
Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak yang ada di sepanjang daerah aliran sungai. Arahnya berlawanan dengan arus sungai. Dengan perut kenyang dan bekal minum yang cukup, jalan 4 kilo meter bukan hal yang melelahkan. Waktu tempuhnya paling sekitar satu jam saja. Aku sudah terbiasa seharian penuh berjalan kaki. Yang berat justru menahan rasa kecewaku pada mama yang telah memindahkan makam baba tanpa persetujuanku. Apa mama pikir aku sudah hilang? Mati dimakan buaya sungai atau binatang buas di hutan?
Aku memang salah, menghilang lebih dari seminggu. Kenapa harus kalah begini? Aku tak punya tujuan hidup lagi. Apa lebih baik aku mati saja? Tidak. Baba pasti murka sebab kalau mati bunuh diri aku tak akan berjumpa dengan orang yang kucintai di surga. Astagfirullahal adzim. Tuhan tidak menyukai hamba yang putus asa.
Lalu aku harus bagaimana? Ikut arus saja atau bertahan dengan pemikiranku?
" Ya Tuhan, berilah petunjukMu."
Suara sepeda motor terdengar melaju di belakangku seiring suara keras Arfa memanggilku, "FIFA."
Aku berhenti. Rupanya kak Hasyim benar-benar mengkhawatirkan aku dan mengabari Arfa tentang perjalananku menyusuri sungai ini. Bikin masalah saja. Sebenarnya aku tak ingin jumpa Arfa, tapi aku tak bisa menghentikan kak Hasyim buat memberitahukan keadaanku pada rekan kerjanya.
"Kemana saja ngana seminggu ini?"
"Cari getah damar."
Arfa menatapku penuh curiga. Tatapannya seperti polisi penyidik perkara kriminal yang diliputi sejuta pertanyaan agar berita acara pemeriksaannya lengkap.
Aku mengeluarkan kantung damar dari dalam tas ranselku dan menyerahkannya pada Arfa.
"Kira-kira dijual dapat apa?"
Arfa memperhatikan isi kantung kain itu. Syukurlah aku punya bukti dan alasan kuat tentang kepergianku. Tak mungkin aku bilang terus terang padanya kalau aku galau kemudian tersesat di hutan. Ucapan Deya masih terngiang jelas di telingaku. Aku tak boleh lagi berteman dengan Arfa sebab dia telah bertunangan dengan perempuan itu.
"Sa bayar getah damar ngana berapa pun ngana mau, asal jangan ke hutan sendirian lagi. Sa resah tak bisa tidur karena ngana pergi terlalu lama."
Aku memasang wajah datar saja. Tak seharusnya Arfa mengkhawatirkan aku. Memangnya aku siapa? Seharusnya ia menjaga perasaan tunangannya saja.
"Kalau butuh uang, ngana tinggal bilang."
Bukan. Kau pasti tahu aku tidak pernah butuh uang, Arfa. Aku tak butuh apapun kecuali makan dan Tuhan telah mencukupinya. Bahkan bisa berlebih sebab aku gemar berbagi dengan tetangga dan teman. Tapi sekarang aku hidup sendirian tanpa tetangga maupun teman. Aku butuh mencari jati diri harus bagaimana.
"Kita duduk dulu di situ." Arfa menunjuk akan pohon besar yang nyaman untuk diduduki bersama. Ia memasang standar sepeda motornya, parkir dekat pohon cengkeh yang daunnya rindang.
Wangi cengkeh menguar di udara. Pohonnya sudah tinggi, namun bunga dan daunnya lebat. Ada beberapa batang pohon cengkeh liar yang sudah tua di tempat kami bertemu. Biasanya kami suka duduk berlama-lama di bawah pohon. Tanganku iseng memetik bunga dan daunnya lalu menggulung-gulungnya dengan menggerakkan kedua telapak tangan ke arah yang berlawanan bolak-balik. Wangi aromanya akan menempel lama pada telapak tanganku dan aku tak bosan menciumnya berkali-kali.
Baba pernah mengajarkan kami membuat minyak cengkeh untuk kebutuhan keluarga. Biasanya digunakan untuk pijat, diminum sebagai obat atau sekedar dihirup sebagai aromaterapi. Selain cendana dan kayu gaharu, aku suka wangi maskulin cengkeh.
__ADS_1
"Ngana sebenarnya kenapa? Tak setuju pada keputusan mama ngana terima uang kerahiman dan pindahkan makam baba?"
Aku tak menjawab. Kuhirup lagi wangi cengkeh pada telapak tanganku.
"Sa mengerti ngana punya perasaan. Tapi kita tak bisa buat apa apa. Kita harus taat pada hukum. Tanah itu bukan milik kita." Arfa kembali mengingatkan status tanah peninggalan baba itu.
"Aku tahu. Cepat atau lambat orang akan mengusirku apapun caranya." lanjutku apatis. Kuhempas daun dan bunga cengkeh itu dengan gerakan kasar.
Arfa terlihat menelan ludah. Memang tak ada yang bisa dilakukannya untuk memenuhi inginku meski sebagai teman baik ia benar-benar ingin melihatku bahagia.
"Semua orang benci saya."
"Tidak. Semua sayang ngana. Ngana hanya perlu mengerti sedikit keadaan su babeda sebab jaman berkembang. Mengalahlah sedikit supaya ngana bisa merdeka, lepas beban rasa besalah. Baba pasti paham kondisi sekarang su barubah."
Kondisi jaman memang telah berubah. Artinya, aku yang harus mundur mengikuti arus jaman?
"Makam baba su dipindah di tempat pemakaman kampung baru. Nisan ngana tetap dipakai untuk menghargai kecintaan ngana pada baba. Sa bisa antar ngana ke sana. Mau sekarang?"
Aku menggeleng. Belum siap terima kenyataan.
"Sa antar ngana pulang. Ngana pasti lelah dan butuh istirahat. Ngana masih boleh tinggal di rumah lama selama wilayah itu belum waktunya digali. Progresnya masih lama, kira kira 2 tahun lagi."
Arfa tersenyum culas, "Memang itu yang sa mau. Nanti kita dinikahkan bapak kepala kampung kah?" Dia berusaha merangkulku tapi aku menepis tangannya. Kami bukan anak kecil lagi yang oleh orang berangkulan dianggap suatu yang biasa.
"Ngana tak boleh dekat-dekat saya lagi. Ngana harus jaga perasaan tunangan ngana. Sabantar lagi ngana akan menikah."
Arfa mendelik, "Sapa bilang?"
"Deya."
"Dia datang dan coba ancam ngana kah?"
Aku tak menjawab. Arfa bisa baca sendiri bagaimana kelakuan tunangannya. Dari dulu mencemburuiku tanpa henti.
"Sampai kapan pun sa tak akan menikah dengan Deya. Kalau pun ngana tak mau menikah dengan saya, bukan Deya yang akan jadi istri. Sa akan cari perempuan lain yang lebih pintar agar sa punya anak tidak bodoh macam Deya."
"Jangan keras kepala. Orang tua ngana sudah melamar Deya."
__ADS_1
Arfa diam. Tampaknya ia tak mau lagi membahas masalah ini. Aku tahu dia bersikeras tidak mau dipaksa menikah dengan Deya. Alasan utamanya selain tak cinta, ia tak ingin keturunannya bodoh sebab yakin bahwa gen kepintaran katanya menurun dari ibu.
Kami saling diam. Aku menyibukan diri mengambil daun-daun cengkeh dan memilinnya satu per satu.
"Sa mau pindah kerja ke pulau Obi. Bulan depan. Ngana orang pertama yang sa kasih tahu soal ini. Rahasia ya. Sa punya keluarga pun tara kasih tahu."
Pindah ke pulau Obi?
"Ngana mau ikut? Kita bangun kehidupan baru di sana. Kita menikah. Ngana boleh buat apa yang ngana suka di sana. Boleh menenun, boleh berkebun dan boleh pula beternak. Apapun yang ngana suka bebas."
Aku menggeleng. Aku tak pernah kepikiran untuk lari dari tanah kelahiranku. Meski tak lagi jadi penjaga makam baba, aku belum tahu hidupku akan bagaimana setelah ini. Aku sama sekali tak punya rencana.
"Maaf, sa belum mau menikah. Belum siap." kataku lirih.
Arfa tersenyum. Dia berhati lembut dan selalu menghargaiku. "Sa akan tetap pindah ke pulau Obi. Di sana jabatan sa akan naik jadi kepala kelompok pekerja. Mungkin akan cari kuliah terbuka agar dapat ijasah dan bisa belajar sambil bekerja. Nanti kita tukar pesan lewat hp ya. Sa akan belikan satu hp buat ngana."
Dia menunjukan gawainya dan bagaimana cara berkomunikasi dengan benda pipih itu. Aku menggeleng dan malas memperhatikan. Aku tak tertarik pada benda pipih itu.
"Pokoknya ngana harus mau." Kali ini dia agak keras. Setengah memaksa.
"Ngana boleh cerita apapun ngana punya masalah. Kita akan tetap berteman dan berkomunikasi walau berjauhan. Cuma benda ini yang membuat kita bisa terhubung terus," imbuhnya dengan penuh semangat meyakinkan aku akan fungsi benda pipih itu sebagai alat komunikasi yang bisa menghubungkan orang dimana pun mereka berada.
Aku belum memutuskan apapun. Hatiku gamang. Sekarang aku hanya butuh ketenangan dan penerimaan diri. Makanya aku lebih banyak diam daripada menanggapi Arfa.
"Minggu depan sa ada undangan ke pesta teman di Maba. Ngana mau menemani?"
Aku tak menjawab. Bagiku pertanyaan Arfa itu adalah beban baru. Bagaimana mungkin aku pergi ke kota bersama tunangan orang. Orang akan berpandangan negatif dan makin membenciku.
"Jangan tambahkan beban pada sa punya punggung. Tak da baiknya pergi ke kota dengan tunangan orang."
"Maaf."
"Ngana jual saja getah damar itu. Nanti dibayar kalau sudah laku. Sa tara mau berhutang. Sekarang sa mau istirahat. Lelah sangat berhari-hari di hutan. Pohon damar hutan su langka." ujarku beralasan.
"Mari sa antar."
"Tak usah."
__ADS_1
"Sampai dekat rumah saja. Sa akan kembali ke mess karyawan. Janji! Sa tidak akan mampir jika ngana tak berkenan." Arfa mengambil sepeda motornya. Ia mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk huruf "V".
Arfa setengah memaksa mengantarku. Tak tega menolak kebaikannya. Lelaki itu begitu gigih memperjuangkan apa yang dia mau. Meski tak terlalu pintar, dia mau belajar dan berusaha lulus ujian persamaan demi karir dan masa depan yang lebih baik. Tak hanya itu, dia juga rajin mengumpulkan uang dan mau mencoba peluang-peluang bisnis baru yang dianggapnya bisa membuat pundi-pundi uangnya bertambah. Dia melakukan semua itu karena bosan hidup tertekan dalam kemiskinan.Dia bertekat untuk mandiri dan memiliki sesuatu dengan usahanya sendiri. Selain tabungan di bank, Arfa sudah punya 2 hektar kebun kelapa yang dikelola secara bagi hasil dengan salah seorang temannya. Hidupnya punya tujuan. Tidak seperti aku yang masih gamang dengan pilihan hidupku sendiri.