LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
BIJAK


__ADS_3

Sepanjang perjalanan hidup kami bersama beberapa bulan ini, aku tak pernah sekali pun mendengar keluhan atau permohonan dari Bray. Aku yang lebih banyak uring-uringan dan mengeluh karena belum siap menerima konsekwensi hidup berumah tangga. Kehamilan nyaris membuatku depresi. Harus kuakui Bray memiliki kesabaran ekstra menghadapi gelombang perasaanku yang terombang-ambing, bergerak naik-turun, kanan-kiri, depan-belakang atau berputar tak tentu arah. Kesabaran itulah yang membuatku semakin mencintainya dan percaya dengan sikap bijaknya rumah tangga kami akan langgeng.


Hari ini aku baru menyadari bahwa selama ini Bray mengorbankan urusan keluarganya demi mendampingiku. Setelah menikah baru kali ini kami menyempatkan waktu ke Jakarta. Saking bahagianya akan cepat dapat cucu, papa mertua sangat memaklumi kondisi awal kehamilanku yang menjadikan kami tidak bisa mengunjunginya. Sebagai gantinya kami sering berkabar menanyakan keadaan papa lewat panggilan video. Selain orang tua, Bray juga telah mengabaikan urusan bisnis dengan menyerahkan penuh pengelolaannya pada manajemen profesional.


"Kondisi perusahaan sekarang sedang kacau, Sayang. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan dan tak bisa didelegasikan pada orang lain. Kita terpaksa harus tinggal lebih lama di sini."


Aku langsung merengut. Hatiku serta merta menolak. "Aku tunggu mas di Makassar aja boleh?" tawarku mencoba bernegosiasi. Kejadian tadi membuatku takut. Apalagi kalau bu Fara memberitahukan keberadaanku di sini pada Maudy. Bukan tidak mungkin tante dan keponakannya itu akan melabrak dan menyerangku.


"Kita suami istri, Sayang. Aku mau kita tetap sama-sama terus. Susah senang kita jalani bersama-sama. Hanya dengan bersama aku bisa yakin bahwa kamu, aku dan bayi kita baik-baik saja. Kalau kondisi keluarga baik, kerja bisa lebih tenang dan urusan cepat selesai."


"Tapi lusa mama dan nenek sudah rencana buat pengajian besar buat tasyakuran 4 bulan kehamilanku."


"Aku akan antar ke Makassar. Tapi selesai acara kita akan kembali sama-sama lagi ke Jakarta sampai situasi di sini bisa berjalan normal. Kasihan papa. Beliau sudah tak sanggup urus perusahaan."


Aku juga kasihan pada papa mertuaku yang sakit-sakitan dan harus hidup sendirian. Tapi ...


"General manager perusahaan sudah memutuskan mundur. Tidak bisa dibujuk lagi. Dia sudah terlanjur kecewa dengan situasi perusahaan dan dapat tempat yang lebih baik di perusahaan lain. Butuh waktu lama untuk merekrut manajemen yang tangguh dan bisa dipercaya mengelola perusahaan ini. Sementara menunggu proses fit and proper test general manajer yang baru, aku harus ambil alih manajemen. Tidak bisa tidak."


Aku diam mendengarkan penjelasan Bray. Ini adalah sebuah resiko pernikahan yang tidak kuinginkan. Bray punya tanggung jawab besar di sini, di perusahaan yang sebagian besar sahamnya milik keluarga. Sementara aku tak suka tinggal di kota besar ini. Aku tak terbiasa dengan keramaian kota yang tak pernah beristirahat dari aktivitas. Melihatnya saja lelah. Bagaimana harus menjalaninya. Apalagi harus sering bertemu orang aneh seperti nenek sihir yang belum pernah mengenalku namun sudah menunjukan amarah dan dendam padaku. Belum lagi kalau keponakannya ikut-ikutan menyerangku. Bagaimana pun Maudy masih merasa aku telah merebut tunangannya. Posisiku lemah. Walau aku tak melakukan kesalahan tapi tak bisa berkelit karena kenyataannya Bray telah menjadi suamiku.


"Aku nggak betah di sini." kataku setengah merengek mengungkapkan perasaanku.

__ADS_1


Bray diam. Bingung memilih kata yang tepat untuk membujuk. Aku paham dilema yang dialaminya. Namun dalam masalah ini aku tak mau mengalah. Aku berhak bahagia. Aku tak mau bayiku ikut tertekan karena ibunya terpaksa melakukan apa yang tak disukainya. Dalam situasi seperti ini aku tidak masalah harus berpisah sementara. Betapapun cintaku pada Bray, aku tetap lebih mencintai bayi ini.


"Aku mau tinggal sementara dengan keluargaku. Di Makassar lebih aman dan nyaman buatku. Di sana ada nenek dan keluarga yang menyayangiku. Kita bisa sering-sering berkabar dengan video call. Sehari boleh 10 kali." usulku sambil tersenyum dan memiringkan kepala.


"Kamu yakin akan baik-baik saja?"


"Yakin."


"Nggak akan kangen atau cemburu?"


"Pasti kangen dan cemburu dong. Tapi bisa terobati dengan 10 video call per hari. Kalau perlu jidat Mas aku pasangan chip yang merupakan gabungan fungsi CCTV dengan GPS tracker biar aku bisa pantau terus sedang dimana dan sama siapa."


"Nggak marah karena kita nggak jadi berlibur?"


"Yang mau berlibur kan mas Bray. Dari kecil aku nggak pernah berlibur dan nggak ingin berlibur kecuali pergi ke hutan." tegasku.


Hidupku yang terlahir sebagai gadis pedalaman memang terlalu statis. Tak pernah punya keinginan muluk-muluk. Cukup dengan menikmati dan mensyukuri anugerah alam saja aku sudah merasa bahagia. Bagiku ketentraman dan kedamaian adalah hal paling penting. Meskipun keras memegang prinsip, aku paling tak betah bersengketa. Perlawananku biasanya hanya dalam bentuk menarik diri, bukan dengan menyerang lawan. Bray bilang, aku sifatku terlalu plegmatis.


Bray tersenyum kecut. "Iya. Aku yang kecewa. Niat awalku cuti untuk berlibur. Ternyata sampai di sini malah terpaksa kerja."


Duh kasihan banget sih suamiku. Dengan berani aku memberinya kecupan singkat di bibirnya.

__ADS_1


"Mas capek?"


"Sangat." jawabnya sambil membalas kecupanku dengan ciuman yang lebih hangat dan menuntut.


Menjadi anak tunggal pengusaha besar tidak semudah bayangan orang. Khalayak berpikir jadi anak pengusaha itu enak. Kerjanya tinggal ongkang-ongkang kaki menikmati harta yang keuntungannya ibarat mata air yang mengalir terus sampai tak habis dimakan tujuh turunan. Mereka tak tahu kenyataannya Bray harus bekerja keras sepanjang waktu. Tidak bisa asal suruh dan tunjuk orang mengikuti perintahnya. Tidak mudah mempercayakan sesuatu yang krusial pada orang lain. Tanggung jawabnya sangat besar menyangkut keberlangsungan hidup perusahaan dan ribuan pegawai yang menyandarkan penghasilan dari bisnisnya.


"Jangan memaksakan diri di luar batas kemampuan, Mas. Pilih mana yang lebih prioritas untuk ditekuni. Mas jual aja sebagian saham perusahaan biar nggak terlalu repot. Uangnya mungkin bisa disimpan buat biaya hidup papa."


Bray tersenyum lebar, "Ide kamu boleh juga."


Aku jadi tersipu. Padahal ide itu melintas begitu saja dalam otak sederhanaku. Ide itu hadir didorong oleh keenggananku tinggal lebih lama di kota yang banyak polusi ini. Aku egois, ingin menguasai Bray agar tetap bersamaku tinggal di tepi hutan Lolobata.


"Aku akan diskusikan ide ini sama papa. Kayaknya aku sudah ketularan sikap plegmatis kamu. Malas bersitegang terus dengan mantan istri papa yang otaknya cuma se-ons itu. Tidak mengerti apa-apa tapi sok ikut ngatur. Gara-gara dia GM andalanku resign."


Benar. Memang lebih baik menghindar dari orang bodoh yang sok ngatur. Tidak sadar diri kalau dirinya hanya parasit. Melawannya hanya akan membuang energi. Toh sebenarnya hidup kami telah lebih dari cukup hanya dengan mengandalkan keuntungan di usaha tambang saja. Bangkrut atau maju perusahaan di sini tak penting buat keluarga kecil kami.


"Tapi jual saham itu tetap butuh waktu, Sayang. Cari investor yang mau beli saham itu ibarat cari jodoh. Tidak semudah menjual gorengan di pinggir jalan."


Aku tersenyum. Saham kok disamakan dengan gorengan. Ada-ada saja. Yang pernah kudengar ada orang yang menggoreng isu tertentu agar mempengaruhi persepsi pasar terhadap harga saham. Kayaknya Bray perlu melakukan itu agar saham yang akan dijual harganya bagus.


Sumpah. Hal lain yang membuatku enggan tinggal di sini adalah karena aku tidak mau bertemu istri pamanku. Apalagi tante Marlina berteman dengan bu Fara. Dua perempuan serakah itu mungkin akan mencelakaiku. Aku tidak mau bertemu atau berurusan lagi dengan orang yang diduga kuat menjadi otak pembunuhan baba. Lebih baik anggap tidak pernah kenal. Aku tak mau berbuat jahat buat melampiaskan dendam. Namun dalam hati aku masih menunggu-nunggu masa dimana Tuhan akan menunjukan karma buruk atas perbuatan jahatnya pada keluargaku. Begitulah bentuk dendam dalam hatiku dan aku menyampaikan harapan itu berulang-ulang pada Tuhan Yang Maha Bijaksana.

__ADS_1


__ADS_2