LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
FIFI


__ADS_3

Mata Fifi langsung berbinar cantik saat aku mengatakan bersedia memberinya uang untuk membeli baju baru sesuai selera fashionnya yang amat terpengaruh pada perkembangan mode yang sedang populer di media sosial. Ia berdiri memeluk dan mencium pipiku berkali-kali. "Terimakasih, Kakak. Fifi sayang kakak." ucapnya. Modus! Baik harus ada pamrihnya.


Aku tak bisa memaksa anak manja itu untuk meredam euforia anak kampung yang baru saja menginjakan kaki di kota besar. Apalagi selama ini ia cukup terpengaruh oleh kehidupan semu yang ditampilkan para influencer di media sosial. Bergaya hidup hedonis dan menganggap semua serba mudah.


"Kamu belum bertemu nenek?"


"Belum. Nenek sudah tidur waktu aku sampai. Pak satpam nyuruh aku langsung istirahat di kamar kakak." jawabnya malu-malu.


"Temui nenek dulu."


"Bareng kakak aja."


"Kakak masih harus mandi dulu. Nanti kita ketemu di meja makan."


"Kata kakak nenek biasa sarapan jam 6.30. Ini tinggal 5 menit lagi toh. Sarapan dulu aja, Kak. Temani aku. Aku masih takut-takut kalau menemui nenek sendirian. Kan belum kenal." rengeknya.


Aku kembali harus mengalah. Sarapan pagi adalah momen bersama yang sayang jika dilewatkan. Nenek biasa disiplin. Meski belum sempat mandi karena bangun kesiangan, aku memilih sarapan bersama dulu.


Kami bersama-sama berjalan ke meja makan. Nenek telah duduk di hadapan meja makan yang di atasnya tersaji beberapa pinggan kristal berisi roti dan pasta. Ada botol susu murni, keranjang buah-buahan dan setoples cococrunch.


"Selamat pagi, Nek." sapaku disambut senyum lebar nenek. Kucium pipi keriputnya kanan dan kiri.


"Ini Fifi, Nek. Dia datang semalam diantar kak Syarif. Nenek sudah tidur waktu dia sampai rumah."


"Nenek tunggu sampai jam 9 kenapa belum sampai?" tanya nenek dengan nada datar. Tak terlalu respek dengan kehadiran Fifi.


"Maaf, Nek. Fifi diajak jalan-jalan dulu sama kak Syarif keliling kota." Fifi menjawab dengan senyum santai. Ia mendekat pada nenek, mencium tangannya lalu cium pipi kanan dan kiri.


Nenek menanggapinya dengan dingin. Pagi ini suasana hati nenek terlihat kurang baik.


"Kak Fifa malah pulang pagi, Nek." lapornya mencoba cari perhatian dengan membandingkan waktu kepulangan kami.

__ADS_1


"Nenek tahu kakakmu kerja, bukan jalan-jalan."


"Kak Fifa mah emang begitu, Nek. Nggak suka jalan-jalan. Di mana-mana kerja melulu, kurang healing. Hihihi." Fifi menanggapi nenek dengan tawa santai.


Aku menarik kursi di hadapan nenek lalu duduk manis di atasnya. Fifi juga melakukan hal yang sama. Duduk di sebelahku dan menirukan apa yang kulakukan. Aku mengambil roti isi daging panggang beserta garpu dan pisau untuk memotongnya. Dia pun melakukan hal yang sama. Aku menuang susu segar ke dalam gelas. Fifi pun melakukan hal yang sama. Cerdik. Sepertinya ia sedang berusaha cari aman dari tatapan nenek dengan meniru aku yang sudah lebih dulu tahu kebiasaan di rumah ini.


"Hari ini sebelum ke kantor mampir dulu ke rumah yang akan kita sewa di dekat kedai sama pak Rodi ya, Fif. Kita akan pindah besok."


"Pindah besok?" Aku dan Fifi saling berpandangan mengucapkan kalimat tanya yang sama.


Nenek memang sudah berencana akan pindah tapi kenapa mendadak begini? Aku jadi bingung. Nenek tak berhenti memberiku kejutan tiap harinya hingga hatiku tak pernah bisa tenang.


"Pamanmu minta rumah ini dihibahkan padanya sekarang. Gufron marah karena tak bisa jual perkebunan milik kalian. Katanya dia sedang perlu uang banyak buat bisnisnya. Salah satu solusinya harus jual rumah ini. Pembelinya sudah ada. Tinggal proses legalitas di notaris dan pembayarannya saja."


"Mendadak sekali. Apa sudah dipikirkan kalau rumah ini dijual paman akan tinggal di mana. Ikut sama nenek di rumah yang akan disewa itu? Atau ..."


"Katanya sementara kost dekat tempat mengajarnya. Tahun ajaran besok ia akan mengajukan pensiun dini. Rencananya paman dan tantemu akan tinggal di Jakarta agar dekat dengan anak-anak mereka." jawab nenek pasti.


Aku jadi bertanya dalam hati, apa perselisihan masalah harta ini yang mungkin menyebabkan baba hampir tak pernah bercerita tentang keluarganya. Aku tak kan pernah dapat jawaban pasti tentang pertanyaan itu sebab baba sudah tak bisa kutanyai lagi. Pertanyaan yang kemudian bercokol di dalam otakku justru dipicu ucapan pak Taqi kemarin yang mengatakan bahwa ada kemungkinan baba dibunuh karena Gufron ingin menguasai harta warisan kakek. Motifnya jelas tapi cara kerjanya sulit masuk di akalku. Bagaimana dia tahu dimana baba tinggal dan mendapatkan pemanah yang racunnya khas lalu mengintaiku selama tinggal di rumah peninggalan baba sampai nuriku terbunuh oleh panah beracun itu. Bagaimana dia bisa seniat itu mengintaiku sampai bertahun tahun? Apa yang ingin dipastikan? Ah, pusing kepalaku memikirkan hal itu.


"Bi Ika, bi Siti dan pak Rodi akan tetap bersama nenek. Pekerja yang lain akan diberi pesangon dan ditawarkan bekerja pada pemilik baru. Mudah-mudahan mereka bisa menerima."


"Nek ..." Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Bingung mau ngomong apa. Rasa bersalah meliputi hatiku. Apa semua ini terjadi gara-gara aku datang ke rumah ini?


"Nenek tak perlu rumah sebesar ini, Fifa. Usia nenek sudah 73 tahun. Sudah bau tanah dan sakit-sakitan. Mungkin hidup nenek takkan lama lagi."


Aku jadi sedih mendengarnya. Aku ingin tetap bersama nenek pahlawanku. "Nenek jangan bilang begitu. Tetap sehat ya! Kami sayang nenek."


"Nenek juga sayang kalian. Tuntas sudah tugas nenek menjalankan amanah kakek buat memperjuangkan agar harta warisannya dibagi dengan adil. Perkebunan itu hak kalian. Gufron tak berhak memiliki apalagi menjualnya. Dia hanya diamanahi mengelola sementara. Justru seharusnya kita tidak menanggung beban kesulitan cashflow kalau Gufron bisa mengelolanya dengan benar."


Aku tak bisa membantah atau memberi saran apapun. Sekalipun aku tahu dan telah mengecek keabsahan bukti Gufron menyelewengkan dana perkebunan yang katanya dibelikan lahan sawit itu aku akan bungkam dan menyimpan informasi itu dari nenek. Tanpa diberitahu, aku yakin insting nenek mampu membaca gelagat ke arah itu.

__ADS_1


Menurut nenek menghibahkan rumah ini pada paman adalah keputusan yang terbaik. Tidak hanya buat kami, namun buat keluarga paman. Juga buat pekerja perkebunan yang telah loyal dan bekerja keras bertahun-tahun. Kupikir tadinya melepas perkebunan itu perkara mudah namun ternyata keputusan itu bisa berimbas pada nasib puluhan pekerja kebun. Pada akhirnya aku harus menerima tanggung jawab membenahi masalah yang tertinggal di perusahaan itu.


Rumah ini memang terlalu besar. Banyak ruang yang sehari-harinya tak dihuni. Biaya operasionalnya juga sangat tinggi. Keputusan nenek mencari rumah yang lebih kecil dekat kedai pasti sudah melalui pertimbangan matang. Rumah pesisir warisan kakek itu juga besar dan saat ini sedang disewa orang. Keputusan terbaik memang harus sewa. Kalau beli atau membangun rumah baru tentu butuh waktu lama. Padahal Gufron telah mendesak keluarga agar membantu menyelesaikan masalah hutangnya.


Fifi menyenggolku dengan sikunya. Aku menoleh. Dia mengisyaratkan sesuatu dengan kerdipan mata ke arah piring di hadapannya. Rupanya roti dan susunya telah tandas. Dia makan lebih cepat karena tak punya beban. Sementara aku lebih lambat karena pikiranku lari ke mana-mana. Rotiku masih tersisa separuh namun sudah teriris kecil-kecil.


Aku mengambilkan lagi sepotong roti daging dan kutaruh di atas piringnya. Fifi tersenyum riang. "Rotinya enak sekali. Berasa breakfast ala eropa. Aku boleh nambah kan, Nek?" ujarnya sambil tersenyum malu malu.


"Tentu saja boleh."


"Hari ini aku akan ikut kakak. Nggak apa apa kan, Nek?"


"Ikutlah kakakmu. Bantu dia sebisamu."


Fifi mengganguk. "Katanya nanti sore nenek dan kakak akan pergi ke pesta sepupunya kak Syarif. Apa aku boleh ikut juga?"


"Tentu saja boleh."


"Tapi aku nggak punya baju pesta."


Aku melirik ke arah Fifi dan menatapnya tajam. Anak ini mulai modus minta dibelikan baju. Padahal tadi kan aku sudah setuju akan memberinya uang. Harusnya tidak perlu ngomong seperti ini di depan nenek. Malu-maluin aja. Di saat seperti ini harusnya dia tidak menambah beban ekonomi pada nenek yang sedang butuh banyak uang untuk sewa, bayar pesangon asisten, dan pindah rumah.


"Nanti pak Rodi akan mengantarmu ke butik langganan nenek."


"Ke Mall aja, Nek. Pilihannya pasti lebih banyak. Aku maunya gaun ala ala korea yang lagi trendy. Bukan gaun klasik kayak baju kakak." tawar Fifi.


Aku masih melotot ke arah Fifi yang tak peduli pada reaksiku.


"Terserah kamu, tapi anggaran maksimalnya hanya sejuta. Tidak bisa lebih."


"Wow. Itu sudah banyak banget. Terima kasih, Nek." Fifi melonjak girang.

__ADS_1


Euforia yang dirasakan remaja tanggung itu masih belum usai. Anak kampung seusianya belum menyadari angka sebesar itu kecil sekali nilainya dibandingkan harga barang yang diinginkan. Paling cuma dapat sebuah gaun standar termurah sebuah brand kelas menengah. Tak sebanding dengan gaun yang dibelikan nenek dari butik langganannya tempo hari. Makanya nenek senyum-senyum melihat cucu ekspresi bungsunya. Dasar Fifi.


__ADS_2