
Aku berjalan di belakang Fifi seperti seorang brides maid. Suasana di beranda dan halaman sudah ramai. Cepat sekali. Sudah ada tenda dan kursi-kursi entah dari mana asalnya. Ada pula 3 pot besar berisi bunga mawar yang ditaruh di atas meja dan sudut ruangan. Di atas meja panjang terhampar tumpukan kotak-kotak makanan dan berbagai barang bawaan pengantin yang dikemas dalam kotak-kotak transparan dengan list warna hijau dan emas yang tampak mewah.
"Acara lamaran sudah berlangsung." bisik ibu Yulia.
Aku senyum-senyum di balik kerudung hitam yang menutupi seluruh kepalaku.
"Nona Afifa Syarif dimohon keluar menemui calon suami." Pembawa acara memanggil dan mempersilakan aku masuk ke beranda.
Fifi mengacungkan jempolnya. Aku mundur ke belakang. Sementara Gadis itu yang berjalan dengan anggun menuju tempat dimana Salman, mama dan keluarga lainnya berdiri.
"Maaf, bapa dan mama semua. Bukan ini calon istri saya."
Ish, Bray langsung protes.
Semua hadirin kaget. Ramai saling berbisik menebak-nebak apa yang terjadi.
"Calon istri saya sedikit lebih tinggi dan kurus. Dia juga tak pernah berjalan dengan berjinjit dan mengangkat dagu."
Ups, kenapa dia bisa mengenalku sampai sedetail itu? Padahal pertemuan kami masih bisa dihitung dengan jari.
"Hah? Apa betul calon pengantin yang berdiri di depan kita ini bukan nona Fifa yang kita kenal?"
Hadirin riuh menebak-nebak. Sebagian menahan tawa. Sebagian bersorak sorai.
"Supaya hadirin dan calon pengantin pria tidak penasaran. Silakan nona calon pengantin dibuka kerudungnya apa betul anda nona Fifa."
Semua hadirin tertawa sekaligus terpukau dengan kecantikan Fifi saat dia membuka kerudung yang menutupi seluruh kepalanya dengan anggun. Gadis itu membungkukkan badan lalu tersenyum tebar pesona ke seluruh penjuru mata angin.
"Huuuu." hadirin bersorak.
Aku ikut terhibur sekaligus dag dig dug. Aku tak tahu apakah ini termasuk siasat Fifi atau memang bagian dari hiburan yang dibuat penyelenggara acara.
"Sepertinya saya lihat tadi ada gadis lain yang pakai baju pengantin bugis. Ayo dong keluar, nona Fifa. Calon pengantin pria sudah nggak sabar nih."
Fifi yang sudah kembali di sampingku mendorong-dorong aku agar melangkah maju.
__ADS_1
"Ternyata mas Bray nggak bisa ditipu. Dia sudah hapal banget lekuk tubuh kakak. Kayaknya udah bucin bingit dia sama kakak. Mungkin baunya dari jauh juga udah kecium." bisik Fifi sambil menutup mulut.
Hih, sebal. Ingin menghentakkan kaki namun urung kulakukan. Gigiku saling beradu karena geram. Anak cerewet ini kenapa balik lagi ke sini. Harusnya dia diam di sana saja mendampingi mama dan Salman. Bukannya membuat semua mata memandang ke arahku. Aku malu.
"Ayo jalan! Majulah, Kak!" Fifi mendorong-dorong tubuhku sambil berbisik dan senyam senyum. Menyebalkan sekali.
"Ayo, Nona Fifa. Tampakkan dirimu. Pak penghulu sudah sampai di halaman lo. Mas Firdaus sudah nggak sabar mau segera akad." Pembawa acara masih berkoar-koar dengan mikrofon.
Bu Yulia menggandengku dan menemaniku berjalan menuju mama dan Salman. Fifi mengikutiku dari belakang.
"Kita kayaknya mau di 'prank' lagi ini. Kira-kira yang sekarang berjalan ke sini nona Fifa bukan ya."
Hadirin bersorak sorai menyebut-nyebut namaku. Berasa seperti pemain sepak bola kampung yang dielu-elukan fansnya.
"Yang ini baru calon istri saya, Andi Afifa Syarif binti Andi Ahmad Syarif Syam." Bray memperkenalkan aku dengan yakin dan bangga.
"Dia sering melangkah dengan ragu dan malu-malu." tambahnya diiringi gelegar tawa pada hadirin.
Ya ampun. Aku malu sekali. Padahal yang hadir di sini hanya puluhan orang saja. Hanya keluarga Budhi Sanjaya, keluargaku, bapak kepala kampung, beberapa karyawan PT XY dan tetangga dekat rumah. Semua mata memandangku. Rasanya ingin tetap sembunyi saja di balik kerudung yang menutupi seluruh kepalaku ini selamanya. Aku menunduk. Sama sekali tak berani berjalan anggun dengan dagu terangkat sebagaimana Fifi.
"Boleh dibantu dibuka penutup kepalanya? Kita semua jadi saksi bahwa calon pengantin kita adalah Nona Afifa."
Mama yang membuka kerudung hitam penutup kepalaku. Sementara aku memilih menunduk. Tak seperti dugaanku, para hadirin tak ada yang berani berkata-kata. Ternyata aku diuntungkan dengan kedatangan bapak penghulu yang membawa tas besar bersama seorang asistennya. Perhatian semua orang beralih padanya dan suasana berubah menjadi formal.
Kujalani seluruh prosesi pernikahanku dengan hati yang cemas. Berkali-kali aku bersitatap dengan Bray yang tersenyum ke arahku. Dia tetap seperti Bidadari Halmahera jantan yang tampan rupawan. Senyumnya selalu membuatku luluh. Aku tak tahu apakah aku masih menginjak bumi atau dibawanya terbang di atas awan.
Pernikahanku berlangsung hikmat dan sederhana. Sama seperti pernikahan orang kampung lainnya. Prosesi akad nikah dilakukan sesuai syariat islam dan peraturan negara. Setelah selesai dilanjutkan tanda tangan buku nikah dan pembacaan ikrar sighat taklik talak. Tak ada hal istimewa yang bisa diceritakan. Apalagi suasana hatiku kosong.
Walimatul ursy berlangsung sederhana. Setiap orang datang memberi selamat dan dipersilakan menikmati hidangan nasi kotak yang disiapkan mama Hiya dan catering PT XY. Sesederhana itu. Tak ada prasmanan. Tak ada hiburan.
Sepanjang prosesi akad nikah tanganku digenggam mama. Nenek memberiku senyum dan anggukan kepala. Beliau mengusap kepalaku dan mengucapkan doa saat aku sungkem meminta doa restu setelah selesai akad nikah.
"Jadilah perempuan yang menjaga kehormatan diri dan keluarga, Sayang! Surgamu ada pada ridho suami." ucap nenek dengan bahasa dan suara yang lembut.
Sebuah pesan yang dalam dan berat. Aku tak tahu apakah aku sanggup melaksanakan pesan itu.
__ADS_1
Pak Budhi pun mengusap kepalaku saat sungkem. "Jaga Firdaus ya, Fifa! Maklumi kekurangannya dan cintai dia dengan seluruh hatimu."
Ah, kenapa pesan pak Budhi dalam sekali. Aku tak sanggup menghentikan aliran air mataku. Kata-kata ayah mertuaku itu diucapkan dengan agak terbata-bata. Beliau terlihat pucat. Garis-garis kelelahan memenuhi wajahnya. Beliau belum sepenuhnya sembuh dari sakit. Demi anak tunggal kesayangannya beliau rela melakukan perjalanan jauh ke tempat terpencil ini. Sungguh menyedihkan. Semua gara-gara Bray.
Selesai acara akad nikah dan sungkem, nenek, paman, dan pak Budhi langsung dibawa dengan mobil ke area kantor PT XY. Mereka bersama asisten pribadinya akan segera diterbangkan ke Makassar sore itu juga dengan helikopter. Rencananya pak Budhi akan menginap di hotel bintang 5 di Makassar sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya kembali Jakarta.
Mama, Fifi dan Salman masih tinggal di rumah kami sampai hari senin sebab ingin beramah tamah dengan para tetangga yang berdatangan ke rumah kami.
"Malam ini Fifa langsung saya boyong ke rumah dinas ya, Ma." pinta Bray sambil menggenggam tanganku.
Aku menghempasnya lalu mengambil tangan mama meminta perlindungan. Berharap beliau bilang tidak. Aku masih ingin di sini bersama keluargaku.
"Fifa sudah resmi jadi istri mas Firdaus. Kamu harus ikut ke manapun suamimu menghendaki, Nak." Seperti mengerti kecemasanku, mama menghibur dengan senyum. Namun mama tak bisa bilang tidak.
Mama mengambil tangan Bray lalu menyatukan tangan kami berdua dalam genggamannya.
"Mas Firdaus akan menjagamu, Fifa. Kamu lebih aman di dalam kawasan kantor yang penjagaannya ketat 24 jam. Jangan pernah temui Arfa lagi ya! Dia buronan polisi."
Aku langsung menatap tajam mata Bray. Pasti dia sudah mengadu yang tidak-tidak pada keluargaku hingga mereka setuju pernikahan ini diselenggarakan di sini dan dipercepat waktunya.
"Kamu sendiri tahu keluarga Deya pindah gara-gara dipermalukan Arfa. Mas Firdaus juga dipanah oleh Arfa dan panah itu mengandung racun yang sama dengan panah yang mengambil nyawa baba."
Aku tak bisa membantah apa yang diucapkan mama. Tapi aku jadi benci pada orang yang saat ini sudah menjadi suamiku. Dia mengambil kesempatan ini untuk mengurungku dalam kekuasaannya.
Mama mengalihkan pandangannya pada Bray.
"Jaga Fifa ya! Dia bukan gadis yang selalu patuh. Mentalnya masih sangat labil. Mama mohon perlakukan dia dengan baik. Beritahu mama kalau kalian ada masalah."
Bray mengangguk yakin.
Mama kembali memandangku. "Surgamu ada pada ridho suami, Fifa. Sepanjang tidak melanggar syariat Allah istri harus patuh pada suaminya. Kalau ada sesuatu harus dibicarakan bersama dan jangan jalan sendiri-sendiri. Kalian adalah satu. Ikatan pernikahan telah menyatukan kalian."
Aku mengangguk tapi tak yakin sanggup memenuhi permintaan mama. Ada kalanya aku masih ingin sendiri. Aku cinta Bray tapi hatiku belum percaya 100% bukan dia yang menghilangkan nyawa nuriku. Aku meragukan ketulusannya. Aku takut cintanya bertujuan untuk mengurungku dalam arena kekuasaannya yang besar. Seperti Bidadari Halmahera, semua pesonanya terlihat indah dari sudut manapun. Semua orang terjebak pada pesonanya. Namun cintanya mudah luntur dan akan berpaling setelah sang betina takluk dalam kekuasaannya.
Aku bukan pemuja cinta, melainkan hanya penikmat lagu cinta. Sekali lagi, aku ragu apakah sanggup mempertahankan cinta sampai maut memisahkan kami. Jujur aku tak pernah ingin menjadi istrinya. Dia seperti fantasi yang tak harus jadi nyata. Pernikahan ini adalah awal jalinan kisah hidup kami yang masih banyak menyimpan misteri. Kami belum saling memahami satu sama lain.
__ADS_1
Mama melapaskan genggamannya dan meminta Bray mengenggam tanganku. "Selalu ingat, kalian adalah satu! Harus saling jujur dan terbuka."
Kami berdua sama-sama mengangguk.