
Aku tak ingin curiga dan berusaha menekan bara api dendam yang kadang masih timbul memanas-manasi jiwaku. Tapi aku tak suka melihat gelagat Bray yang menatap mama dengan sorot mata tak biasa. Entah apa yang dipikirkannya. Apa karena terpesona pada sisa kecantikan mama atau ada hal lain yang membuatnya terpaku selama lebih dari semenit. Dadaku bergejolak seketika. Ingin rasanya aku mencolok matanya sampai bolong.
Kutahan amarahku dengan diam, semsntara gigiku menggertak pelan. Adakah sesuatu yang membuat dia seolah menandai mama dengan sesuatu? Apa dia tengah menargetkan mama jadi tumbal sesuatu? Entahlah. Aku tak tahu apakah aku menderita paranoid. Pikiran buruk itu melintas begitu saja melihat caranya menatap mama.
"Saya Firdaus Sanjaya."
Baguslah. Bray memperkenalkan diri pada mama dengan senyum manis tanpa embel-embel jabatan.
"Teman Fifa?"
"Ya, teman Fifa. Teman kak Hisyam dan Arfa juga." jelasnya sambil tersenyum melirikku.
Dia mungkin mengira aku cukup terbuka pada ibu kandungku. Nyatanya tidak. Mama hanya tahu siapa temanku dengan mata dan kepalanya sendiri. Bukan dari cerita.
"Mama senang sekarang Fifa mulai banyak teman lagi. Sejak babanya meninggal 4 tahun yang lalu dia selalu menyendiri. Hanya Arfa yang kadang menemaninya. Mama khawatir dia akan kesepian setelah Arfa pindah kerja ke pulau Obi. Alhamdulillah ternyata malah tambah banyak teman."
Raut wajah mama terlihat semringah. Mama bahagia sekali melihat aku semakin banyak teman. Aku turut tersenyum bahagia melihatnya sebahagia itu. Rupanya selama ini aku tak menyadari jika kesendirianku membuatnya khawatir. Ah, Mama. Maafkan Fifa yang selama ini terlalu keras kepala.
"Silakan duduk! Mama ijin ke dapur dulu mau menyiapkan bahan masakan untuk dibawa ke kebun besok. Boleh ngobrol senyaman kalian, asal tidak lebih dari jam 9." Mama mengingatkan batas waktu bertamu di rumah kami dengan ramah.
Semuanya mengangguk tanda mengerti.
"Tunggu ya. Mama akan racik kopi spesial dan keladi goreng buat teman ngobrol kalian."
"Jangan repot-repot, Mama."
"Tara repot. Mama senang kalau Fifa banyak teman."
__ADS_1
Bray menoleh padaku dengan tatapan heran. Entah apa yang dipikirkannya. Malam ini aku tak ingin menatap wajahnya agar tak terlalu larut dalam pesona magisnya. Aku menundukkan pandangan dan berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang kadang datang melintas sewaktu-waktu. Aku ingin membuat perasaanku normal agar bisa berpikir dengan jernih.
"Supaya mempersingkat waktu, kita langsung saja bicara tujuan kami, Fifa. Terus terang kami datang malam ini karena butuh jawaban segera mengenai tawaran pembentukan yayasan yang bergerak di bidang konservasi burung itu. Ini sebenarnya ide lama, tapi saya belum menemukan orang yang tepat buat dipercaya sebagai pengelola." Bray memulai pembicaraan dengan nada serius.
Aku mendengar sambil menunduk dan memainkan buku-buku jariku sendiri. "Beberapa bulan ke depan akan ada assesment dari partner kami perusahaan baterai mobil listrik dari Amerika. Kami ingin mendapat penilaian yang baik terkait status kami sebagai green company, sebab itu syarat mutlak partner kami. Setidaknya operasional perusahaan kami harus sesuai dengan standar yang ditetapkan PROPER dan ISO 26000."
Sampai di situ aku belum paham. Banyak istilah asing yang baru pertama kali ini kudengar. Kulirik Andi yang mengamati isi pembicaraan Bray dengan seksama. Aku jadi merasa bodoh dan tak pantas dilibatkan dalam pembicaraan serius ini. Di sini akulah yang pendidikannya paling minim dan terbelakang. Aku hanya lulusan kejar paket C dan jarang berkomunikasi dengan orang asing. Bagai katak dalam tempurung, itulah perumpamaan kehidupanku yang statis di sebuah kampung kecil di tepi hutan. Beruntung malam ini ada Andi yang lebih banyak pengetahuan dan pengalamannya. Sebagai kerabat aku percaya dia akan melindungi kepentinganku.
"Kalian sudah dapat sertifikasi ISO 26000?"
"Sudah keluar sertifikatnya 3 bulan lalu."
"Wah, keren."
"Catatan tentang kepatuhan kami terhadap ISO 26000 dan program CSR lingkungan selalu kami kirim salinannya ke dinas lingkungan hidup."
"Keterlibatan kami dalam konservasi burung endemik di sekitar wilayah perusahaan sudah jadi program kerja CSR sejak tahun lalu."
Di sini aku mulai sedikit paham apa maksud Bray mengajakku membentuk yayasan untuk konservasi burung endemik hutan Lolobata. Ternyata ada hubungannya dengan bakal cuan yang akan didapat perusahaan dari kerja sama dengan perusahaan asing yang mensyaratkan status perusahaan harus green-company. Dasar pengusaha culas. Dia pasti hendak memanfaatkan aku untuk cuan yang lebih besar.
"Orang yang berpengalaman tentang perawatan dan pembiakan burung ada banyak, tapi tak berasal dari warga lokal yang tinggal sekitar hutan dan lokasi tambang kami. Kami pikir Fifa orang yang paling tepat untuk memimpin yayasan itu."
"Setuju. Fifa memang orang yang paling tepat. Urusan dokter hewan atau keeper yang ahli bisa bayar orang profesional, tapi urusan kecintaan yang tulus dari dalam hati tak ada yang menandingi Fifa. Buktinya jelas. Burung nuri kepala merah yang sudah dilepas bebaskan saja ingin kembali padanya. Hahaha."
Apa? Kenapa Andi malah mempromosikan aku dengan bahasa hiperbolik seperti itu? Ini bukan mauku. Harusnya Andi tahu aku tak mau memikul tanggung jawab sebesar itu. Lagipula aku masih curiga pada CEO perusahaan tambang itu. Dia pintar sekali menggunakan kelebihannya merangkai kata untuk kepentingan cuan. Otaknya licik dan culas.
"Aku tidak bisa apa-apa, sebaiknya cari orang lain saja." sanggahku saking tak tahan memendam pemberontakan yang muncul dari dalam hati kecilku. Andi tak bisa kuandalkan. Dia belum tahu jika Bray adalah terduga pembunuh baba dan nuri kesayanganku. Bray jelas melakukan program konservasi tidak tulus dari hati, tapi demi uang. Program itu hanya dijadikan umpan untuk tangkapan cuan yang besar. Aku tak sudi menyokongnya. Itu tak sesuai dengan misi hidupku.
__ADS_1
Andi meraih tanganku dan menggenggamnya. Mungkin maksudnya agar aku merasa lebih tenang. Tapi kulihat tatapan Bray justru mengancamku. Kutarik saja tanganku dari genggaman Andi. Aku ingin bebas dengan pemikiranku sendiri.
"Aku yakin kamu bisa, Fifa. Kita keturunan bangsa pejuang yang cerdik. Percaya deh sama aku. Pengalaman dan pengetahuan itu bisa dipelajari, tapi kesempatan baik seperti ini tak akan datang dua kali." Andi berusaha meyakinkan aku.
Aku jadi kesal. Kenapa sih Andi tak ada bedanya dengan Arfa. Tak bisa membaca apa mauku. Baik Andi atau Arfa terlihat baik seperti ingin melindungiku, tapi di hadapan bos ini malah cari muka. Kalau Arfa melakukannya aku maklum karena relasi pekerja majikan kuanggap wajar membela majikan. Tapi tidak dengan Andi. Sebagai pihak ketiga yang gajinya dibayar negara harusnya Andi bisa bersikap lebih independen. Terus terang aku kecewa.
"Kamu harus ambil kesempatan bagus ini, Fifa. Dengan sokongan pendanaan PT XY, kita bisa menyelamatkan lebih banyak burung dari kepunahan. Kalau kamu tidak ambil kesempatan ini, PT XY akan memberikannya pada orang lain yang belum tentu jujur mencintai alam. Itu lebih membahayakan."
Benar juga sih. Sebenarnya ini bisa jadi hubungan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Perusahaan dapat kesempatan berpartner dengan perusahaan asing, sementara kebutuhan dana untuk upaya konservasi burung tersedia. Mungkin konsep green company ini sengaja dibuat untuk memaksa pengusaha peduli pada hak asasi manusia dan lingkungan.
"Kegiatan konservasi burung itu sudah bagian dari program CSR perusahaan yang mau tak mau harus tetap dilaksanakan demi memenuhi standar green company, yaitu ketaatan perusahaan terhadap ketentuan hak asasi manusia dan lingkungan hidup. Bagaimana kalau dana program itu diselewengkan tidak pada peruntukannya? Sulit mencari orang jujur yang mau berjuang untuk kelestarian alam. Saya yakin kamu bisa menerima tanggung jawab ini karena cinta alam dan tanah kelahiranmu." tambah Andi menyemangatiku.
"Kami setiap waktu dipusingkan oleh ulah pemburu yang menangkap burung-burung liar di hutan. Susah sekali mengendalikan agar orang tak berburu meskipun telah ada konsekuensi hukum tapi pemburu akan tetap ada karena faktor ekonomi. Harga burung-burung langka itu bisa lebih mahal dari harga seekor sapi, Fifa." Andi malah mengeluhkan kesulitan pekerjaannya.
"Tempat konservasi yang berada dekat dengan habitat asli burung-burung itu perlu dibuat agar burung-burung yang disita dari tangan orang tak bertanggung jawab dapat lebih cepat beradaptasi sebelum dikembalikan ke alam. Kalau kamu menerima tanggung jawab ini, kami dari BKSDA akan merasa sangat terbantu. Aku pasti dukung dan bantu kamu, Fifa."
Andi menyokong program itu karena pekerjaannya akan sangat terbantu dengan adanya kegiatan konservasi oleh lembaga non pemerintah. Tentu saja itu hanya akan terjadi jika yayasan benar-benar dikelola oleh orang yang amanah. Aku jadi paham kenapa justru dia yang terlihat antusias dan berusaha keras meyakinkan aku untuk menerima tawaran itu. Bray hanya senyum senyum saja.
"Penangkaran juga perlu untuk tempat tinggal burung-burung yang terlanjur jinak seperti Aga. Kita perlu juga memastikan keberlangsungan hidup jenis-jenis burung yang hampir punah melalui pembiakan dalam kandang."
"Benar, Fifa. Kami sudah anggarkan untuk pembuatan aviary besar masing-masing untuk konservasi dan kandang-kandang penangkaran. Gaji manager program, keeper dan dokter hewan sudah termasuk di dalamnya. Ini dokumen perencanaan kami. Silakan dibaca dan direvisi bila ada satu dua kekurangan." Kak Hisyam menyodorkan map plastik yang berisi kertas-kertas.
Aku celingukan. Jadi merasa ditodong harus menjawab 'Ya' oleh tiga orang pria di depanku. Penjelasannya logis, aku tak bisa membantahnya. Upaya menyelamatkan burung-burung indah penghuni hutan kami memang sudah menjadi satu keharusan. Aku merasakan sendiri semakin sulit menemukan jenis-jenis burung tertentu di hutan.
Aku menyodorkannya kembali berkas itu pada Andi, "Tolong kak Andi bantu. Saya belum paham perencanaan rumit begini."
Andi tersenyum lalu membuka berkas itu dan menerangkan padaku maksud kalimat atau angka di dalamnya dengan detail. Aku menyimak dengan seksama. Sesekali bertanya dan mengomentari. Kadang-kadang Bray yang menjawab pertanyaanku. Kadang-kadang kak Hisyam. Sesekali Andi yang menerangkan maksudnya. Benar-benar malam itu aku dipaksa mempelajari hal baru berkaitan dengan perencanaan kegiatan, aspek hukum dan uang. Bagiku ini bagai kuliah gratis dengan 3 pengajar sekaligus. Berat, Sis.
__ADS_1