
Langit sudah gelap dan aku masih bergelut dengan setumpuk dokumen yang disiapkan pak Taqi di atas sebuah meja kayu jati tua yang tampak kokoh penuh wibawa. Masih banyak dokumen yang harus kuanalisa dan kupelajari. Lelah. Aku merenggangkan tubuhku lalu menggerakan leherku ke kanan dan ke kiri sampai berbunyi krek.
Setelah otot sedikit melemas, kusandarkan kepala dan tubuhku pada sandaran kursi yang berlapis kulit lembut berwarna hitam. Iseng kugerakan kursi berputar ke kiri dan ke kanan layaknya anak kecil yang punya mainan baru berupa kursi putar. Norak. Mencoba menikmati bagaimana rasanya duduk di kursi mahal yang katanya ergonomis.
Duduk di kursi direktur utama yang terlihat mewah dan nyaman itu ternyata tidak seenak bayangan orang. Kursi ini sama sekali tak pernah ada dalam impian seorang Afifa Syarif. Terpaksa harus kujalani tanggung jawab dadakan ini demi ibu dari ayah yang sangat kucintai. Aku tak sanggup mengecewakan nenek yang sudah terlanjur berharap banyak padaku.
Tak lama setelah rapat selesai nenek harus kembali pulang ke rumah. Kondisi kesehatan nenek sudah tak memungkinkan untuk banyak melakukan aktivitas. Apalagi melakukan pekerjaan yang menguras energi dan pikiran. Mau tak mau aku yang masih muda ini yang harus menuntaskan segala masalah yang terjadi di perusahaan ini.
Sepeninggal nenek pak Taqi mengajakku meninjau kebun yang paling dekat dengan lokasi kantor untuk menyaksikan bagaimana proses panen lada yang tengah berlangsung di sana. Kusaksikan dari kejauhan di sepanjang jalan lintas kebun para pekerja harian bersemangat memilih lada yang telah matang dan memetiknya dengan gunting khusus. Mereka memasukan tangkai buah lada yang bergerombol ke dalam keranjang bersih yang dibawanya. Selanjutnya tangkai-tangkai biji lada yang telah matang itu dibawa ke pabrik lalu dimasukan ke dalam mesin perontokan secara hati-hati supaya buah lada tidak rusak selama proses ini dilakukan. Buah yang sudah rontok langsung masuk ke dalam kolam dan direndam dalam air "Perendaman itu fungsinya untuk mencegah perubahan warna." jelas pak Taqi.
Kami berjalan lagi meninjau proses selanjutnya. Buah lada yang telah rontok dan basah kemudian masuk ke dalam mesin pengayak untuk dipisahkan dari biji buah lada yang kecil, tidak matang dan lada menir untuk menjaga mutu lada yang dihasilkan. Buah lada yang telah disortir dimasukan kembali ke dalam keranjang besar dan ditutup untuk menjalani proses selanjutnya, yaitu perendaman. Proses ini dilakukan dengan memasukan keranjang lada ke dalam kolam khusus perendaman yang airnya mengalir. Ada petugas yang bertanggung jawab memastikan seluruh permukaan keranjang harus terendam air dan pompa terus mengalirkan air ke dalam kolam sehingga sirkulasi air tetap terjaga. Proses perendaman menurut pak Taqi dilakukan sekitar 5 sampai 7 hari sampai kulit lada menjadi lunak sehingga memudahkan proses pengupasan atau pemisahan kulit dari biji.
Proses pengupas dilakukan oleh mesin pengupas yang hasilnya langsung dibawa conveyor ke kolam pencucian air bersih untuk menghilangkan sisa-sisa kulit sebelum masuk ke tahap pengeringan.
"Temperatur oven harus stabil di bawah 60 °C, untuk mencegah kehilangan minyak atsiri yang terkandung dalam lada supaya aroma dan rasanya terjaga. Lada harus dikeringkan sampai kadar air di bawah 12%." terang pak Taqi ketika kami berada di area pengeringan lada. Aku menyimak saja pelajaran baruku tanpa banyak bicara.
Selain menyaksikan proses pengolahan hasil panen lada yang panjang kami berbincang tentang banyak hal, termasuk kerisauannya dengan kebijakan-kebijakan Gufron yang bertolak belakang dengan kebijakan almarhum kakek.
"Baru kali ini karyawan akan dapat bonus lagi, Non. Terima kasih ya. Mereka pasti tambah semangat kerja dan berdoa agar perusahaan tambah maju. Maklum sudah lama sekali kami tak terima bonus. Terakhir dapat bonus waktu almarhum daeng Syam masih hidup."
Aku mengernyitkan dahi tanpa bicara meski hatiku hendak bertanya kenapa.
Pak Taqi mengajakku kembali ke kantor setelah selesai memperlihatkan dan menjelaskan proses pengolahan lada dengan jelas dan gamblang.
"Hasil panen memang tak selalu baik karena faktor alam, usia tanaman, dan kelalaian atau kegagalan kami dalam upaya pemuliaan tanaman. Tapi kalau dihitung general tiap tahun selalu ada untung."
__ADS_1
"Kenapa cashflow buruk? Untungnya dikemanakan?" tanyaku spontan. Tanganku sibuk memutar-mutar pulpen menghibur diri agar tak merasa terbebani dengan tanggung jawab baruku.
"Katanya sih buat pengembangan usaha. Pak Gufron perlu beli lahan sawit."
"Kok katanya. Jawaban bapak kayak nggak pasti begitu. Pak Taqi kan direktur operasional. Harusnya tahu segala hal mengenai operasional perusahaan dong." protesku dengan nada datar saja. Tidak bermaksud menyudutkan tapi memancingnya untuk bersikap defensif dan mengeluarkan lebih banyak informasi yang tidak aku ketahui.
"Belinya kemungkinan tidak atas nama perusahaan, Non. Tapi saya punya bukti rencana kerja, permohonan dana untuk pembelian lahan sawit dan bukti transfernya. Masalahnya sampai sekarang legalitas lahan belum kami pegang."
Aku menghembuskan nafas kasar. Ada lagi masalah yang berkaitan dengan kelakuan Gufron. Aku makin penasaran apa saja sepak terjang anak itu selama ini. Instingku menyebarkan prasangka buruk yang dalam waktu sekejap sudah memenuhi otak. Aku berusaha mengenyahkan tapi pikiran buruk itu datang dan datang lagi. Apalagi didukung oleh informasi yang cenderung menunjukan kelicikan adik sepupuku itu dalam menguasai harta peninggalan kakek. Sulit buatku tetap berprasangka baik pada adik sepupuku itu.
"Non Fifa bisa cek buktinya di kantor. Terus terang selama ini saya tak berani menanyakan bagaimana perkembangan legalitas lahan sawit itu. Tanda tangan AJB dan urusan lain sama sekali tak melibatkan kami. Jadi agak sungkan menanyakannya. Apalagi posisi beliau kan pjs direktur utama dan perwakilan owner. Bagian keuangan hanya diminta transfer ke rekening salah satu perusahaan besar di Jakarta."
Kelakuan Gufron memang mencurigakan. Dimulai dengan sikap dingin dan acuhnya padaku, rencana penjualan kebun yang merupakan aset utama perusahaan ini, sampai berangkat ke Jakarta tanpa pamit. Semua itu kuanggap tak wajar namun aku tak bisa menunjukan sikap. Walau dia tak pernah menunjukan sikap ramah namun tak pernah bersikap kasar terhadapku. Hanya dingin yang kurasa.
"Nenek tahu tentang hal ini?"
"Saya tidak mau membuat ibu cemas. Sejak daeng meninggal ibu sudah beberapa kali masuk rumah sakit. Sering bermasalah dengan jantungnya. Bulan lalu ibu baru saja operasi pemasangan ring."
Benar. Sudah seharusnya nenek tak terbebani dengan masalah. Beliau sudah terlampau rapuh. Aku lihat sendiri bagaimana nenek harus rutin minum obat. Waktu istirahatnya pun diatur sedemikian rupa menurut anjuran dokter. Jenis makanannya sering dibedakan dari menu yang dikonsumsi penghuni rumah yang lain. Bi Ima dan bi Siti bergantian mengingatkan jadwal makan, minum obat dan istirahat. Terlepas dari raganya yang telah begitu rapuh nenek masih memiliki kemampuan berpikir yang prima. Aku sangat bangga padanya.
"Saya tak bermaksud mengadu domba, Non. Hanya menceritakan fakta mengenai kondisi perusahaan ini setelah daeng Syam meninggal."
"Saya malah tak tahu apa-apa." keluhku sambil tersenyum kecut. Bahkan rupa kakekku tak pernah kulihat kecuali dari foto-foto keluarga yang terpampang di dinding rumah.
"Kalau dilihat dari cara mengelola perusahaan ini, kelihatannya tuan Gufron ingin mengambil alih harta warisan daeng Syam. Keinginan itu agak terbentur oleh wasiat tertulis daeng Syam yang tersimpan di notaris agar warisan dibagi secara adil menurut syariat islam untuk istri dan kedua anak lelakinya. Nona harus hati-hati. Ada yang bilang terbunuhnya daeng Syarif ada kaitannya dengan penguasaan harta warisan."
__ADS_1
DEG. Aku kaget dan terhenyak. Berani sekali pak Taqi melontarkan tuduhan itu. Walaupun sempat terpikir hal yang sama, aku justru berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu.
"Maaf, Non! Sekali lagi bukan bermaksud mengadu domba. Hanya mengingatkan agar non Fifa waspada. Kami mencintai perusahaan ini, karena itulah kami berharap non Fifi langgeng memimpin perusahaan sesuai amanah daeng Syam. Bagaimanapun juga kami selama ini hidup dari sini. " Pak Taqi menunduk.
"Terima kasih atas informasinya, pak Taqi. Insya Allah saya akan selalu waspada. Semoga gosip tentang Gufron salah."
Di depan orang lain aku harus tampak solid. Gufron adalah saudara sepupuku. Aku tak bisa menelan informasi mentah-mentah tanpa bukti dan analisa logis meskipun instingku sudah menduga hal yang sama.
Pak Taqi mengangguk lega. Seperti ada beban yang telah lepas dari kepalanya.
Aku melihat jarum jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Sesaat kemudian kulihat lagi tumpukan dokumen yang masih harus kubaca. Pulang sekarang atau lanjut ya? Aku tak terbiasa menunda pekerjaan. Apalagi Fifi akan datang besok. Anak itu pasti akan merengek mengajakku jalan-jalan.
Tut tuuut tuuuut gawaiku berdering.
"Kakak, aku sudah sampai bandara Hasanudin." Fifi melambai-lambaikan tangan dengan ceria di balik layar kamera gawainya. Ia berjalan santai di area bandara yang ramai dengan ransel di punggungnya.
"Alhamdulillah. Sudah ketemu kak Andi Syarif?"
"Belum. Ini masih di dalam bandara."
"Ikuti saja petunjuk jalan menuju pintu kedatangan."
"Iya. Sudah tahu. Semua orang kecuali yang transit juga jalan ke arah yang sama." jawabnya sok tahu.
Fifi terlihat percaya diri. Berjalan tegak tanpa sedikitpun keraguan. "Bandaranya besar dan mewah ya, kak. Senang akhirnya bisa menginjakan kaki di sini." katanya dengan sorot mata takjub.
__ADS_1
Fifi memang gampang terpukau oleh sesuatu yang mewah dan modern. Ia tampak bersemangat dan antusias sekali menginjakan kaki di bumi sultan Hasanudin ini. Berbeda dengan aku yang saat ini merasa lelah dan sangat terbebani dengan tanggung jawab yang mendadak harus kuemban.