LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
HELIOPHoBiA


__ADS_3

Selesai shalat subuh Bray mengantarku ke kantor yayasan dengan ditemani pak Wahyu sebagai supir. Dengan telaten pria itu menyiapkan 2 kotak susu, biskuit dan buah-buahan untuk bekal sarapan pagiku. Walau aku mengeluh bosan dengan menu itu, Bray tetap melakukannya tiap pagi. Kadang kumakan. Kadang tidak. Tapi aku berusaha selalu minum susu yang disediakannya, baik itu susu kaleng bergambar beruang atau susu kotak bergambar hati yang beraneka rasa. Ada rasa berry, almond dan coklat. Bray hanya marah kalau aku membuang susu. Mubazir. Itu sebabnya aku berusaha minum susu walau kadang harus menutup hidung dan menahan rasa mual.


"Masih sepi, Sayang." komentar Bray ketika kami sampai di depan kantor.


Ya. Hari masih terlampau pagi. Siapa juga yang mau ke kantor pagi buta kecuali ibu hamil yang takut sinar matahari.


Aku berdiri menyaksikan Bray membukakan pintu kantor dan menaruh barang-barang yang kubawa dari rumah. Selain laptop, aku juga bawa kamera, bantal, bekal makanan, vitamin, dan boneka beruang besar. Jangan tanya kenapa aku membawa benda-benda itu. Tak ada alasan khusus. Hanya menuruti keinginan yang tiba-tiba muncul. Aku tak tahu pasti apa yang akan kukerjakan hari ini. Sebelum matahari muncul, aku harus ke kandang rusa dulu menjenguk anak rusa timor yang baru lahir minggu lalu dan mengabadikan gambarnya dengan kamera. Rencana selanjutnya mungkin memeriksa laporan Aryati, staf administrasi kami atau berlindung di rumah pohon yang terletak di dalam aviary sambil mengamati perilaku burung yang ada di dalamnya.


Bray semakin sabar menghadapi suasana hatiku yang naik turun. Entah kenapa aku selalu berpikiran buruk tentangnya. Kami tak pernah komunikasi dengan saling berbalas senyum lagi. Sebabnya mungkin karena aku yang gampang tersinggung sering salah mengartikan senyumnya. Bray cenderung memilih diam daripada terlibat pertengkaran.


Tak hanya mengantarku sampai kantor yayasan. Bray mengikutiku berjalan ke belakang kantor menuju kandang rusa. Tanpa senyum. Tanpa bicara sepatahpun.


"Halo, mas Firdaus. Tumben pagi sudah di sini." sapa dokter Hans seiring senyum lebar yang mengembang.


Sepagi itu dokter Hans sudah sibuk bersama asistennya mempersiapkan makanan bergizi buat rusa-rusa peliharaannya. Rajin sekali.


"Iya. Mengantar nyonya muda Katanya mau jenguk anak rusa yang baru lahir minggu lalu."


Dokter Hans tersenyum mendengar jawaban itu. Sementara aku cemberut. Kesal. Siapa juga yang manja minta diantar ke kandang. Aku nggak menyuruh dia seperti nyonya majikan pelayannya. Bray sendiri yang membuntutiku. Kenapa aku yang dipersepsikan jahat seolah-olah aku memperlakukan suami seperti pelayan.


Dokter Hans menunjuk seekor induk rusa yang sedang tidur meringkuk melindungi anak-anaknya di bawah pohon nangka yang lebat buahnya.


Aku bergegas menghampiri rusa itu. Sementara Bray melanjutkan obrolan dengan dokter Hans sambil mengawasiku dari jauh.


Rusa betina kecil yang tampak rapuh itu kaget dengan kehadiranku. Ia terbangun lalu mengamatiku. Waspada terhadap kemungkinan hadirnya ancaman buat anak-anaknya. Aku diam mengamati anak-anak rusa kecil tidur "kruntelan". Kelihatan nyaman saling melindungi dan saling menghangatkan satu sama lain. Begitulah sebaiknya sebuah keluarga. Saling mendukung.

__ADS_1


Jepret. Jepret. Aku mengambil gambar dan video dari berbagai sudut pandang. Aih lucu-lucu. Aku mengagumi hasil tangkapan layar kamera digitalku.


Silau. Sinar matahari terasa menembus lensa mataku. Aku menutup mata dengan punggung tanganku menghindari sinar itu. Rupanya matahari telah beranjak meninggalkan peraduannya. Dia menunjukan rupa seperti bola berwarna jingga kemerahan.


Kukucek-kucek mataku lalu kembali menatap ke depan. Kini Matahari terlihat seperti bola api yang bergerak perlahan ke atas. Entah kenapa aku takut bola api menggelinding jatuh, dan membakar tubuhku.


Oh tidak. Aku harus menyelamatkan diri. Aku buru-buru membalikan tubuhku lalu berjalan cepat setengah berlari menuju kantor yang sepi. Aku bergegas masuk. Kututup pintu agar aman lalu meringkuk di sofa dan menyelimuti diri.


"Ada apa, Sayang? Kenapa lari ketakutan begitu?" Bray membuka pintu dengan wajah cemas memburuku.


"Bola api itu akan membakarku."


Bray kebingungan. Celingak -celinguk ke sana ke mari sambil berpikir keras apa maksudnya.


Bray pernah bercerita di Jawa ada mitos tentang banaspati yang wujudnya seperti bola api. Banaspati adalah satu jenis makhluk halus yang diyakini senang mengisap darah.


Diceritakan pula bahwa Banaspati memiliki wujud yang mengerikan. Dia berjalan dengan cara yang tidak lazim, karena kepalanya menjadi kaki.


Sementara, korban yang diincar Banaspati adalah bayi yang baru lahir.


Dalam budaya Jawa juga dipercayai bahwa, sosok banaspati dianggap sebagai pembawa kabar kematian massal warga desa dalam wujud kilatan-kilatan api berbentuk naga. Dengan pesan inilah masyarakat setempat diminta harus waspada dan berhati-hati, termasuk lebih banyak tinggal di rumah untuk sementara waktu.


"Matahari. Matahari itu seperti bola api yang mengejarku, Mas."


Bray geleng-geleng kepala menahan senyum. "Kupikir kamu melihat makhluk mitos yang namanya banaspati. Ternyata yang kamu maksud bola api itu matahari."

__ADS_1


Dokter Farhana benar, sepertinya aku mengalami gangguan kejiwaan. Aku butuh pertolongan psikiater. Mungkinkah aku mengalami halusinasi, melihat matahari sebagai bola api yang akan menyerangku. Padahal tak ada satu pun orang yang melihat begitu. Matahari ya matahari. Pusat tata surya yang cahayanya setiap hari menerangi bumi. Aku jadi sedih. Bray pasti malu. Ibu dari calon anaknya menderita gangguan jiwa. Kenapa dengan aku? Bagaimana dengan anakku? Apakah dia akan baik-baik saja?


"Assalamu'alaikum. Ada apa dengan Fifa, mas Firdaus?"


"Wa'alaikumsalam."


Dokter Farhana menatap Bray dan aku bergantian. Aku malu. Kuputuskan menyembunyikan diri di balik selimut. Kupeluk boneka beruang besar yang bulunya lembut dan tubuhnya empuk. Kenapa aku seperti ini? Ada apa dengan aku? Kenapa tingkahku begini? Apakah aku gila?


"Tidak apa-apa, Dokter. Fifa takut matahari. Sudah saya bilang tidak usah ke kantor yayasan, tapi dia ngotot. Katanya perlu menjenguk anak rusa dan bertemu teman."


"Ooh. Nggak apa-apa, Mas Firdaus. Memang ibu hamil itu ada yang tiba-tiba jadi heliophobia atau takut matahari seperti Fifa. Biasanya terjadi sementara selama trisemester pertama saja. Ada juga sih yang berlanjut sampai trisemester terakhir. Tapi jarang."


Aku mengintip dari balik selimut. Bersyukur ada yang membela. Mungkin perempuan-perempuan lain ada yang bertingkah aneh di luar kendali pikiran normal pada masa awal kehamilan.


"Fifa butuh teman dan aktivitas bersama biar tidak merasa kesepian. Dia ingin mencoba beraktivitas normal bersama kami. Biar nggak stres."


"Sebenarnya saya mau mengajaknya konsultasi dokter spesialis di Jakarta atau di Makassar. Tapi Fifa selalu menolak. Saya takut bayi kami kekurangan vitamin D karena Fifa tak mau bertemu matahari. Dia agak aneh akhir-akhir ini. Makannya susah. Gampang marah, sedih dan tersinggung."


"Fifa baik-baik saja, mas Firdaus. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan hormon dalam tubuhnya yang membuat suasana hatinya buruk."


Bray mengangguk dan tersenyum. Aku mendehem agar ia menghentikan upayanya tebar pesona. Ngapain sih pakai senyum-senyum sama dokter Farhana. Dia memang lebih pintar dan manis. Tapi dia istri orang. Harusnya Bray hanya senyum untuk aku. Dia yang sudah membuat aku jadi begini, gara-gara mengandung anaknya.


"Mas berangkat kerja aja sana. Nanti jemput lagi sore. Siang nggak usah ke sini. Kami mau makan siang dan rujakan sama-sama." usirku sambil mendorong-dorong tubuhnya ke luar ruangan.


Bray tersenyum. Ia meninggalkan aku setelah menitipkan aku pada dokter Farhana agar dibimbing. Benar-benar seperti menitipkan anak TK pada gurunya.

__ADS_1


__ADS_2