
Entahlah rasa pening dan mual yang datang di pagi hari membuatku malas beraktivitas. Aku juga membenci sinar matahari. Pekerjaanku kacau balau. Maunya hanya marah dan menangis. Bray lebih sering mengalah dan diam. Akhir-akhir ini ia tak lagi memaksaku makan. Tiap pagi ia menyiapkan susu, biskuit, dan aneka buah-buahan di meja makan sebelum pergi ke kantor. Siang sebelum dzuhur dia datang membawakan sendiri makan siang permintaanku. Setelah makan siang ia ke pergi ke masjid lalu kembali beraktivitas di kantor. Hubungan kami berubah hambar. Dia makin jarang senyum.
Keadaan ini membuatku makin tersiksa. Aku merasa makin tak dicintai. Bray terpaksa melayaniku demi anaknya. Sering terbayang dalam benakku setelah bayi ini lahir, ia akan merampas anakku dan mencampakkan aku. Bayangan buruk itu selalu menghantuiku. Setiap hari. Setiap saat. Aku takut bayangan itu benar--benar jadi kenyataan.
Dua minggu ini aku mengurung diri di rumah. Tidak pergi ke yayasan. Tidak pula menyapa tetangga sebelah rumah. Tiba-tiba dokter Farhana datang menjenguk ke rumah bersama Aga.
"Assalamualaikum. Apa kabar. Apa kabar." Aga mengucap salam dan mengoceh berulang-ulang seperti kebiasaannya.
Aku sudah hampir melupakan burung nuri sahabatku itu. Sejak ia tak mau hinggap di lenganku lagi, aku sudah malas mengunjunginya. Apalagi sekarang dengan keadaan hatiku yang tak karuan begini.
Aku memaksakan senyum dan menjawab salam tamu-tamuku dengan ramah.
"Aga kangen kamu. Sudah 2 minggu kamu tidak ke kantor yayasan. Kata mas Firdaus kamu masih sakit, makanya kami jenguk ke sini. Sakit apa?"
"Mual dan pusing."
Sesungguhnya bukan mual dan pusing masalah utamaku. Tapi suasana hatiku yang tak karuan. Aku tak ingin bertemu siapa-siapa. Aku sudah tak berguna. Kantor yayasan sudah punya satu staf administrasi yang mengurus segala urusan operasional sehari-hari. Tanpa aku operasional yayasan sudah bisa berjalan dengan lancar.
"Sudah ke dokter?"
"Sudah."
"Apa kabar. Apa kabar." Aga ribut mengulang-ulang kalimat yang sama.
"Dokter ke sini bukan mau periksa saya kan?"
Dokter Farhana tertawa, "Enggak. Saya kan dokter hewan, bukan dokter manusia."
"Hehehe. Kirain bisa jadi dokter manusia juga. Kalau menurut ilmu biologi kan manusia digolongkan dalam jenis mamalia, sama seperti monyet, sapi, kambing, paus dan lumba-lumba."
"Bisa aja."
Dokter Farhana membiarkan Aga terbang dan hinggap di pohon kenari di sebelah masjid. Burung itu mengucapkan salam pada semua orang yang berada di sekitar masjid. Semua yang berada di sekitarnya tertarik memperhatikan celoteh burung nuri kepala merah itu. Kelihatannya burung itu mulai narsis, senang memamerkan kebisaannya agar menarik perhatian banyak orang.
"Saya prihatin dengan sakit kamu. Kangen juga. Tadinya staf lain juga mau jenguk, tapi tidak saya perkenankan. Takut mengganggu istirahat kamu."
Dokter Farhana tahu aku tak suka suasana ramai. Baguslah mereka tidak ikut ke sini. Selain bising aku juga malu dijenguk orang banyak. Apalagi kalau mereka tahu aku sebenarnya tidak sakit.
"Rusa timor yang dulu dititipkan BKSDA sudah melahirkan hari senin lalu. Bayinya 3 dan lucu-lucu."
"Iya. Sudah lihat videonya. Maaf. Belum sempat jenguk."
"Bayi dan induknya semua sehat. Burung-burung di aviary juga sehat semua. Pak Andi menanyakan kabarmu dan titip salam. Kemarin dia titip seekor siamang yang luka akibat dipanah pemburu."
Aku tersenyum masam. Dokter Farhana kok gitu ya. Ngomong siamangnya sambil memandang aku. Memangnya aku mirip siamang. Sebel.
"Besok insya Allah saya usahakan ke kantor. Saya suka bingung, Dok. Pusing dan mualnya kambuh tiap pagi. Kalau agak siang begini sakitnya reda. Tapi mau berangkat ke kantor siang bawaannya malas. Takut kena matahari."
"Kok aneh jadi takut matahari? Biasanya berangkat pagi, siang, sore nggak masalah."
Aku tersipu sambil mengurut-urut tanganku yang tidak pegal.
"Kamu hamil ya?"
__ADS_1
Aku tidak menjawab.
Dokter Farhana tersenyum penuh semangat. "Alhamdulillah banget, ya Allah. Bakal cepat dikasih momongan. Ayahnya mas Firdaus pasti senang banget. Doanya cepat terkabul."
Benar. Papa senang banget dengar kabar ini. Mama, nenek, Fifi dan Salman juga gembira. Cuma aku yang sedih.
Dokter Farhana mendekatiku lalu mengelus perutku yang masih rata, "Sehat-sehat ya sayang. Kamu dalam perut mama Fifa jangan manja dan banyak ulah! Kasihan mamamu."
Aku mengernyitkan kening. Seperti orang gila saja. Perutku masih rata. Bayinya juga belum bisa bergerak. Kenapa diajak ngomong.
"Kamu ngidam apa, Fifa?"
"Ngidam?"
"Iya. Kayak mau yang aneh-aneh gitu."
"Nggak tahu, Dokter. Perasaan biasa aja. Saya cuma merasa pusing, mual, sedih dan marah nggak jelas gitu."
"Dan takut matahari." tambahku sambil tersipu. Menurutku takut matahari itu sesuatu yang aneh di luar kebiasaan.
Dokter Farhana tertawa kecil.
"Saya belum pernah lihat Afifa marah. Kayak apa sih?"
Aku tersenyum. Selama ini aku memang jarang marah. Apalagi dokter Farhana orang baik, lebih tua, lebih berpendidikan dan lebih berpengalaman. Tidak pantas dimarahi Mana pernah aku marah padanya.
"Marah sama siapa sih?"
"Marah sama diri sendiri."
"Marah sama mas Firdaus juga."
"Kenapa marah?"
"Nggak tahu, Dokter. Suka nggak jelas sebabnya. Saya jadi gampang banget tersinggung."
Dokter Farhana manggut-manggut.
"Mungkin ada sesuatu yang keinginan yang dipendam?"
Aku menggeleng.
"Banyak ibu muda yang baru pertama hamil mengalami flungtuasi suasana hati atau mood swing. Kadang marah, tersinggung, atau menangis yang sebabnya tidak jelas. Itu wajar, karena ada peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini yang memengaruhi neurotransmitter atau zat kimia di otak yang mengatur suasana hati. Apa Fifa merasa begitu?"
Dokter Farhana pintar. Memang itu yang kurasakan. "Iya, Dok." jawabku.
"Itu wajar kok. Cuma Fifa harus bisa mengendalikan perasaan itu supaya tidak meningkat levelnya jadi stres. Kalau ibunya stres bayinya juga ikut stres. Fifa mau bayinya sehat fisik dan jiwanya kan?"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu Fifa harus berjuang supaya bahagia agar bayinya tumbuh sehat dan bahagia."
"Tanda stres itu apa, Dok?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Stres itu tandanya kita merasa tidak berharga, kurang berenergi, tidak tertarik dengan dunia sekitar, merasa bersalah, gelisah, atau dilanda kesedihan berkepanjangan. Kalau mood swing levelnya sudah stres sebaiknya ibu hamil minta bantuan psikiater."
Hah? Psikiater? Aku kira yang kurasakan saat ini sudah sampai pada level stres berat. Apa aku harus pergi ke psikiater?
"Apasih yang jadi ganjalan Fifa selama memasuki awal kehamilan?"
"Fifa belum mau punya anak, Dokter." Akhirnya kuputuskan untuk jujur pada dokter Farhana. Aku tidak mau stres. Apalagi depresi. Anakku harus lahir sehat agar bisa jadi kebanggaan keluarga.
Dokter Farhana tersenyum dan langsung memelukku.
"Kamu nggak cinta sama mas Firdaus?"
"Cinta."
Dokter Farhana bingung dengan jawaban polosku. "Biasanya perempuan akan bahagia dan bangga kalau punya anak dari orang yang dicintainya. Apalagi kalian memiliki ikatan pernikahan yang resmi. Ada yang kamu takutkan?"
"Fifa nggak mau punya anak secepat ini."
"Anak adalah rejeki harus disyukuri, Fifa. Kalau kamu punya anak, mertua dan suami bakal makin sayang sama kamu."
"Masak Sih?"
"Dulu ibu mertua menentang pernikahan saya dengan dokter Hans. Tapi setelah punya anak, jadi sayang."
"Dokter Hans?"
"Makin sayang dong. Cuma sayangnya dibagi sedikit dengan Hans junior." jelas dokter Farhana dengan senyum genit.
Apakah Bray akan seperti itu? Siapa yang tahu hati seseorang? Hanya Tuhan. Ya, hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui bagaimana kondisi hati manusia hari ini atau yang akan datang. Dialah yang berkuasa membolak-balikan hati manusia. Seharusnya aku tetap bersyukur atas pemberiannya dan berserah diri padaNya apapun yang terjadi di hari esok.
"Fifa jangan mengurung diri terus di rumah. Kan bisa minta antar supir buat ke kantor atau sekedar tengok aviary. Kami kangen Fifa."
Aku sebenarnya punya banyak program baru, tapi terlanjur malas untuk bergerak. Rasa malas ini memenjarakan diriku.
"Assalamu'alaikum." Bray pulang dengan membawa 2 box catering makan siang. Aku lupa tak memberitahukan kedatangan dokter Farhana.
"Wa'alaikumsalam."
"Eh ada dokter Farhana. Makan siang bareng ya, Dok! Saya akan pesan satu lagi."
Bray langsung sigap mengambil HT dan menghubungi petugas catering agar membawakan 1 box lagi untuk dokter Farhana.
"Nggak usah repot, mas Firdaus. Saya bisa makan di rumah."
"Saya senang dokter mau datang mengunjungi istri saya. Saya bingung dia uring-uringan terus dan nggak mau ketemu orang."
"Mulai besok sudah mau ke kantor kok. Mau jenguk bayi rusa timor. Sekarang dokter Hans punya peternakan rusa. Besok pagi mas anterin aku ke kantor yayasan ya. Habis subuh. Sebelum matahari muncul." jawabku menyanggah kalimat Bray sekaligus memberi tugas baru untuknya.
Bray tersenyum maklum dengan permintaan janggalku. Sejauh ini ia tak pernah menyangkal. Apapun mauku selalu dituruti.
"Mas Firdaus so sweet banget. Cintanya kebangetan. Semua yang Fifa mau dituruti." komentar dokter Farhana setelah Bray pergi shalat dzuhur ke masjid.
Itu mungkin hanya demi anaknya. Bukan untuk aku.
__ADS_1
"Fifa harus lebih banyak bersyukur. Jangan mikir yang buruk-buruk. Sesekali keluar rumah. Kalau takut matahari keluarnya subuh atau habis maghrib aja dan minta temani mas Firdaus. Jangan lupa makan dan minum yang bergizi supaya kamu dan bayimu sehat. Nanti saya ajari konsultasi dokter spesialis kebidanan online. Mungkin ada obat untuk mengurangi mual biar kamu semangat lagi."
Aku mengangguk sambil tersipu. Malu. Seharusnya sejak awal aku tidak menutup diri. Tanya orang-orang berpendidikan seperti dokter Farhana tentang problem ibu hamil biar pikiranku terbuka dan bisa mengendalikan perasaanku yang terombang-ambing tidak jelas ini.