kedatangan Salman membawa warna tersendiri dalam keluarga kami. Terutama mama yang bersemangat dan ceria menyambutnya. Sejak pagi mama telah sibuk wira wiri di dapur menemani bi Ika memasak makanan kesukaan Salman. Siang menjelang sore berdandan rapi dan ikut pak Rodi menjemput Salman di bandara. Sementara aku lebih suka bersembunyi di kamar. Berkutat dengan video dan berita hangat yang kubaca di kanal berita populer di internet. Aku baru turun menemui kakak lelakiku itu setelah Fifi menghampiriku di kamar memberitahu bahwa Salman telah berada di ruang keluarga bersama nenek dan mama.
"Fifa." Salman langsung menghampiri dan memelukku dengan erat saat aku baru saja turun dari tangga. Setelahnya Salman mendorong bahuku dengan dua tangannya dan memandangi bekas lukaku yang setengah kering dengan intens.
Aku menunduk. Kejadian seperti inilah yang kerap kuhindari. Aku tak mau orang menatapku dengan iba. Malu.
"Ini bukan luka cakaran spontan. Pelaku pasti sudah persiapan meruncingkan kukunya dan berniat merusak wajahmu. Sadis banget." komentar Salman sambil geleng kepala.
Aku tersenyum tipis lalu bergerak melepaskan diri dari rengkuhannya, "Kasus sudah closed. Tak perlu dibahas lagi." tepisku.
"Aku nggak rela wajah cantik adikku jadi begini." tegasnya dengan wajah yang tegang.
Aku tersenyum manja. Sedikit merajuk agar ia tak membahas masalah itu lagi dalam momen pertemuan perdana ini. Yang sudah berlalu biarlah jadi sejarah untuk pelajaran di masa yang akan datang. Tak usah dibahas terlalu panjang. Bisa merusak suasana bahagia kami.
"Insya Allah Fifa akan pulih. Dia sudah mendapatkan perawatan dari dokter spesialis kulit terbaik." Aku senang nenek membela dan memahami perasaanku. Kami berdua sama-sama menyesali keputusan penarikan berkas laporan itu dan tak ingin lebih menyesal jika diingatkan lagi peristiwa pahit sebagai orang yang kalah. Aku tak mau merajut dendam dalam hatiku.
"Kamu seperti baba. Terlalu plegmatis. Kamu tuh tidak harus mengalah atau jadi baik untuk semua orang, Fifa. Apalagi pada orang yang jelas-jelas menyakiti kamu."
"Sudah terlanjur." tepisku dengan senyum mengembang.
"Atau jangan-jangan kamu memang bersalah merebut kekasih perempuan sadis itu."
"Cukup! Jangan bahas lagi masalah itu, Salman! Kasihan. Fifa tidak bersalah. Kita harus optimis Fifa akan pulih." Lagi-lagi nenek selalu jadi pahlawan untukku.
Kondisi mentalku sudah mulai membaik. Aku merasa pertalian batinku dengan nenek terjalin kuat. Beruntung sekali aku memiliki nenek yang peka dan mengerti aku tak ingin kembali menyalahkan diri sendiri. Aku sering bimbang dan risau setelah mendengar pendapat orang yang berseberangan. Ujung-ujungnya yang kulakukan selalu menyalahkan diri sendiri.
Kucoba mengalihkan tema pembicaraan ke hal ringan yang membuat perasaan kami lebih nyaman.
"Kita baru ketemu, jangan ngomongin yang berat-berat. Capek. Kupikir harus ada perayaan khusus buat menandai hari kembalinya kak Salman di tengah keluarga."
"Setuju. Bagaimana kalau malam ini kita jalan dan makan malam di restoran Korea." sambar Fifi dengan usulan. Apapun yang berbau Korea jadi destinasi favoritnya.
"Nggak usah makan makanan luar negeri. Belum tentu cocok sama lidah kita. Kalau mau suasana berbeda, makan di kedai saja." Mama yang masih perhitungan dengan uang spontan menolak.
Padahal ini kesempatan mama mengenal suasana kota besar. Mama seumur hidup tinggal di pinggir hutan. Di kampung kami tak ada yang namanya restoran. Jangankan restoran masakan Korea, rumah makan yang menjual menu masakan nusantara pun hanya ada satu dua di kota kecamatan.
Fifi mengerucutkan bibirnya. "Bosan di kedai melulu." keluhnya sembari melemparkan tubuhnya di sofa.
"Kak Fifa kan sekarang punya banyak uang. Sesekali traktir keluarga di tempat yang mentereng dan instagramable dong. Biar isi foto aku di medsos lebih viariatif dan menarik. Fifi sudah punya tagline buat acara makan malam kita: It's our first and special family quality time. Keren kan?"
__ADS_1
Alamak. Fifi sudah menentukan konsep untuk konten yang akan diposting di media sosial pribadinya. Semenjak pindah ke Makassar anak itu rutin mengunggah konten foto-foto di media sosialnya. Menurut pengakuannya teman dan pengikutnya makin banyak. Setiap saat kalau tidak nonton drama korea, Fifi pasti sibuk mikir konten apa yang akan diunggahnya di media sosial. Dasar ABG.
"Oke. Karena hari ini spesial tidak ada salahnya kalau kalian makan malam di resto Korea pilihan Fifi." Ternyata nenek setuju usul Fifi.
"Tapi nenek minta maaf tak bisa ikut kalian. Nenek mesti banyak istirahat dan diet. Makanan resto banyak yang tidak ramah buat lansia." lanjut nenek dengan raut menyesal.
"Yah kenapa nenek tidak ikut." Aku, Salman dan Fifi melontarkan kalimat kecewa pada waktu yang nyaris bersamaan.
"Kalian saja yang muda-muda. Nenek sudah kenyang makan enak di restoran sejak muda. Sekarang ini organ tubuh sudah mulai menurun fungsinya."
Nenek tersenyum dan mengangguk kepadaku.
"Pergilah! Rayakan pertemuan kalian mumpung ada waktu dan kesempatan bersama. Makin tua kita akan makin banyak urusan dan tanggung jawab. Setelah hari ini kalian mungkin akan jarang ketemu. Kesempatan ini sangat langka. Kamu tidak perlu malu, Fifa. Kalian bisa reservasi ruang VIP di restoran itu biar lebih nyaman dan akrab. Pak Rodi bisa bantu kalian."
"Yey. Terima kasih, Nek." Fifi langsung bersorak gembira. Membayangkan makan di ruang mewah restoran Korea membuat wajahnya makin berseri.
"Aku siap-siap dulu ya." Fifi langsung berdiri, berjalan sambil melambaikan tangan, lalu naik ke tangga dengan gembira.
"Saya juga mau siap-siap."
Mama mengekor Fifi naik ke lantai atas dengan semangat. Keduanya pasti sibuk mencari pakaian dan dandanan yang pantas untuk momen yang paling berharga ini.
"Bagaimana kabarmu, Salman. Apa kamu masih ingat ayah dan ibumu pernah membawamu ke rumah nenek?"
Nenek tersenyum samar lalu menepuk dahi. "Nenek lupa. Kamu bukan anak pertama ya, tapi Sofwan. Nenek baru ingat. Kalau tidak salah kamu baru belajar jalan waktu ayahmu terakhir pulang kemari. Kakakmu waktu itu yang sudah berumur 5 tahun."
Jelas saja Salman tak ingat. Tak ada anak baru belajar berjalan yang punya ingatan panjang sampai usia dewasa. Aku ikut tersenyum melihat Salman yang sudah coba berpikir keras, tapi ternyata nenek yang lupa.
"Kemarin Fifa bilang kamu sudah belasan tahun hilang ikut pengajar sekolah rimba ke Jawa."
"Benar, Nek. Baru minggu lalu Salman menemui mama dan ternyata keadaan sudah sangat berubah. Affan dan baba telah pergi mendahului kami."
Salman dan nenek sama-sama terlihat sedih. Akupun demikian. Baba adalah orang yang paling berharga buatku. Tak ada peristiwa yang membuatku sedih dan kecewa melebihi kematian Baba.
"Kau harus cerita bagaimana kisahmu dari awal meninggalkan kampung sampai lulus sarjana dan jadi pegawai."
"Wah kalau harus cerita seluruh perjalanan hidup Salman bisa panjang lebih dari 200 episode, Nek. Nanti saja dibuat sinetron kalau ada produser yang berminat." Salman menjawab dengan canda.
"Intinya kehidupan ekonomi saya selama merantau di Jawa pas-pasan. Tiap hari harus berjuang dengan tekat baja buat bisa makan dan sekolah. Berat sekali, Nek. Selama di sana nggak pernah ketemu orang sekampung. Nggak punya alat komunikasi dan nggak punya uang untuk pulang. Nggak bisa berkabar sama sekali. Pantas kalau dikira hilang." tutur Salman sembari senyum malu-malu.
__ADS_1
"Nasib dan tekatmu sama seperti ayahmu. Keras."
Lagi-lagi Salman tersenyum. Ada kesan bangga di balik senyumnya. Kali ini lengkung bibirnya terlihat lebih lebar.
"Sekarang kau sudah jadi pegawai?"
"Statusnya masih pegawai kontrak tidak tetap. Gajinya tak seberapa dan sering telat pencairannya dari pusat." keluhnya diiringi senyum satir.
"Kamu bahagia dengan pilihan hidupmu?"
"Bahagia, Nek." jawabnya pasti.
Nenek tersenyum bangga.
"Sudah punya pacar?"
Salman menunduk. Aku menikmati interogasi nenek. Semua pertanyaan lugasnya pada Salman telah mewakili keingintahuanku. "Salman tidak berani berkomitmen. Masih punya sedikit hutang yang belum lunas."
"Nenek tidak tanya komitmen."
Salman sedikit tersentak. Tanpa sengaja ia menjawab seperti apa kisah asmaranya saat ini. "Ada gadis yang Salman suka, tapi nggak berani mendekati."
Nenek tertawa. "Karena kamu nggak punya uang?"
"Pastinya begitu."
"Memang sebaiknya sekarang kamu berbakti dulu pada ibumu. Kamu satu-satunya lelaki yang tersisa di keluargamu. Seharusnya bisa jadi pengayom bagi keluarga. Kalau cari calon istri yang utama harus mencintai ibu dan adik-adikmu." Itu pesan nenek sebelum masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Salman mengangkat bahu sembari tersenyum sinis. Pesan nenek seakan merupakan tambahan beban baginya.
"Memangnya calon istri kak Salman gimana?" tanyaku iseng. Kami tinggal berdua jadi aku merasa nyaman melanjutkan interogasi nenek.
"Belum ada. Waktuku habis buat belajar dan cari makan. lagipula aku nggak banyak yang naksir seperti kamu." jawab Salman sambil menyubit lembut hidungku.
"Masak sih?"
"Kata mama kamu sudah menolak lamaran Arfa dan anak kepala kampung sebelah. Andi Syarif juga sudah ngomong sama nenek kalau naksir kamu. Ditambah lagi kamu punya hubungan terselubung dengan direktur perusahaan tambang itu." Salman tersenyum tengil. Rupanya mama telah mengulitiku di depan Salman.
"Entah setelah wajahmu begini." lanjut Salman dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Seleksi alam. Dengan begini jadi tahu mana yang tulus sayang sama aku." jawabku ringan sambil tersenyum.
Salman mengacungkan ibu jarinya.