LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
BIDADARA


__ADS_3

Seminggu di dalam hutan sendirian membuat rinduku pada rumah dan keluargaku makin menggebu. Sementara aku tak jua menemukan arah jalan pulang. Meski begitu aku masih tetap berusaha tenang dan menyebut namaNya dalam setiap langkah dan harapan yang kupanjatkan. Alhamdulillah aku masih bisa bernafas, makan dan minum walau seadanya.


Ada beberapa jenis burung yang kulihat dan kudengar suaranya sepanjang perjalanan ini. Ada kakaktua putih, nuri hijau, jalak hitam dan burung murai yang pandai bernyanyi. Lagu cinta yang dinyanyikan jadi pengobat lara dalam perjalanan tanpa tujuan ini. Tapi sang bidadari halmahera yang kunanti sama sekali tak terlihat. Bahkan suaranya pun tak terdengar.


Akh.... Jangan lagi berharap anugerah keberuntungan yang begitu banyak. Burung langka itu tak sembarangan muncul. Aku masih ingat kata-kata petugas taman nasional teman baba ketika kami bercerita tentang pertemuan kami dengan burung dari surga itu, "Anda beruntung hari ini, pak Syarif. Pengamat burung biasanya butuh waktu berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan menunggu kemunculan wake wake yang sedang atraksi. Tak jarang mereka pulang dengan tangan hampa."


Sadarlah, Afifa. Kemunculan bidadari halmahera adalah anugerah dan aku telah 2 kali mendapatkan anugerah itu. Bersyukurlah atas anugerah itu. Seharusnya aku tak serakah mengharapkan anugerah berkali-kali.


Aku melonjak gembira ketika dalam perjalanan hari ini menemukan beberapa pohon damar tua yang menjulang tinggi dan besar. Entah berapa usianya. Mungkin sudah puluhan bahkan ratusan tahun, sebab batang bawahnya sudah jauh lebih lebar dari pelukanku. Harapan baruku muncul. Mungkin aku bisa bertemu orang -orang yang biasa mencari kayu gaharu atau getah damar di hutan. Aku akan bertanya pada mereka rute jalan pulang.


Aku berhenti berjalan untuk mengambil getah damar. Lumayan, nanti bisa ditukar jadi bahan makanan atau apa saja yang dibutuhkan saat di rumah nanti. Sayang kalau pulang tanpa membawa sedikit hasil hutan. Bukan maksud hatiku hendak mengeksploitasi hutan, hanya mengambil sekedarnya untuk digunakan bertahan hidup. Selain itu dengan menghabiskan waktu mengambil getah damar, aku berharap akan berjumpa warga kampung yang biasa mencari damar dalam hutan.


Dengan sabar aku melukai beberapa lubang yang telah ada di batang pohon damar dengan pisauku, menunggu getahnya muncul dan mengering, lalu mencukilnya dan memasukannya ke dalam kantung penampungan. Lumayan, setelah berpeluh seharian aku mendapatkan getah damar yang berupa kristal-kristal bening sekantung penuh.


Hari sudah hampir sore. Tak jua ada orang yang datang ke tempat ini untuk mengambil getah damar. Padahal banyak pohon damar di sini. Sudah banyak lubang-lubang bekas sayatan yang dalam pada batang pohon damar. Mustahil kalau para pencari damar itu tak tahu dan menandai lokasi ini sebagai ladang tempatnya mencari penghasilan. Harapanku bertemu dengan orang yang bisa menolongku hari ini sudah sirna. Aku duduk di atas tanah setelah tayamum dan shalat ashar.


Hatiku sekarang dipenuhi oleh keinginan bertemu jalan keluar menuju pulang.


"Ya Allah, berilah petunjuk jalan keluar dari hutan ini. Aku mau pulang. Aku sudah sangat rindu pada rumah dan keluargaku." ucapku lirih berulang-ulang.


Tak ada lagi harapanku selain pertolongan dari Tuhan. Aku menangis tanpa air mata.


"Maafkan Fifa, Ma. Fifa kangen mama. Doakan Fifa bisa menemukan jalan pulang ya."


Perutku melilit. Cacing-cacing dalam perutku mulai protes sebab belum ada makanan yang masuk sejak pagi tadi. Aku masukan kantung getah damar dalam ransel lalu berjalan lagi dengan harapan bertemu sesuatu yang bisa menjadi pengganjal perut. Nyaris seharian menghabiskan waktu sendirian mengumpulkan getah damar membuatku lupa makan. Aku memang tak punya persediaan makanan sama sekali. Kerongkonganku juga kering.


Aku harus cari makanan dan minuman sebelum gelap. Aku pun segera beranjak lalu berjalan ke arah barat tempat dimana matahari hampir tenggelam. Mengapa ke barat? Aku tak tahu. Perjalananku hanya mengikuti jejak jalan setapak dan menuruti insting saja. Langkahku kini tertatih-tatih dengan tubuh yang semakin lemah. Aku tak segera memperoleh keberuntungan mendapatkan tanaman atau apa saja yang dapat mengisi perut yang melilit akibat banyaknya gas yang terkumpul di dalamnya. Yang kutemui sepanjang jalan hanya pohon tinggi dan semak belukar saja. Tak ada yang bisa dimakan atau jadi pelepas dahaga.


Entah apa yang terjadi kemudian. Perlahan semua berubah gelap lalu aku terjatuh dan lupa segalanya.


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ketika membuka mata, aku telah berbaring di sebuah gubuk tanpa dinding. Tadinya kupikir aku akan mati dimakan binatang buas di hutan. Apakah aku diselamatkan orang dari suku Lili?


Samar telingaku mendengar suara orang yang sedang mengobrol. Aku menoleh ke kiri sesuai arah suara yang tertangkap telinga. Kulihat dekat pohon besar itu ada seorang pria muda berkulit kuning dan rambut yang lurus sedang memberi makan kuda sambil berbincang dengan pria muda lain yang berkulit coklat dan berambut ikal. Sepertinya mereka bukan orang suku Lili. Dari penampilannya mereka tak seperti orang yang biasa tinggal di hutan. Pakaiannya rapi dan perbekalan yang ditaruh di atas pelana kudanya cukup banyak. Kudanya gagah, terawat dan bersih. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa yang biasa digunakan suku Lili.

__ADS_1


"Bagaimana sebaiknya kita, Ka? Lanjut perjalanan atau ..."


Tak melanjutkan kalimatnya, pria itu menoleh ke arahku lalu tersenyum ketika melihatku telah membuka mata.


"Hai, kau telah sadar rupanya Nona."


Pandangan mata kami baku tatap. Netra coklatnya bersinar indah. Senyumnya itu amboi indahnya. Aku melihatnya seperti penampakan burung wake atau bidadari halmahera yang sedang mengepakkan sayap tebar pesona. Apakah dia bidadara yang turun dari surga?


Aku langsung mengalihkan pandanganku. Malu. Sadar dari pingsan tampaknya membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Dengan bodohnya mengagumi orang asing dan melabelinya dengan bidadara. Terlalu kau Afifa. Naif sekali. Lihatlah! Kakinya menapak tanah. Dia hanya pria biasa.


Mungkin otakku konslet. Aku menarik nafas panjang berusaha untuk kembali menyadarkan diri sebagai Afifa.


Tenggorokan terasa sangat kering. Pria itu meminta temannya yang berambut keriting mengambil perbekalan minumnya, membimbingku agar bangun dan duduk lalu membuka tutup botol airnya.


"Nona pasti haus. Minum dulu ya."


Aku menggeleng ketika dia mencoba membantu menuangkan air dalam botol itu ke dalam mulutku.


Dia tersenyum menyerahkan botol minuman yang tampak bersih dan bagus bentuknya. Aku meraihnya dan membalas senyumannya.


Aku menghabiskan hampir seluruh isi botol itu dengan beberapa kali teguk. Rasanya segar. Tenggorokanku yang kering sekarang mulai terasa lembab. Rasa hausku hilang dalam sekejap.


"Maaf!" Haus membuatku rakus. Aku menatap botol kosong itu dengan sangat menyesal. Serakah sekali aku sampai tak menyisakan setetes air buat sang empunya botol.


"Tak apa. Kita bisa cari air lagi nanti di jalan." ucapnya lembut disertai senyum yang menawan itu lagi.


Seperti tahu isi hatiku, bunyi kalimatnya menyejukan. Meski begitu, aku tetap menyesal menghabiskan air dalam botol itu. Uh, betapa serakah dan tak tahu diri. Rasanya aku ingin memukul kepalaku sendiri buat menghukum keserakahanku.


Aku menghindari baku tatap dengan netra coklatnya yang memiliki sinar aneh yang membuat jantungku mendadak berdetak kencang bertalu-talu. Aku tak sanggup. Apalagi melihat senyumnya yang amat menawan.


"Siapa namamu?"


"Afifa Syarif."

__ADS_1


"Hei, kau anak bapak Syarif pendatang bugis yang mengajar agama di kampung lala dalam?" Malah kawannya yang berambut ikal itu yang mengenal babaku.


Aku mengangguk. Baguslah dia kenal nama babaku. Aku tak perlu memperkenalkan jati diriku terlalu banyak.


"Kenapa ke hutan sendirian?"


"Tersesat saat cari getah damar." jawabku sekenanya. Pikirku ada getah damar di ranselku sebagai bukti jawaban itu tidak mengada -ada.


"Tak biasanya perempuan ke hutan cari getah damar."


"Dia tak punya saudara laki-laki. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu." jelas si rambut keriting memberiku pembelaan. Aku harus berterima kasih padanya dengan isyarat anggukan kepala dan senyum tipis.


Pria itu mengangguk-angguk. "Sudah tersesat berapa hari?" tanyanya lagi. Suaranya terdengar bijak. Malaikat penolongku yang satu ini benar-benar sangat menawan.


Akh... aku jadi malu. Sangat malu. Dia menatapku iba dengan matanya yang tajam. Tidak jijikkah? Entah bagaimana rupa wajahku kala itu. Kulihat lagi bajuku yang telah lusuh. Badanku pasti tampak kumal dan bau. Kenapa aku dipertemukan dengan pria tampan dalam keadaan begini? Aku memalingkan wajahku lagi. Inginnya segera lari sembunyi, tapi itu tidak sopan mengingat pria-pria baik itulah yang menolongku. Kutahan saja rasa malu itu.


"Seminggu."


"Pantas." Dia memalingkan wajahnya sambil memencet hidungnya yang mancung dan tersenyum tengil.


"Bilang aja aku kotor dan bau."


Dia kembali memencet hidup lalu mengibas-ngibaskan telapak tangan di depan hidungnya sambik terkekeh penuh kemenangan. Aku tak tahan untuk tidak mencuri tatap lewat ekor mataku. Antara malu dan sebal, saat itu aku merasa berada di titik terendah sampai tak memiliki lagi harga diri. Beginilah keadaanku. Kotor dan bau. Dia pantas tertawa remeh. Seandainya jijik pun wajar.


"Lapar?"


Aku mengangguk.


Pria keriting di sebelahnya mengambil sesuatu dari kantung yang tersampir di atas kuda yang talinya diikat di batang pohon besar. Kuda itu tengah asyik memakan dedaunan yang disediakan kedua pria itu tadi.


Dia menyerahkan sepotong roti untukku, dan sepotong lain untuk pria berambut lurus yang senyumnya amat menawan itu. Si rambut keriting menyisakan sepotong roti juga untuknya. Kami melahap roti kami bersama-sama.


"Terimakasih, Kakak."

__ADS_1


__ADS_2