
Malam ini aku sulit tidur. Tubuhku makin lelah, kepala pening dan detak jantung tak beraturan iramanya. Sejak lepas isya dan makan malam aku telah berbaring di ranjang kayu buatan baba yang hanya beralaskan tikar pandan. Bukan kasur empuk atau bantal bulu angsa nenek yang kurindukan. Berkali-kali aku melafalkan doa tidur dan memejamkan mata, tapi selalu ada suara yang membangunkan kesadaranku. Entah itu suara obrolan polisi yang berjaga di beranda, patahan ranting, rintik hujan atau suara jangkrik dan serangga malam yang sebenarnya biasa terdengar mewarnai malam.
Krek. Suara kayu patah. Aku terkejut dan langsung terduduk memeluk bantal. Diam aku menata nafas dan irama jantungku yang tak beraturan. Kuperhatikan lagi dengan seksama sampai yakin tak ada suara lain yang mencurigakan terdengar setelah itu.
Kutarik selimut, membaca doa lalu mencoba tidur lagi. Begitulah yang terjadi pada diriku malam ini. Berkali-kali terkejut dan terbangun oleh sebab suara yang diterjemahkan otakku sebagai suara yang mencurigakan. Entah apa yang terjadi pada otakku. Kepalaku pening dan berat sekali.
Doa dan dzikir panjang kembali mengantar tidur. Tapi baru saja terlelap terdengar suara musik melankolis yang samar-samar mengiringi nyanyian Connie Mamahit, artis Manado yang lagu-lagunya sering disetel stasiun radio lokal. Rupanya polisi yang berjaga di beranda rumah tengah mengisi kebosanan dengan menyetel musik. Suaranya hanya samar-samar tapi bagi telingaku yang terlanjur sensitif dan hati yang kacau, suara itu membuatku merasa harus berjaga-jaga dari kemungkinan datangnya orang jahat yang akan menyelakai kami. Butuh waktu beberapa menit untuk menyadarkan diri bahwa keadaan aman. Tidak ada yang perlu dirisaukan.
Aku kesal pada diriku sendiri yang tiba-tiba takut kehilangan orang-orang yang kucintai. Takut kehilangan mama. Takut kehilangan Bray. Juga takut kehilangan Aga, burung nuri kesayanganku. Aku merasa pemanah misterius itu akan membunuh semua orang yang kucintai.
Daripada tak bisa tidur nyenyak, aku mengambil laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tak sempat tertangani hari ini. Lagu "Di dermaga" yang terdengar samar-samar kujadikan teman pengusir pikiran buruk yang membuatku sulit tidur. Kunikmati saja lengkingan nada suara Connie Mamahit dengan hati yang luas.
🎵Skarang cuma mata
Deng hati yang bicara
Sadiki lei somo bapisah
Lia jo pa kita inga inga di mimpi
Seka aer mata di pipi
Lenso warna putih basah deng aer mata
Kapal so tiop tiga kali
Kapal so lapas tali
Nakoda putar kamudi
Selamat tinggal kekasih
Kapal bajalan ngana masih di dermaga
Lambaikan tangan kong ba seka aer mata
Diatas kapal kita cuma babadiang
Kita pe hati inga inga pa ngana
Satu hari nanti kita pasti bale🎵
Ternyata konsentrasiku telah ambyar oleh rasa kesal dan sakit kepala yang kuderita. Aku bingung harus mulai kerja dari mana. Otakku bebal. Begini salah. Begitu juga salah. Alhasil tak ada yang bisa kukerjakan malam ini.
Tut tuuutt tuut. Kini suara gawaiku yang berbunyi. Seperti malam-malam sebelumnya panggilan telepon Bray yang selalu hadir mengisi malamku.
__ADS_1
Spontan bibirku melengkungkan senyum. Kuambil gawai yang kutaruh di meja samping tempat tidur.
"Assalamu'alaikum, Fifa. Lagi ngapain?" Suara serak nan menggoda itu terdengar masih bersemangat. Padahal ini tengah malam.
"Wa'alaikumsalam."
Aku menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan obrolan. Semangat Bray menular lewat gelombang suara yang merambat lewat gawai ini. Aku langsung duduk bersandar pada dipan sambil memeluk bantal.
"Baru aja buka laptop. Mau kerja tapi kepala pusing, mas Bray." keluhku yang memang jengkel dengan kelelahan dan kondisi mentalku yang rapuh.
"Kenapa?"
"Telingaku malam ini sensitif banget. Gampang banget kaget, takut, dan gelagapan walau hanya terdengar suara pelan. Dari tadi udah bolak balik terbangun 7 kali. Jadi pusing."
"Emmmm. Kamu punya obat tidur? Tapi eh jangan minum obat tidur deh. Nanti kebiasaan."
Bray terdengar ragu dengan solusi praktis yang dipikirkannya untuk masalah tidurku. Apa aku perlu mencoba obat tidur? Tapi Bray sepertinya ragu dan sangsi dengan solusi itu.
"Itu suara apa, Fifa?" Rupanya telinga Bray cukup peka mendengar suara lagu melankolis yang mendayu-dayu saat kami sejenak saling diam.
Aku tersipu, "Musiknya pak polisi. Di sini orang suka dengar lagu Manado yang melo melo begitu."
"Kamu terganggu dengan suara musik itu?"
"Kalau begitu sekarang kamu tutup laptop aja. Kamu butuh istirahat."
"Mas Bray sendiri sekarang lagi ngapain?"
"Baru selesai rapat buat persiapan besok."
"Tuh kan mas Bray nggak istirahat. Tuhan kasih sakit itu supaya mas Bray istirahat. Jangan kerja melulu."
Bray tertawa lepas. "Tumben kamu cerewet."
Ups. Spontan kututup mulutku sendiri. Kenapa aku berubah jadi cerewet ngurusin urusan Bray.
Ya sudah. Mulai sekarang aku diam.
"Kok nggak bersuara lagi? Itu musiknya kayak lagu cengeng tahun 80-an ya. Jadul banget."
Mana kutahu. Dengar musik populer masa kini aja jarang apalagi musik jaman nenek masih muda. Sejak kecil aku hidup di hutan. Tak ada siaran radio atau televisi. Pertunjukan musik pun tak pernah ada. Musik yang biasa kami dengar hanya nyanyian alam berupa suara serangga malam, nyanyian katak menyambut hujan, desir angin atau alunan suara burung-burung liar.
Sekarang di kampung baru orang mulai punya televisi dan gawai. Musik populer mulai sering terdengar dari perangkat elektronik yang mereka miliki. Masyarakat kami tidak statis, menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat sekitar. Mulai ada yang menyelenggarakan pertunjukan musik dan tari dalam pesta pernikahan atau kegiatan sosial masyarakat yang melibatkan orang banyak. Tapi aku tetap Fifa penyendiri. Jarang sekali terlibat atau tertarik nonton pertunjukan musik. Aku tetap lebih suka mendengar suara musik alam.
"Fifa, ngana masi hidup kan?"
__ADS_1
Aku sengaja diam. Memancing reaksi Bray atas diamku.
"Ayolah, Fifa. Jangan diam! Aku nggak marah kok kalau kamu cerewet memperhatikan aku. Malah seneng."
Hihihi. Ternyata Bray mengeluarkan jurus merengek manja. Sangat tidak cocok dengan karakternya yang berwibawa bak pangeran saat aku melihatnya menunggang kuda dan memegang busur panah di hutan. Berbeda juga dengan sikap tegasnya saat memimpin perusahaan.
"Serba salah." gerutuku seraya menahan senyum.
"Kamu nggak salah kok. Bebas aja jadi dirimu sendiri."
Oh tidak. Aku tetap harus jaga persepsi di depan Bray. Sulit untuk bersikap lepas jadi diriku sendiri.
"Ya sudah. Kita kan sama-sama butuh banyak istirahat. Tidur bareng aja yuk!"
"Duh mau banget tidur bareng. Dimana?" Bray merespon dengan antusias setengah tertawa.
Ups. Lidahku kesleo lagi. Dasar otak bebal.
"Bukan itu maksudku. Aku di sini tutup laptop lalu tidur. Mas Bray juga harus berhenti kerja dan tidur dalam waktu bersamaan. Itu tidur bareng yang kumaksud." jelasku gamblang agar dia tidak memelintir maksudku ke arah yang lain.
Bray masih tertawa. "Oh begitu ya maksudnya. Padahal aku sudah mikir enak tidur bareng kamu."
"Hush! Malam-malam pikirannya harus dibersihin, mas Bray. Sebelum tidur itu sebaiknya cuci tangan, cuci kaki dan cuci otak biar bersih jiwa raga." balasku setengah sewot.
Sisa tawanya masih terdengar. "Sekarang kamu sudah tutup laptop belum?" tanya Bray sambil mengendalikan laju sisa tawanya.
Kumatikan laptop. Memang percuma memaksakan kerja dalam keadaan lelah fisik dan mental begini. Hasilnya berantakan. Tidak akan optimal. Lebih baik tutup laptop.
"Sudah."
"Aku juga sudah matikan laptop." Tanpa ditanya Bray memberitahu bahwa dia telah melakukan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan.
"Mas Bray sudah baca doa tidur, belum?"
"Bismika Allahumma ahya wa bismika amut."
Aku tersenyum sendiri. Serasa sedang membimbing anak mau tidur. Hihihi.
Dulu baba selalu menanyakan hal yang sama sebelum aku tidur. Baba selalu mengingatkan bahwa mengakhiri hari dengan doa itu penting, sebab pada hakekatnya tidur itu adalah bentuk kematian kecil dimana jiwa kita berpisah dari tubuh untuk sementara waktu.
"Selamat tidur, ayang Fifa. Mimpi indah tentang kita ya. Muach." Dia kembali mengucap kalimat itu untuk menutup panggilan telepon.
Tak butuh jawaban. Tuuut. Panggilan langsung terhenti begitu saja.
Aku selalu tersenyum oleh ulah absurd itu. Sederhana. Tapi benar kata Fifi, ulah itulah yang sebenarnya kudamba dan kurindukan tiap tengah malam. Ajaib. Setelah mendengar mantra tidur yang diucapkan Bray aku selalu bisa tidur nyenyak.
__ADS_1