Love You Brother

Love You Brother
Season 2 : Rundingkan Bersama


__ADS_3

Tawa Papi Jimmy masih menggelegar memenuhi seluruh ruang kerja Excel dan untung saja ruangan tersebut tertutup, setidaknya hanya Excel saja yang bisa mendengar kegaduhan yang Papi Jimmy lakukan. Ia sudah mulai kesal setengah mati dan memutar bola matanya malas.


"Sebenarnya apa tujuan Papi kemari ? apakah Papi hanya ingin menertawaiku saja?". Excel tak ingin berlama-lama mendengar suara tawa Papi Jimmy yang menggelegar hingga lelaki paruh baya itu menangis, terlihat dari sudut matanya yang berair.


Tapi Jimmy sekuat tenaga menahan sedikit demi sedikit tawanya mulai mereda dan berusaha menetralkan suasana hati yang daritadi bergejolak setelah mendengar hal konyol dari putra semata wayangnya tersebut. Ia mengusap matanya yang berair di bagian sudut dan berdehem sejenak.


"Maaf aku tidak bisa mengontrol tawaku karena tidak menyangka jika berkunjung ke kantormu akan terjadi hal seperti ini yang di luar tujuanku ". Papi jimmy seketika memperlihatkan wajah keseriusannya, ia mulai berusaha untuk melupakan apa yang baru saja didengar dan ingin mengungkapkan tujuan utamanya mendatangi kantor Excel.


"Sebenarnya aku ingin memberitahumu jika aku dan mamimu akan pergi ke luar negeri karena kami akan menetap di US seperti dulu". Seketika wajah keterkejutan Excel terlihat, Ia merasa sangat kaget dengan keputusan papi yang mendadak seperti ini. "Karena di sini hanya perusahaan cabang sementara perusahaan Papi yang ada di US lebih penting dan lebih membutuhkan Papi di sana". Imbuhnya.


"Lalu bagaimana dengan aku pi ?". Excel langsung saja bertanya seperti itu, ia tidak yakin apakah Abel juga akan mau untuk ikut bersamanya tinggal di luar negeri dan meninggalkan Indonesia beserta dengan pekerjaan dan keluarganya.


"Kau cukup di sini saja lagi pula kau sudah menikah dan mempunyai istri, perusahaan kakekmu ini juga membutuhkanmu dan kakekmu sudah mewariskan perusahaan ini untukmu jadi kau tidak perlu pusing lagi, cukup kunjungi kami saat kau ada waktu dan kami juga akan mengunjungimu kalau ada waktu senggang ". Jelasnya.


Excel faham akan keputusan sang Papi tetapi mengingat dirinya selalu tinggal dengan kedua orangtuanya membuat dirinya terasa berat. biasanya mau pergi kemanapun kedua orang tuanya maka Excel akan ikut bersama mereka sementara apartemen tersebut hadiah dari sang Papi merupakan niatan sayang Papi agar Excel bisa lebih mandiri, namun itu juga mereka masih berada di negara yang sama.


Berbeda dengan sekarang karena Papi dan mami nya pergi sementara dirinya akan benar-benar sendiri tanpa kedua orangtuanya, hanya Abel yang akan menemani untuk melanjutkan sisa-sisa hari berikutnya bersama.

__ADS_1


"Oh ya Papi lupa bilang, saat Papi pindah ke luar negeri otomatis rumah yang Papi dan mami mau tempati saat ini akan kosong jadi daripada kalian tinggal di apartemen maka lebih baik tinggal di rumah, karena lingkungan apartemen kurang bagus dan rumah juga akan ada yang mengurusi ".


Belum selesai soal dirinya yang ditinggal oleh kedua orang tuanya kini Excel harus memikirkan apakah dirinya akan tinggal di rumah kedua orang tuanya atau tetap di apartemen, ia sangat bingung. Apalagi Excel dan Abel berencana untuk mempunyai rumah sendiri dengan desain yang Abel suka, entah Abel akan setuju atau tidak jika mereka berdua pindah ke rumah papi dan mami.


"Kalau itu aku harus membicarakan dengan Abel dulu, karena sebelumnya kami berencana untuk mempunyai rumah sendiri bahkan dia sudah punya keinginan untuk mendesain rumahnya sendiri ".


Tapi Jimmy beranjak dari duduknya dan ia menghela nafas setelah selesai mengatakan tujuannya datang kemari kepada Excel. "Ya sudah kalau begitu Papi akan kembali ke perusahaan dan kau lanjutkanlah pekerjaanmu, setelah kau memberitahu istrimu dan kalian sudah memutuskan maka hubungi lah papi".


"Iya bisa segera akan aku kasih tahu papi apa keputusan Kami nanti ". Papi Jimmy melangkah mendekati pintu dan membukanya hendak keluar namun dirinya terdiam dan menoleh ke arah belakang melihat Excel yang ada di sana.


Excel menghilangkan nafas dan memikirkan baik-baik apa saran dari papinya tersebut, ya juga memikirkan bagaimana nanti caranya memberi tahu Abel bahwa Papi dan mami pergi ke luar negeri dan menetap di sana, yang otomatis hanya Ia yang akan sendiri di Indonesia.


******


Abel telah pulang setelah selesai bekerja Ia langsung menuju ke kamar untuk membaringkan tubuhnya sejenak dari rasa letih akibat terlalu bekerja keras. Saat ini perusahaan sedang dalam kondisi sangat baik dan dan tenaganya seperti terkuras untuk menangani beberapa klien besar yang pastinya sangat menguntungkan.


"Kau sudah pulang?". Tanya Excel yang juga baru saja pulang seusai bekerja, dan ia langsung melonggarkan dasi juga melepas sepatunya dan menyimpannya di tempat yang seharusnya.

__ADS_1


Abel mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan melihat Excel yang berada tidak jauh darinya. "Kak Excel juga baru pulang ? Mau mandi dulu apa makan dulu kak?". Bahkan ia ikut membantu Excel melepaskan dasi yang masih melekat pada tubuh lelaki itu, Abel harus berjinjit untuk mensejajarkan tingginya karena ia agak kesulitan.


"Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu terlebih dahulu sebelum mandi ataupun makan". Aku salah duduk di meja rias yang biasa Abel gunakan sementara Abel duduk di atas ranjang berhadapan dengan Excel saat ini, entah kenapa Ia bisa melihat keseriusan yang berada di wajah Excel.


Abel bisa menebak jika apa yang di bicarakan nanti tidaklah sesuatu hal yang sepele melainkan sangat serius dan ia jadi takut apakah nanti akan terjadi perselisihan atau tidak, yang pasti saat ini jantungnya berdebar karena takut.


"Sebenarnya apa yang ingin ke Excel katakan padaku ?". Abel bertanya karena dari tadi Excel diam padahal katanya mau membicarakan sesuatu namun lelaki itu terlihat seperti ragu.


"Sebenarnya mami dan Papi mau pindah ke luar negeri dan menetap di sana, Mereka ingin kita pindah ke rumah itu agar rumah tersebut ada yang mengurusi, kalau menurutmu bagaimana ?". Excel harap-harap cemas takut jika April tak setuju apalagi gadis itu bersemangat jika membahas tentang rumah yang hendak mereka ingatkan sebagai rumah masa depan di mana ada anak-anak mereka nantinya.


"Harus banget ya kak Kita pindah ke sana ? Terus nanti rumah barunya gimana ?". Abel mencoba melihat mata Excel di saat lelaki itu menunduk, nampaknya sangat berat baginya mengambil keputusan. Dan ini adalah keputusan pertama yang mereka rundingkan bersama setelah menikah.


"Gimana kalau kita batalin aja bikin rumahnya, soalnya sayang kalau rumahnya papi dianggurin, nanti jadi rumah tanpa penghuni kalau tidak ada yang menempati". Excel memegang tangan Abel, berharap sang istri mengerti".


"Yaudah deh kak iya".


Kedua tangan Abel yang sebelumnya di genggam ia arahkan untuk dicium, merasa senang karena Abel sudah setuju untuk pindah ke kediaman papi Jimmy yang akan menjadi miliknya. Ia kira tadi Abel akan menolak, tali nyatanya salah.

__ADS_1


__ADS_2