LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
DEYA LAGI


__ADS_3

Senja itu aku kembali duduk di beranda depan rumah bersama mama menikmati teh hangat dengan ubi rebus sambil menganyam tikar dan tas pandan. Sekarang orang yang lewat tak terlalu leluasa melihat kegiatan kami karena terhalang aviary yang besar dan indah itu. Aku merasa amat nyaman beraktivitas di sini. Bisa menganyam sambil memanjakan telinga dengan nyanyian burung nuri dan murai serta suara gemericik air.


"Assalamualaikum. Apa kabar?" Begitu sapaku tiap hari tiap waktu pada penghuni aviary itu.


Tiap tamu atau siapa pun yang datang kubiasakan untuk menyapa demikian. Kalian pasti tahu alasannya kenapa, yakni supaya nuri itu terbiasa mendengar kata-kata yang sama hingga akhirnya kata itu terekam dalam ingatannya lalu dengan sendirinya nuri itu mencoba mempraktekkannya berulang-ulang sampai mahir. Makin sering satu kata diulang, makin besar peluang sang nuri mahir berkata-kata. Begitulah caraku melatih burung nuri agar pandai menirukan bahasa manusia.


"Tas dan tikar yang sudah jadi kemarin sudah diambil mama Sofia tadi pagi. Daftar tunggu yang sudah pesan tikar motif ketupat sudah 25 orang. Gimana memenuhi pesanan itu ya, Fa? Apa kita buka kesempatan mempekerjakan mama-mama yang mau belajar menganyam tikar pandan bermotif."


Kami memang kewalahan memenuhi order tikar dan tas pandan, tapi aku masih enggan mengundang orang lain belajar menganyam untuk membantu kami mempercepat proses produksi. Traumaku masih melekat. Aku masih enggan berhubungan dengan orang lain. Takut kecewa.


"Harga kebutuhan sehari-hari makin mahal. Banyak mama muda yang butuh tambahan uang untuk keluarganya. Mungkin mereka butuh pekerjaan yang bisa disambi momong anak seperti menganyam ini."


"Mereka belum tentu mau kerjasama dengan kita. Malas kerja sama kalau ujung-ujungnya malah jadi gunjingan orang."


"Tapi pesanan banyak, Fifa. Tak ada salahnya kita bagi ilmu dengan yang lain mumpung ada peluang. Pandangan orang tentang kita bisa berubah kalau ada peluang yang menghasilkan uang."


"Terserah mama. Mama saja yang mengajari mereka."


Mama geleng-geleng kepala mendengar jawaban anaknya yang terkenal keras kepala ini. Pembicaraan pun disudahi.


Cicit cuit burung murai batu melengking tinggi diiringi suara gemericik air yang mengeluarkan nada yang statis. Suara itu menambah semangatku bekerja. Menganyam tikar menjadi lebih cepat karena ditunjang oleh suasana hati yang nyaman. Kupikir begini saja sudah cukup, tak perlu bantuan orang lain. Biar saja yang order mengantri. Kalau mau menunggu silahkan. Kalau mau order ke pengrajin lain juga tidak masalah. Tidak ada kewajiban harus cepat memenuhi order, toh tikar bukan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi segera. Orang tak akan mati hanya karena menunggu tikar pesanannya jadi.


"Hai, Fifa." Aku mendongak ke arah suara tamu yang datang menyebut namaku dengan suara dingin.


Ternyata Deya dan mamanya. Moodku menganyam mendadak turun melihat keduanya.


"Assalamualaikum." Malah Aga yang bersuara seolah mengingatkan tamu untuk mengucapkan salam pada sang empunya rumah sebagaimana tamu-tamu yang lain.


Aku buru-buru menoleh dan tersenyum ke arah Aga. "Wa'alaikumsalam. Wow, kamu sudah pintar bicara Aga. So proud of you."


"Silakan masuk, Deya dan mama Deya!" Mama berinisiatif menyuruh tamu yang enggan mengucap salam itu masuk dan duduk di kursi beranda.


"Apa kabar? Ada gerangan apa singgah ke rumah kami."


"Kita mau tanya-tanya ngana punya anak gadis."

__ADS_1


Aku melipat tikar yang belum selesai kuanyam lalu ikut duduk di kursi beranda menemui tamu yang sama sekali tak kuharapkan kehadirannya.


"Ngana masih bateman dengan Arfa?" todong Deya. Pertanyaan itu sudah kuduga sebelumnya sebab itu yang selalu dia tanyakan tiap kali kami bertemu. Bosan.


"Masih."


Deya dan mamanya mencibir.


"Ngana tak punya malu kah bateman dekat dengan calon suami orang?"


"Selama tidak berbuat dosa, kenapa malu?" tantangku dengan nada datar dan santai. Aku angkat daguku dengan jemawa.


Dalam hati aku mengumpat. Seharusnya yang malu itu orang yang mengaku-aku sudah dilamar padahal sang pria tak sudi punya hubungan dengannya.


"Ngana tahu dimana Arfa sekarang?"


"Ngana tunangannya. Harusnya tunangan lebih tahu daripada teman."


Keduanya tersinggung dengan kalimat balasanku yang menohok. Tapi tak bisa menyanggah sebab begitulah logika yang seharusnya. Adalah aneh mengaku tunangan tapi tak tahu dimana calon suaminya.


"Dimana ngana sembunyikan Arfa?"


"Ngana pikir Arfa barang mati bisa sa sembunyikan. Geledah saja sa punya rumah. Cari saja sendiri apa ada Arfa di sini."


Mama mengelus-elus punggungku dan memberi isyarat dengan kedipan mata agar diam atau tak menanggapi dengan sinis.


"Jangan salah paham, Sayang. Mereka cuma bermaksud menanyakan kamu apakah kamu tahu dimana Arfa sekarang. Begitukah, mama Deya?" kata mama dengan nada lembutnya.


Kadang aku kesal punya mama yang terlalu sabar. Masih saja bersikap baik pada orang yang jelas-jelas datang mau cari perkara dengannya.


"Ngana punya anak tara sopan dan tempramental sekali. Pantas su tua tarada yang mau meminang."


Eh, Sompret. Pantasnya mulut itu disumpal dengan sambal cabai rawit jablai. Terbalik. Harusnya kata-kata itu lebih pantas dikatakan dirinya sendiri.


Dasar tak tahu malu. Mana ada sopan santunnya orang yang datang ke rumah orang lain buat nanya di mana tunangannya sambil marah-marah dan menghina tuan rumah.

__ADS_1


Untunglah aku sedang malas bicara. Kalau tidak ada mama, pasti kubalas kata-katanya dengan sindiran yang jauh lebih pedas.


"Setahu kami Arfa pindah kerja ke pulau Obi karena di sana dia dapat posisi jabatan yang lebih baik. Apa Arfa tidak pamit pada keluarga kalian?"


Ah, mama terlalu panjang berbasa-basi. Buat apa tanya Arfa pamit atau tidak pada keluarga tunangan palsunya. Mereka tanya kemari sudah pasti karena mereka tidak tahu. Kalau sudah tahu niscaya mereka sudah menemui Arfa tanpa perlu datang untuk menghinaku di sini.


Kedua anak beranak itu saling berpandangan. Kelihatan sedikit kaget karena sama sekali tak tahu kemana Arfa belakangan ini.


"Kalian tahu alamatnya?"


"Tidak. Coba hubungi saja nomor teleponnya."


"Telepon kami diblokir. Ganti nomor pun diblokir lagi."


Cih, tak tahu malu. Sudah macam nomor penipu saja diblokir-blokir terus. Aku ingin tertawa melihat kebodohannya. Mereka tak sadar ucapannya itu sama saja dengan membuka aib sendiri.


"Sudahlah. Kalau Arfa tak mau dihubungi tak usah memaksa. Terima saja kenyataan," kataku santai. Aku merasa di atas angin. Sebenarnya aku bisa saja mengeluarkan kata hinaan yang lebih menyakitkan. Tapi sudahlah. Aku tahu hati mereka mungkin tengah sakit.


"Bagaimana kita tara memaksa, siapa yang bayar hutang keluarganya kalau bukan Arfa. Harusnya dia tidak melarikan diri. Katanya punya uang banyak tapi tak mau bayar hutang orang tua."


Oh rupanya benar gosip mama-mama rempong yang bilang keluarga Arfa itu berhutang pada keluarga Deya. Arfa jadi jaminannya. Harus menikahi Deya. Aku jadi tertawa dalam hati. Kasihan sekali, mereka seharusnya tahu sejak awal bahwa Arfa pasti menolak kesepakatan itu. Ia tak mau bertanggung jawab atas apa yang bukan keputusannya.


"Maaf ya, mama Deya! Sebaiknya mama Deya selesaikan urusan ini sama keluarga Arfa. Bicarakan baik-baik bagaimana solusinya. Kami tak tahu menahu soal hutang piutang orang lain dan sama sekali tak punya hubungan kerabat dengan keluarga Arfa."


"Deya pasti akan menikah dengan Arfa. Sa cuma mau bilang, jaga anak gadis ngana jangan dekat-dekat sama calon suami orang."


"Mereka hanya berteman."


"Tara ada laki-laki perempuan murni berteman." bantah Deya diaminkan oleh mamanya.


Mama mengangguk-angguk karena ingin menghindari perdebatan. "Kalian sudah tahu Arfa pindah kerja ke pulau Obi. Dia tak pernah berkunjung ke rumah kami lagi. Mungkin Deya bisa menyusul ke pulau Obi kalau ingin jumpa Arfa." saran mama.


Keduanya diam. Entah kehabisan kata atau diam-diam malu melabrak orang yang salah.


_______

__ADS_1


Please, dukung karya ini ya🙏🏻


Selamat membaca


__ADS_2