
Tubuhku lesu dalam perjalanan pagi ini. Sebelum subuh pak Rodi telah mengantarku ke bandara agar tidak terlambat check in. Kepalaku terasa berat. Semalam aku tak berhasil memaksakan diri tidur lebih awal karena jam biologisku sudah terbiasa tidur menjelang pagi. Aku berjalan masuk ke area keberangkatan bandara dengan tubuh separuh melayang.
"Kamu sakit, Fifa?" tanya Andi Syarif saat kami bersua di antrian pemeriksaan tiket menuju ke garbarata. Lelaki itu nyaris terlambat sebab bagian informasi telah beberapa kali mengumumkan panggilan agar penumpang pesawat dengan nomor penerbangan kami segera masuk ke dalam pintu kesawat melalui gate 7.
Aku membenahi letak ranselku. Sengaja berlama-lama duduk di ruang tunggu dan mengantri masuk di barisan belakang. Begitupun dengan Andi Syarif.
"Enggak sakit. Cuma ngantuk." jawabku pelan.
"Sama dong. Aku juga masih ngantuk. Tahu begini kita ambil pesawat yang lebih siang saja." Andi membenarkan dengan seulas senyum.
Penumpang satu per satu masuk ke dalam badan pesawat. Tak lama setelah kami duduk dan memasang sabuk keselamatan pesawat segera berjalan menjauh dari terminal bandara menuju landasan pacu.
Andi mengeluarkan satu kotak hitam dari dalam tas yang ditaruhnya di bagasi atas.
"Aku takut lupa. Ini titipan hadiah dari bunda buat kamu."
"Dari bunda Hilya?"
Andi membenarkan dengan anggukan. "Bunda titip dalam buat kamu. Minta maaf kemarin kamj tak sempat bantu dan mengantar keluarga kalian pindah rumah. Kabarnya mendadak banget sih. Hari minggu kemarin masih ada rangkaian pesta adat yang harus kami hadiri dan ramah tamah pembubaran panitia."
"Kami sudah tahu kok dan maklum. Btw makasih hadiahnya ya." Aku mengambil kotak hitam yang disodorkan Andi Syarif lalu menaruhnya di dalam tas ransel yang berada di pangkuanku. Sengaja tak langsung membuka dan cari tahu isinya. Kepalaku masih berat.
"Kamu kelihatan pucat. Apasih yang terjadi sampai rumah mendadak dijual dan kalian mendadak harus pindah?"
"Nanti aja ceritanya setelah sampai di Ternate, kak Syarif. Kepalaku masih berat banget. Lebih baik kita lanjutkan tidur aja yuk. Lumayan ada waktu perjalanan sejam lebih."
Aku menutup jendela pesawat ketika pesawat selesai manufer take off dan berjalan stabil di atas awan. Kusandarkan kepala dan tubuhku pada sandaran kursi lalu mencoba memejamkan mata sambil memeluk tas ransel.
Andi Syarif ikut menyandarkan tubuhnya. Sepakat untuk sama-sama melanjutkan tidur yang terpotong karena harus mengejar penerbangan pagi.
Kantuk tak membuatku dengan mudah tertidur. Teringat lagi selain kebiasaan tidur menjelang pagi, aku juga punya kebiasaan baru yaitu menerima telepon Bray tepat tengah malam sebelum tidur. Tampaknya ritual menjelang tidurku sudah melekat dalam ingatan bawah sadarku hingga kantuk tak membuatku benar-benar pindah ke dunia bawah sadar. Aku tetap terjaga dalam kantuk yang mendera.
Jika biasanya telepon malam tidak ada gangguan, semalam Fifi masih terjaga ketika Bray meneleponku. Tentu saja masalah telepon jadi pembahasan panjang gadis cerewet itu.
"Kakak pacaran ya sama kak Firdaus?" tuduhnya dengan senyum menggoda begitu aku menutup panggilan telepon Bray menjelang pagi.
"Enggak. Kamu dengar sendiri kami ngomongin masalah pekerjaan."
"Pekerjaan apa? Konservasi burung kakak bilang sebuah pekerjaan? Itu mah hobi kali kak." Fifi protes dengan wajah remeh meledekku.
__ADS_1
Aku menelan saliva perlahan dan mencoba bersikap senormal mungkin.
"Kalau pacaran juga nggak apa-apa kok. Kakak kan sudah sama sama dewasa. Kenapa malu?"
"Kami nggak pacaran, Fifi." bantahku.
"Aku bisa lihat kok wajah kakak berseri-seri kayak bulan purnama waktu terima telepon tadi. Beda aura yang terpancar ketika kakak bicara dengan orang lain. Dari awal sampai akhir telepon kakak kelihatan nahan-nahan senyum dan salah tingkah."
Ups. Masa iya aku tertangkap basah bersikap memalukan begitu. Aku ingin menutup wajahku dengan bantal.
"Ah, sok tahu kamu!" Aku berkelit dengan menampar udara di depan wajahku.
"Ayo ngaku aja, Kak. Fifi bakal dukung kok. Fifi kawal sampai halal."
Apa-apaan sih Fifi. Aku merebahkan tubuhku ke kasur setelah menyimpan gawai di atas nakas.
"Kakak cantik, makanya banyak yang naksir. Masih bingung ya mau pilih yang mana. Kak Arfa, kak Syarif atau kak Firdaus sama-sama baik. Tapi kalau dilihat dari bahasa tubuh kakak sih Fifi yakin kayaknya kakak cenderungnya suka ke kak Firdaus. Hihihihi."
"Jangan ngaco deh kamu, Fi. Ayo tidur!" bentakku sebelum berguling tidur membelakangi Fifi.
Gadis itu malah memelukku dari belakang.
"Ngaku dulu dong. Kakak suka ke kak Firdaus kan?"
"Kalau kakak nolak, Fifi mau kok jadi peran pengganti. Kak Firdaus kan ganteng, kaya, dan keren. Orang Jakarta dan lulusan perguruan tinggi luar negeri lagi. Duh, kalau jadi pacar Fifi follower dan hater pasti tambah banyak." Fifi cekikikan di belakang telingaku.
Aku melepaskan diri dari rengkuhannya lalu berguling miring memeluk guling menghadap ke arah tembok. Kututup wajah dan telingaku dengan bantal. Maksudku menjauh dari topik pembicaraan Fifi. Gadis itu tetap ngoceh.
"Aku sih mau banget tiap malam dikasih ucapan selamat tidur. Mimpiin aku ya. Muach." ucap Fifi mengulang beberapa kalimat yang sering diucapkan Bray saat mengakhiri panggilan teleponnya tiap malam menjelang pagi. Gadis itu mengecapkan suara kecupan sembari cekikikan.
Duh makin malu aku jadinya. Kenapa juga kubiarkan tangan jahil anak ceriwis ini memencet gambar loud speaker di gawaiku tadi. Habis aku jadi obyek perundungan.
"Menurutku itu sisi romantisnya kak Firdaus yang susah disaingi oleh yang lainnya. Kalau udah kebiasaan nggak denger suaranya yang serak-serak sekssi pasti belum bisa tidur. Iya kan? Buktinya malam ini. Sudah mapan tidur sejak jam 9 dan baca doa tidur berkali-kali kakak belum bisa tidur juga. Cuma bolak balik bergelimpangan di kasur aja. Rupanya nungguin yang ngasih ucapan selamat malam dan kecupan jauh. Muach. Hihihihi."
"Fifi, berhenti menggoda kakak deh. Kakak mau tidur. Harus berangkat ke bandara menjelang subuh. Nanti kakak ngantuk ketinggalan pesawat."
"Kan sudah pesan pak Rodi. Pasti dibangunin lah."
"Iya, tapi ini sudah hampir pagi."
__ADS_1
Jam dinding tua sudah berdentang satu kali. Waktu tidurku makin pendek saja. Namun dentang jam dinding tua itu akhirnya mampu membuat Fifi mau menghentikan ledekannya.
Suara serak Bray yang mirip Bidadari Halmahera itu memang bikin kangen. Tapi terlalu berlebihan kalau sampai tak bisa tidur gara-gara ingin ditelepon. Menurutku masalah jam biologis yang lebih dominan sebab akhir-akhir ini aku memang selalu tidur larut karena pekerjaan.
"Selamat tidur, Fifa. Mimpiin aku ya. Muach." kalimat lebay itu kembali kuingat sambil tersenyum sebelum jatuh ke alam bawah sadar di kursi pesawat.
"Fifa, bangun! Sudah sampai Ternate." Andi Syarif menepuk-nepuk lengan membangunkan tidurku.
Sebagian penumpang sudah berdiri mengambil bagasi kabin. Sebagian sudah berjalan menuju pintu keluar.
Aku segera mengambil tisu basah untuk membasuh wajahku agar tidak terlalu tampak lesu bangun tidur. Setelah menarik nafas panjang dan minum air mineral, aku baru berdiri dari kursi penumpang. Hampir semua penumpang sudah meninggalkan badan pesawat saat aku melangkah menuju pintu keluar pesawat bagian depan.
"Nyenyak banget tidurnya. Mimpi apa?" Andi Syarif mulai comel menggodaku dengan senyum tengilnya.
"Mimpi terbang di atas awan." jawabku asal.
"Emang beneran terbang di atas awan kan?"
"Iya." jawabku sambil terus berjalan menuju pintu kedatangan.
Andi Syarif mengaktifkan gawainya. Terdengar tang ting tung suara pesan masuk bertubi-tubi.
"Mas Firdaus tadi nelpon. Ada apa ya?" Andi melirik ke arahku.
Kujawab dengan meninggikan bahu. Andi segera menelepon balik.
"Assalamu'alaikum. Mas Firdaus tadi telepon saya?"
"Wa'alaikumsalam. Iya. Kamu sudah sampai mana? Hpnya Fifa tidak aktif ya?"
"Baru sampai bandara Sultan Baabullah."
Andi menyenggol perutku dengan sikunya, "Cek hpmu, Fifa. Ketinggalan nggak?" tanyanya pelan.
Aku mengambil gawaiku di kantung bagian depan tas ranselku dan kutunjukan gawai yang sengaja sejak tadi kumatikan itu.
"Hp Fifa dimatiin, Mas. Masih malas ngidupin. Kayaknya dia jalan masih dengan setengah nyawa. Sepanjang perjalanan di atas pesawat dia tidur nyenyak banget." Andi melaporkan kelakuanku sambil tertawa kecil.
"Aku sudah mendarat setengah jam yang lalu. Mau bareng nggak sampai kantor PT XY? Aku sewa heli."
__ADS_1
"Mau banget, Mas." Andi menjawab dengan tangkas dan antusias.
Sikunya kembali menyenggol perutku. "Ditawarin naik heli kita." bisiknya sambil mengangkat alis dan tersenyum nakal.