LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KABAR ARFA


__ADS_3

Semua orang bisa melakukan kesalahan yang tidak sengaja dan tak pernah disadarinya. Aku salah sebab pernah menghakimi Bray dan perusahaan tambangnya hanya berdasarkan prasangka dan sudut pandangku saja. Tanpa dialog. Tanpa mengerti bahwa perusahaan telah berupaya membuat warga kampung hidup lebih layak. Aku terlalu larut dalam kecewa akibat kehilangan baba dan kehidupan damai masyarakat kampung yang selama ini dibangun baba turut hilang dengan adanya perusahaan tambang dan modernitas.


Bray tidak seperti baba. Bukan orang yang sudi meninggalkan kehidupan mapan untuk berdakwah dan hidup dengan mengandalkan kemurahan alam yang diberi Sang Pencipta. Tapi Bray cukup peduli pada lingkungan dan hak asasi manusia. Bukan pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan buat diri sendiri dan golongannya.


"Menurutku yayasan bisa membiayai riset antropolog yang mau mempelajari apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh suku Lili atau warga kampung yang kamu bilang memilih kembali ke hutan pasca kedatangan kami. Buat aja pengumuman tender untuk itu."


"Kenapa harus antropolog?"


"Karena mereka lebih ahli dan berpengalaman menghadapi suku-suku terasing. Kami sadar membuka tambang merupakan salah satu bentuk perubahan sosial yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat setempat. Sudut pandang kamu dan aku jelas berbeda. Kamu menganggap kami perusak peradaban. Sementara kami menganggap telah membantu membangun peradaban yang lebih layak dengan menyediakan fasilitas sosial dan merealokasi warga."


Aku mengangguk. Perlahan kuambil gawaiku dan bertanya pada mbah Google tentang apa itu antropolog.


"Antropolog bisa bersikap netral dalam meneliti apa kebiasaan dan kebutuhan orang-orang dalam suatu kelompok masyarakat. Tidak hanya melihat dari satu sudut pandang."


Oh ternyata antropologi adalah ilmu yang mempelajari segala macam seluk beluk, unsur-unsur, kebudayaan yang dihasilkan dalam kehidupan manusia. Mereka mempelajari bagaimana ekonomi masyarakat, agama dan keyakinan, politik pemerintahan, fisik manusia, kesehatan, perkembangan teknologi dan berbagai aspek lainnya berpengaruh terhadap kehidupan sekelompok manusia.


"Cocok." seruku. Tak perlu cari tahu sendiri bagaimana keadaan saudara kami yang memilih pergi kembali ke hutan. Cukup utus antropolog untuk meneliti keadaan mereka dan mencari rekomendasi solusi untuk kebaikan mereka. Kupikir ini solusi paling pas buat aku dan Bray yang berada di sudut pandang yang berseberangan.


"Masalah dana nanti bisa dicarikan. Yakin saja setiap niat baik pasti akan dibukakan jalan."


Aku tersenyum. Ide bagus. Aku yakin bisa sisihkan uangku buat mewujudkannya. Mudah-mudahan saja biayanya terjangkau oleh kantongku yang saat ini sudah agak tebal. Untung dapat rejeki tak disangka-sangka. Tuhan teramat baik padaku. Bukan hanya wawasanku yang lebih terbuka, namun banyak jalan menumpas keresahan yang mengganggu pikiranku.


"Mas Bray pintar." pujiku malu-malu.


Bray tersenyum bangga.


Sejenak kami baku tatap dalam diam. Aku bangga padanya. Merasa beruntung dekat dengannya. Rasanya tak sabar ingin memilikinya. Dia berharga lebih dari apapun.


"Oh iya, kamu tahu dimana sahabatmu yang bernama Arfa itu sekarang?" tanya Bray memecah suasana hening diantara kami.


"Nggak tahu. Sudah lama Arfa tidak balas chat aku. Mungkin sudah ganti nomor."


"Dia sudah tidak bekerja di pulau Obi."


"Nggak tahu juga."


Bray membuang nafas panjang. "Arfa melarikan diri dari pulau Obi sejak bulan lalu."


Apa? Melarikan diri? Memangnya kenapa melarikan diri?


Sudah lebih dari 2 bulan Arfa tak menjawab pesan singkatku. Pernah iseng menghubunginya tapi tak tersambung. Kupikir Arfa marah karena aku ikut campur soal masalahnya dengan Deya dan hutang piutang keluarganya.


Hubunganku dengan Deya juga putus setelah dia dan keluarganya berkali-kali melabrakku. Kami sama-sama kesal. Kadang menyesal juga kenapa persahabatan kami putus gara-gara kesalahpahaman itu. Apalah aku ini. Sudah punya teman sedikit, retak pula. Tapi semua bukan kehendakku dan aku tak tahu bagaimana cara memperbaiki hubungan kami. Hatiku masih sakit. Hinaan dan tuduhannya masih sering tergiang di kepalaku. Dia tak merasa bersalah. Akupun demikian. Tak ada titik yang mempertemukan hubungan kami.

__ADS_1


"Arfa melakukan kesalahan besar yang membuat malu Hisyam." ungkap Bray dengan wajah muram. Ia tampak sedikit ragu mengatakannya.


"Kesalahan apa?"


"Di PT XY sebenarnya dia punya kasus kelalaian yang menyebabkan rekan kerjanya meninggal jadi korban kecelakaan kerja."


Aku terperangah. Tak percaya. Arfa tak pernah bercerita tentang kasus ini. Hisyam juga tidak.


"Aku nggak enak ngomong gini sama kamu. Arfa sudah memohon agar perkara ini tak dipublikasikan dan tak dilaporkan polisi. Sebagai gantinya dia membuat surat pengunduran diri. Kami menganggap kasus ini human error. Pekerja yang meninggal kami pulangkan ke keluarganya dengan baik-baik dan memberi santunan sesuai peraturan. Asuransi kematian dan kecelakaan kerjanya juga kami urus hingga pihak keluarga ikhlas tak menuntut perusahaan. Hisyam sudah menasehati Arfa agar bekerja lebih hati-hati dan memberinya kesempatan buat bekerja di perusahaan sejenis di pulau Obi. Ternyata di sana dia melakukan kesalahan yang lebih berat, yaitu melarikan diri dengan membawa aset perusahaan."


"Bukannya sulit melarikan diri dari pulau Obi?"


"Entahlah. Kemungkinan sudah terencana. Bukan cuma Arfa yang terlibat. Ada 5 pekerja tambang yang satu tim dengannya terlibat dalam kasus itu."


Ya Tuhan, apa hutang orang tuanya yang membuat Arfa nekat melakukan itu? Atau dia tidak betah di pulau Obi lalu nekat melarikan diri? Aku tak tahu jawabannya lantaran selama ini terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Aku tak tahu masalah yang mendera sahabatku sendiri.


Dimanakah Arfa sekarang? Aku jadi mencemaskan keadaannya. Apakah sahabat baikku itu baik-baik saja?


Arfa, kamu dimana?


"Hisyam ditegur rekannya karena dia yang merekomendasikan Arfa."


"Kenapa kak Hisyam tidak cerita sama aku?"


Nyaliku langsung ciut. Seram sekali marahnya. Padahal aku hanya bereaksi spontan. Api cemburu sudah berkobar. Kukira karena tahu kalau Arfa sahabatku sejak kecil Bray tidak akan marah jika aku mengkhawatirkannya. Apalagi Arfa telah menghilang tanpa kabar.


"Hisyam sudah menghubungi keluarganya. Arfa memang sempat pulang dan membayar lunas seluruh hutang keluarganya. Hanya sehari di rumah lalu pergi lagi. Menurut pengakuan keluarga dia pamit buru-buru karena harus segera kembali ke pulau Obi. Anehnya sampai saat ini dia tak kembali ke pulau Obi dan nomor teleponnya tak bisa dihubungi."


Oh Tuhan, aku jadi merasa bersalah. Aku sempat memarahi Arfa dan memintanya menikahi Deya atau menyelesaikan masalah hutang keluarganya agar aku tidak terus menerus dituduh dan dihina. Bisa jadi karena desakanku itu Arfa gelap mata ikut bergabung dengan komplotan pekerja yang melarikan diri dengan membawa aset perusahaan.


"Kenapa mukamu berubah pucat?"


Rupanya Bray melihat perubahan ekspresi wajahku. Terpaksa aku harus jujur mengungkapkan apa yang kurasakan.


"Aku merasa bersalah. Aku pernah menelpon dan memaksa Arfa menikahi Deya atau membayar hutang-hutang keluarganya. Waktu itu aku sangat kesal karena Deya dan mamanya kerap melabrakku gara-gara salah paham soal Arfa. Apalagi Arfa pergi tanpa pamit pada mereka yang menuntut pembayaran atas hutang keluarganya." jawabku dengan suara pelan. Aku benar-benar menyesal. Seharusnya aku lebih sabar menghadapi Deya, bukannya memarahi Arfa.


Bray memulas bibir dengan senyum tipis. Kelihatan bijak tapi ada raut meremehkan. Sungguh senyum yang aneh. Meski aneh tetap saja membuat darahku mengalir lebih cepat dan hormon oksitosin berhamburan menebarkan rasa bahagia yang tak bisa kuuraikan dengan kata-kata.


"Jangan-jangan Arfa mencuri gara-gara kamu."


"Jadi, ini salahku?"


"Ya. Salah kamu. Karena kamu cantik jadi Arfa tak mau menikahi Deya demi membayar hutang keluarganya. Dia bayar lunas hutang keluarganya pasti karena masih berharap menikahimu." tegas Bray tanpa aling-aling.

__ADS_1


Hih, sebal. Hisyam pasti sudah cerita pada bosnya bagaimana hubunganku dengan Arfa.


"Kamu ada rasa sama Arfa?" tiba-tiba saja dia mencurigaiku.


"Enggak."


"Sungguh?"


"Kalau iya, mas Bray mau apa?" Kesal justru membuatku berani menantangnya. Aku berdiri dan kutatap matanya dengan tajam.


Bray justru menunduk dan menahan senyum melihat reaksiku. "Aku mau menaruh kamu di dalam aviary hatiku supaya tidak bisa terbang ke mana-mana. Arfa sekarang sudah jadi buronan polisi. Aku yakin kamu pasti tidak mau menikah dengan buronan."


"Sebelum jadi buronan aku memang nggak mau nikah dengan Arfa." jawabku sewot. "Apalagi sudah jadi buronan." Bray masih saja tersenyum.


"Sebagai sahabat aku peduli dan khawatir padanya. Dia yang menemani aku sejak aku kecil, saat aku tak punya teman dan menemaniku belajar menyelesaikan ujian persamaan kejar paket A, B dan C. Dia hampir selalu ada saat aku susah. Tak mungkin aku mengabaikannya saat ia dalam masalah." tegasku.


Bray masih tersenyum.


"Kamu tahu berapa hutang Arfa?"


"Sekitar 100 juta-an."


Bray mengangguk-angguk dan tersenyum remeh. Memang hutang kekuarga Arfa bukan jumlah yang besar bagi seorang Firdaus Sanjaya. Harga perhiasan yang baru dibelikannya untukku saja berkali-kali lipat dari nilai hutang keluarga Arfa. Tapi dengan jumlah itu orang kampung bisa beli beberapa hektar kebun yang bisa menghasilkan komoditas pertanian untuk menopang hidup.


"Beri tahu aku atau Hisyam kalau ada kabar dari Arfa ya." suara Bray mulai melembut.


"Memangnya Arfa masih ada sangkutan ke mas Bray dan kak Hisyam?"


"Ada."


"Masalah apa?"


"Nanti akan kuceritakan kalau sudah kasusnya sudah pasti dan jelas."


"Cerita sekarang aja!" rengekku.


"Lebih baik dipastikan dulu kasusnya supaya kamu nggak kepikiran. Aku tidak mau menyampaikan sesuatu yang sementara masih berupa dugaan." ungkapnya remeh.


Aku menghentakkan tubuhku di kursi sambil menggerutu, "Kalau begitu harusnya nggak usah cerita aja sekalian. Aku kan penasaran."


Bray tersenyum tanpa menanggapi kekesalanku. Aku sebal dengan sikapnya yang cuek. Sering tak menanggapi sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Padahal itu penting buatku.


"Kita pulang yuk! Nanti kemalaman." Tanpa menunggu persetujuanku Bray sudah mengangkat tangan dan memberi instruksi pada supir yang menunggu kami di meja yang lain untuk segera meninggalkan restoran.

__ADS_1


"Ayo, Sayang! Restoran ini sebentar lagi mau tutup." bujuknya sambil menunjuk beberapa petugas yang sudah bersih-bersih bersiap untuk menutup gerai.


__ADS_2