LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
JURAGAN KELAPA


__ADS_3

Semula aku merasa harus melewati masa-masa membingungkan ini sendirian. Tak ingin merepotkan mama dan keluarga, aku hanya berkabar tentang hal-hal yang menggembirakan mereka. Segala kesulitan dan kebingunganku kupendam sendiri. Namun Tuhan mengirim dokter Farhana yang sudi datang membantuku melalui masa-masa sulit penerimaan diri. Dia mengupas masalah tanpa perlu memaksa


aku bercerita banyak.


Berkat bantuannya, aku bergabung dalam komunitas daring ibu-ibu muda yang sama-sama tengah menghadapi masa awal kehamilan pertamanya. Banyak cerita lucu dan masalah yang dicurahkan ibu-ibu muda itu. Ada cerita ibu hamil yang harus masuk rumah sakit karena kekurangan cairan akibat muntah yang berlebihan. Ada ibu hamil yang minta dukungan moril setelah terdiagnosis hamil anggur, toxoplasma, dan berbagai masalah kehamilan lainnya yang akhirnya terpaksa merelakan kehamilannya gagal dan harus menjalani tindakan kuretase. Ada ibu hamil konyol yang ngidam aneh dan sengaja merepotkan semua orang. Terlepas dari semua masalah itu, aku tak merasa sendiri sebab ada pula ibu hamil lain yang mengisahkan pengalaman aneh takut matahari.


Problema ibu hamil itu banyak. Tingkat keparahan dan problem masing-masing orang berbeda. Kurasa masalahku tidak terlalu berat. Ada ibu hamil yang tidak menginginkan kehamilan dan terpaksa melalui beratnya perubahan hormonal seorang diri. Sementara pria yang menghamilinya tidak bertanggung jawab dan keluarga membuang dirinya karena malu anaknya hamil di luar nikah. Sementara kehamilanku sangat dinanti keluarga suami. Keluargaku pun masih memberi perhatian dan mendukungku.


Masalahku sebenarnya berasal dari dalam diriku sendiri. Semua problem psikologisku disebabkan adanya keharusan menerima kenyataan yang berbeda dengan kehendak hati. Penolakan itulah yang memicu rasa marah dan sedih yang berkepanjangan.


"Saya lihat mas Firdaus sabar dan perhatian banget ya. Kamu beruntung punya suami kayak mas Firdaus lo, Fifa." dokter Farhana memuji Bray.


Aku mengangguk. Tersenyum saja meski hatiku tak sepenuhnya sepakat dengan apa yang dikatakan dokter Farhana. Aku curiga Bray tetap baik padaku hanya demi anak yang didambakan orang tuanya sebagai pewaris dinasti keluarganya. Dalam otakku dia adalah seekor bidadari halmahera jantan yang penuh pesona. Sebentar lagi sang bidadari halmahera akan menari dan menaklukan betina lain. Naluri burung bidadari halmahera jantan bersifat poligami. Kegemarannya menampilkan tarian udara yang indah, meluncur dengan sayapnya dan mengembangkan bulu pelindung dadanya yang berwarna hijau mencolok sementara bulu putih panjangnya di punggungnya dikibar-kibarkan. Sementara betina yang buruk rupa hanya dijadikan pemuas hasrat reproduksi belaka.


"Benar. Mas Firdaus itu suami idaman banget. Sudah ganteng, sukses, dan perhatian banget. Kalau ada satu lagi yang kayak mas Firdaus, aku pesan dong kak." Aryati menambahkan sambil tersenyum genit.


Spontan aku memukul Aryati dengan boneka beruang besar yang kubawa.


Bug. Gadis manis itu terkejut. Sebentar kemudian tersenyum, melirikku sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan dan mencatat segala urusan organisasi.

__ADS_1


"Kamu itu kerja yang bener. Jangan suka perhatian sama suami orang."


"Iya, Kak. Emang kalau punya suami kayak mas Firdaus itu harus galak ya, Kak. Banyak yang ngarep soalnya. Hihihi." Aryati cekikikan sendiri.


Hih. Kepalaku seperti tumbuh tanduk. Ingin menyeringai namun urung kulakukan demi wibawa. Apa yang dikatakan Aryati ada benarnya. Tanpa kusadari aku berubah jadi galak dan sensitif. Segala hal yang menyangkut suami adalah ancaman dan bisa cepat direspon dengan tindak impulsif.


Dokter Farhana tersenyum bijak lalu merangkul pundakku.


"Jangan masukan ke hati apa kata Aryati, Fifa. Mas Firdaus itu cinta mati sama kamu. Nggak mungkin berpaling, apalagi sama anak receh kayak Aryati."


Aryati masih cekikikan. Gadis itu sama sekali tak tersinggung dibilang receh. Dia juga tidak marah saat aku memukulnya dengan boneka besar. Apakah ia menganggap semua ini lelucon yang menunjukan keakraban kami? Harusnya lebih bijak bila aku menimpalinya dengan kelakar. Bukan dengan kemarahan.


Dokter Farhana sabar membantuku memahami keadaan dan mensyukuri kehadiran janin tak berdosa ini. Beliau telah banyak mengambil alih pekerjaanku di yayasan. Selain lebih ahli dan berpengalaman, dokter Farhana memiliki visi yang luas tentang konservasi burung. Kabar terbaru yang kami terima tulisannya tentang burung khas pulau ini baru saja dimuat di jurnal ilmiah.


Kedatangan Salman pasca mengundurkan diri dari tugasnya sebagai penyuluh pertanian di Jailolo membuat kesibukanku bertambah. Aku memiliki aktivitas baru yang membuatku lupa pada dengan kegelisahan akan kehamilanku. Aku memiliki kebiasaan baru mengunjungi Salman yang sering tinggal di rumah kampung kami untuk melihat perkembangan pembangunan pabrik pengolahan kelapa terpadu yang sedang dibangun di tanah keluarga kami. Rumah kami selalu ramai oleh mama-mama dan bapa-bapa yang berkumpul dan berbagi cerita tentang berbagai hal. Seperti biasanya aku lebih banyak menjadi pendengar cerita dan keluhan mereka.


"Ngana belilah kebun kelapa kita, Fifa. Kita betul-betul tak punya wang buat bayar utang dan kebutuhan sehari-hari. Lama-lama makin besar bunganya. Padahal harga kopra terus saja rendah. Pusing kita."


"Satu hektar tana di sini pasti murah buat orang kota. Tak banyaklah buat tuan Firdaus." tambah yang lain.

__ADS_1


"Ayolah, Fifa! Tolong beli tana kami! Kami bingung mau bagaimana lagi kalau harga kopra seperti ini terus."


"Ngoni tak suka jadi mitra kami saja, pak Frans? Bersabar sebentar sampai pabrik kami siap operasi."


"Sa su pusing ditagih utang bapa Sopa. Hasil panen yang sedikit tak bisa dinikmati keluarga. Su harus menutup utang dan bunganya yang terus bertambah. So bagaimana keluarga ngana bisa hidup?"


Ah, susah juga mencari solusi buat petani kopra yang sudah terlanjur terjerat utang rentenir. Pabrik butuh waktu untuk mengurus perijinan dan persiapan operasional. Sementara utang mereka terus membengkak karena bunga. Tak ada cara menolong mereka kecuali dengan membeli kebun mereka.


"Mau dijual berapa?" tanyaku.


"Lima puluh juta suda. Segitu harga pasar satu hektar kebun kelapa yang masih produktif di sini."


"Oke. Sa beli." Akhirnya aku menyanggupi membeli tanah tanpa menawar sepeser pun.


Tidak hanya satu dua orang yang menawarkan tanahnya. Yang lain ikut-ikutan menawarkan tanahnya dengan alasan yang hampir serupa. Sebab itulah aku menggunakan uang pribadiku buat membeli sekitar 20 hektar kebun kelapa yang dijual petani-petani yang putus asa setelah berbulan-bulan harga jual komoditas kopra bertahan dibawah nilai ekonomis. Bahkan pernah turun. Kata Salman, ini sebenarnya merupakan akibat dari euforia harga kopra yang tahun-tahun sebelumnya sempat menyentuh Rp 13.000 bahkan Rp 15.000 per kilo. Melihat kesuksesan petani bertanam kelapa, hampir semua petani di kampung beralih menanam kelapa. Saat pasokan melimpah harga komoditas turun di kisaran Rp 5.000 perkilo bahkan pernah sampai menembus harga yang tidak masuk akal, yakni Rp 3.500 perkilo kopra kering. Akibatnya petani merana.


Tak tahu bagaimana selanjutnya. Aku tak memikirkan keuntungan apa yang kudapat dari membeli kebun kelapa yang luas. Dasarnya hanya kasihan. Mereka terpaksa menjual lahan. Padahal di sisi lain mereka juga meminta kami menerima jasa mereka sebagai buruh pada perusahaan perkebunan kami dengan kontrak kerja yang menawarkan penghasilan yang tetap.


Ups. Rupanya mereka mengalihkan resiko pada kami. Bagi mereka lebih mudah mengelola penghasilan sebagai buruh. Jumlahnya lebih pasti dibandingkan dengan berkebun kelapa. Padahal Salman menawarkan solusi berkebun dengan metode polikultur agar terdapat diferensiasi produk. Sarannya dalam satu lahan petani mengkombinasi tanaman kelapa dengan komoditas cengkeh, kopi, pala, lada, atau rempah lain sebagai antisipasi penurunan harga komoditas dalam jangka panjang. Tapi tentu saja saran itu hanya berlaku bagi petani yang masih memiliki uang sebagai modal perubahan pola tanam yang tadinya didesain monokultur dimana petani hanya menanam satu jenis tanaman di lahannya.

__ADS_1


Usai pertemuan dengan petani kelapa tempo hari, Salman dan Bray langsung melakukan studi kelayakan dan perencanaan pembangunan pabrik. Kami akan menjalin kemitraan dengan petani sekitar dalam penyediaan bahan baku buah kelapa utuh yang akan diolah secara terpadu. Tentu ini dapat memotong rantai distribusi hasil panen, sebab kami membeli kelapa utuh langsung dari petani dan mengolahnya menjadi produk yang nilai ekonomisnya lebih tinggi. Produk utama pabrik yang akan dibangun adalah kopra dan VCO. Namun kami akan menggunakan teknologi modern untuk mengolah berbagai produk sampingan seperti sabut kelapa, briket arang batok kelapa, dan pupuk organik. Semua komponen dari buah kelapa tidak ada yang dibuang percuma. Daging buahnya diolah menjadi produk utama. Sabutnya dibersihkan menjadi sabut halus yang dapat dijual sebagai bahan baku pembuatan sofa atau produk lainnya. Batoknya diolah jadi briket arang. Sisa dari semuanya termasuk air kelapa akan dikumpulkan dan difermentasi menjadi bahan pupuk organik untuk menyuburkan kebun kami. Semua yang terdapat pada buah kelapa itu berguna dan memiliki nilai tambah ekonomis kalau dijual dalam bentuk produk olahan.


Upaya menerapkan ide pengembangan usaha perkebunan kelapa yang digagas Salman dimulai dengan tahan percobaan. Pabrik kami mulai dengan skala kecil. Yang penting cukup menyerap hasil panen kelapa warga kampung yang menjadi mitra kami. Kami tak ingin gegabah sebab sebagai pemain baru. Kami masih butuh observasi pasar produk dan memantau situasi persaingan. Tujuan utamanya bukan mencari untung, namun mensejahterakan petani kelapa dan mengedukasi warga mengenai pengolahan pasca panen.


__ADS_2