
Dari Jim aku dapat pengalaman baru soal bagaimana mengorganisir orang dan mengadministrasikan dokumen dengan baik. Selain itu kurasa membicarakan hidup orang lain itu ternyata bisa menjadi hiburan tersendiri. Pantaslah jika mama mama rempong di kampung tiap hari sibuk membicarakan masalah hidup orang lain. Rupanya itu merupakan salah satu cara mereka menghibur diri dan rasa penasaran membuat mereka kecanduan mengulik hidup orang lain lagi dan lagi. Gara-gara ocehan Jim kini aku pun merasakannya. Aku jadi penasaran bagaimana cerita kehidupan pribadi Bray yang sebenarnya tapi aku tak berani bertanya lebih jauh. Takut jadi kecanduan macam mama mama kampung yang rempong itu.
Keesokan harinya aku ke kantor lebih pagi dan Jim mengantarku ke bank untuk membuka rekening atas nama yayasan. Sepulang dari bank, aku diajarkan tentang aplikasi excel yang gunanya untuk mengoperasikan basis data dan perhitungan matematis untuk pembuatan keputusan. Sebenarnya Jim hanya mengkhususkan belajar excel untuk membuat laporan keuangan sederhana tapi karena keingintahuanku jadi melebar ke fungsi-fungsi excel yang lain. Jim memberikan beberapa contoh data, tabel perhitungan, dan contoh penggunaan beberapa fungsi atau rumus matematis yang sering digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. Dia juga menunjukan aku beberapa tautan konten internet yang berisi petunjuk praktis menggunakan aplikasi excel. Selanjutnya aku yang coba baca dan otak atik sendiri basis datanya.
"Fifa, aku tinggal dulu ya. Harus menemani bos rapat mingguan di pabrik. Kamu belajar sendiri di link yang tadi aku beri tahu. Bisa kan?"
"Insya Allah bisa." kataku yakin.
Sejak dulu aku sudah terbiasa belajar otodidak. Ijasah sekolah saja semua kudapat dari ujian persamaan kejar paket A, B dan C. Guru masa kecilku adalah baba dan beberapa orang pegiat sosial yang mengajar di program sekolah rimba.
"Aku seneng ngajarin kamu cepet banget bisanya."
"Terima kasih, Kak. Semoga selalu dimudahkan Allah menyerap ilmu kakak. Aku salut banget sama kerja kakak yang gesit dan rapi. Mudah-mudahan cepet bisa seperti kakak."
Jim tersenyum lebar, "Aku sudah 3 tahun jadi sekretaris jadi sudah hafal dengan pekerjaanku." Jim menampik dengan kalimat yang merendah.
Dengan cepat tangannya meraih tablet dan kumpulan berkas dari atas meja kerjanya. Sebentar kemudian ia telah melambaikan tangan sambil bergegas jalan mengikuti langkah Bray sudah lebih dulu menuruni tangga.
Aku melanjutkan belajar sendiri menggunakan contoh-contoh kasus yang ada dalam tautan yang diberitakan oleh Jim. Aku fokus dulu mempelajari cara menggunakan rumus-rumus yang sering digunakan dalam aplikasi excel. Aktivitas belajarku menyenangkan sekaligus menguras konsentrasi dan waktu. Saking asyiknya sampai-sampai ada orang berdiri di depan mejaku pun aku tak menyadarinya.
"Hai, kamu sekretaris baru?" sebuah sapaan ketus tiba-tiba membuyarkan konsentrasiku dalam mempelajari rumus pivot tabel yang memusingkan.
Aku tak langsung menjawab. Terperangah selama beberapa detik melihat gadis cantik yang kemarin berdebat dengan Bray kini ada di hadapanku lagi. Bukankah kemarin Jim bilang dia sudah meninggalkan pulau ini dengan helikopter yang sewanya mahal itu. Kenapa hari ini datang lagi. Benar kata Jim, dia memang sumber pemborosan dana perusahaan. Bayangkan saja. Dana sebanyak itu hanya digunakan untuk bolak-balik tanpa ada kepentingan darurat. Sayang banget. Dana itu bisa dipakai untuk makan besar orang sekampung sepuasnya. Aku jadi miris sendiri.
"Hei, kamu budek ya?" Dia membentakku kasar. Hilang sudah cantiknya dari mataku. Berubah serupa nenek sihir.
"Eh eee maaf, Nona. Saya hanya numpang belajar pada kak Jim di sini."
"Magang?"
Aku tak tahu arti magang tapi mengangguk saja karena gugup. Kupikir mungkin artinya sama dengan yang kumaksud.
"Berapa lama mau magang di sini?"
"Sekitar seminggu."
"Dapat apa magang cuma seminggu. Kamu sekolah di mana sih? Biasanya magang itu paling cepat sebulan. Normalnya sekitar 2 atau 3 bulan. Bilang ya sama gurumu, kalau kantor ini bukan tempat untuk siswanya main-main."
Eh, salah ya? Diam-diam tanganku mengetik pada jendela google menanyakan arti magang. Menurut kbbi magang itu adalah calon pegawai yang belum diangkat secara tetap serta belum menerima gaji atau upah karena dianggap masih dalam taraf belajar. Ternyata aku telah salah paham arti magang. Tapi biarlah. Toh aku sudah jelaskan maksudku berada di tempat ini dengan benar.
__ADS_1
"Kemana Jim dan Firdaus?" tanyanya masih dengan nada ketus.
Aku bertanya-tanya dalam hati apa salahku hingga ditanya dengan nada yang ketus melulu. Aku kan jadi gugup. "Se sedang rapat dengan orang pabrik, Nona."
"Sampai jam berapa?"
"Saya kurang tahu sampai jam berapa, Nona. Beliau sudah turun sejak sekitar 2 jam yang lalu." Alhamdulillah kali ini aku bisa mengeluarkan jawaban yang menurutku sopan dan bisa menetralisir emosi agar tidak gugup.
Gadis itu membuang muka lalu masuk ke dalam ruangan Bray.
Kuabaikan saja sikap buruknya padaku. Mungkin suasana hatinya sedang terganggu akibat menstruasi. Aku kembali melanjutkan pembelajaranku. Pivot tabel ini agak rumit. Harus dipahami dan dipraktekan berulang-ulang sampai benar-benar paham apa dan bagaimana fungsinya. Aku yakin akan banyak manfaatnya kalau aku bisa memahami cara kerja dan penggunaannya dengan baik.
Tak lama berselang Jim dan Bray kembali datang dari arah tangga. Wajah Bray terlihat sangat kusut. Senyum hilang dari Wajahnya. Dia langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Jim kembali ke mejanya yang terletak di sampingku.
"Mbak Maudy datang lagi?" tanya Jim dengan wajah yang nyaris sama ekspresinya dengan bosnya. Kusut. Tapi pakaian dan rambutnya tetap rapi maksimal.
"Iya."
"Ngomong apa sama kamu?"
"Cuma nanya apa aku sekretaris baru dan bos dimana."
"Aku jawab aku di sini cuma buat belajar sama kak Jim selama seminggu dan kalian sedang rapat di pabrik."
Jim mengangguk. Wajahnya sedikit berubah cerah. "Terus ngomong apa lagi?"
"Dia tanya jam berapa rapatnya selesai. Aku bilang nggak tahu kalian rapat sampai jam berapa tapi aku ngasih tahu kalau kalian sudah turun sekitar 2 jam yang lalu."
"Yakin tidak ngomong apa-apa lagi selain itu?"
Aku mengangguk yakin. Kok kayaknya Jim mencurigai sesuatu ya. Apa aku salah?
"Memangnya ada apa?"
"Mas Bray pusing dan kesal sama kelakuan mbak Maudy." jawabnya setengah berbisik.
"Kemarin dia marah karena bos dianggap boros menganggarkan program CSR dan keberatan dengan keputusan mas Bray tinggal di sini. Dikira mas Bray masalah selesai dan dia sudah pulang ke Jakarta. Ternyata belum. Dia mengaku semalam menginap di hotel mewah di Ternate lalu balik lagi ke sini naik helikopter. Ini kan pemborosan." "Dia nggak pernah mau tahu bagaimana pekerja kerja keras di sini. Gaji pekerja setahun belum tentu cukup buat bayar sewa helikopter itu." keluh Jim kesal.
"Mas Bray memarahiku dan minta aku menolak kalau diminta bayar tagihan sewa helikopter itu. Padahal mbak Maudy itu selalu maksa. Aku kan jadi ikutan susah jadinya."
__ADS_1
Ehm, Jim benar. Aku saja yang baru kali ini berinteraksi dengan gadis itu sudah muak dengan sikapnya. Apalagi Jim dan Bray. Sikapnya tidak secantik paras dan penampilannya.
Jadi penasaran apa kira-kira yang terjadi di ruangan itu ya. Aku mencoba konsentrasi mendengarkan suara-suara yang mungkin bisa melegakan rasa penasaran itu. Senyap. Mungkin ruangan bos didesain kedap suara. Atau mungkin mereka sedang bicara baik-baik dengan nada normal yang tak mungkin terjangkau oleh telinga kami. Atau mungkin mereka malah sedang bercinta. Hahaha. Pikiran liarku jadi menduga-duga ke segala penjuru. Rusak sudah konsentrasi belajarku.
"Aku kirim hasil belajarku hari ini ke email kak Jim ya. Tolong kak Jim periksa."
"Besok ajalah kuperiksanya, Fifa. Lagi nggak mood."
Jim kelihatan resah. Ternyata dia merasakan hal yang lebih mengganggu pikiran. Sesuatu yang berat membebaninya dan mungkin tak bisa membagi masalahnya padaku. Entah karena aku dianggap tidak paham masalah bisnis atau masalahnya terlalu sensitif untuk diketahui pihak luar seperti diriku. Aku tak akan bertanya atau ikut campur urusan yang bukan urusanku. Lanjut lagi. Aku mencoba mempelajari pivot tabel walaupun jujur konsentrasiku sudah buyar. Pikiranku justru sibuk menduga-duga apa yang terjadi di ruangan itu.
BRAK. Pintu kayu hitam yang besar dan kokoh itu dibanting keras lagi. Maudy keluar dengan wajah merah dan berlinangan air mata. Kali ini Bray sama sekali tak terlihat mengikutinya. Pintu ruangannya tertutup terus. Padahal aku tengah menunggu apa adegan selanjutnya. Mungkin seru seperti adegan sinetron tv tentang pertengkaran sepasang kekasih.
"Aku ke dalam dulu buat melihat keadaan mas Bray ya, Fif."
Aku mengangguk lalu kembali mencoba membuat perhitungan pivot tabel dengan menggunakan contoh data yang kuunduh dari data statistik gratis. Sayangnya konsentrasiku telah buyar. Otak dan hatiku tidak sinkron. Maksud hati menyusun tabel mencari jenis produk paling laris, bukannya pakai fungsi 'max' malah pilih fungsi 'average'. Berkali-kali salah klik jadi kesal sendiri. Aku ingin ikut masuk agar tahu keadaan Bray saat ini. Tapi urung sebab itu perbuatan tak sopan.
Jim kembali ke mejanya dengan wajah tak secerah biasanya walau pakaian dan rambutnya tetap rapi.
"Ada masalah serius?" Aku tak kuat menahan rasa penasaranku.
Jim mengangguk.
"Apa berhubungan dengan dana CSR?"
"Tidak. Maudy belum tahu ada yayasan itu."
"Lalu?"
"Mereka bertengkar lagi. Mbak Maudy mengancam akan membongkar rahasia yang bisa membuat papa mas Bray stres padahal beliau baru saja sembuh dari stroke." Jim menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi sambik menarik nafas panjang-panjangm
"Kita berdoa supaya masalah mereka cepat selesai."
"Kayaknya sih sudah mentok karena visi mereka berbeda, sama-sama keras kepala dan berupaya saling menjatuhkan."
Aduh. Parah banget ya. Jim terlihat sedang berpikir keras mencari jalan keluar masalah pribadi yang berimbas pada jalannya perusahaan itu.
"Kata babaku, tidak ada yang tak mungkin jika Tuhan berkehendak. Salah satu untuk menggerakan kehendak Tuhan adalah dengan doa yang tak pernah putus."
"Bijak sekali baba kamu."
__ADS_1
Aku mengangguk lalu menundukan kepala melantunkan doa semoga Bray diberikan kemudahan menjalankan perusahaan ini sekaligus memperbaiki hubungannya dengan tunangannya.