
Kak Hisyam benar-benar mengirim 2 orang tukang hari berikutnya. Mereka bekerja membuat aviary dari besi dan ram kawat di halaman rumah. Ukuran aviarynya cukup besar untuk keempat ekor burung itu hingga memungkinkan mereka lebih leluasa terbang. Pepohonan dan ekosistem aviary juga dibuat berdasarkan adaptasi alam agar burung-burung itu terbiasa dengan lingkungan alam bebas sebelum dilepaskan.
Kandang itu dibuat tanpa mengubah posisi tanaman yang sudah tertanam di lokasi itu sebelumnya. Pohon kenari, pepaya dan beberapa pohon keladi dibiarkan terkurung dalam sebuah ruang kotak dengan tiang besi berdinding dan beratap kawat ram. Ukuran kandangnya triple 3, dengan tinggi, lebar dan panjang sama-sama 3 meter. Seperti kubus besar. Aku suka melihatnya, terlihat alami dan indah.
Pak tukang juga diperintahkan membuat sebuah kolam air kecil yang diisi beberapa ekor ikan di dalam aviary itu. Tentu saja dilengkapi dengan pompa air kecil untuk sirkulasi air sehingga saat kami duduk santai di beranda akan terhibur dengan suara burung dan gemericik air. Kuharap gosip tetangga minim terdengar di telinga karena terkontaminasi suara alam. Aku suka konsep ini dan merasa hidup lagi sebagai Afifa yang bahagia dan bersemangat hidup.
Pengerjaannya cepat. Hanya makan waktu tak lebih dari 2 hari aviary alami nan cantik siap digunakan untuk perawatan 4 ekor burung agar bisa beradaptasi di alam bebas ketika dilepas nanti.
"Aviarynya bagus banget, kak Hisyam. Kayak dikonsep sama arsitek lanskap terkenal. Perfect." kataku yang begitu takjub mengagumi aviary yang baru saja dibangun di halaman depan rumahku.
Kak Hisyam menjawabnya dengan senyum yang sulit kuartikan apa maknanya.
Hihihi aku senang akhirnya bisa bercengkrama dengan burung-burung cantik. Dengan begitu otomatis pikiranku lebih mudah mengabaikan lirikan dan ocehan tetangga yang dengki. Sepertinya aku akan lebih sering duduk dan melakukan aktivitas di beranda depan dengan lebih nyaman.
"Semua memang dikonsep untuk memudahkan burung-burung itu beradaptasi dengan situasi di alam liar. Pohon, air, serangga dan ekosistemnya dibuat semirip mungkin dengan hutan Lolobata versi mini. Semoga burungnya nyaman dan yang merawatnya juga bahagia. Dua-duanya harus happy biar bersinergi satu sama lain."
Bijak sekali kalimat kak Hisyam barusan. Aku tak terpikir bagaimana kak Hisyam dan Arfa merencanakan semua ini. Pokoknya aku bahagia dapat kado terindah yang tak pernah sama sekali terpikir sebelumnya.
"Hebat. Bikin konsepnya cepat sekali. Baru kemarin bilang iya, langsung ambil foto-foto lokasi lalu besoknya sudah dieksekusi secepat kilat. Apa iya melibatkan arsitek profesional?"
Lagi-lagi kak Hisyam tersenyum tanpa menjawab iya atau tidak. Sejak kemarin ia serius memfoto-foto tiap sudut progres pembuatan aviary itu buat dokumentasi. Kadang ia ambil foto candid saat aku sedang memberi makan burung-burung itu. Sebenarnya aku mencurigai sesuatu. Jangan-jangan bikin aviary itu pakai dana perusahaan makanya perlu dokumentasi sedetail itu. Tapi akh... itu bukan urusanku. Yang penting aku senang dengan tugas baruku sebagai pengasuh burung. Yey...
Sepasang burung nuri yang kuberi nama Aga dan Ima sangat cepat beradaptasi dan jinak, terutama sama aku sebagai pengasuhnya. Mungkin benar dugaanku kalau mereka itu adalah reinkarnasi dari nuri tua sahabatku yang telah mati kena panah beracun. Buktinya keduanya langsung dekat dan akrab denganku. Padahal menurut buku, burung yang baru datang di lingkungan dan pengasuh baru butuh waktu adaptasi cukup lama. Kenyataannya sejak baru datang mereka happy, tidak ada tanda-tanda stres perjalanan atau takut dengan lingkungan baru. Keduanya makan dengan lahap pisang, biji-bijian atau buah lain yang kusajikan. Bahkan sore kemarin keduanya mulai menunjukan kemampuan bernyanyi dengan suaranya yang serak-serak basah. Segala tingkahnya menghibur hati. Hapus sudah laraku karenanya.
__ADS_1
Semuanya persis seperti nuri sahabatku, bulu indahnya, tingkahnya, dan caranya bernyanyi. Bedanya, pasangan nuri muda itu belum pandai bicara. Tuhan Maha Baik. Mungkin ini hikmah dibalik sebuah kesedihan dan buah kesabaran meredam rasa marah dan bara dendam yang membakar jiwaku. Kematian nuri sahabatku rupanya bukan akhir dari lantunan lagu cinta yang biasa dinyanyikan selama ini. Kematian itu justru mengantar pada jalan untuk bereinkarnasi menjadi sepasang nuri yang saling mencinta. Indah betul jalan ceritanya.
Kata kak Hisyam, burung nuri yang akan kurawat dikenal sebagai nuri Ternate atau nuri kepala merah. Ciri khas burung paruh bengkok yang satu inu terletak pada bulu kepala yang berwarna merah. Sedangkan bulu tubuhnya merupakan perpaduan warna merah, hijau dan mungkin sedikit kuning. Burung ini termasuk burung endemik di provinsi Maluku Utara dan dilindungi keberadaannya karena sudah langka dan terancam punah. Satu kelebihan yang membuat burung ini jadi incaran banyak pencinta burung dan diperjualbelikan dengan harga mahal, yakni kemampuannya berbicara dan menirukan suara manusia.
Nuri Ternate dewasa memiliki tubuh sedang sekitar 30 cm. Di bagian tubuh hingga leher dan kepala didominasi warna merah. Kemudian di kedua sayapnya berwarna hijau dengan campuran warna kuning. Sedangkan di bagian lingkaran mata berwarna abu-abu.
Setelah aviary siap, aku mengambil nuri jantan dari kandangnya. Dalam sekejap saja Nuri jantan telah hinggap di lenganku. Sementara nuri betina belum mau hinggap di lengan kak Hisyam meskipun beliau cukup lama menyodorkan lengannya ke dalam kandang.
"Si jantan cepat sekali akrab pe ngana. Ini karena kalian yang berjodoh atau ngana punya pelet?" kak Hisyam tertawa meledek.
Kusambut dengan tertawa puas. Merasa lebih hebat dari kak Hisyam.
"Mungkin nuri betina su tau ngoni su punya istri, kak Hisyam. Tampaknya itu betina tara mau dimadu. Hahaha..."
Walau tidak diikat, nuri yang hinggap di lengan tak mencoba terbang atau berlari dariku. Dia malah menari-nari. Benar-benar cepat sekali jinak. Berbeda dengan nuri betinanya. Kak Hisyam harus memegang tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak lari.
Hup. Aga sang nuri jantan langsung memilih hinggap di batang pohon kenari. Sementara Ima sang nuri betina memilih melihat-lihat situasi di atas tanah.
"Murai batu besok atau lusa saja dipindahkan ke kandang besar. Biar mereka adaptasi dulu."
"Iya." Aku mengakui kedekatan emosionalku dengan murai batu agak kurang. Entah karena tak punya pengalaman berteman atau memang karakter murai batu yang lambat dalam adaptasi.
Aku sangat bersemangat dengan tugas baruku merawat burung-burung. Hidupku jadi penuh warna. Aku tak merasa kesepian dan sendiri lagi. Tiap pagi dan sore aku terhibur oleh suara cicit cuit nyanyian burung. Si paruh bengkok dengan suara serak-serak basah yang menggoda dan murai batu yang suaranya melengking tinggi bagai penyanyi klasik bersuara tenor.
__ADS_1
Beberapa kali aku memergoki tetangga kami sengaja berdiri di perbatasan antara rumah mama dengan rumah mama Hika. Tentu saja mereka menatap heran sekaligus iri ke arah kandang burung alami yang besar dan cantik itu. Aku sempat mencuri dengar secuil obrolan mereka.
"Bagus sekali. Siapa yang bantu bangun kandang burung modern sebagus itu?"
"Tak mungkinlah dorang bangun dengan duit sendiri. Uang dari mana. Itu kandang dan burung mahal." suara lain menjawab dengan nada sinis. Jelas sekali nada dengkinya terdengar.
"Kata saya punya suami, yang sejak kemarin datang dengan mobil perusahaan itu tangan kanan bos PT XY, mama Piya." Yang lain menjelaskan sesuai fakta. Mungkin suaminya pekerja di PY XY juga.
"Oh, pantas." Suara sinis itu menyahut lagi. Nadanya terdengar lebih sinis.
"Apa hubungannya tangan kanan bos tambang sama gadis sombong keras kepala itu?"
"Tara tau. Mungkin de jadi simpanannya."
Hihihi. Mereka tertawa cekikikan.
"Oooh itu sebab de sombong tak mau terima Arfa rupanya. Pilih jadi gula gula orang kaya saja."
Tawa mereka meledak bersama-sama.
Jujur telinga dan hatiku sakit, namun aku mencoba meredakan marah dengan istigfar. Aku menanggapinya dengan senyum tipis dan mengelus dada.
CIH. Dasar mama mama rempong pengangguran. Benci sekali kalau lihat orang senang. Senang sekali kalau lihat orang lain susah. Ada saja gosip yang dikembangkannya jadi konsumsi jiwa kotor mereka sehari-hari. Begitulah kalau orang kurang kerja. Hari-hari disibukan dengan mencari cela orang lain
__ADS_1
________
Jangan lupa terus dukung karya ini ya biar author semangat nulisnya😘