
Pagi keempat aku kembali sarapan berdua nenek di meja makan. Selepas shalat subuh tadi aku mendengar langkah beberapa orang disertai suara roda koper yang ditarik dengan terburu-buru. Beberapa menit kemudian terdengar suara deru mesin mobil meninggalkan halaman rumah. Gufron dan keluarganya pergi jauh tanpa pamit. Hatiku terasa teriris. Sedih. Kehadiranku tak dianggap sama sekali. Padahal aku di sini bukan sebagai tamu biasa tapi masih kerabat dekat mereka. Sudah sepantasnya ada sedikit basa basi bila hendak pergi meninggalkanku. Apalagi secara silsilah aku adalah saudara tua Gufron.
"Tuan Gufron, Bapak dan Ibu ke bandara subuh tadi." kata asisten dapur yang menyiapkan sarapan kami.
Nenek tak menanggapi. Sikapnya biasa saja. Tidak tersinggung, marah atau sedih ditinggalkan tanpa pamit. Sungguh. Kebiasaan keluarga ini menurutku aneh. Tidak seperti keluarga pada umumnya.
"Paman sudah pamit sama nenek?" tanyaku sambil menyendok bubur kacang ijo hangat ke dalam mangkuk yang telah berisi potongan roti dan susu.
"Kemarin sudah kasih tahu pak Rodi kalau mau berangkat ke Jakarta pagi-pagi sekali."
Oh, jadi pamitnya cukup melalui supir keluarga saja. Tak perlu langsung pada orang tuanya. Beginikah tata cara hidup warga kota besar yang dianggap modern?
"Ada pertemuan penting di Jakarta ya, Nek?"
"Entah. Mereka memang lebih suka tinggal di Jakarta daripada di sini. Pamanmu di sini karena masih ada tugas sebagai kepala sekolah sekaligus pengurus yayasan pendidikan sekolah islam terpadu. Kalau tidak, mungkin sudah ikut anak istrinya tinggal di Jakarta."
Jawaban nenek yang datar membuatku sejenak terpaku. Kasihan. Selama ini nenek pasti sering kesepian ditinggal-tinggal seenaknya oleh keluarga ini.
"Makanya pindahlah kamu ke sini, Fifa. Temani nenek. Kalau kamu tidak bisa tinggal mungkin adikmu bisa pindah sekolah di sini menemani nenek yang sudah tua ini. Kualitas pendidikan di sini lebih baik. Kamu dan mamamu sering seringlah menjenguk. Sekarang ini transportasi mudah dan cepat. Tidak harus naik kapal berhari-hari untuk sampai Makassar kan?"
Aku membenarkan. Memang sekarang kemana-mana lebih cepat dan mudah. Yang penting ada uang dan sekarang perkara uang bukan lagi momok buat kami.
"Nanti saya diskusikan dengan Fifi ya, Nek. Fifa janji akan mengusahakan menengok nenek sesering mungkin."
Nenek tersenyum. Pandangannya menerawang jauh. Ada sesuatu yang masih dipendam dalam pikirannya.
Nenek menghela nafas dan menelan makanan yang telah terkunyah dalam mulutnya sebelum kembali berbicara, "Nenek sangat berharap ada diantara kalian yang mau menemani nenek. Agar lebih nyaman kita bisa tinggal di rumah pesisir atau cari rumah kecil di dekat kedai. Rumah ini terlalu besar. Biar jadi tanggung jawab pamanmu saja sebab kelak ini akan jadi rumahnya."
Begitu lebih baik. Kebiasaan keluarga kami agak berbeda dengan kebiasaan keluarga paman. Kalau harus menemani nenek, sudah pasti tidak di rumah yang dingin ini.
__ADS_1
"Nenek dengar Gufron sedang butuh uang. Kalau sertifikat nenek berikan sekarang, rumah ini bisa dijual untuk menutupi hutangnya yang sudah jatuh tempo." ujar nenek kemudian.
Ooh ternyata Gufron pulang untuk menjual kebun lada karena terlibat hutang. Apa kemarin ia berselisih dengan nenek hingga waktu semalam berpapasan ia tak menyapa nenek. Sedikit masalah keluarga ini mulai terkuak.
"Nenek sudah tua, Fifa. Sisa hidup yang singkat ini inginnya digunakan untuk berbuat baik dan beribadah. Nenek akan lebih tenang kalau lihat anak cucu bahagia. Yang penting nenek sudah berbuat adil untuk semua hingga tak jadi masalah di akhirat nanti."
Aku mengangguk paham. Mungkin aku juga akan seperti itu ketika tua nanti. Di saat tubuh kita telah renta dan rapuh, akan lebih bahagia kalau dapat melihat anak cucu bahagia. Apalagi kalau dapat tinggal bersama-sama mereka. Melihat kondisi keluarga paman yang tak peduli, nenek pasti merasa sendiri dan kesepian. Beruntung ada asisten yang setia melayani dan merawatnya dengan sepenuh hati hingga nenek bisa menjalani masa tuanya dengan lebih baik.
"Nenek mau ikut tinggal bersama kami?"
"Nenek sudah tua, Fifa. Tak bisa tinggal di pedalaman. Tiap bulan nenek harus kontrol kesehatan ke dokter spesialis jantung dan penyakit dalam."
Benar. Ikut tinggal bersama kami bukan sebuah pilihan. Nenek memang tak layak tinggal di pedalaman. Sejak kecil beliau sudah terbiasa tinggal di kota besar yang memiliki fasilitas lengkap. Kondisi kesehatannya sekarang pun tak memungkinkan. Berbagai penyakit degeneratif yang diidapnya perlu kontrol kesehatan intensif. Kalau ada sesuatu dengan kesehatan di Makassar lebih cepat tertangani. Sementara kampung kami sangat jauh dari fasilitas kesehatan. Puskesmas saja letaknya belasan kilometer jauhnya. Kalau perlu konsultasi ke dokter spesialis, puskesmas biasanya akan merujuk ke rumah sakit di Ternate yang letaknya sangat jauh sampai harus menyeberang lautan.
Siang harinya aku telepon Fifi yang sudah pulang dari sekolah. Kuungkapkan apa yang tadi pagi diutarakan nenek. Seperti dugaanku, Fifi langsung antusias dapat kesempatan tinggal di kota besar. Anak itu memang sudah lama mengidam-idamkan kehidupan modern seperti yang dilihatnya di media sosial.
"Mau mau mau mau. Fifi boleh ya Ma, tinggal sama nenek di Makassar." ungkap Fifi dengan kehebohan yang luar biasa. Dia pasti sedang jingkrak-jingkrak di samping mama.
"Mama mau ikut temani Fifi dan nenek di Makassar?" tanyaku.
"Mama shalat istikharah dulu ya, kak."
Mama memang tak bisa mengambil keputusan cepat. Banyak sekali pertimbangan dalam pikirannya. Padahal yang dipertimbangkan kadang hanya masalah kecil seperti siapa yang kasih makan ternak, siapa yang urus ini itu dan hal kecil lain yang kadang tidak kupikirkan.
"Tapi Fifi boleh kan tinggal di Makassar, Ma? Di sana kualitas sekolahnya lebih bagus. Fifi bisa kok jaga dan temani nenek." Fifi merengek meminta mama segera menyetujui usul itu.
"Kasihan nenek, Ma. Kata kak Fifa nenek sering ditinggal sendiri karena keluarga paman Hasan lebih sering berada di Jakarta. Nenek pasti kesepian." tambah Fifi ringan. Suara manjanya masih dalam mode merajuk.
"Besok kita bicara lagi ya, kak. Mama akan ke sekolah dulu tanya-tanya gurunya Fifi soal sekolah Fifi dan apa saja syarat pindah sekolah."
__ADS_1
"Jangan kelamaan mikir, Ma. Pindah sekolah itu gampang kok. Momennya pas banget ini. Besok hari terakhir ujian semester. Fifi mau nyusul ke Makassar besok ya."
"Kak Fifa kirimin tiket dong. Kalau mama nggak mau, Fifi berani kok berangkat sendiri. Tinggal minta antarkan kak Gery ke bandara Buli. Nanti kak Fifa jemput di bandara sana. Gampang."
Fifi antusias sekali sampai fasih mengatur perjalanan seolah-olah ia sudah terbiasa berpergian ke sana ke mari. Padahal selama ini perginya hanya ke seputar kota kecamatan saja. Paling sering naik motor ke pasar, kebun, atau sekolah saja. Belum pernah lebih jauh dari itu. Selain itu anak itu belum punya SIM, takut ada tilang polisi kalau pergi terlalu jauh.
"Kirim foto KTPmu dan mama ya. Kakak pesan tiket sekarang."
"Ih tumben nggak pakai mikir. Kakak banyak uang ya sekarang hihihi." Fifi terkikik senang.
"Mama nggak bisa ikut, Fifi. Masih ada pesanan tikar yang belum selesai. Lagipula ayam, kambing dan burung kak Fifa tidak ada yang urus kalau ditinggal. Mereka bisa mati."
"Kalau begitu pesankan tiket aku untuk besok sore atau lusa ya, kak. Fifi berani kok berangkat sendiri."
Fifi sangat antusias. Dia memang sangat ingin pergi ke kota besar. Apalagi Makassar adalah kota metropolitan paling besar di Indonesia bagian timur. Aku tahu. Dalam benaknya pasti sudah tersimpan rencana foto-foto sepanjang perjalanannya untuk ajang pamer pada kawan-kawan. Dasar anak ABG.
Sore harinya Bray mampir ke rumah untuk pamit. Dia bawa sekotak kue dalam sebuah kantung eklusif warna merah bertuliskan tinta emas. Isinya cheese cake cantik yang lumer di mulut.
Kami ngobrol sebentar mengisi waktu tunggu jadwal penerbangan malam yang dipilihnya untuk terbang ke Jakarta. Aku sempat menanyakan soal alasan Gufron ingin menjual kebun lada itu pada Bray. Sekedar cari opini pendamping saja. Siapa tahu jawaban Bray berbeda dengan kesimpulan yang kudapatkan dari obrolan dengan nenek pagi tadi.
"Gufron sedang butuh uang cepat. Dia butuh dana besar untuk menebus barang impor dari Rusia yang tertahan di pabean. Tiga hari yang lalu dia baru menghubungi aku mau jual cepat kebun ladanya. Kebetulan aku punya teman yang sedang cari lahan. Harga sudah deal. Tapi ternyata pada hari "H" kemarin Gufron membatalkan secara sepihak. Terus terang aku kesal. Tapi kemarin sore temanku sudah menghubungi direktur perusahaan pemilik perkebunan itu, katanya pemilik saham tidak setuju asetnya dijual."
Ooh. Begitu ceritanya. Intinya sama dengan apa yang dikatakan nenek. Bedanya Bray tahu lebih detil hutang apa. Pertanyaanku, kenapa Gufron mau menjual kebun yang bukan haknya? Serakah dan dzalim sekali dia. Mungkin sifat buruk Gufron itu yang menjadi pemicu nenek buru-buru memberikan hak waris bagian baba padaku lalu semua berkas legal atas namaku ditaruh di safebox bank atas namaku pada hari berikutnya. Nenek sedang berusaha agar semua anak cucunya mendapatkan haknya secara adil. Dalam surat waris jelas tertera tanggal keputusan pembagian hak atas waris itu tak lama setelah kakek meninggal dan pada tanggal tersebut baba masih segar bugar.
"Maaf, aku tak tahu kalau kebun itu sekarang jadi milikmu. Tapi masalahnya sudah clear kok, Fif. Gufron pasti cari sumber pembiayaan lain."
Semoga saja begitu. Kata nenek perusahaan yang dikelola Gufron itu jauh lebih besar dari perkebunan lada dan kakao. Masak sih tak bisa cari sumber pembiayaan lain, hutang bank atau menerbitkan surat utang misalnya.
"Yang belum clear adalah masalah kita."
__ADS_1
"Masalah kita? Memangnya kita punya masalah apa?"
"Masalah hati. Hatimu masih belum terbuka."