LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KABAR SALMAN


__ADS_3

Selepas shalat subuh aku membantu mama memasak di dapur. Kami berdua berbincang akrab sambil membuatkan sarapan untuk polisi yang telah menjaga kami semalaman. Pagi ini mereka akan pulang. Katanya penjagaan akan dilanjutkan oleh satpam yang diutus oleh PT XY.


"Sampai berapa lama rumah kita akan dijaga mereka, Fifa?" tanya mama sambil mengiris bawang merah untuk sayur bayam yang baru dipetik dadakan dari kebun belakang rumah dekat sumur.


Menu sarapan pagi ini sederhana. Ada nasi, sayur bayam, sambal bawang dan telur dadar. Kami memasak dengan menggunakan kayu bakar yang dikumpulkan dari ranting-ranting kering, daun kelapa kering, atau potongan batang pohon yang sudah tua. Kadang-kadang kami menggunakan arang kelapa bekas pembakaran yang merupakan residu dalam proses pengasapan kopra.


"Katanya mas Firdaus kita akan dijaga sampai pemanah itu tertangkap polisi."


"Apa kita harus bayar?"


"Kalau harus bayar ya kita bayar saja, Ma. Kita kan harus menghargai mereka yang sudah capek menjaga keamanan kita. Mama nggak masalah kan masak lebih banyak buat mereka?"


"Mama tak masalah kalau hanya soal masak, tapi kalau harus bayar mama tak punya uang."


Aku garuk-garuk kepala. Yah mau bagaimana lagi. Uang bisa dicari. Saat ini keamanan yang utama. Kami masih membutuhkan pengamanan karena aku cemas pemanah itu akan datang lagi membunuh semua yang kucintai.


Brak. Suara kayu jatuh mengagetkanku. Aku merangkul mama sambil memperhatikan dengan baik apa yang akan terjadi selanjutnya. Lima menit berlalu ternyata tidak ada apa-apa. Kulirik sekali lagi tumpukan kayu bakar itu. Tetap tidak ada tanda-tanda orang sengaja menjatuhkannya. Hanya tatanan yang kurang presisi yang menyebabkan sebagian ranting kayu mudah rubuh mengisi bidang kosong ketika diterpa angin.


Aku menarik nafas panjang lalu kembali melanjutkan obrolan kami, "Fifa ada uang dari nenek yang bisa dipakai buat bayar mereka untuk menjaga kita selama 3 hari ke depan, Ma. Hari jum'at kan kita sudah berencana pergi ke Makassar buat mengurus kepindahan sekolah Fifi dan menjenguk nenek. Mudah-mudahan sepulang dari Makassar polisi sudah berhasil menangkap pembunuh itu."


"Kalau kita berdua ke Makassar Aga sama siapa?"


"Fifa akan titip pada dokter Farhana dan dokter Hans. Kata mas Firdaus, Aga itu hasil penangkaran mereka. Mereka pasti akan merawat Aga dengan baik. Jadi tak akan ada masalah dengan Aga."


Mama tersenyum lega. Aga sudah menjadi bagian hidup kami. Aku senang mama mulai mengkhawatirkan nasib Aga.


"Semoga pembunuh itu segera tertangkap. Yang melaporkan orang besar, pasti polisi akan kerja keras dan cepat buat menangkap penjahat itu." ungkap mama yakin.


Aku tersenyum sinis, "Kalau yang lapor orang miskin tak bisa sokong biaya operasional polisi buat tangkap penjahat." jawabku realistis. Kenyataannya menangkap penjahat butuh biaya.


Mama membalas dengan senyum yang sama sinisnya. Sudahlah. Dalam tatanan masyarakat yang serba materialistis semua hal diukur dengan uang. Siapa yang banyak uang bisa membayar segala kemudahan hidup dan keberpihakan. Kami hanya mengekor keadaan saja. Semoga dengan dilaporkannya kasus percobaan pembunuhan Bray juga bisa mengungkap kasus pembunuhan baba yang selama ini gelap gulita dan terkesan tak ada yang mempedulikannya.


"Mama hari ini tidak akan kemana-mana, Fifa. Urusan kepindahan sekolah Fifi sudah selesai dibantu ibu guru Susi. Rencananya hari ini hanya mengurus rumah, berkebun, dan menganyam tikar saja."


"Fifa akan ke kantor yayasan."

__ADS_1


"Sendiri?"


"Akan ditemani salah satu satpam yang akan datang menggantikan polisi itu."


"Bayar juga?"


"Entahlah, Ma. Mas Firdaus yang atur semua. Nanti Fifa pastikan lagi bagaimana mekanisme pembayarannya kalau memang harus bayar. Tak perlu berpikir soal uang dulu, Ma. Fifa masih takut. Fifa merasa kalau orang yang memanah mas Firdaus kemarin masih mengintai kita."


Mama merangkulku dengan sebelah tangannya. Ikut merasakan kecemasan yang saat ini kurasakan. Panah menjadi momok buat kami, sebab benda itu pernah merengut nyawa orang yang paling kami cintai.


"Kamu masih ingat bagaimana ciri-ciri orang itu?" tanya mama penasaran.


"Wajahnya tidak terlihat sebab orang itu berboncengan motor dengan menggunakan helm yang wajahnya tertutup kaca gelap. Tapi perawakannya sedang. Sedikit lebih kecil daripada bapak kepala kampung."


"Pakai motor apa?"


"Motor honda seperti yang dipakai kebanyakan warga kampung. Tanpa plat nomor polisi."


Identifikasiku terhadap pelaku memang tak jelas. Kendaraan yang digunakan juga tak memiliki ciri khusus sama seperti kendaraan yang dipakai sebagian besar warga kampung. Wajah pelaku tak terlihat sama sekali. Keduanya beraksi dekat makam di pinggir kampung yang sepi dan pada saat itu tak ada orang lewat yang mungkin melihat pelaku dengan lebih jelas. Bukan hal mudah bagi polisi mencari pelaku berbekal informasi yang minim itu. Apalagi aku melihat pelaku menggunakan sarung tangan hingga mungkin tak ada sidik jari di batang anak panah yang bisa dijadikan petunjuk. Jelas aksi ini sudah terencana dengan rapi.


Aku membenarkannya. Begitulah kenyataannya. Sulit. Tapi aku tetap berharap tangan Tuhan menolong kami hingga pelakunya dapat cepat tertangkap.


Matahari sudah agak tinggi ketika dua orang satpam perempuan, Santi dan Tita, datang menggantikan polisi yang telah lelah menjaga kami semalaman. Mereka datang setelah sarapan selesai. Aku dan mama telah membersihkan kandang ternak dan memberi makan mereka. Kami sudah lama berniat menjual semua binatang ternak agar tidak merepotkan ketika ditinggal ke Makassar nanti. Kata mama tengkulak yang biasa membeli hasil pertanian kami telah bersedia membelinya dan akan diambil langsung sore nanti.


Kedua satpam perempuan bertubuh tegap itu terlihat sedikit ragu. Mungkin mereka sebelumnya membayangkan kalau rumah kami bukan gubuk kayu seperti rumah kebanyakan warga. Pencuri saja enggan melirik rumah kami yang sederhana ini karena memang tidak terdapat banyak barang berharga di dalamnya.


"Maaf telah merepotkan kakak. Beginilah keadaan kami. Mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan." Aku berinisiatif untuk menjelaskan apa adanya.


"Kami diperintahkan pak Firdaus menemani kalian di sini selama 3 hari."


"Ya. Sebab kami akan berangkat ke Makassar 3 hari lagi. Semoga kalian betah menemani kami. Ada kamar kosong milik adik kami yang sekarang tinggal di Makassar. Kalian bisa menempati kamar itu."


"Siap, Kak."


Aku mengantar mereka menaruh barang bawaan ke dalam kamar Fifi yang memang penampakannya lebih layak dibandingkan kamarku. Fifi punya kasur matras modern dan lemari pakaian. Sebenarnya bedanya hanya itu.

__ADS_1


"Hari ini salah satu dari kalian akan menemani saya. Satunya lagi menemani mama. Hari ini saya akan pergi ke kantor yayasan."


"Saya saja yang temani kak Fifa." Santi mengangkat tangan memilih menemaniku. Tita tidak protes. Artinya dia bersedia menemani mama di rumah.


Tiba-tiba mama menarik tanganku. "Ada kabar baik yang lupa belum mama ceritakan sama kamu, Fifa. Ayo duduk di beranda dulu sebelum berangkat ke kantor yayasan."


Aku mengikuti langkah mama. "Kakak-kakak boleh ikut ke beranda. Kami masih punya kopi dan pisang goreng buat camilan kita." ajakku.


Mama memintaku duduk di beranda. Padahal Aga yang telah melihatku sejak tadi minta perhatian, "Assalamu'alaikum, Cantik." sapanya berkali-kali.


Kujawab salam hanya sekali sambil melambaikan tangan. Setelahnya kubiarkan saja dia mengulang-ulang kata itu semaunya. Bukan aku tak peduli, tapi mama pasti punya hal penting yang ingin disampaikannya padaku. Wajahnya yang berseri-seri membuatku penasaran ingin segera dengar kabar baik itu.


"Hari minggu sore Salman pulang, Fifa. Menginap sampai senin subuh. Sayangnya dia tak bisa menunggumu datang sebab belum ijin cuti dari kantornya."


Aku terpaku dengan senyum. Sungguh. Ini kejutan yang menggembirakan. Kakakku yang menghilang belasan tahun kini kembali pulang. Sepertinya ia telah berhasil berjuang untuk pendidikan yang lebih baik di tanah Jawa.


"Salman sekarang dinas di Jailolo sebagai penyuluh pertanian." lanjut mama tanpa henti melepaskan senyum.


"Penyuluh pertanian?"


"Ceritanya panjang banget, Fifa. Dia bertahun-tahun ikut keluarga temannya kak Tari yang pernah jadi guru sekolah rimba. Keluarga mereka hidup pas-pasan tapi peduli pada pendidikan. Selama di sana katanya Salman kerja serabutan buat membiayai hidup dan sekolahnya. Lepas SMU dia diterima di sekolah kedinasan penyuluh pertanian yang biaya kuliahnya gratis. Baru lulus tahun lalu dan menjalani kontrak pegawai tidak tetap di departemen pertanian. Dia mengajukan diri untuk ditempatkan di sekitar sini. Akhirnya dapat penempatan di Jailolo." Mama bercerita dengan mata berbinar bahagia. Anak lelakinya yang hilang telah diketahui kabarnya.


"Salman datang bersama kawannya naik sepeda motor minggu sore. Katanya sebenarnya dia sudah berangkat dari Jailolo pagi lepas subuh, tapi sedikit bingung dan tersesat di hutan waktu mencari-cari rumah kita. Berkat tanya banyak orang akhirnya sampai juga ke sini."


Tak terungkapkan bagaimana rasa bahagiaku mendengar kabar ini. "Bagaimana tampang Salman sekarang?" tanyaku penasaran.


Mama tersipu. "Dia mirip babamu waktu masih muda."


Kurasa mata mama sudah agak rabun saking kangennya pada baba. Siapapun yang ada hubungannya dengan baba dibilang mirip.


"Kata mama, baba mirip kak Syarif waktu masih muda." sanggahku dengan sedikit mengerutkan dahi membayangkan seperti apa wajah kakakku sekarang. Terakhir bertemu ia terlihat kurus, berwajah tirus, dan memiliki mata tajam. Agak sulit membayangkan bagaimana rupanya sekarang.


Mama tersenyum malu-malu. "Salman dan kak Syarif memang agak mirip."


Benarkah? Agak sulit otakku merekayasa wajah Salman. Apalagi kalau dimiripkan dengan Andi Syarif. Tapi aku perlu membuktikan dulu sebelum mengklaim mata mama rabun. Bagaimanapun kami masih bertalian darah sehingga mungkin saja ada kemiripan fisik antara Salman dan Andi Syarif.

__ADS_1


"Salman meninggalkan nomor telepon. Kamu tunggu sebentar ya! Mama ambil catatannya di kamar. Segera coba hubungi dia!" kata mama antusias sambil berjalan ke kamarnya mengambil catatan nomor telepon Salman.


__ADS_2