
Di sela kepanikan dan ketakutanku Bray dengan santai memaksa menyempatkan diri ziarah ke makam baba. Tanggung sudah sampai tempat pemakamannya. Bray meyakinkan aku bahwa niat baik jangan sampai gagal gara-gara ulah orang yang tidak bertanggung jawab.
"Ziarah kubur itu perbuatan mulia. Masak sudah sampai di sini nggak jadi ziarah karena musibah kecil ini. Kita memang harus waspada terus, tapi bukan berarti harus mengurungkan niat baik. Pak Adnan akan berjaga-jaga dari kemungkinan datangnya pemanah misterius itu."
"Mas Bray ..."
"Lanjutkan niat baik kita! Aku baik-baik saja."
Perintah yang disertai senyum mengandung teluh itu tak bisa kubantah. Semoga ini bukan keinginan terakhirnya. Dia begitu yakin akan baik-baik saja. Sementara aku begitu takut kehilangan. Aku tak ingin kehilangan dia. Cukup baba dan nuriku yang kehilangan nyawa karena panah beracun. Jangan Bray. Kalau perlu, sebagai gantinya panah saja aku yang sudah lama rindu bertemu baba.
Tuhan, aku tak pernah menuntut harus memilikinya walau aku sadar telah jatuh hati padanya.
Aku bisa seperti sekarang ini karena dia. Jika tidak bertemu dia mungkin aku sudah jadi bangkai di tengah hutan. Jika dia tak memperkenalkan aku dengan Aga dan memberiku kesempatan belajar, aku masih akan jadi Fifa yang rapuh dan patah semangat. Semua cahaya hidupku menyala karena dia. Aku berhutang budi padanya.
Lepas dari semua kebaikannya, aku masih ingin menikmati ketampanannya yang memukau dan melihat senyumnya yang mengandung teluh itu. Dari jauh pun tak masalah. Aku ingin tetap jadi pengagumnya.
Please, Tuhan! Jangan ambil nyawanya. Tukar saja dengan nyawaku. Aku rela, Tuhan. Toh hidupku selama ini hanya membawa petaka bagi orang-orang di sekelilingku.
Argh... Tak ada yang bisa kulakukan untuk melepaskan beban yang menghimpit dadaku. Berteriak malu. Menangis pun enggan. Hanya suara hati yang berbisik meminta pertolongan Tuhan Yang Maha Pemberi.
"Assalamu'alaikum, baba. Fifa sudah pulang dari Makassar. Sudah menjalin silaturahmi dengan nenek dan paman Hasan." Dengan cepat aku menyampaikan hal penting yang ingin kusampaikan pada baba sesingkat mungkin. Aku ingin segera meninggalkan makam ini agar Bray dapat pertolongan dokter secepat mungkin. Selanjutnya aku berdoa dalam hati sambil menunduk.
Aku tak lagi peduli apakah sempat membersihkan rumput yang tumbuh di atas makam baba atau tidak. Aku tak risau ziarah tanpa bunga dan air mawar untuk ditaburkan di atas makam. Semua kekhawatiranku saat ini tertuju pada keselamatan Bray.
__ADS_1
Resah dan ketakutan masih menghantuiku. Sesekali aku melongok ke samping, depan dan belakang. Aku tetap merasa harus terus berjaga-jaga barangkali pemanah misterius itu datang lagi. Setiap kali mendengar suara motor atau kendaraan yang lewat di jalan yang letaknya puluhan meter dari makam baba aku menoleh. Bahkan suara lirih seperti hembusan angin atau ranting pohon yang jatuh juga membuatku resah dan melirik keadaan sekelilingku. Kegelisahan menyelimuti hatiku yang kembali rapuh.
"Assalamu'alaikum. Daeng Syarif, perkenalkan nama saya Firdaus Sanjaya. Saya datang meminta ijin mencintai anak kesayangan Daeng. Di depan makam Daeng saya berjanji akan membahagiakannya, memperlakukannya dengan baik, dan tidak mengkhianatinya." ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya seolah berjanji pada orang yang berdiri di hadapannya. Padahal tak ada siapa-siapa di sana.
Ups. Bulu kudukku berdiri. Ada apa ini? Bray berbicara seperti benar-benar sedang berhadapan dengan baba. Kecemasan makin menyandera otakku. Ini bukan surprise yang mengharukan. Bukan juga lelucon yang mengundang tawa. Aku tak habis pikir bisa-bisanya Bray membuat pernyataan cinta dan janji saat nyawanya masih di ujung tanduk.
"Sudah. Ayo cepat ke klinik. Mas Bray harus segera diperiksa dokter." Terpaksa aku menggandeng tangannya tanpa peduli ia meringis kesakitan.
Bray pun berjalan meninggalkan makam baba. Baru beberapa langkah, ia kembali membalikan tubuhnya dan melambaikan tangan. "Sampai jumpa, Daeng."
Perilaku aneh Bray bukan membuatku berbunga-bunga dan merasa istimewa. Justru semakin membuatku cemas. Apa mungkin orang yang sudah hampir mati bisa melihat mereka yang sudah mati? Apakah jiwa Bray benar-benar telah menjumpai baba?
Wajah Bray terlihat makin pucat. Kegelisahanku terus berlanjut. Sementara orang yang kukhawatirkan nasibnya terlihat santai membaca sesuatu yang kelihatannya serius di aplikasi mobile gawainya. Sesekali ia terlihat mengernyitkan dahi lalu mengetik pesan singkat.
Sampai di pintu gerbang utama area tambang, satpam sudah membukakan pintu. Hisyam sudah menunggu dengan sepeda motor. Dia menggiring kami menuju klinik perusahaan yang berada di lantai 1 gedung kantor utama.
"Bawa segera anak panahnya ke lab, pak Adnan! Minta petugas lab segera meneliti apakah anak panah itu beracun atau tidak. Setelah itu kembali lagi ke sini. Polisi akan datang sebentar lagi." perintah Hisyam sambil mendampingi Bray yang masih bisa berjalan gagah masuk ke klinik.
Aku mengikuti mereka dari belakang. Beberapa pegawai yang melihat kami tampak berbisik-bisik. Entah apa yang dibicarakan. Yang jelas mereka pasti menduga-duga sesuatu yang buruk setelah melihat lengan kemeja putih bosnya yang bernoda darah dan balutan kain kasa yang berlapis-lapis di lengan kirinya.
Bray dan Hisyam masuk ke ruang VIP klinik dimana perawat dan dokter telah siap menunggu.
Aku menanti di lobi klinik dengan cemas. Menggenggam tangan bolak balik sambil berharap cemas Tuhan mendengar pintaku.
__ADS_1
Arsenik. Aku ingat lagi kemungkinan jenis racun yang digunakan pemanah misterius itu untuk melapisi bagian pile atau metal point anak panahnya. Kuambil gawai untuk mencari informasi mengenai zat kimia beracun yang telah merengut nyawa ayah dan burung kesayanganku.
Dari artikel Republika aku membaca informasi penting yang dikutip dari jurnal Toxicological Sciences terbitan tahun 2011, arsenik secara historis disebut sebagai "raja racun" dan "racun para raja" karena efek mematikannya. Arsenik ini pada jaman dahulu banyak digunakan raja yang ingin menghilangkan pesaing atau musuh mereka secara diam-diam. Karena sifatnya yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa, racun ini dengan mudah dimasukan dalam makanan atau minuman. Konon kaisar Romawi Nero membunuh saudara tirinya yang berusia 13 tahun dan kemungkinan pesaing Britannicus dengan menambahkan arsenik ke dalam supnya. Arsenik juga digunakan dinasti Italia Medici dan Borgia untuk melenyapkan para pesaing mereka. Di tanah air, aktivis HAM Munir terbunuh oleh makanan yang dibubuhi oleh racun jenis yang sama.
Selain dalam makanan dan minuman, zat arsenik digunakan orang jawa kuno untuk melapisi keris agar memiliki pamor dan lebih mematikan.
Sungguh mengerikan. Ternyata yang namanya arsenik adalah racun kuno yang telah lama digunakan orang untuk membunuh pesaingnya. Ragam turunan unsur kimia arsenik sekarang berkembang makin variatif dan pabrik kimia mampu menciptakan arsenik anorganik untuk berbagai penggunaan industrial.
Kepalaku makin berdenyut ketika membaca salah satu ulasan dalam website aktivis lingkungan hidup dan hasil penelitian universitas yang menyebutkan bahwa selain mercuri, arsenik merupakan limbah zat beracun berbahaya yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan.
Pantas Hisyam langsung memerintahkan Adnan membawa anak panah itu ke laboratorium milik perusahaan. Bray dan orang-orang yang bekerja di perusahaan ini pasti telah mengenal betul karakter zat arsenik sebab zat itu digunakan dalam operasional perusahaan.
Pikiranku bercabang antara praduga baik dan buruk. Dugaan baiknya kemungkinan besar Bray akan selamat karena anak panah itu tak mengenai organ penting tubuhnya seperti otak, jantung atau paru-paru. Selain itu Bray buru-buru mencabut anak panah yang tertancap di lengan kirinya dan mengeluarkan banyak darah yang mungkin telah terkontaminasi racun arsenik. Dokter perusahaan pasti sudah punya stok obat penangkal racun itu. Bukan tidak mungkin karyawan tambang terkontaminasi zat beracun itu secara tidak sengaja saat mereka bekerja. Itu sebabnya di klinik ini pasti harus selalu sedia obat penawarnya.
Praduga buruknya, kemungkinan ada orang dalam perusahaan yang menggunakan racun arsenik untuk kejahatan. Dua orang pengendara motor itu telah mengintai dan membuntuti kami sehingga begitu turun mobil, mereka langsung menjalankan aksi jahatnya. Apakah mereka orang dalam perusahaan? Atau orang luar yang memang sengaja mengintai kami dari luar pagar area tambang? Atau kolaborasi dari keduanya?
Seorang petugas kantin datang membawa kotak makanan. Satu diserahkan padaku. Yang lain dibawa masuk ke ruang VIP Klinik.
"Pesan dari pak Hisyam, kak Fifa diminta makan dulu. Takut sakit karena telat makan."
Aku mengangguk.
Sekilas ada pikiran paranoid yang melintas. Mungkin saja makanan dalam kotak ini mengandung racun arsenik atau sianida. Cerita yang kudapat dari penelusuran google tentang dasyatnya racun arsenik yang biasanya dicampurkan dalam makanan pesaing raja begitu mendominasi pikiran liarku. Cerita itu menimbulkan ketakutan baru.
__ADS_1
Ah, masabodo. Aku lapar. Peduli amat cerita kuno itu. Dengan membaca basmallah kumakan saja menu nasi kotak yang berisi nasi, ayam bumbu kuning, telur, tumis buncis, dan sambal roa. Seperti janjiku, aku siap mati kapanpun. Bukankah umur, jodoh, dan rejeki ada di tangan Tuhan?