LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
JAM 9


__ADS_3

Berkat dukungan Andi akhirnya aku membulatkan tekat menandatangani kesepakatan kerja sama itu. Andi berjanji akan bantu pengurusan legalitas yayasan, memberikan nasehat, dan menjamin aku bisa mengembangkan yayasan itu tanpa campur tangan perusahaan. Meskipun dalam tahap awal perusahaan mendanai 100% dana operasional, termasuk pembangunan fasilitas, aviary dan honor pegawai namun aku tetap ingin bebas dari segala macam intervensi yang tak ada kaitannya dengan kegiatan konservasi.


"Kak Andi harus ikut tanggung jawab ya." kataku setelah selesai menandatangani perjanjian kerja sama itu. Kutaruh pena di atas kertas perjanjian bermaterai yang telah selesai ditandatangani kedua belah pihak.


"Aku pasti akan menjalankan fungsiku sebagai pengawas dan rekan kerja. Tapi kayaknya akan tambah bersemangat lagi kalau ada dukungan anggaran buat advisor atau quality controlnya." Andi tertawa sambil mengerdipkan mata.


Bray langsung sigap menanggapi, "Boleh. Tambahkan anggaran buat quality control, kak Hisyam. Khusus buat saudara kita Andi."


Kedua pria itu tertawa lalu saling berjabat tangan erat bolak balik seolah mereka berdualah yang melakukan kesepakatan. Aneh. Padahal akulah yang tanda tangan dan bertanggung jawab sebagai pengurus yayasan konservasi itu.


"Wow. Terima kasih, pak Direktur. Senang bisa kenal dan bekerja sama dengan anda."


Dasar penjilat. Aku benci ucapan Andi itu. Sudah kepalang basah kutandatangani kontrak kerja sama itu, kalau belum mungkin aku butuh waktu berpikir beribu-ribu kali untuk menerima tanggung jawab itu. Aku curiga mereka berniat menjebakku. Ini cuma proyek akal-akalan agar perusahaan dapat lolos asessment green company. Setelah tujuannya tercapai mereka akan pergi membiarkan aku sendirian mengelola yayasan itu. Ibarat pemancing, setelah mendapatkan ikan maka umpan tak lagi penting kecuali untuk mendapatkan ikan berikutnya. Begitu karakter pengusaha. Yang dipikir hanya cuan cuan dan cuan.


Kepalang tanggung, mau mundur pun percuma. Lebih baik luruskan niat dan berusaha melakukan yang terbaik. Tuhan akan membukakan jalannya dari arah manapun.


Bismillah, dengan niat baik aku akan berjuang sekuat tenaga meskipun tanpa bantuan mereka. Demi lestarinya lagu cinta burung-burung di hutan Lolobata aku akan berusaha keras agar selanjutnya kegiatan konservasi bisa dikelola mandiri. Semoga anak cucuku kelak masih bisa melihat indah bulu burung-burung cantik yang terbang bebas di antara pepohonan dan langit biru. Mereka bisa menyaksikan tarian eksotis bidadari halmahera yang sedang merayu pasangannya. Semoga mereka juga masih bisa mendengar suara serak burung paruh bengkok menceritakan kisah bahagianya dan nyanyian burung-burung kecil melantunkan tasbih pada sang Pencipta.


Aku sadar jaman sekarang segalanya tidak gratis. Tak ada tambahan pekerjaan yang benar-benar dilakukan secara sukarela. Begitulah perilaku orang modern yang telah mengenal konsep uang. Biar bagaimanapun aku harus memaklumi bila Arfa, Andi dan yang lain bekerja untuk uang dan akan lebih memihak pada siapa yang punya uang.


"Kamu juga bisa bergaji kok, Fifa. Selama kamu terjun di operasional harian, jerih payahmu pantas dihargai." ucap Bray kemudian.


Aku memilih diam tanpa ekspresi. Tak tahu harus senang atau miris dengan semua ini. Sungguh, aku tak berharap uang dari aktivitas konservasi yang kuanggap sebagai hobi. Kopi pahitku tetap terasa pahit di lidah melihat Bray tersenyum penuh kemenangan. Mungkin ia sedang mengejek dan menganggapku kalah lagi, tapi aku yakin yang kalah sesungguhnya adalah egoku. Dalam hidup kita selalu butuh orang lain yang mungkin saja berbeda pandangan dengan kita. Menerima bantuan untuk suatu tujuan mulia bukan pula suatu kesalahan. Aku yakin dengan niat baik dan kerja keras upaya pelestarian burung-burung khas hutan kami akan tetap berlangsung dengan atau tanpa peran perusahaan yang bagiku telah merusak tatanan hidup dan alam wilayah kami.


"Besok bisa datang ke kantor?"


"Tidak. Dalam 3 hari ini saya masih harus bantu mama panen kelapa dan mengolah kopra di kebun."


"Oke, tidak masalah. Kamu boleh datang kapan pun kamu bisa."


Akhirnya dia mulai memaklumi mauku. Aku tak sudi diatur-atur. Bukan pengusaha kaya saja yang punya kesibukan. Orang biasa juga bisa sibuk. Yang tidak punya kesibukan hanya pengangguran dan orang yang malas beraktivitas. Apapun urusannya, bagiku prioritas yang harus diutamakan adalah sesuatu yang ada hubungannya dengan mama.


"Kamu beruntung sekali, Fifa. Bos besar sampai bersedia menyempatkan waktu ke sini demi kamu."


Itu bukan suatu keberuntungan. Mereka datang karena butuh aku buat umpan ikan besar yang diincarnya, yaitu kerja sama dengan perusahaan baterai mobil listrik paling terkenal di Amerika dan eropa. Setelah dapat ikan yang diharapkan, aku pasti diabaikan. Tapi aku akan menyiapkan diri untuk konsekuensi itu.


"Terima kasih sudah datang. Silakan dicicipi lagi! Maaf suguhannya hanya kopi dan keladi." ucapku sedikit berbasa-basi sebelum kembali menghirup kopi hitamku.

__ADS_1


Bray tersenyum, "Aku suka minum kopi asli tanpa gula begini. Racikannya pas. Meskipun pahit di lidah tapi kopi tanpa gula baik buat kesehatan. Seperti kamu yang keras kepala tapi bisa meningkatkan suasana hati, energi, dan fungsi kognitif," seru Bray seraya tersenyum dan mengerdipkan sebelah matanya. Ia menunjukan pada kami cangkir kopinya yang telah tandas.


Puih, apa pula maksud kata-katanya. Rayuan, pujian atau sindiran? Meski begitu aku merasa sedikit tersanjung juga.


Andi dan Hisyam ikut tertawa dan saling mengerdipkan mata setelah menengok ke arahku. Apakah pipiku tengah berubah menjadi buah tomat yang ranum?


Oh, tidak. Aku segera mengangkat wajahku dan memanipulasi perasaanku dengan pasang tampang serius. "Maaf. Sudah hampir jam 9. Waktu berkunjung sudah usai."


"Ngana usir kita?"


"Ya." tegasku tanpa basa basi.


Ketiganya kembali tertawa lepas. Entah apa yang dianggapnya lucu. Aku jadi salah tingkah. Apa yang salah ya?


"Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum." suara Aga kembali berbunyi memandakan ada tamu yang telah masuk halaman rumah kami.


Sang tamu mengucap salam. Langsung di jawab oleh seluruh tamu yang tengah duduk di beranda rumah.


"Ada banyak tamu rupanya. Kawannya Fifa?" Bapak kepala kampung menghampiri kami lalu duduk di salah satu kursi bambu yang kosong tanpa menunggu dipersilakan. Ia bersikap biasa layaknya pemilik rumah.


"Benar. Kami kawannya Fifa."


"Mantan suami mamaku." ralatku cepat. Aku tak ingin tamuku berasumsi menurut pikirannya sendiri. Aku sudah tak punya papa dan kami hanya tinggal bertiga di rumah ini. Hal itu yang perlu kutegaskan lagi. Aku tak tahu apa maksud bapak kepala kampung itu datang lagi ke rumah kami. Padahal jelas ia sudah menceraikan mamaku.


Bapak kepala kampung melirikku dengan tatapan tak suka dengan sikapku. Aku tak peduli.


"Mama su tidur. Kelelahan olah kopra di kebun seharian." jelasku kemudian.


"Ngana harus lapor kalau terima tamu, Fifa."


"Mereka akan segera pulang sebelum jam 9." sangkalku.


"Iya, bapa. Kami akan segera pulang." Bray, Hisyam dan Andi sama-sama telah berdiri dari tempat duduknya. Hendak mengulurkan tangan untuk pamit pulang.


Bapak malah meminta mereka duduk kembali. "Tara buru-buru. Ngobrol dulu dengan bapa. Belum ngantuk toh?" Bapak melirik cangkir-cangkir kopi yang telah kosong. Mungkin maksudnya meminta aku membuatkan kopi untuknya.


Aku pura-pura tak tahu apa maksudnya.

__ADS_1


Entah apa tujuan bapak kepala kampung datang lagi ke rumah ini. Pasti ada orang iri yang melaporkan aku kedatangan tamu.


"Kita pernah jumpa kah?" tanya bapak kepala kampung sambil cermat mengamati Bray dan mengingat-ingat sesuatu.


Bray tak bereaksi.


"Ngana anak bapak Budhi Sanjaya kah?"


"Benar."


Bapak tertawa senang bagai tertimpa durian runtuh. "Rupanya ngana kawan Fifa yang sering datang ke mari. Apa kabar ayahmu? Tara pernah kelihatan datang berkunjung ke sini."


Bray celingukan karena tidak merasa sebagai orang yang sering datang ke rumahku. Ini kali pertama.


"Papa sedang dirawat di rumah sakit internasional di Singapura. Kena serangan stroke bulan lalu. Mohon doanya, bapak."


"Ngana sekarang yang urus masalah tambang di sini?"


"Betul, Pak."


"Apa semua lancar?"


"Alhamdulillah lancar, Pak."


"Terima kasih sudah bantu bangun kandang burung besar di rumah kami. Fifa senang sekali. Dia itu stres sejak babanya dipanah orang di ladang. Belum lama burung nuri kesayangannya juga dipanah oleh panah beracun yang sama jenisnya dengan panah yang membunuh babanya."


Apaan sih bapak kepala kampung ini. Sok tahu. Selama ini dia mana peduli padaku. Kenapa malam ini tiba-tiba datang menemui tamuku dan bercerita seolah-olah dialah orang yang paling tahu tentang aku. Apa pula maksudnya dia bilang aku stres? Biar kawan-kawanku takut dan menjauhiku?


"Sudah jam 9. Pesan mama, tidak ada tamu apalagi laki-laki yang boleh berada di rumah ini lebih dari jam 9. Dengan berat hati saya minta, semua tamu meninggalkan rumah ini." Aku berdiri, mengusir dengan nada sopan.


"Sebentarlah, Fifa. Jangan ngana usir tamu-tamu kita."


"Maaf, bapa. Tadi mamanya Fifa memang berpesan demikian. Kami hanya boleh bertamu sampai jam 9. Mohon maaf kami pamit dulu. Kapan waktu mungkin kita bisa jumpa dan ngobrol lagi." Akhirnya Bray angkat suara membenarkan aku


Bapak kepala kampung terlihat kecewa karena Bray langsung berdiri mohon pamit. Ia melirikku dengan sorot mata seperti serigala yang siap menerkam mangsanya. Aku buru buru menghindari tatapan itu dengan membereskan meja lalu membawa nampan berisi piring dan perlengkapan minum kopi ke dalam rumah.


Bapak masih terlihat mencoba mengajak ngobrol Bray sambil mengantarnya sampai ke mobil. Aku menyaksikannya sambil berdiri di tengah pintu rumah. Setelah Andi melesat dengan motornya dan rombongan Bray bersiap menyalakan mesin, aku buru-buru menutup pintu.

__ADS_1


Brak. Tutup sudah kesempatan buat masuk rumah kami. Jangan sampai mama terbangun gara-gara kedatangan mantan suaminya yang tampaknya menyesal telah menceraikan mama. Apa dia datang malam ini untuk meminta rujuk? Tidak. Aku tak ingin mama rujuk dengan orang yang hanya memperlakukannya sebagai pemuas hasrat duniawi saja. Kami bisa hidup mandiri tanpa bantuan kepala kampung.


__ADS_2