
Pagi hari ke-5 Andi Syarif datang pagi-pagi ke rumah dan ikut sarapan di meja makan bersama kami tanpa janji atau pemberitahuan sebelumnya. Suasana meja makan terasa lebih hangat karena pria itu pandai membuat cerita-cerita seru yang membuat kami tersenyum.
"Sorry soal kejadian selasa sore itu, Dinda." Andi mendadak mengubah panggilanku dengan sebutan Dinda. Entah apa maksudnya. Suka suka dia sajalah mau buat skenario drama apa saja.
Aku dan nenek saling lirik tanpa komentar lalu kami sama-sama melanjutkan sarapan kami yang tinggal sedikit.
"Bagaimana rasanya berduaan di kedai dengan bos besar itu?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Biasa aja." jawabku datar. Padahal punggung tanganku menghangat lagi saat mengingat bagaimana bibirnya yang basah menyentuh kulitku. Ingin tersenyum mengenangnya tapi kutahan demi ego agar tidak ada orang yang tahu kebodohanku terjebak dalam romantisme palsu.
"Kalian ngomongin apa?"
"Ya masalah konservasi burung lah. Tak ada urusan lain dengan dia selain tentang burung."
Andi malah tersenyum dan melirik nakal ke arah nenek. "Cucu nenek Arifa sudah pandai urusan per'burung'an." komentarnya sambil menutup mulut dan tersenyum konyol. Nenek ikut tersenyum bersamanya. Ini pasti asosiasinya menyimpang dari definisi burung yang sebenarnya.
"Hati-hati, Nek! Mungkin dia sudah konservasi juga burung pribadinya bos tambang nikel ganteng itu."
Eh, apa maksudnya sih? Kenapa ucapannya jadi makin liar.
"Nenek harus cek onderdil cucu nenek. Jangan jangan sudah ada yang bolong dipatukin burung." Andi tertawa keras.
Kurang ajar. Kujejalkan sendok yang kupegang ke dalam mulutnya yang terbuka lebar. Akhirnya dia mingkem gara-gara sendok yang kujejalkan ke mulutnya. Dia gelagapan. Sudah pasti mulutnya sakit karena benda logam itu masuk tanpa kontrol empunya mulut. Gantian aku yang tertawa puas melihatnya menepuk-nepuk pipinya yang sakit.
"Duh, tega banget kamu Fifa. Kuwalat kamu nanti ya."
"Makanya punya mulut itu dijaga. Keterlaluan sih ngomongnya."
"Bercanda, Fifa. Bercanda."
"Itu bukan bercanda tapi fitnah yang menjurus pada pencemaran nama baik." cetusku tegas. Aku tidak suka bercanda yang keterlaluan.
"Maaf!" katanya dengan tampang memelas dan menundukan kepala.
Nenek tersenyum melihat kelakuan kami.
"Sengaja ya kak Syarif nggak datang buat menjebak aku berdua dia di kedai?"
"Enggak, Dinda. Aku benar- benar dibajak sama teman-teman SMU yang sudah lama nggak ketemu. Kebetulan sepupu aku itu kan dulu satu SMU denganku. Makanya banyak teman SMU yang datang di pesta itu."
Aku mencebik. Yang salah dia, kenapa jadi aku yang dirundung. Kulihat nenek masih tersenyum. Mungkin sudah lama sekali tidak melihat cucunya bercengkrama akrab seperti ini.
"Kata nenek kak Firdaus ke sini lagi sebelum pulang ke Jakarta. Itukan mencurigakan. Buat apa dia ke sini? Apa masih dalam rangka konservasi burung pribadinya?" Kali ini matanya menatapku curiga seolah menuduhku telah berbuat kesalahan besar.
__ADS_1
Kesal. Aku kembali meninju lengannya. Kali ini Andi dengan cepat menghindar lalu menyeringai kecil.
Dentuman jantung mulai terasa membakar emosi. Tapi otakku masih waras. Daripada tersiksa oleh rasa marah lebih baik aku pergi menghindar ke wastafel. Sarapanku telah habis. Sudah saatnya sikat gigi. Capek kalau terus menerus menanggapi omongan Andi yang nggak jelas.
Sudah berusaha menghindar, Andi malah menghampiriku di wastafel. Lelaki ini memang sengaja ingin cari perkara denganku.
"Kak Syarif nggak punya sikat gigi di sini. Sana pulang! Sikat gigi di rumah aja. Aku nggak butuh kak Syarif lagi. Tukang fitnah." kataku sambil mendorong-dorong tubuhnya menjauh.
Andi nyengir memperlihatkan giginya, "Aku sudah sikat gigi tadi di rumah."
"Terus kenapa ngikutin aku ke sini."
"Siapa yang ngikutin kamu. Aku mau cuci tangan. Wastafel kan tempat cuci tangan."
Andi menyelaku dengan sikunya. Terpaksa aku mundur memberi kesempatan dia lebih dulu menggunakan wastafel. Sambil senyum-senyum ia membuka kran, melumuri tangannya dengan banyak sabun cair lalu membasuhnya dengan air mengalir sampai buih sabun hilang dari tangannya. Aku sabarkan diri menunggunya mencuci tangan walaupun dia sengaja memperlama proses cuci tangan itu.
Selesai cuci tangan ia sengaja mengibaskan tangan di depan wajahku hingga terkena cipratan air. Aku tak sempat membalasnya. Dia keburu lari kembali ke meja makan sambil tertawa puas.
Ya ampun, orang ini kehadirannya selalu bikin kesal. Kadang lucu sih, tapi kelakuannya super ngeselin. Giliran tak diharapkan dia datang. Pada waktu diharapkan malah menghilang.
Andi tak menungguku sikat gigi. Ia mendorong kursi roda nenek menuju ruang tengah lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan layar monitor televisi 72 inchi yang menyiarkan berita pagi. Ekor matanya terlihat masih terus mengawasiku.
"Hari ini kamu ada kegiatan ke mana, Fifa?" tanya nenek ketika aku telah duduk di sofa ruang tengah.
Sengaja aku memilih sofa tunggal yang berjauhan dengan letak sofa yang diduduki Andi. Masih kesal. Pria yang tadinya asyik membaca dan membalas pesan yang masuk digawainya langsung mengantongi gawai saat melihat aku telah duduk di ruang tengah.
"Keluar aja yuk! Tempo hari kita kan belum puas jalan-jalan keliling Makassar." ajak Andi.
"Nggak ah. Aku masih kesal sama kak Syarif. Enakan di rumah sama nenek. Nanti malam aku harus jemput Fifi di bandara."
Andi mengangkat alisnya, "Si Fifi mau ke sini?"
"Iya. Liburan. Hari ini ujian terakhir. Pulang sekolah langsung terbang dari bandara Buli. Rencananya Fifi malah mau pindah sekolah di sini menemani nenek."
"Syukurlah kalau Fifi mau menemani nenek. Fifi itu orangnya lebih santai, Nek. Nggak galak kayak kakaknya."
Eh rupanya perundungan masih belum berhenti. Kulemparkan saja bantal sofa ke wajah Andi dengan keras.
Hih. Pagi-pagi sudah bikin kesal melulu. Moodku hari ini bisa rusak gara-gara emosi.
Andi menangkap bantal itu lalu menciuminya sambil tersenyum jahil. "Terima kasih bantalnya, Dinda Fifa."
Aku menjatuhkan tubuhku di sofa lalu diam dengan tangan bersedekap di dada dan mata menatap kakiku sendiri. Mau meninggalkan ruangan, tak enak hati sama nenek. Masak begitu saja ngambek. Kayak anak kecil.
__ADS_1
"Sudah, kak Syarif! Jangan terus menggoda Fifa! Nanti lama-lama dia jadi ilfil." Senang rasanya nenek akhirnya membelaku dari perundungan ini. Kujulurkan lidah ke arahnya. Andi membalas dengan senyum.
"Eh, nenek tahu juga istilah ilfil."
"Tahu dong. Nenek kan suka nonton TV."
Mereka berdua tertawa kecil. Aku tak bergeming. Konsisten diam. Niatku tak akan buka mulut sama sekali sampai Andi Syarif lelah ngoceh, jengkel, lalu pulang dengan sendirinya.
Tapi yang namanya Andi Ahmad Syarifudin ocehannya lebih gacor daripada burung manapun. Ia tak bosan melontarkan cerita sendiri atau menanggapi berita televisi dengan komentarnya yang kadang absurd.
"Nek, pernah dengar nggak cerita tentang katak yang pergi menemui peramal?"
"Nenek lupa. Tapi sepertinya nenek belum pernah dengar."
"Ini cerita paling terkenal di kalangan sarjana biologi." Andi melirikku mencari perhatian.
Cih, mentang mentang sarjana biologi. Mau cerita saja pakai pamer dulu kalau dirinya sarjana biologi. Modus.
Andi memulai cerita yang katanya terkenal itu dengan mode serius.
"Suatu ketika ada seekor katak pergi menemui seorang peramal untuk mengetahui peruntungannya dalam urusan asmara. Peramal itu kemudian membaca telapak tangan si katak dan mengatakan bahwa sang katak akan bertemu dengan seorang gadis cantik. Gadis itu sangat tertarik pada sang katak dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Dia ingin katak terbuka padanya dan memberikan hatinya.”
"Wah, ini pasti cerita romantis." seru nenek. Perempuan tua itu memang sering menghabiskan waktu luangnya untuk menonton sinetron atau film drama keluarga di kamarnya.
Andi masih senyum senyum melirikku. Tapi aku tetap konsisten dengan wajah cuek dan mulut yang kukunci rapat. Aku simak berita yang sedang populer di TV dalam diam.
"Sang katak gembira dong, Nek."
"Iya. Pasti gembira dong. Ini mirip-mirip seperti cerita dongeng pangeran katak dan puteri cantik. Terus lanjutkan ceritanya!" kata nenek penasaran.
"Katak itu melompat-lompat kegirangan. Peramal membiarkan katak itu melompat sampai lelah dan puas melampiaskan kegembiraannya. Setelah puas peramal memberitahukan kabar buruknya, yaitu sang katak akan bertemu dengan gadis itu besok di laboratorium biologi."
Nenek tertawa, "Hahahaha. Plot twistnya bagus. Kirain katak itu akan menikah dengan puteri cantik seperti cerita dongeng. Ternyata akhirnya tragis, sang katak harus mati setelah diambil hatinya oleh gadis cantik untuk percobaan biologi."
Andi tertawa terbahak-bahak mendengar analisa nenek yang jitu. Nenekku belum pikun. Masih bisa berpikir dengan logika yang sempurna.
Sedetik kemudian Andi memasang tampang memelas seperti pengemis di perempatan jalan. Kemampuan aktingnya setara dengan aktor peraih piala citra. Begitu mudah ia bermain karakter. Pindah dari karakter aktor komedi ke karakter aktor drama menyedihkan.
"Nenek ngenes nggak sama nasib katak itu?"
"Ya ngenes lah. Kasihan sekali diphp-in peramal."
"Katak itu adalah aku, Nek. Tadinya aku kira aku adalah pangeran katak yang beruntung akan menikah dengan puteri cantik seperti cerita dongeng itu. Sekarang saya yakin pada ramalan itu, puteri cantik hanya menginginkan hati katak sebagai bahan percobaan."
__ADS_1
Andi ngomong apa sih. Kayaknya hari ini dia sakit jiwa. Sejak tadi candaan, sindiran, dan fitnah yang dilontarkannya menjurus pada kecemburuan yang tak berdasar. Padahal sudah jelas sejak awal aku menganggapnya saudara tua, sampai kapan pun tetap saudara tua. Titik.
Nenek menatap mataku dan Andi bergantian. Entah apa yang ada dalam benaknya.