
Tak kuduga Hisyam mengantarkan kami sampai di bandara sultan Hasanudin Makassar. Perjalanan ini agak nekat sebab kami harus berlayar malam dengan kapal cepat sewaan untuk sampai di Ternate malam itu juga. Hisyam cukup sabar memandu kami para perempuan yang sama-sama kesulitan untuk saling mendukung. Kondisi mentalku buruk akibat dua peristiwa pahit yang baru kualami. Ditambah mama yang tak tahu jalan dan mabuk laut. Tak tahu bagaimana nasib kami bila tak dibantu Hisyam. Kami benar-benar terombang-ambing seperti pencari suaka yang melarikan diri dari kampung halamannya.
Hisyam pula yang memesankan hotel dekat bandara dan membelikan aku 2 buah hijab syar'i lengkap dengan cadar. Aku sedikit percaya diri mengenakannya sebab luka di wajahku bisa disembunyikan dengan utuh dengan berpakaian ala wanita Timur Tengah.
"Kami telah sampai di Ternate dengan selamat, mas Bray."
Bray menelpon Hisyam ketika kami dalam perjalanan ke hotel.
"Ya. Semua sudah beres. Saya pasti akan mengantar mereka sampai bertemu pak Rodi dan Fifi di bandara. Mas Bray sudah hubungi Fifi kan?"
"Fifa masih banyak diam tapi insya Allah sehat."
Hisyam menutup teleponnya. Bray pasti yang merencanakan semua ini. Kami menurut saja.
"Nak Hisyam telepon mas Firdaus?"
"Iya. Beliau memantau terus kita sudah ada di mana. Beliau mengabarkan kalau mbak Maudy marah-marah tidak mau dimasukan dalam sel tahanan polsek. Orang tuanya turun tangan. Tapi mas Bray dan dokter Hans sejak awal sudah menekan kapolsek agar tidak membebaskan mbak Maudy dengan jaminan apapun."
"Orang tuanya sudah datang?"
"Kabarnya sudah. Naik jet pribadi lewat bandara Buli. Itu sebabnya saya buru-buru bawa mama dan Fifa keluar dari sana. Takutnya kalian nanti diintimidasi mereka minta cabut berkas laporan."
Mama mencibir. "Nggak mungkin mama mau cabut berkas. Mama malah mau bikin wajahnya Maudy itu rusak seperti wajah Fifa. Biar adil."
"Mereka punya uang, licik, dan dekat dengan kekuasaan, Ma. Sulit melawan mereka. Makanya biar mas Firdaus saja yang menghadapi. Kita harus sampai di Makassar besok pagi. Mereka pasti pikir-pikir kalau mau melawan bangsawan Bugis seperti neneknya Fifa. Biar mereka tahu yang telah mereka rendahkan itu keturunan bangsawan Bugis."
Licik juga strategi Bray. Dia sudah memperhitungkan kemungkinan Maudy yang manja itu enggan menginap di sel tahanan polsek yang mungkin kotor, banyak kecoa dan harus tidur tanpa kasur empuk. Gadis cantik itu sudah terbiasa hidup mewah. Bisa kubayangkan bagaimana sengsaranya dia harus bermalam di sel tahanan polsek. Aku tersenyum samar.
Gadis itu pasti berpikir segalanya bisa diselesaikan dengan uang. Dia pasti merengek kepada orang tuanya agar membantunya keluar dari sel tahanan apapun caranya. Trik ini sudah terbaca oleh Bray hingga dia bisa mencari cara bagaimana strategi antisipasinya.
Malam ini aku merasa tenang walau harus merasakan perihnya luka di wajahku. Di hotel aku tak berani menatap cermin. Takut melihat wujud kuntilanak di wajahku sendiri. Aku tertidur nyenyak selama 6 jam tanpa menunggu Bray meneleponku. Bangun tidur kulihat ada panggilan tak terjawab di tengah malam. Untunglah gawai sengaja aku setel mode sunyi agar tak mengganggu tidur mama.
Subuh aku shalat tanpa membasuh wajah sebab nyeri lukaku makin menjadi bila terkena air. Lepas shalat aku sengaja membuka jendela kamar seluas-luasnya hingga tampak pemandangan gunung Gamalama yang masih diselimuti kabut.
"Jam berapa kita boleh ke resto untuk sarapan."
"Jam 6 pagi."
"Kita harus mandi sekarang biar selesai sarapan langsung berangkat ke bandara."
"Iya, Ma."
Mama agak terpengaruh skenario Bray yang harus sampai Makassar sedini mungkin. Padahal jadwal pesawat take off jam 7.55. Masih cukup waktu untuk duduk sejenak menikmati indahnya Gamalama di waktu pagi.
Perjalanan kami lancar. Sampai di Makassar Fifi dan pak Rodi telah menjemput di pintu kedatangan. Hisyam mengambil gambar pertemuan kami di pintu kedatangan. Pasti buat laporan ke bosnya.
"Kakak, aduh kenapa kakakku jadi ninja begini? Kakak habis dari Jepang ya?" Fifi berkelakar menggodaku.
__ADS_1
Adikku itu memelukku lebih dulu sebelum mama. Mau cipika cipiki aku buru-buru menghindar dan menepis pipinya dengan tangan.
"Oh iya, maaf! Fifi lupa kalau wajah kakak luka. Kenapa bisa sampai begini sih Kak? Segitu nggak amannya kampung kita sekarang."
"Entahlah." Aku tak tahu jawabannya.
Fifi beralih menyalami, memeluk dan cium pipi kanan kiri mama.
"Mama sudah bawa berkas kepindahan Fifi kan?"
"Iya. Sudah."
"Mama ikut pindah di sini saja. Kak Fifa juga. Kita sama-sama jaga nenek di sini."
Mama hanya menoleh dan memandangku tanpa kata. Mungkin dalam hati mama tengah mempertimbangkan usul Fifi itu.
Aku tak ingin mengambil keputusan terburu-buru. Saat ini mentalku masih kacau. Aku butuh merenung dan sendirian untuk sementara waktu buat memulihkan kondisi mentalku yang ambruk.
"Kita akan mampir ke klinik dokter Natasha dulu, Kak. Sebelum jemput kakak tadi, kami sudah reservasi."
"Mampir Klinik?"
"Kata nenek harus begitu."
"Siapa yang sakit?"
"Kakak harus cepat sembuh biar nggak jadi ninja terus. Kalau niat seterusnya pakai cadar juga nggak apa-apa sih biar kayak ukhti-ukhti. Kalau sekarang kan pakai cadar karena malu wajahnya luka."
"Bukan cuma karena malu, Fifi. Luka kakak itu masih basah. Nggak boleh kena debu atau partikel yang bikin infeksi."
Fifi tak menyahut kecuali dengan senyum ringan.
Tak lama mobil berhenti di sebuah klinik yang gedungnya cukup mewah dan berarsitektur modern minimalis. Mama dan pak Rodi menunggu di lobi sementara aku dan Fifi langsung di ruang tunggu dokter spesialis yang tempatnya lebih privat untuk pasien dan seorang pendamping saja. Setelah menunggu hampir satu jam suster mempersilakan kami masuk.
"Oh, ini cucunya bu Arifah yang katanya dicakar orang ya."
"Bukan orang, dok. Tapi macan yang nyakar. Kalau manusia mah tahu adab, punya kuku bukan buat nyakar orang."
Dokter tersenyum mendengar celoteh Fifi yang ceplas ceplos.
Aku membuka perekat cadar yang menempel di bagian belakang kepala.
Fifi agak kaget melihat lukaku. Mungkin tak menyangka separah itu.
Dokter memeriksa dengan teliti menggunakan alat semacam senter kecil sambil membersihkan tiap bagian luka. Setelah itu ia mengoleskan salep bening yang rasanya dingin di bagian luka itu.
Dokter cantik itu menuliskan resep obat yang harus dibeli di apotik yang ada di bagian depan klinik dekat kasir. "Sehari 3 kali lukanya dibersihkan dengan alkohol lalu dioleskan salep ini ya. Obatnya juga diminum 3 kali sehari sampai habis." terangnya ramah.
__ADS_1
"Berapa lama kira-kira luka kakak saya bisa sembuh dok?"
"Mungkin butuh 3 atau 4 minggu. Soalnya ada beberapa bagian luka yang cukup dalam. Harusnya dijahit tidak lama setelah kejadian. Tapi yah... nggak apa-apa. Jangan pakai make up atau produk perawatan kulit dulu ya. Boleh pakai minyak zaitun buat bantu nutrisi kulit."
"Bisa pulih mulus tanpa operasi plastik kan Dok?"
Eh malah Fifi yang aktif nanya. Baguslah. Aku malas bicara. Lukaku terasa lebih nyeri kalau harus bicara.
"Mau operasi plastik?"
"Nanya kemungkinan aja sih dok. Siapa tahu aja luka di wajah kakak saya bakal menimbulkan cacat kalau sembuh nanti. Kan kasihan. Sebelumnya kakak saya ini cantik dan banyak yang naksir lo, Dok. Jangan sampai gara-gara macan kurang ajar itu kakak saya jadi jomlo seumur hidup."
Dokter kembali tersenyum mendengar pernyataan polos Fifi.
"Fifa masih muda dan kondisi nutrisi kulitnya bagus. Semoga saja lukanya segera menutup sempurna. Nanti kita lihat perkembangannya seminggu lagi. Kita masih usahakan terapi alami seperti keinginan bu Arifah."
"Terima kasih, Dokter."
"Jangan lupa minggu depan kontrol lagi ya."
"Baik, Dok."
Setelah selesai menebus obat, kami langsung pulang ke rumah sewaan yang terletak dekat kedai itu. Namun di tengah jalan bi Siti menelepon agar kami mampir ke kedai dulu.
Pegawai kedai menyambut kami dan langsung membawa kami menuju ruang VVIP yang besar dengan pemandang menghadap pantai. Sudah ada tamu yang ditemui nenek dan pak Tristan di sana.
"Itu dia. Cucu saya baru saja kembali dari klinik spesialis kulit dan kecantikan." terang nenek ketika kami datang menemuinya.
Kami menyalami semua yang ada di ruangan itu. Termasuk seorang ibu setengah baya yang duduk berseberangan dengan nenek yang didampingi seorang perempuan muda dan lelaki setengah baya. Mereka tamu nenek siang itu.
"Perlihatkan lukamu pada pada ibu Mayta ini, Fifa!"
Aku menggeleng.
"Dia itu mengaku ibu dari Maudy, orang yang membuat wajahmu jadi rusak. Dia datang ke sini buat minta kita cabut berkas laporanmu soal penganiayaan kemarin."
Aku tetap menggeleng sambil memeluk mama. Ternyata orang tua Maudy berani menghadapi nenek di sini. Cepat sekali dia sampai. Apa naik privat jet lagi?
"Cucu saya trauma berat, Bu. Penganiayaan yang dilakukan anak ibu tidak bisa dimaafkan. Tidak ada istilah cabut berkas perkara. Silahkan anda pulang dan biarkan anak anda bertanggung jawab secara hukum!" tegas nenek.
"Maafkan kami, bu Arifah! Saya mohon kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara damai."
"Damai? Tidak bisa. Anak ibu sudah membuat wajah anak saya cacat. Saya mau cabut laporan kalau anak ibu diperlakukan sama seperti kelakuannya pada anak saya." Mama bicara lantang. Aku tak pernah melihat perempuan penyabar bisa bicara lantang dan keras begitu.
Mama membuka perekat cadarku dan memperlihatkan luka yang tak ingin kuperlihatkan pada siapapun. Tidak hanya perih yang kurasakan. Aku malu punya wajah penuh goresan luka. Setelah mama membuka cadar, aku menunduk tak ingin menatap siapapun.
"Ibu lihat wajah anak saya! Lihat baik-baik hasil kekejaman anak yang ibu bela. Ibu mau anak ibu wajahnya saya buat jadi begini?" tantang mama membuat perempuan setengah baya itu mengkerut dan menggelengkan kepala.
__ADS_1