
Sampai menjelang siang Jim menunjukan aku bagaimana aplikasi sistem keuangan perusahaan terintegrasi bekerja. Pelajaran yang sangat berat, aku tak benar-benar paham detailnya. Kepalaku pusing. Menurutku sistem ini terlalu rumit.
Beberapa kali aku minta Jim mengulang ulasannya hingga aku benar-benar paham apa fungsi dan kelemahan modul-modul sistem yang diterangkannya. Jim kemudian memberikan aku 2 buku. Satu berjudul manajemen keuangan praktis dan yang lain pedoman penggunaan aplikasi keuangan.
"Baca ini dulu buat landasan berpikir." Jim menepuk-nepuk buku buku bergambar gedung-gedung dengan logo dollar besar di depannya.
"Setelah paham baru baca ini, pedoman aplikasi sistem keuangan kami." lanjutnya sambil menyerahkan buku tebal yang kalau dibuat nimpuk anjing pasti pingsan saking tebalnya.
Aku meringis, "Berat banget, kak Jim. Apa tidak ada yang lebih sederhana?"
"Ngana tara perlu memahami semuanya sekaligus. Pelan-pelan saja. Mempelajari sesuatu itu berproses. Tidak bisa instan. Bisa dipahami sambil jalan berbarengan dengan pengalaman. Tak ada teori yang benar-benar sempurna."
Rasanya pelajaran hari ini terlalu sulit. Mungkin otakku yang sudah terlanjur konslet karena terlalu banyak arus informasi dan masalah yang mendera.
"Hari ini otakku sudah berasap, kak Jim. Capek. Besok setelah baca buku, aku boleh tanya-tanya lagi ya."
"Tentu. Jangan lupa masuklah asosiasi pengusaha perkebunan. Ngana bisa sharing pengalaman dan pengetahuan juga dengan rekan sejawat."
"Penting ya masuk asosiasi?"
"Penting banget. Kadang kita perlu belajar dari pengalaman orang lain yang bergerak dalam bidang usaha yang sama. Tiap bisnis punya kendala yang unik. Penanganannya mungkin butuh sesuatu yang khusus dan bisa jadi tak ada teorinya. Dengan bergabung asosiasi kita bisa berbagi masalah yang biasa terjadi dan mencari jalan keluar bersama. Kadang kita bisa dapat pelajaran berharga dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami sendiri masalah itu."
Aku merebahkan diri di punggung kursi sambil garuk-garuk kepala. Jim benar. Aku setuju ikut asosiasi. Berdasarkan pengalaman ikut komunitas pencinta burung, aku mendapatkan banyak manfaat dan pengetahuan baru dari pengalaman anggota komunitas yang lain. Kurasa suasana dan fungsi asosiasi pengusaha sebelas dua belas dengan komunitas hobi.
Daripada harus mempelajari sistem dan manajemen keuangan yang rumit milik perusahaan tambang seperti yang diterangkan Jim, lebih baik berbagi pengetahuan praktis dengan orang yang bergelut dalam usaha yang sama. Bisa jadi perkebunan tak butuh sistem keuangan yang rumit seperti yang dimiliki perusahaan tambang. Aku telah mendapatkan kesimpulan berharga hari ini, yaitu anjuran bergabung dalam asosiasi pengusaha perkebunan, khususnya komoditas lada dan kakao.
"Sa pusing tiba-tiba dipaksa jadi pengusaha. Lebih baik jadi pengrajin tikar pandan atau cari damar di hutan daripada ngurus usaha yang melibatkan nasib orang banyak." keluhku.
Jim tersenyum. Mungkin Jim ingat serapahku tentang pengusaha yang otaknya cuma berisi cuan, cuan dan cuan. Kini aku sedang kena batunya. Ternyata jadi pengusaha itu berat. Banyak yang harus dipikirkan. Upaya peningkatan produksi, pemasaran, keuangan sampai kesejahteraan karyawan jadi masalah yang bergulir tiap waktu. Tidak semua pengusaha culas seperti yang sebelumnya kupikirkan.
"Ngana mau makan apa siang ini, Fifa?"
"Sa mau pulang. Makan siang bersama mama saja di rumah. Su rindu masakan mama."
"Tunggu sampai mas Bray kembali dari rapat ya. Doi yang membawa ngana ke sini dan akan memulangkan pada ngana punya mama."
"Sa bisa pulang sendiri to. Sa bukan benda mati yang mesti diantar kembali ke tempatnya."
Jim meraih bahuku begitu melihat aku marah dan berdiri hendak meninggalkannya. Kedua tangannya mencengkeram bahuku. Kedua mata dan gerak kepalanya yang bergerak ke bawah memerintahkan aku agar kembali duduk.
__ADS_1
"Maaf! Janganlah tersinggung, Fifa! Tara begitu sa punya maksud. Kita ngobrol dulu sebentar. Kakak masih rindu pe ngana punya cerita. Ngana tak rindu pada kak Jim yang ganteng ini?" bujuknya dengan suara yang ramah dan lembut.
"Hari ini ngobrol dengan kak Jim bikin sa pusing."
"Kalau begitu kita bergosip saja. Tara pusing mikir sistem keuangan yang mungkin belum tentu cocok buat usaha perkebunan. Lupakan saja! Rejeki itu Tuhan yang atur to."
Aku mengangguk membenarkan ucapannya. Sebaik apapun rencana yang kita buat, tetap takdir Tuhan penentu hasilnya. Hari ini aku butuh sedikit bersantai. Otakku sudah sangat penat oleh banyaknya masalah yang kuhadapi akhir-akhir ini.
"Sa rindu Aga." ucapku spontan. Hari ini moodku sedang buruk. Belajar sistem tak kunjung paham. Bersabar menunggu pun rasa tak sanggup. Aku ingin segera pulang agar dapat bercengkrama dengan burung kesayanganku.
"Aga itu nama burung nuri kepala merah yang pintar itu kah?"
"Ya."
"Su pintar apa dia sekarang?"
"Entah. Sepuluh hari sa tak bertemu. Penasaran su bisa apa dia selama 10 hari ini."
Bukannya menjawab pertanyaan Jim, aku justru penasaran apa kira-kira kebisaan baru burung pintarku itu.
Ohhh, aku kangen suara serak Aga menyapaku tiap pagi, "Assalamu'alaikum, cantik."
Lama sekali rasanya aku tak mendengar suara itu. Ingatan tentang ocehannya yang lucu dan kegemarannya bertengger di lenganku membuat rindu makin membuncah. Aku sengaja pasang tampang memelas agar Jim iba dan diperbolehkan pulang tanpa menunggu bosnya datang. Dia kan pria yang sentimental. Siapa tahu saja bisa luluh membolehkanku pulang karena iba.
Aku memilin-milin ujung kemejaku. Masih dengan tampang memelas memohon belas kasih.
"Pas. Mas Bray juga ada rencana tengok aviary hari ini."
Sekretaris ini menjelaskan agenda bosnya yang dicocok-cocokkan dengan kegiatanku. Pastinya ia berusaha tetap menahanku di sini sampai Bray ada keputusan lain yang menganulir rencana yang telah diagendakan. Percuma aku memelas dan memutar-mutar isi pembicaraan. Kalau sudah perintah bos tak mungkin Jim bisa dinegosiasi. Meski dengan tangis sekalipun.
"Jadi, sa harus tetap tunggu mas Bray sampai jam berapa?"
"Kalau tidak ada kendala 30 menit lagi rapat selesai kok."
Baiklah. Aku seperti tawanan di sini. Tak punya pilihan. Jarum jam bergerak terlalu lamban untuk aku yang ingin segera lari dari sini.
"Ngana belum cerita bagaimana 10 hari di Makassar. Senang? Sudah jalan-jalan ke mana saja?"
"Di mana mana sa sibuk kerja. Tarada waktu jalan-jalan. Ada tugas dan masalah ini itu. Banyak sekali."
__ADS_1
"Kasihan. Harusnya sempatkan waktu buat healing, Fifa."
"Healing itu apa?"
"Ngana kurang gaul rupanya. Istilah itu sedang tren di media sosial."
"Sa tara tau. Komunitas burung tara pernah bicara healing."
"Healing itu artinya penyembuhan jiwa, perasaan, batin dan pikiran yang terdistorsi oleh banyak masalah hidup. Caranya dengan melakukan hal yang menyenangkan misalnya jalan-jalan, makan, menggeluti hobi dan hal lain yang bisa mengembalikan psikologi kita jadi sehat kembali."
Oh. Pantas komunitas burung tak pernah bicara healing. Bagi mereka healing berarti mengurus dan bermain dengan burung peliharaan mereka. Kalau definisinya begitu berarti healingku adalah dengan bertemu Aga, jalan-jalan masuk hutan atau melihat tingkah polah burung-burung di alam.
"Sa sekarang cuma ingin bertemu Aga. Itu mungkin cara healing yang paling manjur. Hanya Aga yang bisa buat sa senang."
Jim terlihat bingung. Kehabisan kata untuk membujukku yang tak lagi sabar menunggu.
Tik tik tik. Aku memperhatikan detik demi detik pergerakan jarum jam. Pergerakannya yang lamban terasa menyiksaku yang dipaksa menunggu.
"Kenapa sih sa harus tunggu mas Bray?" Saking kesalnya akhirnya tercetus jua kalimat itu dari mulutku.
"Sebab ngana istimewa. Masak ngana tak sadar kalau ngana itu diistimewakan mas Bray."
"Apa iya?"
Jim hanya menjawab dengan senyum. Tangannya sibuk menata dokumen yang tergeletak di mejanya. Ia masih menyembunyikan sesuatu dan aku tak berani memaksanya mengungkapkan apa yang disembunyikannya dariku.
Aku istimewa? Apa istimewanya? Kenapa Bray mengistimewakan aku? Apa yang diinginkannya dari seorang Fifa?
Azan dzuhur telah berlalu. Aku tak mau menunggu lagi. Aku mengambil ransel dan menggendongnya di punggung. "Sudah satu jam lebih menunggu. Sa pulang duluan saja ya, Kak. Kalau mas Bray mau singgah ke rumah bisa menyusul nanti."
Brak, pintu terbuka saat aku baru saja berdiri dari sofa ruang direktur. Otomatis mulutku mendadak terkunci. Pandangan mataku langsung mengarah pada Bray yang masuk dengan wajah agak kusut.
Lelaki itu membuka jas, menyampirkannya di punggung kursi kerjanya lalu menggulung kemejanya sampai batas siku.
"Tolong cek lagi masalah dokumen yang belum beres ya, Jim. Hasil check list terakhir kirim ke emailku. Besok assesor akan datang lepas makan siang."
"Baik, mas Bray."
"Ikut aku, Fifa! Kuantar kau pulang sekarang."
__ADS_1
Aku pamit pada Jim yang memamerkan senyum hangatnya ke arah kami.
Inikah salah satu keistimewaan seorang Fifa? Seorang petinggi perusahaan meluangkan waktu mengantar pulang tanpa diminta.