LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
MENU KOREA GAYA EROPA


__ADS_3

Selepas shalat Isya, pak Rodi mengantar kami ke sebuah restoran korea di tengah kota. Sebelumnya Fifi dengan senang hati reservasi ruangan khusus VVIP sekaligus menu makanannya. Kami semua pasrah tak tahu makanan macam apa yang diidamkan adik bungsu kami yang tergila-gila pada apapun yang berbau Korea. Yang penting bagi kami merayakan kebersamaan yang sangat jarang terjadi.


Restoran itu merupakan sebuah bangunan modern yang mengaplikasikan desain kayu conwood sebagai dinding, lantai dan plafon ruangannya. Terasa adem dan sedap dipandang. Pada sebagian dinding terdapat tulisan-tulisan huruf hangeul yang rumit. Aku sama sekali tak mengerti bagaimana melafalkan atau memaknainya. Entah itu petunjuk, kata mutiara atau mantra.


Seorang pelayan mempersilakan kami masuk ruangan yang sudah direservasi dengan ramah.


"Kau tahu arti kalimat itu, Fifa?" tanya Salman


Aku menggeleng.


"Artinya orang jelek dilarang masuk." kata Salman sambil terkekeh.


"Eh ngaco deh kak Salman. Itu bacanya eoseo osibsio, artinya selamat datang." ralat Fifi sang pemerhati apapun yang berbau Korea. Matanya melotot seolah tak rela Salman melecehkan budaya panutannya.


Salman masih terkekeh. Sementara mama terpukau melihat indahnya interior restoran. Matanya berkeliling memperhatikan tiap sudut ruangan dengan pandangan takjub.


"Kalau itu bacanya apa?" Salman menunjuk lagi tulisan yang tergantung di sebelah lukisan istana yang di depannya banyak orang beraktivitas dengan mengenakan pakaian tradisional Korea.


"Nah kalau itu bacanya nappeun salam-eun heoyongdoeji anhseubnida, artinya orang jelek dilarang masuk." Fifi membalas dengan kalimat rekaan Salman


Kami semua tertawa.


"Di Korea tidak ada orang jelek sebab teknologi bedah plastik di negara mereka sudah sangat maju." Kini Fifi mulai berkomentar ngaco untuk mendukung argumen konyolnya.


"Jangan tersinggung ya, Fifa. Kamu tetap boleh masuk kok. Orang yang punya cuan lebih penting daripada orang yang pura-pura mengerti budaya Korea. Kita tahu dia cuma ikut-ikutan tren doang."


Fifi tersenyum sambil mengangkat wajahnya. Dengan percaya diri Fifi bertindak sebagai pemandu kami yang awam. Kakak pelayan mempersilakan kami duduk di depan sebuah meja persegi yang diatasnya sudah terdapat tungku pemanas makanan, berbagai saus, tisue dan peralatan makan seperti mangkuk kecil, piring, sumpit, sendok, garpu dan pisau.


"Sajikan sesuai urutan request saya ya, Oppa. Kami mau makan menu Korea dengan gaya makan orang eropa." kata Fifi pada pelayan yang khusus melayani ruangan kami.


Entah konsep makan apa yang dirancang oleh Fifi. Makan makanan Korea dengan gaya eropa. Aku belum bisa membayangkannya.


Fifi memasang tripod kecil dekat jendela. Diletakkannya gawaiku pada tripod itu sambil mengukur sudut pandang kamera yang paling pas. Saat kameranya on, pelayan telah kembali dengan membawa kue berbentuk ikan yang masih mengepulkan asap. Fifi tersenyum lebar.


"Makanan pembuka ini namanya bungoeppang ya, Guys."


Bagai seorang pemandu acara Fifi mempraktekan cara mengambil dan memakan kue manis berbentuk ikan yang di dalamnya terdapat selai kacang merah itu. Mengambil dengan menjepit kue menggunakan sumpit lalu memasukannya ke dalam mulut dengan gaya anggun.


Aku dan Salman baku pandang. Sama-sama tersenyum melihat tingkah adik bungsu kami yang sedang terobsesi dengan segala hal tentang Korea. Mungkin itu yang ditontonnya selama ini.

__ADS_1


"Padahal kue ini tak jauh beda dengan kue wafel yang biasa dijual di pinggir jalan kota Bogor. Cuma cetakannya aja yang berbentuk ikan dan dikasih nama Korea yang bikin lidah kita keseleo." komentar Salman dengan ekspresi biasa saja.


Aku dan mama yang baru pertama melihat dan merasakan kue itu tak berkomentar. Lidahku tak terlalu asing dengan rasa kue berbentuk ikan ini. Cocok untuk teman minum teh atau kopi hangat saat sore atau pagi hari.


Selanjutnya pelayan menaruh berbagai sajian makanan yang disebut Fifi sebagai makanan utama. Sebagian hidangan tersaji matang. Namun sebagian tampak masih mentah. Pelayan menyalakan kompor listrik yang menyatu dangan meja kami lalu menaruh panggangan di atasnya. Fifi cepat tanggap. Ia buru-buru mengoleskan lemak pada permukaan panggangan itu lalu menaruh potongan-potongan daging yang diiris tipis ke atasnya sambil mengoceh seperti sedang menjadi host program icip-icip makanan yang tampil pada acara televisi.


"Ini daging wagyu ya, kakak. Daging terbaik ini harus dioleskan ke saus barbeque dan minyak wijen dulu sebelum dipanggang. Kalau tidak suka terlalu daging berbumbu, bisa langsung dipanggang karena daging wagyu ini sudah dimarinasi dengan bumbu bulgogi."


Mama terlihat terkesan oleh ulah Fifi yang sok tahu. Beliau membantu Fifi menaruh potongan daging yang diiris sangat tipis ke atas panggangan. Sementara aku menahan senyum melihat ulah adik bungsuku.


Makan sambil memasak bersama keluarga mengasyikan. Kami menikmati peran kami masing-masing. Sementara mama dan Fifi sibuk memanggang daging, aku dan Salman membantu pelayan yang mengantarkan beberapa macam hidangan menatanya di atas meja. Ada sup hangat dalam sebuah wadah stainles. Ada nasi isi sayur dan daging yang digulung dengan semacam selaput warna hijau tua yang belakangan kami ketahui dinamakan kimbab. Dan ada pula sepinggan soun goreng yang katanya dinamakan tjapjae.


"Sup ini namanya apa, kak?" tanya mama sambil menyicipi sup tahu dengan campuran sayuran dan seafood di dalamnya.


"Sundubu jjigae, bu."


Mama manggut-manggut. "Supnya pedas." komentar mama diikuti senyum sang pelayan.


"Memang hampir semua makanan korea pedas, Ma. Ini ada cabai bubuk kering kalau kurang pedas." jelas Fifi sok tahu. Ia menunjukan wadah berisi serbuk kemerahan.


Mama mengernyitkan kening sambil angkat bahu.


"Ini namanya sannakji. Kakak mau coba ini?" Fifi memperlihatkan beberapa ekor gurita kecil yang baru ditaruh pelayan di atas meja. Gurita itu masih bergerak menggelepar-gelepar di atas sebuah piring.


Hoek, perutku langsung mual membayangkan betapa rusuhnya binatang bertangan banyak itu hidup di dalam perut.


"Ternyata enak. Kayak ada manis-manisnya gitu." komentar Fifi dengan mata merem melek. Tangannya mengacungkan jempol ke arah kamera.


Mama dan Salman tertarik ikut mencobanya. Aku tak tega memakan binatang yang masih hidup tapi tertarik ingin coba juga. Kuambil seekor gurita mini, kucelupkan di saus lalu dibakar di atas panggangan. Rasanya gurih dan ada manis-manisnya juga.


"Payah. Fifa nggak berani makan langsung. Padahal enak lo. Nggak bikin enek karena sudah dibumbuin." ledek Salman sambil mengambil satu lagi gurita dan mengarahkannya padaku.


Aku angkat tangan sambil geleng kepala. Salman terkekeh lalu menunjukan adegan menjijikkan itu di depan mataku. Huek. Mual kembali melanda sementara Salman tersenyum puas.


Kami menikmati makan yang tak biasa dengan suasana santai sampai semua makanan yang tersaji habis dan Fifi puas dengan rekaman video yang dibuatnya.


Makanan yang terakhir keluar sebagai makanan penutup adalah Patbingsu yaitu, es serut yang pada bagian atasnya ditaburi dengan kacang merah, alpukat, dan sirup. Rasanya segar diminum pada malam yang hangat ini.


Tuut tuut tuut, panggilan video otomatis menghentikan aktivitas perekaman video yang dilakukan Fifi.

__ADS_1


"Mas Bray." kata Fifi tersipu menutup mulutnya.


Dengan gerak cepat aku meraih gawaiku dan mematikan teleponnya.


"Kenapa dimatiin?"


Tak kujawab. Aku memasukan gawaiku ke dalam tas selempang kecil yang kubawa.


"Eh, kenapa dimasukin? Kirim dulu rekaman videonya ke aku." pinta Fifi tak sabar.


"Nanti aja dipindah ke laptop." jawabku.


Fifi mendekat hendak merebut gawaiku. Telepon berbunyi lagi.


"Angkatlah! Mana tahu informasi penting." kata mama menyerupai sebuah perintah.


Aku sedikit lengah memperhatikan mana. Fifi langsung merampas gawaiku.


"Halo, mas Bray. Selamat tidur. Mimpi indah tentang aku ya. Muach." Fifi memoncongkan mulutnya dan tangannya memperagakan adegan sebuah kecupan jauh.


Dengan tanpa rasa bersalah Fifi langsung menutup gawai. Tak peduli aku yang cemberut dan marah dengan tingkahnya yang tidak sopan. Dengan gerakan cepat ia mencari galeri lalu mengirim video yang tadi direkam ke nomornya.


"Nggak sopan. Sini!" aku merebut kembali gawaiku dari tangan Fifi.


Fifi cuma nyengir, "Maaf, kak. Video malam ini harus diedit dan diupload malam ini juga biar nggak basi."


"Tapi nggak gitu juga caranya. Nggak sopan. Bikin malu kakak."


"Ya sudah. Aku akan tanggung jawab minta maaf sama mas Bray. Mana teleponnya." Fifi kembali merebut gawaiku. Kali ini aku pasrah.


"Assalamualaikum, mas Bray. Ini Fifi. Minta maaf tadi Fifi yang ambil hp kak Fifa. Dimaafin ya."


Fifi kembali menyerahkan gawai padaku. "Sudah dimaafin. Nih ngomong sendiri sama orangnya."


Aku bingung dan malu karena ulah Fifi. Bukan hanya malu pada Bray, tapi pada Salman dan mama juga.


"Maaf ya, Mas. Kami sedang makan malam keluarga di luar. Fifi dari tadi bajak hpku buat syuting video"


"Video apa?"

__ADS_1


"Video keluarga. Dia buat konten yang judulnya makan malam dengan menu korea gaya eropa."


Bray tertawa kecil. "Ooh. Aku ganggu acara keluarga ya. Silakan dilanjut deh. Aku telepon kamu lagi nanti malam ya."


__ADS_2