Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Bertemu Camer 2


__ADS_3

Abel tersenyum kepada kedua orang tuanya Excel walau di paksakan, ia berharap hari ini segera cepat berlalu dan ia bisa pulang. Padahal baru menginjakan kaki di kediaman orangtuanya Excel. Ia tak tau setelah ini kesan apa yang di dapat kedua orangtuanya Excel kepadanya.


"Hallo om tante". Sapanya.


Ada nada getar yang tak terlalu terdengar dan berusaha Abel kendalikan dengan susah payah, walau begitu tetap saja di indra pendengarannya terasa sekali. Bahkan ia ingin merutuki ketakutannya sendiri.


"Iya". Jawab mami Rita singkat membuat Abel merasa kurang menyukai situasi ini dan ia mengulurkan tangan yang memegang paperbag berisi kue buatan mama Dina.


Walau kue tersebut adalah resep baru yang mama Dina buat tapi Abel yakin semua masakan mama Dina tak ada yang tak enak. Sehingga ia dengan pasti memberikan kue tersebut. "Ini ada kue buat tante sama om".


Saat di rumah tadi mama Dian berpesan agar tak datang dengan tangan kosong ke rumah calon mertua, anggap saja mencari simpati di awal kenal. Akhirnya paperbag yang ia bawa berpindah ke tangan mami Rita.


"Terima kasih, harusnya nggak perlu repot bawa apapun". Jawabnya setelah menerima kue tersebut dan seketika Abel merasa lega padahal hanya kata-kata seperti itu, tapi ia merasa di hargai.


"Nggak repot kok tante". Jawabnya malu-malu.


"Aku sedang memasak bisakah kau membantuku ?". Tanyanya kepada sang calon menantu yang tengah berdiri di depannya itu. Mungkin bagi orang yang kurang faham akan mengira itu adalah acara memasak biasa.


Namun Abel tau jika itu adalah salah satu bentuk ujian yang harus di lewati, siapa tau memang mami Rita sedang menguji apakah Abel bisa masak atau tidak. Walau dalam urusan memasak memang ia bisa tapi dengan segala tekanan yang ia hadapi, kemampuannya di pertaruhkan disini.


"Iya bisa tante". Jawabnya dan mami Rita menggandeng tangan Abel untuk melangkah ke belakang dimana letak dapur berada. Saat berjalan Abel menengok kebelakang melihat Excel solah bertanya apakah ini akan baik-baik saja ?.


Tapi Excel hanya melambaikan tangan dan tersenyum seperti mengantarkan kepergian Abel menuju neraka. Abel hanya bisa tersenyum meringis dalam gandengan tangan mami Rita sampai ke dapur.


Terlihat beberapa bahan masakan masih ada yang berada di atas talenan, Sepertinya mami Rita tadi sedang memasak dan kedatangannya mambuat mami Rita menghentikan aktivitas memotong sejenak demi menyambutnya.


"Pembantu sedang pulang kampung jadi hanya kita berdua yang memasak hari ini". Jelasnya dan Abel mengangguk, ia sekarang faham mengapa sedari tadi rumah sepi, ternyata memang hanya ada papi Jimmy dan mami Rita di rumah.


"Kau bisa memasak apa ?". Tanyanya menyadarkan Abel dari lamunannya akan begitu banyak bahan makanan yang berada di sana, ia yakin jika makanan yang hendak di masak tidak sedikit jumlahnya.


"Cuma masakan rumahan biasa tante". Jawabnya dan terlihat mami Rita mengangguk samar.


Abel sedari kecil meminta mami Dina dan juga bi Asih untuk mengajarinya memasak guna menjadi istri idaman bagi calon suaminya kelak, namun ia tak berfikir jika banyak sekali jenis masakan di dunia ini sementara dirinya hanya bisa memasak masakan indonesia saja.


Ia kira itu akan cukup tapi hal penting yang Abel lupakan adalah Excel sudah lama tinggal di luar negri dan tentunya juga pasti sudah kurang cocok dengan masakan lokal. Rasanya ia ingin menangis dalam hati saat memikirkannya.


"Aku bantuin apa tante ?". Tanyanya kepada sang calon mertua. Ia takut salah jadi lebih baik ia akan ikut semua arahan maminya Excel daripada bertindak sendiri dan ternyata malah tak sesuai kehendak maminya Excel.

__ADS_1


"Tolong potongin bawang merah". Mami Rita menyodorkan talenan dan pisau yang baru kepada Abel juga menunjuk letak bawang merah kepadanya.


Hanya mengiris saja harusnya mudah tapi ia lupa jika mawang merah membuatnya pedih hingga mengeluarkan air mata, semakin di tahan rasanya semakin ingin menetes air matanya sampai Abel mengusap matanya dengan lengan berkali-kali.


"Lho kok malah nangis". Mami Rita ingin geleng kepala melihat Abel yang menangis sembari mengiris bawang merah.


Sudah rahasia umum jika bawang merah akan membuat siapapun mengeluarkan air mata hingga seperi orang menangis. Namun beberapa orang percaya jika sering mengiris bawang lama kelamaan juga akan terbiasa dan tak akan menangis lagi.


Tapi ada juga beberapa tipe orang yang akan selalu mengeluarkan air mata saat mengiris bawang padahal sudah kerap kali memasak dan Abel adalah salah satu diantara orang yang tak tahan dengan bawang merah jika terlalu banyak mengiris.


"Maaf tante". Abel sangat malu dan mengusap air matanya dengan punggung tangan berharap air mata yang menjengkelkan dan tak diundang tersebut segera hilang.


"Ya sudah kamu ganti tolong kasih minyak goreng ke wajan ya". Abel segera melaksanakan perintah mami Rita, mengambil minyak goreng yang berada di tempat penyimpanan namun malah terjatuh, menimbulkan bunyi sehingga mami Rita menoleh.


Abel menunduk malu seraya mengambil minyak goreng tersebut, untung saja tutupnya masih terpasang sehingga tidak tumpah. Baru disuruh hal sepele Abel sudah salah, ia benar-benar malu.


"Maaf tante". Ujarnya.


"Yaudah nggak apa-apa". Walau mami Rita bilang tak apa-apa namun Abel bisa melihat raut wajah kecewa yang terukir di sana, ia merasa tak berguna di dapur.


Tangan Abel mengepal, ia melawan rasa gugupnya dan berusaha agar bisa menjadi calon menantu idaman. Walau hanya masakan lokal tapi Abel percaya diri dan akan membuktikan kalau ia sudah pantas menjadi istrinya Excel.


Abel yang sedang memasak di dapur kontras dengan Excel yang sedang bermain catur dengan papinya. Mereka terlihat serius satu sama lain saling ingin menjatuhkan bidak catur lawan sembari mengusap janggut yang di tumbuhi jambang halus.


"Menurutku mereka sulit akur". Ujar papi Jimmy lalu menggeser kudanya hingga memakan pion putih Excel.


Tangan Excel terulur untuk menggeser pionnya yang berada di dekat kuda dan menendang pion milik papi Jimmy. "Menurutku mami dan Abel akan saling cocok".


"Dia terlihat masih kekanakan, sepertinya belum cocok jadi istrimu". Kali ini papi Jimmy menggeser sang ratu hitam untuk memakan kuda milik Excel.


"Papi salah besar, dia sangat berbeda bahkan sangat mandiri jika papi mengenalnya lebih baik lagi". Papi Jimmy terlalu fokus hingga sekarang benteng milik Excel sudah menendang ratu hitam dan berhasil menyudutkan sang raja.


"Skak papi kalah". Seketikan tepukan di dahi menandakan kalau permainan telah usai, namun suara cekikikan dua orang wanita yang amat mereka kenali datang dari arah dalam menuju ke depan, heran dengan suara yang nampak akrab satu sama lain tersebut.


"Kalian sudah selesai memasak ?". Tanya papi kepada mereka, sebenarnya ingin bertanya mengapa mereka nampak akrab tapi takut tak sopan.


"Iya, apa kalian tau ternyata Abel pintar lho masaknya". Puji mami Rita kepada Abel hingga gadis itu tersipu malu, akhirnya ia bisa membuktikan kalau dirinya memang pantas untuk Excel setelah sedikit kesalahan yang ia buat tadi.

__ADS_1


Mereka semua ke meja makan dan mencicipi semua menu yang di hidangkan, kebanyakan adalah masakan lokal buatan Abel. Gadis itu harap-harap cemas karena sekarang giliran mengambil hati calon mertua lelaki.


Excel dan papi Jimmy mengambil rendang dan sayur asem yang Abel buat ke dalam piring mereka. Hanya masakan sederhana yang bisa di temui di mana saja tapi walau begitu Abel membuatnya penuh kesungguhan.


"Bagaimana ?". Tanya Abel penasaran kepada Excel yang mencicipi masakannya.


"Sangat enak". Jawab Excel seraya tersenyum, tapi Abel masih merasa belum tenng sebelum papi Jimmy juga mengakui kalau masakannya enak dan hanya berani melirik saja tanpa berani bertanya.


"Gimana menurut papi ?". Excel yang bertanya karena tau akan pemikiran Abel yang terus melihat papi Jimmy dengan raut takut.


Karena papi Jimmy lebih banyak tinggal di luar negeri membuat Abel menjadi cemas lantaran hanya sebentar saja lelaki paruh baya yang belum hilang kharismanya tinggal di Indonesia. Mungkin saja lidahnya sudah tak cocok lagi dengan maskan Indonesia.


Abel melihat setiap gerakan daging saat masuk ke dalam mulut papi Jimmy layaknya slow motion, ia menunggu mendengar jawaban hasil karya masakannya.


"Ternyata enak juga masakanmu".


Dan seketika Abel merasa nyawanya kembali ke dalam raga, ia sangat lega hasil jerih payahnya terbayar dengan senyuman dari Excel dan dari kedua calon mertuanya. Hanya hal sepele namun bisa membuat Abel layaknya naik jet coaster yang tadi jatuh dan sekarang berada di atas.


"Harus sering-sering main kesini sekalian kita tukeran resep".


"Iya tante". Jawabnya senang namun berbeda dengan maminya Excel yang raut mukanya berubah masam.


"Jangan tante dong, kan bentar lagi juga kalian menikah harunya panggil mami juga". Pintanya.


"Iya mami".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ini bab panjangnya 1300 kata jadi kalau ada yang merasa kurang panjanganya, percayalah itu hanya perasaan kalian saja.


Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen vote poin dan koin).


__ADS_2