
Maudy menatap larva-larva yang bergelimpangan dan berjalan kesana kemari dengan perutnya yang beruas-ruas itu. Ekspresi wajahnya memperlihatkan gabungan antara jijik, takut, sekaligus marah. Dia berjingkat-jingkat menghindari serbuan larva yang mengerubuti kakinya yang mulus. Beberapa teman yang mendampingi menariknya agar keluar aviary. Aku tersenyum lebar melihatnya. Kapok. Salah sendiri seenaknya menendang barang milik orang lain. Makan itu larva. Hahahaha.
Perempuan cantik itu memberontak dari cengkraman teman-teman yang menarik tangannya. Dia menghempaskan tangan mereka dengan kasar. Aku diam di tempatku berdiri dengan senyum penuh kemenangan. Sementara pak Koli terlihat sibuk menata kembali kotak kayu dan memasukan larva-larva peliharaannya ke dalam kotak tempat tinggalnya lagi. Beberapa burung pemakan larva turun mematuki sisa-sisa larva yang masih menggeliat di tanah.
Kulihat di kejauhan dokter Hans berjalan ke arah aviary.
"Jangan merasa menang kamu ya. Kamu nggak bisa merebut Firdaus dari aku."
Aku tak menanggapi ocehan Maudy kali ini kecuali dengan cibiran bibir.
Tanpa disangka kuku-kuku kedua tangannya yang panjang dan diwarnai dengan cat kuku warna hitam itu ditancapkan pada kedua pipiku lalu ditarik kebawah dengan kasar dan cepat. Saking keras dan cepatnya ujung kukunya yang terpotong menempel di wajahku yang terasa perih dan berdarah.
Santi terlihat kebingungan dengan kejadian tak terduga ini. Ia tak sempat melakukan apapun untuk melindungiku.
Semua orang yang ada di tempat itu terperangah tanpa ada yang bisa mencegah.
"Telepon polisi!" bentakku pada Santi. Satpam itu pasti mengenal Maudy sebagai tunangan bosnya hingga ia terlihat kebingungan harus berpihak kepadaku atau Maudy.
"Iya. Sa saya segera telepon polisi." jawab Santi setengah gugup.
Mereka semua pergi setelah terlibat adu mulut singkat dengan dokter Farhana. Salah seorang dari mereka merampas gawai dokter Farhana yang kedapatan merekam kejadian tadi. Gawai itu dibanting lalu diinjak sampai hancur.
Dalam kondisi panik dokter Farhana segera berlari mengambil kotak P3K. Ia sangat tanggap. Tak peduli gawainya hancur, ia bergegas menolongku yang tengah kesakitan. Pelan-pelan aku membuang potongan kuku yang terasa mengganjal di pipiku yang sudah dipenuhi dengan darah.
Dokter Hans pun berlari menghampiri kami.
"Ada apa?"
"Mereka membuat keributan. Mantan tunangan mas Firdaus mencakar wajah Fifa. Hpku diambil dan dibanting lalu diinjak sampai rusak begitu." dokter Farhana menjelaskan kejadian barusan pada suaminya sambil membersihkan lukaku.
Dokter Hans hendak mengambil gawai dokter Farhana yang sudah remuk diinjak-injak tapi dilarang Santi.
"Jangan diambil, Dok! Buat barang bukti. Polisi sedang menuju ke sini."
Dokter Hans mengangguk. Ia mendekat mengamati istrinya yang sedang membersihkan lukaku dengan alkohol.
__ADS_1
Rasa nyerinya sangat hebat. Tidak hanya nyeri di kulit tapi masuk sampai ke jantung dan hatiku. Jahat sekali Maudy. Tak kusangka ia tega merusak wajahku.
Aku tak peduli siapa-siapa lagi. Aku hanya peduli pada wajahku. Entah bagaimana rupa wajahku sekarang. Mungkin mengerikan bagai wajah hantu kuntilanak yang digambarkan dalam film horor. Seorang perempuan dengan wajah pucat, rambut terurai dan wajahnya dipenuhi goresan luka dan darah. Semua orang yang memandangnya pasti akan takut lalu lari terbirit-birit. Sungguh. Aku ngeri dan takut membayangkan wajahku sendiri.
"Bagaimana lukanya dok?"
"Tenang ya, Sayang! Tahan sakit sedikit lagi. Ada beberapa bagian yang lukanya cukup dalam dan masih mengeluarkan darah."
"Kayaknya perlu dijahit, Mam." komentar dokter Hans.
"Jangan dijahit. Khawatir bekas lukanya nanti justru nampak. Ini luka di wajah, Pap. Bisa hilang percaya diri Fifa kalau ada luka bekas jahitan. Lagipula kita dokter hewan. Tak punya benang dan obat-obatan yang bagus buat manusia."
Aku menahan nyeri dan masih bergidik ngeri membayangkan andai wajahku diperlakukan sama dengan wajah hewan yang terluka.
Aku tak melihat kapan dokter Hans memotret. Tapi tak lama setelah itu ia menerima telepon yang kuduga berasal dari Bray.
"Itu foto keadaan Fifa sekarang. Parah. Tolong cegah jangan sampai mantan tunangan anda itu melarikan diri. Dia sudah berbuat kriminal di sini." Begitu kata dokter Hans. Tak tahu bagaimana tanggapan Bray. Mungkin dia panik atau biasa saja menanggapi peristiwa ini. Tapi kalau dilihat dari respon cepatnya menelpon dokter Hans, aku yakin dia kasihan dan berpihak padaku. Bukan pada mantan tunangannya yang kejam.
Mereka hanya bicara ditelepon dengan sedikit kata tapi intinya tertangkap jelas. Hasil pembicaraaan mereka cukup membuatku lega. Setidaknya dokter Hans telah memastikan Bray akan bantu polisi menangkap Maudy agar mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya padaku sebelum dia pergi melarikan diri.
Ia mengambil salep bening lalu mengoleskannya pada lukaku dengan sangat hati-hati.
"Lukamu sulit ditutup perban. Sebaiknya supaya cepat sembuh pakai masker atau cadar saja supaya mengurangi kena debu atau partikel lain yang membuat infeksi pada luka."
Aku mengangguk.
Pak Koli menawarkan aku air mineral. Kusambut saja agar resahku berkurang. Seteguk air tak hanya membasahi kerongkonganku yang kering, tapi juga membuatku merasa lebih segar dan tenang.
Dokter Farhana dan Santi membimbingku berjalan menuju kantor. Belum sempat masuk ke ruangan kantor sudah kulihat motor dinas polisi parkir juga mobil yang dinas PT XY.
Kak Hisyam turun dari mobil dinas PT XY. Ia langsung menghampiriku dan menepuk-nepuk pundakku. "Sabar ya, Fifa. Maudy dan beberapa orang karyawan yang tadi mengantarnya ke sini sudah dibawa ke kantor polisi."
Aku mengangguk. Bersyukur banyak orang yang membantu dan percaya padaku.
Dokter Hans dan dokter Farhana segera mengajak polisi ke TKP untuk melihat jejak peristiwa dan gawai dokter Farhana yang dirusak pelaku. Hisyam mengikuti mereka. Sementara aku duduk di kantor ditemani Santi dan seorang polwan yang menanyakan kronologis kejadian dan mencatatnya.
__ADS_1
Dua hari ini sangat bersejarah dalam hidupku. Dua hari berturut-turut aku harus berurusan dengan kepolisian. Kemarin diperiksa sebagai saksi percobaan pembunuhan dan sekarang sebagai korban tindakan penganiayaan. Ini sungguh hari yang teramat berat dalam hidupku.
Sekitar satu jam kemudian mama dan Tita muncul diantar salah seorang tetangga kampung dengan membawa tas-tas besar. Mama juga membawa Aga serta.
Begitu melihatku, air mata perempuan setengah baya yang masih tampak cantik itu mengalir dengan derasnya. Mama memelukku erat sekali.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Fifa?"
"Fifa nggak tahu, Ma."
"Kamu salah apa?"
"Fifa nggak salah apa-apa."
"Jahat betul perempuan itu. Harusnya kamu balas cakar dan rusak wajahnya biar adil. Dimana perempuan itu? Sampai mati mama tidak rela wajah anak gadis mama dirusak begini. Mama tidak rela." Antara marah dan sedih mama meluapkan kekesalannya dengan berapi-api.
Perempuan sabar itu mampu bersabar saat dia disakiti. Tapi saat anaknya yang tersakiti, dia marah bukan kepalang. Di kepalanya nyaris keluar api. Aku belum pernah melihat mama semarah ini.
"Dia sudah dibawa ke kantor polisi, Bu." jawab Santi.
Mama kembali mendekapku dengan seerat-eratnya. Air mataku pun ikut tumpah. Padahal sejak tadi aku tak menangis sekalipun wajahku perih dan penuh darah. Tangis mama membuatku sangat sedih dan terpukul.
"Mama kenapa bawa tas-tas besar itu?"
"Mas Firdaus bilang akan fasilitasi kamu berobat di dokter spesialis kulit di Makassar. Tak perlu menunggu jum'at. Hari ini juga kita harus berangkat ke Makassar. Di sini tidak aman. Mama sudah bawa Aga ke sini untuk dititipkan pada dokter Hans. Urusan ternak dan rumah mama titip pada bapak Yos."
Aku tak mampu berpikir banyak. Kuiyakan saja apa kata mama karena tak tahu lagi apa jalan terbaik buat kami saat ini. Duniaku terasa gelap.
Sore itu Hisyam mengantar perjalanan kami dengan mobil dinasnya. Walau sudah malam saat tiba di dermaga Sofifi, Hisyam nekat menyewa kapal cepat.
Mama yang sudah minum obat anti mabuk terkulai di kapal. Angin laut yang kencang dan dingin tak kami perdulikan lagi. Karena kemarahan dan kesedihan bisa menguasai diri dan menghilangkan rasa apapun.
Hisyam mengantar kami sampai hotel berbintang 3 dekat bandara Ternate. Dia ikut menginap di kamar yang bersebelahan dengan kamar kami demi memastikan keamanan kami.
Pagi telah menyingsing. Setelah sarapan di restoran hotel, Hisyam kembali mengantar kami sampai bandara Sultan Hasanudin Makassar dan melakukan serah terima dengan pak Rodi dan Fifi yang menjemput kami di bandara.
__ADS_1